
(Flashback On)
Kayla turun dari mobil Pak William sesaat setelah mobil itu berhenti di depan rumahnya. Ternyata di teras depan sudah ada seorang wanita yang duduk manis menunggunya. Wanita itu lantas berdiri melihat kedatangan Kayla, namun ia dikejutkan dengan mobil yang mengantar Kayla. Langkah Kayla terhenti melihat wanita itu, ia sedikit kaget, bingung bagaimana menanggapi.
"Kayla, kamu udah pulang nak." sapanya ramah.
"Tante" ujar Kayla canggung, namun ia tetap mencium tangan wanita didepannya itu, Vanessa.
Kayla hanya tersenyum tipis, wajahnya agak murung dan matanya nampak memerah. Vanessa tercenung lirih, pasti Kayla habis menangis. la lantas melirik ke arah mobil yang terparkir di depannya, mobil mantan suaminya. Sejak melihat mobil ini dari jauh tadi perasaan Vanessa sudah tidak enak, dan ternyata benar kecemasannya. Apa yang telah dilakukan mantan suaminya yang keras kepala itu kepada Kayla, sehingga gadis malang ini menangis!
"Kayla, kamu.. pulang sama papanya Alex?"
"Om William yang jemput, Tante."
Sudah Vanessa duga. Sudah jelas mantan suaminya itu ada maksud khusus, kenapa dia sampai menjemput Kayla ke sekolah. Ah sial! Vanessa kalah cepat, seharusnya ia yang lebih dulu menemui Kayla dan bicara padanya. Tapi ternyata mantan suaminya itu benar-benar licik, bisa-bisanya dia memanfaatkan kelengahan Vanessa dengan menemui Kayla lebih dulu. Vanessa bahkan tidak menyangka bahwa pria keras kepala itu akan menemui Kayla hari ini.
"Oh gitu. Tadinya Tante kesini mau ngobrol sama kamu, tapi.. lain kali aja mungkin ya. Kamu kayaknya capek abis pulang sekolah, kamu juga keliatan nggak sehat nak. Istirahat ya!" kata Vanessa lembut sambil mengusap kepala Kayla.
"Makasih Tante." ucap Kayla lega.
Ya, Kayla lega. la sungguh ingin istirahat sekarang, tubuh dan pikirannya butuh direlaksasikan. Karena hari ini di sekolah banyak sekali anak-anak yang menanyakan perihal ketidak hadiran Alex selama berhari-hari ke sekolah, hal yang paling membuat Kayla memikirkannya. Dan barusan, papanya Alex yang mengajaknya bicara. Bicara serius perihal masalah yang sebenarnya membuat pria paruh baya itu khawatir, sehingga mengambil jalan yang tidak diinginkan oleh Alex dan Kayla. Memikirkan itu otak dan tenaga Kayla cukup terkuras.
"Yaudah, kamu masuk ya" ujar Vanessa, lalu melirik pria menyebalkan yang duduk di kursi kemudi mobil.
Kayla mengerti, Tante Vanessa pasti ingin bicara dengan Om William saat ini. Sejujurnya Kayla merasa tidak sopan dengan Tante Vanessa, wanita itu menunggunya di teras rumah tapi setelah mereka bertemu Kayla malah menunjukkan raut lelah padanya. Sehingga Tante Vanessa harus mengurungkan niatnya dan beralih pada Om William. Tapi.. mungkin juga Tante Vanessa memang harus bicara sesuatu dengan mantan suaminya itu, pikir Kayla.
"lya. Maaf ya Tante." ucap Kayla sungkan.
Vanessa mengangguk seraya tersenyum simpul.
"Aku masuk dulu Tante, Assalamu alaikum." ucap Kayla lagi.
"Wa'alaikum salam, sayang."
(Flashback Off)
"Jelasin ke aku Mas, apa yang yang kamu bilang ke Kayla? Kamu apain lagi dia sampe nangis?" kata Vanessa bersungut kesal.
Kini Vanessa dan Elfatt -alias William- duduk di balkon cafe, tempat yang pas bagi mereka untuk bicara leluasa dan nyaman. Namun senyaman apapun tempatnya, tidak akan membuat mereka tenang karena suasana hati mereka saat ini tidak baik.
Elfatt menyeruput kopinya. Agak cuek dengan Vanessa, karena menurutnya wanita di depannya ini sangat cerewet. Lihat saja, saat ini Vanessa tengah menatap kesal kearahnya, wajahnya mematut dan tatapannya mengintimidasi. Gaya duduknya juga tak kalah menyebalkan, kaki kanan yang disilangkan ke atas kaki kiri, dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada.
"Aku bicara sejujurnya." jawabnya santai.
"Sejujurnya gimana maksud kamu?" tanya Vanessa ngegas.
"Ya sejujurnya yang kayak aku bilang ke kamu. Alasanku memutuskan hubungannya dengan Alex. Aku mau Kayla mengerti dan menerima keputusan itu dengan lapang dada"
Vanessa mendengus. "Dengan menyakiti hatinya lagi?"
"Ya mau gimana lagi. Lebih baik diselesaikan sekarang kan, jadi nggak ada yang ngeganjel. Dengan itu Kayla juga bisa mencoba untuk menutup hatinya dari Alex. Dia itu anak yang pengertian Nes, setelah aku jelasin ke dia, dia setuju buat jauhin Alex."
"APA?! Kamu minta Kayla menutup hatinya dari Alex?" Vanessa menggeleng tak habis pikir. "Mas, kamu sadar nggak, kamu meminta sesuatu yang besar dari dia? Kamu kira gampang melupakan cinta? Trus gimana sama Alex?" nada bicara Vanessa meninggi.
"Alex juga akan belajar untuk itu" singkat Elfatt.
"Yang aku tau, Alex nggak mau melakukan itu Mas."
"Dia akan belajar Nes. Udah takdir cintanya harus berakhir seperti ini, dia akan menyikapinya dengan lebih dewasa dari sebelumnya. Aku yakin."
"Takdir cintanya yang kamu permainkan Mas! Aku ngerti perasaan Alex, dia bukannya nggak dewasa menyikapi ini Mas, tapi hatinya hancur gimana dia bisa berpikir dengan jernih?!"
"Dia itu anakku Nes, dia akan menjadi kuat dan tegas sepertiku. Dia akan belajar dengan cepat, soal mengendalikan perasaan dan melupakan cintanya itu.. aku percaya Alex bisa"
__ADS_1
"Egois! Kamu nggak bisa ngatur-ngatur Alex seenaknya dong Mas, dia udah dewasa kan, jadi dia berhak nentuin apa yang dia mau."
"Tapi dia melakukan kesalahan dalam hal ini Nes, jadi udah seharusnya aku meluruskannya. Dia itu pewarisku, aku berhak nentuin masa depannya, dan masa depan Alex adalah PT SWill Group"
"Ya aku tau. Alex sama sekali nggak nolak kan nerusin bisnis kamu, jadi apa masalahnya? Justru karena ini soal masa depannya, dia berhak memilih sendiri seperti apa dia ingin menjalaninya Mas. Kalo kamu punya hak memilihkan masa depan buat Alex, aku juga punya hak dong, aku ibunya."
"Aku ayahnya, dan dia akan menggantikanku di masa depan. Jadi aku lebih berhak dalam nentuin hal ini dibanding kamu"
Vanessa menarik nafas dalam, lalu mengubah mimik wajahnya menjadi lebih tenang agar ia bisa lebih sabar. "Tapi dia juga anakku Mas, aku mengkhawatirkan mental dan batinnya. Keputusan kamu itu udah bikin dia terpuruk. Orang yang hancur dari dalam, gimana dia bisa berkembang diluar? Kamu mau Alex menjadi kuat seperti kamu, tapi kamu lupa kalo dia punya hati yang lembut, Mas. Kamu tau Alex pernah terluka sebelumnya, dan itu membuatnya memberontak karena hatinya berubah menjadi keras. Aku nggak mau hal itu terulang lagi Mas."
"Dia bukan Alex kita yang dulu Nes, dia udah dewasa. Dia tau mana baik dan dia tau apa yang harus dia lakuin. Dia tau yang terbaik buat dirinya."
Vanessa terkekeh, "Ya dia tau yang terbaik buat dirinya. Karena itu dia memilih Kayla untuk masa depannya, karena Kayla cintanya Mas, Kayla yang mengubah dia dan membuat dia jadi seperti sekarang."
"Harusnya kamu berterima kasih sama Kayla, tapi apa yang kamu lakuin? Gini cara kamu membalas kebaikan Kayla? Kalo bukan karena Kayla, mungkin Alex masih seorang pemberontak yang nggak peduli sama aku dan nggak peduli sama perusahaan kamu" lanjut Vanessa
"Aku tau Alex bisa berubah berkat Kayla. Aku nggak lupa itu, Nes. Tapi sekarang situasinya beda, gara-gara kejadian itu keselamatan Alex jadi terancam. Kamu pikirin itu juga dong!" timpal Elfatt.
"Mas, aku bukannya nggak mikirin soal itu. Tapi memutuskan pertunangan Alex dan Kayla itu bukan jalan yang terbaik. Cinta mereka nggak harus dikorbanin, kebahagiaan mereka nggak harus dihancurin. Lagian orang-orang jahat itu udah ketangkep kan, polisi juga nggak tinggal diam. Dan kalaupun mereka emang ngincer Alex, mereka pasti punya seribu cara buat bisa menjangkaunya. Bukan cuman lewat Kayla, Kayla itu cuman satu kemungkinan yang kecil buat jadi jalan mereka. Enggak seharusnya dong kita misahin Alex sama Kayla karena hal itu Mas."
"Dan bukannya kamu juga udah sediain bodyguard buat jaga Alex 24 jam ya Mas?"
Elfatt menghela nafas panjang, susah membuat Vanessa mengerti. Elfatt rasa kekhawatiran Vanessa tentang kondisi batin Alex terlalu berlebihan. Alex itu laki-laki, dia pasti tegar menghadapi cobaan. Elfatt percaya itu.
"Tetap aja Nes. Ya, Alex udah ada bodyguard, tapi kedekatannya dengan Kayla tetap jadi ancaman. Celah kecil yang dibiarkan terbuka itu nggak bisa disepelekan, aku nggak mau ambil resiko, aku nggak boleh lengah. Taruhannya perusahaanku, Nes."
"Harusnya kamu juga mengkhawatirkan mental dan batin Alex, Mas. Kamu mau menyelamatkan dia dari bahaya lingkungan dan ancaman dalam bisnis. Tapi kamu membiarkan hatinya hancur, kamu misahin dia dari orang yang dia cintai. Gimana kamu bisa tenang nyerahin dia tanggung jawab besar dipundaknya, dengan luka batin yang menggerogotinya Mas?"
Elfatt mengernyit tak terima. "Kamu berlebihan, Nes. Alex itu anakku, dia nggak bodoh dan nggak akan jadi selemah itu. Ya, Alex terluka, aku tau itu. Tapi dia anak yang tangguh dan cerdas, dia nggak akan hancur hanya karena putus cinta. Ingat itu, Nes!" tegasnya dengan menekankan setiap kata yang ia lontarkan.
"Tapi dia juga anakku Mas, dia punya hati yang lembut dan masih rapuh. Aku nggak mau dia goyah, dan kembali ke dirinya yang pemberontak. Enggak Mas" lirih Vanessa.
Vanessa mulai terbayang-bayang akan masa lalunya yang kelam, ketika dulu ia patah hati karena cinta yang tidak direstui. Dan harus menikah dengan orang yang tidak dia cintai, hingga berkhianat karena tak sanggup melupakan cintanya.
"Dia nggak akan seperti kamu! Jangan pernah sama-samain kamu dengan Alex, Nes!" bantah Elfatt keras.
"Kamu nggak terima aku sama-samain dia denganku? Kamu kira aku mau Alex punya nasib sepertiku? Enggak Mas. Aku cuman takut hal itu akan terjadi, apa salahnya aku memikirkan itu. Aku cuman nggak mau Alex merasakan penderitaan sepertiku."
"Kenapa sih kamu nggak ngerti juga?! Alex itu anak yang tangguh dan cerdas, dia nggak akan mengalami apa yang kamu alamin. Aku nggak suka ya Nes kamu sama-samain diri kamu dengan Alex"
"Seenggaknya kamu punya kesamaan Mas, aku ibunya. Dia punya hati yang rapuh sepertiku, dan aku mengkhawatirkan itu"
Elfatt mendengus sambil memijit kecil keningnya. Perdebatan ini tidak ada habisnya, Vanessa susah sekali diberi tahu. Elfatt pikir setelah ia berhasil membuat Kayla mengerti, maka permasalahannya selesai. Karena menurutnya jika seorang Kayla saja yang mengerti dan mau menerima keputusannya, maka Kayla sendirilah yang akan membuat Alex, Nadia, dan lwan menerimanya. Namun Elfatt lupa, jika wanita cerewet di depannya ini juga salah satu dari mereka, bahkan lebih memusingkan. Elfatt dan Vanessa selalu berbeda pendapat, dan perdebatan ini masih tentang masalah yang sebelumnya, belum berujung.
"Aku tau kamu nggak terima aku sama-samain Alex denganku, karena aku punya masa lalu yang buruk. Dan Alex sendiri juga mungkin nggak akan suka disama-samain denganku. Tapi Mas, apa pernah kamu mikir.. kalo Nadia juga nggak suka Kayla disama-samain dengan papinya. Dan Kayla sendiri juga nggak akan suka disama-samain dengan papinya. Gimana perasaan mereka waktu kamu ngatain Kayla?"
Elfatt mendesah lelah. "Stop ngomongin Kayla! Urusan dengan gadis itu udah selesai" sergahnya.
"Selesai?" Vanessa menggeleng, "Selesai itu kalo semuanya udah baik-baik aja Mas, tapi ini apa? Sebelumnya Alex sama Kayla nggak ada masalah, tapi kamu yang buat masalah, kamu sendiri yang mengacaukan semuanya. Kamu bilang urusannya udah selesai? Dengan cara menghancurkan harapan anak kamu, itu yang kamu bilang selesai?!" kesal Vanessa.
"Nes, cukup ya! Aku ulangi, dan ingat ini.. keputusan yang aku ambil itu adalah yang terbaik buat Alex dan Kayla. Kayla udah menerima itu dan Alex pun akan belajar menerimanya. Semuanya bakal baik-baik aja, masa depan mereka juga masih cerah. Enggak ada lagi yang perlu kamu khawatirin, dan enggak ada yang perlu kita debatin lagi. Oke?"
Vanessa menghela nafas berat. la juga lelah berdebat, tapi tetap saja ia tidak sependapat dengan mantan suaminya ini.
...___________________...
Nadia berjalan cepat keluar dari sebuah bangunan Lapas atau Lembaga Pby by bhermasyarakatan. la baru saja menemui mantan suaminya yang kini mendekam disana. la berjalan sambil menunduk, terisak getir meski setelah meluapkan emosinya pada Arman. Perasaannya yang hancur karena pertunangan Kayla dibatalkan, membuatnya sampai ke tempat dimana sang biang kerok berada. la memaki Arman karena telah mengacaukan hidup putrinya, ia menyalahkan Arman karena sebab ulah pria itulah putrinya harus menanggung hukuman meski tak melakukan kesalahan apapun.
Sebelum ini Nadia belum pernah menyesali ia telah menjadi bagian dari hidup Arman dan memiliki anak darinya. Selama ini Nadia hanya menyayangkan apa yang telah Arman lakukan padanya, selain ia juga membenci pria itu. Namun kali ini, Nadia benar-benar merasa hancur lebur, melebihi hancurnya ia ketika mengetahui kebusukan suaminya. Baru kali ini Nadia menyesal karena telah membiarkan orang seperti Arman memasuki kehidupannya, ia menyesal karena Kayla harus mengalami nasib buruk memiliki ayah seperti Arman. Karena Arman dan segala kejahatannya itu, Kayla jadi dinilai buruk oleh calon mertuanya, sehingga pertunangannya harus dibatalkan. Kayla tidak salah apapun, tapi dia harus menanggung kesalahan papinya. Hati Nadia masih sangat berat untuk bisa menerima takdir ini, putrinya yang malang telah mendapatkan penghinaan dan harus mengalami penderitaan putus cinta meski tak bersalah.
"Lily nggak pantas mengalami ini, ini bukan salahnya. Ini salahku..." selalu kalimat itu yang ada dibenak Nadia.
Penyesalannya lah yang membuatnya merasa hancur lebur. Apa kesalahan putrinya sehingga harus mengalami kemalangan seperti itu. Sepanjang langkah gontainya menyusuri jalanan, Nadia melamun memikirkan semua itu. Tak henti-hentinya air mata mengalir di pipinya, meski ia tidak mengeluarkan suara raungan lagi, hanya isakan dan wajah yang basah. Namun melihat itu, siapapun akan tahu jika ia sedang menangis. la begitu menyesali yang telah terjadi pada putrinya.
__ADS_1
"Nad?"
Nadia terkesiap saat merasakan tepukan kecil dipundaknya. la lantas menoleh ke samping, dimana seseorang yang menepuk pundaknya tersenyum seraya mengernyit menatapnya.
"Kamu kenapa Nad? Kok jalannya sambil ngelamun, bahaya loh ini jalanan umum. Lagian kamu ngapain disini? Jalan kaki sendirian. Motor kamu mana?"
Pertanyaan beruntun dari orang itu hanya membuat Nadia melongo menatapnya.
"Nad? Hey..!" panggilnya lagi, membuat Nadia tersadar.
"Aku..." Nadia terdiam.
"Emm.. kamu sendiri ngapain disini?" tanya Nadia balik pada orang itu.
Terkekeh, orang itu lantas menjawab. "Aku disini nyamperin kamu. Tadi aku abis ketemu klien di cafe itu" la menunjuk cafe yang ada di seberang jalan di depannya. "Trus aku liat kamu jalan sendirian kayak orang linglung. Ada apa Nad?"
Nadia tersenyum kaku sambil menyibakkan rambut kecilnya ke belakang telinga. Benar, ia baru sadar bahwa ia memang seperti orang linglung. Masalah berat yang ia hadapi membuat pikirannya penuh, tak menyisakan ruang untuknya terlihat seperti orang normal yang baik-baik saja.
"Mau cerita sama aku kan? Ayo!"
"Tio?" Nadia terkejut saat pria yang menyapanya tadi menarik tangannya, dan menuntunnya menyebrangi jalan.
"Hei, kamu mau bawa aku kemana?" tanya Nadia sambil mencoba melepaskan tangannya yang dipegang Tio.
Tio hanya tersenyum, ia terus melangkah menuntun Nadia sampai ke taman. Kemudian mengajak Nadia duduk di sebuah kursi yang terletak di bawah pohon rindang. Nadia terkekeh geli, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling termasuk ke atas pohon.
"Kurang kerjaan ya kamu, ngapain ngajak aku kesini?" celetuk Nadia.
Tio mengedikkan bahunya. "Aku siap dengerin curhatan kamu"
"Siapa yang mau curhat sama kamu?" Nadia mencibir.
"Yaudah, kalo gitu jawab pertanyaan aku."
Nadia mengernyit tak mengerti. "Ekspresi muka kamu itu bikin aku pengen banyak nanya, Nad" ujar Tio.
Nadia memalingkan wajahnya tanpa menjawab Tio. "Kenapa? Kamu nggak mau ngebagi masalah kamu sama aku?" tanya Tio.
"Siapa bilang aku punya masalah" sahut Nadia cuek.
"Kalo nggak ada masalah kenapa muka kamu murung gitu? Aku liat kamu nangis dipinggir jalan Nad, kamu pikir aku bisa nggak peduliin itu?"
Nadia menoleh, memandang Tio. Dari dulu pria ini memang peka dan pengertian, tak jarang dia jadi orang pertama yang menyadari jika sesuatu terjadi pada Nadia. Dia Tio, teman sekolah Nadia dulu saat SD dan SMP. Setelah lulus SMP, Tio pindah keluar negeri mengikuti orang tuanya. Hingga sekarang baru mereka bertemu kembali, tepatnya mereka bertemu adalah di malam lamaran sekaligus pertunangan Alex dan Kayla.
Nadia tersenyum mengingat pertemuan mereka. Malam itu baik Tio ataupun Nadia tidak menyangka mereka akan bertemu, pertemuan itu seperti sebuah hadiah kejutan bagi mereka berdua. Ocehan panjang lebar pun mengalir begitu saja dari mulut masing-masing setelah begitu lama terpisah. Teman yang menyenangkan itu kembali ke kehidupan Nadia. Sebenarnya.. Tio bukan hanya sekedar teman biasa, tapi dulu saat SMP Tio pernah menyatakan perasaan cintanya pada Nadia tapi Nadia menolaknya. Nadia menolaknya karena berpegang teguh pada prinsipnya, seperti yang ia ajarkan pada Kayla.
Prinsip yang ia ajarkan kepada Kayla, namun Nadia sendiri yang membuat Kayla melupakan prinsip itu, sehingga kemalangan menimpa putri kesayangannya.
Kembali mengingat Kayla, senyuman Nadia sirna seketika. Dan itu membuat Tio yang sejak tadi lekat menatapnya, semakin bingung dan bertanya-tanya.
"Ayolah Nad, jangan sungkan sama aku. Jangan dipendam sendiri dong kalo ada masalah."
Nadia menatapnya ragu.
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1