
Bagai pengantin yang sedang bersanding di pelaminan, Kayla dan Alex duduk bersisian di kursi tengah yang berada di atas panggung sederhana, yang memang sengaja dihias untuk mereka. Ratusan pasang mata mengarah pada mereka berdua, karena memang Kayla dan Alex lah sang pemilik acara yang membuat ratusan orang itu berada di tempat ini. Perasaan Kayla semakin tak karuan, keringat dinginnya juga jangan ditanya lagi, bagian sisi wajah dan lehernya basah sejak tadi.
Acara sudah dimulai. Sembari MC berbicara, kemudian Pak William selaku tuan rumah berpidato singkat, Kayla terus meremas gaunnya gugup. la juga terus menggerutu kecil pada Alex dengan suara pelan.
"Kamu keterlaluan Al, seenggaknya bilang dulu kek kalo mau ngelamar aku malam ini"
"Kalo aku bilang duluan kan bukan kejutan namanya." sahut Alex, Kayla memanyunkan bibirnya.
"Maaf sayang.. tapi kamu suka kan sama kejutan aku?"
"Plis nggak usah manggil sayang, malu. Aku tadinya mau bilang suka tapi kamu bikin aku kaget setengah mati tau nggak, kalo aku jantungan beneran gimana..?"
"Ya jangan dong, aku minta maaf deh.."
Kayla mendengus, lalu melirik Alex sekilas. Mau menatapnya malu dilihat semua orang, jadi ia lebih banyak menunduk.
"Kamu nggak gugup?" tanya Kayla.
"Tadi sih gugup banget, sekarang udah legaan. Mungkin karena aku terlalu bahagia kamu terima lamaran aku. Kamu gugup banget ya, apa kamu risih berada disini? Aku bisa bawa kamu ke tempat yang lebih rileks kalo kamu mau"
"Jangan ngawur deh..! lya aku gugup, mau gimana lagi. Kalo aku tau dari awal aku nggak bakal segugup ini"
Alex meraih tangan Kayla, ia sedikit kaget karena tangan Kayla gemetar dan agak basah oleh keringat. Ia menggenggamnya, berharap kegugupan gadisnya ini berkurang.
"Maafin aku Miss Kissable, aku nggak bermaksud bikin kamu kejebak sampe setegang ini, aku pikir kamu bakalan senang sama pesta kejutan ini"
Kayla menoleh ke wajah Alex. "Aku senang, Mr Strawberry. Aku juga nggak bermaksud nyalahin kamu, mungkin aku cuman terlalu kaget aja. Apa aku bikin kamu nggak nyaman sama sikap aku?"
Alex tersenyum, "Kalo kamu nyaman aku pun juga nyaman. Kalo kamu mau nenangin diri dulu sebelum pertunangan kita, aku akan ajak kamu keluar dari tempat ini."
"Keluar dari sini, ninggalin semua tamu? Jangan ngaco, apa kata mereka kalo kita pergi. Aku nggak papa kok." Kayla menurunkan pandangannya ke tangan mereka yang bertaut, lalu tersenyum pada Alex.
Tibalah saat pertukaran cincin, Kayla dan Alex berdiri berhadapan. Kayla berkali-kali mengatur nafasnya, ia benar-benar gugup. Alex meminta izin untuk menyematkan cincin berliannya ke jari manis Kayla. Dengan malu-malu Kayla mengangguk dan memberikan tangannya. Tepuk tangan meriah pun kembali menggema di ruangan dinner party ini.
"Alhamdulillah... terima kasih Miss Kissable. Aku bahagia, aku sangat mencintai kamu. Hari ini, kamu resmi jadi tunangan ku, calon istriku" batin Alex sembari memandangi wajah cantik dihadapannya.
"Aku nggak nyangka, aku sama Alex bakal sampe di titik ini. Hubungan kita diresmiin dengan semeriah ini, rasanya kayak mimpi. Makasih Ya Allah.. makasih Mr Strawberry" batin Kayla sembari mereka saling memandang.
Setelah acara selesai, para tamu dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia. Sembari itu, silih berganti para tamu bergantian naik ke atas panggung untuk mengucapkan selamat pada kedua calon pengantin yang baru saja meresmikan hubungan mereka dengan ikatan pertunangan.
"Kay...!" seru Nia yang baru naik ke atas panggung.
Kayla merasa salting sekaligus senang melihat Nia ada disini. Nia memeluk Kayla kemudian memegang kedua pipi Kayla gemas.
"Ya ampun Kay... kamu udah tunangan aja. Ya Tuhan.. beruntung banget temenku satu ini. Aku nggak nyangka loh aku bakal ngehadirin acara lamaran sama pertunangan kamu malam ini. Kamu, sama Alex Kay..! Ya Tuhan... this amazing!" racau Nia saking tak menyangkanya.
"Makasih Ni udah ada disini. Tapi gimana kamu bisa disini kalo kamu nggak tau bakal ke acara ini?"
Nia melirik Alex, menunggu pria itu yang menjawabnya. "Aku ngundang sebagian teman-teman dekat kamu, sama teman-teman dekat aku. Tapi aku cuman bilang... 'malam ini acara spesial, kalian bakal nyesel kalo nggak dateng"
"Yups, dan ternyata acaranya beneran spesial, super duper spesial.. Aku nggak kebayang gimana nyesalnya aku kalo sampe nggak datang. Makasih ya Al, udah nganggep aku penting buat hadir disini" kata Nia senang.
Alex dan Kayla tersenyum senang, sebelum Bima, Sandi, dan Vicky naik ke atas panggung dan membuat kerusuhan. Mereka bertiga saling berteriak memberikan selamat dan pujian yang bertubi-tubi pada Alex, memeluk Alex dengan semangatnya sampai tubuh Alex terhuyung-huyung ke depan dan ke belakang. Kayla yang berdiri disampingnya saja sampai tersingkir, untung ada Nia yang menarik Kayla sebelum tiga pria rusuh itu menyenggolnya lagi.
"Kamu sama siapa kesini?" tanya Kayla pada Nia.
"Nah itu dia. Aku kesini bareng Adit sama Annisa, tapi nggak tau mereka kemana sekarang. Perasaan pas acara tukeran cincin tadi masih ada deh."
Nia celingak-celinguk mencari keberadaan kedua temannya yang kakak beradik itu. Kayla pun ikut celingak-celinguk seperti Nia.
"Adit datang, dia ada disini juga? Gimana ya perasaannya liat aku tunangan sama Alex..?" batin Kayla, ia merasa sedikit cemas memikirkan perasaan Adit karena Kayla tahu Adit menaruh hati padanya.
__ADS_1
... ....
... ....
... ....
Adit melangkah cepat keluar dari ruangan, Annisa sampai tertinggal jauh di belakang menyusulnya.
"Kak Adit.. tunggu!" Adit tak menghiraukannya.
"Kak tunggu Kak...!" teriak Annisa lagi sembari berlari kecil menyusul Adit.
Adit berhenti di lobby, dan langsung duduk dengan agak menghempaskan tubuhnya ke kursi tunggu yang ada di sana. Adit menghela nafas panjang seraya mengusap wajahnya.
"Huh..akhirnya berhenti juga" gumam Annisa lalu duduk di samping kakaknya.
Annisa ingin bertanya banyak, tapi melihat raut sedih di wajah Adit, ia pun menahan dirinya sambil memikirkan kata-kata apa yang sebaiknya ia ucapkan agar tidak membuat suasana hati sang kakak semakin buruk.
"Kakak nggak kepikiran sama sekali kalo kita bakal ngehadirin acara lamaran Nis, sekaligus tunangan lagi." akhirnya Adit yang berbicara lebih dulu.
"Aku juga Kak. Aku kira acara ini nggak ada hubungannya sama Kak Kayla, dan aku kira Kak Kayla juga bakal hadir sebagai tamu kayak kita disini"
Adit terkekeh miris, "Sebagai tamu" gumamnya kecil.
"Apa Kak Adit nyesel dateng kesini?" tanya Annisa hati-hati.
Adit sempat terdiam sebelum menjawab. "Harusnya enggak, karena malam ini Kakak liat Kayla tuh bahagia. Sebagai seorang teman, tentunya kita ikut bahagia dong kalo teman kita bahagia, dan kita diundang buat nyaksiin kebahagiaannya."
"Kok harusnya?" tanya Annisa memperjelas.
"Hm. Enggak tau kenapa Kakak nggak bisa ikut ngerasain kebahagiaannya Kayla. Kakak ngerasa egois, sebagai teman.. Kakak ngerasa kayak khianatin dia. Masa' Kakak sedih liat dia bahagia. Kakak kayak nggak rela liat dia tunangan sama Alex, Nis." lirih Adit.
"Kak Adit cemburu, Kak Adit suka kan sama Kak Kayla. Wajar kalo Kak Adit nggak bisa ikut bahagia, wajar kalo Kak Adit nggak rela liat Kak Kayla sama cowok lain."
"Aku ngerti Kak. Tapi Kak Adit nggak putus asa kan, Kak Adit masih punya kesempatan kok."
"Kesempatan apa maksud kamu Nis?"
"Kasih tau ke Kak Kayla perasaan Kak Adit yang sebenarnya. Aku liat tuh kayaknya Kak Kayla welcome banget ke Kak Adit, mungkin aja kan sebenarnya Kak Kayla juga punya perasaan yang sama."
Adit menyelis tak suka, "Kamu mau Kakak jadi penikung? Kayla udah tunangan sama Alex, Nis."
"Baru tunangan Kak, mereka belum nikah. Masih ada kesempatan, apa salahnya berjuang, siapa tau Kak Kayla itu jodohnya Kak Adit."
"Kesempatan ngehancurin hubungan mereka, gitu?!" marah Adit.
"Nis, Kayla itu juga suka sama Alex, makanya dia nerima lamaran Alex" lanjutnya dengan nada lebih rendah.
"Dari mana Kak Adit tau kalo Kak Kayla suka sama Kak Alex? Tadi Kak Kayla nggak bilang gitu. Menurut aku ya Kak, Kak Kayla tuh nerima lamarannya Kak Alex karena dia ngerasa diistimewain banget sama Kak Alex. Cewek manapun yang diperlakuin kayak gitu pasti klepek-klepek. Belum tentu Kak Kayla udah suka sama Kak Alex, siapa tau dia ngeharapin cowok lain yang ngelamar dia."
"Jangan sok tau kamu, Nis! Kakak tau banyak soal Kayla, juga soal kedekatan mereka. Kakak cukup yakin, kalo Kayla nggak bakal ngambil keputusan sebesar ini kalo hatinya nggak yakin."
"Itu karena dia liat Kak Alex doang yang merjuangin dia. Kak Adit jangan kalah dong, masa' belum apa-apa udah nyerah duluan."
"Kayla udah tau perasaan Kakak, Nis. Kakak udah pernah ngomong sama dia. Tapi.. dia nganggep Kakak nggak lebih dari sahabat. Dia juga pernah bilang kalo Kakak ini sama kayak Kenzo, kamu liat kan gimana Kayla sama Kenzo. Sedekat-dekatnya mereka, mereka nggak lebih dari sebatas sahabat."
Annisa nampak tertegun, benarkah Kayla menolak Kakaknya? Padahal selama ini Annisa sangat mendukung hubungan Kakaknya dengan Kayla, dan Annisa yakin mereka akan menjadi pasangan yang serasi. Tapi sepertinya Annisa harus melupakan impiannya itu, untuk melihat Kakaknya mendapatkan cinta dari gadis yang dicintainya.
"Kakak inget, Kayla pernah ngomong ke Kakak soal nikah muda." kata Adit sembari mengingat kilas balik beberapa waktu lalu.
"Nikah muda?" ulang Annisa tak mengerti.
__ADS_1
"lya, Kayla minta pendapat Kakak soal nikah muda. Kakak nggak tau kalo dia kepikiran buat nikah secepat ini. Mungkin jawaban Kakak waktu itu.. juga bikin dia yakin sama Alex. Kalo dibandingin, Kakak nggak ada apa-apanya Nis sama Alex"
"Aku nggak suka Kak Adit yang kayak gini. Percaya diri kak..! Cinta sejati itu nggak mandang harta, tampang, ataupun kemapanan"
"Tau apa kamu soal cinta sejati? Kakak tau, Kayla bukan tipe cewek kayak gitu Nis. Dia pasti juga udah pertimbangin Alex selama ini, nggak mungkin dia biarin Alex gitu aja sementara Alex terus deketin dia. Sedangkan Kakak nggak ngelakuin apapun, yang bikin dia harus pertimbangin Kakak."
Annisa mendengus, "Kan aku udah sering bilang, Kak Adit jangan diem aja dong..! Tapi apa, Kak Adit nggak dengerin aku."
"Kakak nggak tau Nis, kalo Kayla bakal dilamar sama Alex secepat ini. Kakak pikir, karena Kayla nggak mau diajak pacaran.. dia pasti nolak siapa aja yang deketin dia. Kalo Kakak tau bakal kayak gini, Kakak pasti kasih dia jawaban berbeda waktu itu."
"Jawaban apa Kak?"
"Waktu Kayla nanya soal nikah muda, Kakak bilang kalo Kakak nggak kepikiran mau nikah muda. Kakak bilang kalo Kakak belum lulus kuliah dan punya penghasilan sendiri, Kakak nggak mau mikir nikah dulu. Kakak juga bilang kalo nikah muda itu ribet, karena suami istri yang nikah muda itu masing-masing belum dewasa dan belum pantes ngurus rumah tangga layaknya pasangan yang ideal."
"Bener juga sih." timpal Annisa sambil mengangguk-angguk.
"Trus salahnya dimana Kak? Apa yang bikin Kak Adit nyesal?" tanya Annisa.
"Kakak nyesal karena terlambat ngerti, kalo sebenarnya Kayla mungkin pertimbangin Kakak juga Nis waktu itu, makanya dia nanya soal itu ke Kakak. Kakak juga nyesal karena terlalu nyia-nyiain waktu dan nganggep Kayla bakal free-free aja dalam jangka waktu yang lama. Kakak nggak tau kalo dia bakal ngambil keputusan buat nikah muda." Adit tertunduk.
Annisa cemberut, "Aku kok nggak rela ya liat Kak Adit patah hati gini." batinnya.
"Apa emang udah terlambat Kak buat Kak Adit merjuangin cinta Kak Kayla? Kak Adit nggak sepenuhnya salah kok, Kak Alex aja yang buru-buru pengen dapetin Kak Kayla."
"Emang nggak sepenuhnya salah Kakak Nis, Kayla ataupun Alex juga nggak salah. Takdirnya aja yang kayak gini. Mungkin Tuhan pengen ngasih pelajaran ke Kakak dengan cara ini. Kakak harus berani ngambil keputusan, atau ngeikhlasin. Karena cinta itu nggak selalu harus memliki." Annisa rasanya ingin menangis mendengar itu.
"Kadang Tuhan kasih kita perasaan itu cuman buat ngasih kita pengalaman, pelajaran, dan kesadaran, Nis. Enggak melulu mesti dipertahanin atau diperjuangin, enggak juga harus berbalas ataupun bersatu" tutur Adit.
Adit menelan salivanya, ia mendongakkan kepala ke atas, mengerjap beberapa kali agar air matanya tertahan. Bagaimanapun sakitnya, ia tidak mau memperlihatkan air matanya di depan Annisa.
"Tapi Kak Adit cowok baik, penyayang, perhatian, cerdas, punya banyak kelebihan juga. Kak Adit pantes dapetin Kak Kayla. Dan Kak Kayla lebih cocok sama kamu Kak dibandingin Kak Alex yang udah sering nyakitin dia."
Adit mendengus, ia tak habis pikir adiknya ini masih juga kekeuh dengan pemikirannya. "Nis, jangan minta Kakak buat jadi cowok jahat! Kakak nggak bakalan ganggu hubungan mereka, mereka saling mencintai dan mereka bahagia. Mereka berdua itu juga teman Kakak, Nis. Teman kamu juga kan!" Annisa tersenyum paksa.
"Kalo gitu tetaplah jadi seorang teman! Berperilaku seperti teman, bukan musuh dibalik selimut, apalagi pengkhianat" ucap Adit.
Annisa diam setelah mengangguk samar, namun dari wajahnya Adit tahu adiknya ini masih tidak terima.
"Makasih Nis kamu ngertiin perasaan Kakak. Kakak baik-baik aja kok, wajar kan cuman patah hati sebentar, namanya juga cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi Kakak lagi belajar ikhlas sekarang, kamu dukung Kakak dong.."
Annisa menoleh ke wajah Adit, Adit tersenyum padanya. "Aku salut sama kamu Kak.. aku bangga punya Kakak yang kuat kayak kamu, aku tau Kakak sedih, Kakak sakit, tapi Kakak tetap bisa tegar dan mau ikhlasin perasaan Kakak."
Adit terkekeh, ia mengacak kecil rambut Annisa.
... __________________...
Keesokan harinya di sekolah, kabar tentang lamaran sekaligus pertunangan Alex dan Kayla tersebar luas dengan cepat. Dalam hitungan menit saja, satu sekolah dibuat heboh dan ricuh oleh topik hangat yang menjadi kontroversi itu. Ada yang kaget tak menyangka, ada juga yang kaget sekaligus tak terima. Dari yang memuji dan mencibir, mengagumi dan mencela, sampai yang merayakan, hingga memberontak pun ada.
Tidak sedikit dari mereka memprotes dan meremehkan berita kontroversi yang mereka dengar itu, khususnya para fans fanatik Alex yang tidak terima dengan keputusan mendadak Alex melamar Kayla. Tapi banyak juga yang menyanjung Alex karena kebijakan dan keberaniannya mengambil keputusan itu, bagaimanapun juga.. perkara menikah muda bukanlah keputusan yang enteng untuk dipilih.
Di kalangan para guru, mereka lebih dominan menyayangkan keputusan Kayla dan Alex yang memilih untuk menikah muda, karena keputusan itu akan berpengaruh pada pendidikan keduanya. Seharian ini di sekolah, hampir tidak ada mulut yang diam dari membicarakan tentang lamaran dan pertunangan Kayla dan Alex yang terbilang sangat mendadak. Mereka berbeda-beda pendapat dan reaksi masing-masing, namun satu hal yang pasti dan sama.. yaitu mereka terkejut. Dan keterkejutan itulah yang membuat sekolah hingar-bingar hari ini.
Lalu bagaimana tanggapan Kayla dan Alex sendiri? Mereka berdua menjalani aktivitas sekolah seperti biasanya. Meski canggung dan rada terganggu, mereka berusaha untuk tidak mendengarkan cibiran dan umpatan orang-orang yang tidak menyukainya, juga menganggap support atas komentar orang-orang yang ikut senang atas terbangunnya ikatan baru mereka. Tidak mudah untuk menjalani hari ini dengan tenang, namun mereka mulai membiasakan diri dengan komentar-komentar orang di sekeliling mereka. Karena hal itu juga penting untuk menjaga hubungan mereka, terlebih lagi untuk rumah tangga mereka kelak.
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... Bersambung...