Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Sudah Aman


__ADS_3

"Miss Kissable.."


Panggilan lirih yang masuk ke pendengaran Kayla membuat tangisannya terhenti seketika. Tentu ia mengenal siapa pemilik suara itu, dan ia tahu hanya dia yang memanggilnya dengan panggilan Miss Kissable. Kayla langsung mengangkat kepalanya dengan perasaan senang bukan main, namun sayangnya yang ia lihat didepan matanya bukanlah sosok yang ia kenal. Siapa orang ini? Apakah dia yang tadi menyentuh kepala Kayla?


Kayla buru-buru memalingkan wajahnya, dia bukan Alex, bukan Mr Strawberry nya. Mendadak rasa kecewa menghampiri hatinya, padahal ia yakin yang memanggilnya tadi adalah Alex, tapi kenapa yang ia lihat bukanlah Alex. Sedangkan tidak ada orang lain disini selain pria yang kini berdiri didekatnya. Kayla kembali merasa takut, siapa pria ini dan mau apa dia? Bagaimana dia tahu panggilan Miss Kissable? Apa pria ini orang jahat, dan dia mengenal Alex? Oh Ya Allah.. semoga Alex baik-baik saja.


Kayla menggeser posisi duduknya menjauhi pria itu, ia hanya berharap tidak akan ada masalah baru yang datang, cukup pria tua yang kini tergeletak pingsan itu saja yang mengganggunya, jangan ada lagi yang lain. Kayla tidak tahan, ia kembali menangis.


"Miss Kissable.. ini aku. Kamu tenang ya, kamu aman sekarang."


Suara lembut itu merasuki pendengaran Kayla untuk yang kedua kalinya, dan itu menghangatkan hatinya dalam sekejap. Kayla segera mengangkat kepalanya kembali, namun ia tidak melihat Alex ada disini, yang ada hanya pria misterius yang masih berdiri di dekat ranjangnya.


"Ini aku, Miss Kissable.. kamu jangan takut."


"Hah?!" gumam Kayla hampir tanpa suara, hanya ******* kecil yang jelas terdengar.


Apa ia tidak salah? Pria misterius ini baru saja bicara padanya, dan mengaku sebagai Alex? Kayla menatapnya bingung, begitu juga dengan pria itu. Kemudian dia melakukan sesuatu yang membuat Kayla heran. Apa yang dia lakukan? Dia menarik kumisnya sendiri sampai terlepas, dan menarik jambang di wajahnya juga. Kayla mengernyit dalam memperhatikannya. Detik berikutnya barulah Kayla mengerti, matanya membulat seketika.


"Al..." desahnya dalam, dunianya berubah seketika melihat Alex ada dihadapannya.


"lya Miss Kissable, ini aku"


Dia, Alex.


Kayla masih tertegun hampir tak percaya, ia menatap Alex tanpa berkedip. Kayla takut ini hanya halusinasinya saja, benarkah Alex yang berdiri dihadapannya ini? Apakah benar pria yang baru saja melepas kumis dan jambang palsunya ini adalah Mr Strawberry nya?


Alex hampir lupa bahwa ia tengah menyamar sehingga ia sempat membuat Kayla takut karena tidak mengenali dirinya yang mengenakan kumis dan jambang palsu. Setelah Kayla menyadari keberadaan dirinya, Kayla masih diam di tempat? Kenapa, kenapa dia diam saja dan tidak mendekat pada Alex? Pikiran buruk menyerang benak Alex lagi, melihat Kayla yang masih setia mendekap selimut menutupi tubuhnya.


Dengan hati yang terpukul dan amarah yang tertahan, Alex segera mengedarkan pandangan ke sekeliling ranjang, dengan harapan dugaan buruknya salah. la mencari barangkali ada pakaian yang teronggok didekat ranjang, tapi ia hanya menemukan pakaian pria tua baj****n itu, tidak ada pakaian wanita.


Tiba-tiba..


Grepp


Kayla menghambur memeluk Alex, dan tangisannya pun pecah. Kayla memeluk Alex erat dengan tubuh yang gemetar ketakutan, dan ia membenamkan wajahnya di dada Alex, membuat suara tangisannya tenggelam. Alex kaget, sekaligus bersyukur. Sangat bersyukur, karena dugaan buruk dibenaknya salah. la sempat berpikir Kayla tidak memakai pakaian sehingga dia harus menutupi tubuhnya dengan selimut. Alex lega, karena tubuh Kayla masih berbalut pakaian.


Sambil membuka kedua tangan dan membalas pelukan Kayla, Alex memejamkan matanya, dan membiarkan kristal bening yang sejak tadi membentuk kolam kecil di sudut matanya tumpah membasahi pipinya. Namun hanya satu detik kejadian itu berlangsung, karena di detik berikutnya Alex terkesiap kaget. Baru saja telapak tangannya menyentuh punggung Kayla, ia langsung menjauhkannya reflek. Dalam posisi Kayla yang masih memeluknya, Alex menunduk, melirik punggung kayla. Kemarahan langsung membara di matanya, wajahnya merah padam dengan urat-urat yang menegang. Tangannya terkepal kuat saking geram dan murkanya. Hatinya lagi-lagi tergores, membuat luka di sana semakin menganga.


Bagaimana tidak, telapak tangan Alex langsung tersentuh punggung Kayla yang ternyata terbuka, tanpa penghalang sehelai benang pun. Alex mengutuk dalam hati. Bisa-bisanya orang-orang bejat itu memakaikan Kayla pakaian seminim ini. Dress mini yang dipakai Kayla ini terlalu seksi, dan mengekspos bagian tubuh yang selama ini selalu tertutup rapi. Mini dress model leher V bertali satu, bagian depannya memang cukup normal dan tertutup, tapi bagian belakangnya terbuka, hanya menutupi dari pinggang ke bawah saja. Bagian bawahnya nya pun sangat pendek, sekitar lima belas centi di atas lutut. Alex yakin Kayla pasti sangat risih memakai pakaian seperti ini. Kayla tidak pernah memakai pakaian terbuka seperti ini.


Yang lebih membuat Alex murka adalah Arman, dia papinya Kayla. Tapi dia sendiri yang menjerumuskan Kayla ke dalam jurang kehancuran.


"Siapa anda sebenarnya?" suara bariton mendominasi.


Alex dan Kayla menoleh ke arah suara itu berasal, Arman berdiri di seberang ranjang dengan tatapan sengit ke arah mereka berdua. Kayla melepaskan pelukannya dan menatap memelas pada Alex, sesekali ia melirik papinya takut-takut.


"Alexander Smith William. Calon menantu Om sendiri."


Arman terbelalak. "Calon mantu?" batinnya.


"Tapi.. gimana dia bisa sampai kemari, dia pasti bukan pelanggan XXKink. Dia bisa masuk?" tanya Arman sendiri dalam hatinya.


"Maafkan saya Om, saya harus melakukan ini, demi Lily, dan juga demi kebaikan. Maaf juga karena pertemuan pertama kita enggak dalam situasi yang bagus, izinkan saya membawa Lily pergi dari sini." ucap Alex datar.


Kayla meremas jas bagian depan Alex dengan tangan yang masih gemetar, ia menunduk tak berani melihat wajah sang papi. la takut, tapi kali ini ketakutannya memliki harapan karena ada Alex disisinya, tidak seperti ketakutannya yang sebelumnya. Alex kemudian merangkul Kayla dan mengajaknya pergi.


Arman tersenyum miring. "Ingat Kayla, mami kamu ada di tangan papi."


Kayla tersentak, "Mami.." lirihnya hampir tanpa suara.


Bayangan mami yang tengah terikat rantai mendominasi pikiran Kayla. Maminya masih dalam bahaya, mana mungkin ia bisa pergi begitu saja. Bagaimana jika papi nekat mencelakai mami karena Kayla tidak menurut.

__ADS_1


"Mami kamu aman." ucap Alex membuat Kayla menatap tanya ke wajahnya, begitu juga Arman.


Alex mengeratkan rangkulannya pada pundak Kayla, dan tersenyum tipis meyakinkan Kayla. "Ya, mami kamu udah aman. Gak ada yang perlu kamu khawatirin."


Arman tertawa, "Hahahaha...Bocah sok pahlawan. Kamu pikir bisa ngecoh saya dengan rekayasa kisahmu itu? Heh, kamu boleh menipu saya dengan penyamaran diri, tapi soal Nadia..." Arman menggeleng remeh.


"Saya gak akan sampai ke tempat ini kalo bukan petunjuk dari Tante Nadia, Om." jawab Alex tenang.


Mendengar jawaban Alex, Arman melotot marah. Licik juga anak ini, pikirnya. Padahal Arman sengaja menculik Kayla saat berada di Jakarta, agar jauh dari jangkauan dan agar tidak ada yang bisa menghentikannya untuk menjual Kayla. Tapi nyatanya anak laki-laki yang mengaku sebagai calon mantunya ini bisa sampai kemari juga, terlebih lagi mengacaukan bisnisnya. Sejujurnya Arman cukup salut dengan Alex, anak ini sepertinya sangat cerdik dan memiliki banyak akses serta jaringan sehingga ia bisa sampai kemari. Karena tidak mungkin orang bisa masuk ke rumah bordil berkedok hotel ini, kecuali melewati King. Dan Arman sangat mengenal King, Bos nya itu tidak pernah sekali pun tidak mengabari Arman tentang siapa saja yang akan datang ketempat mereka. Sedangkan anak ini.. entah bagaimana caranya dia bisa masuk, bahkan berhasil mengelabuhi Arman.


"Bener mami udah aman? Mami dimana Al..?" tanya Kayla penuh harap pada Alex, membuat lamunan Arman buyar.


"Kamu yang tenang ya, kita langsung temuin mami kamu." jawab Alex, lalu beralih melihat Arman.


"Izinkan saya membawa Lily, Om. Saya tau dia anak Om, tapi dia juga calon istri saya. Sudah jadi tanggung jawab saya memastikan keamanan dan kebahagiaan Lily. Saya akan melindunginya, meskipun itu dari papinya sendiri kalo dia merasa terancam."


Ekspresi wajah Arman berubah, ketegangannya yang penuh amarah mulai berkurang. Entah bagaimana, kata-kata yang Alex tuturkan barusan membuat hatinya sedikit lunak. Kemarahan masih tampak di wajah Arman, karena tentu ia merasa tersindir dengan kata-kata Alex. Namun reaksi hatinya berbanding terbalik dengan ekspresi wajahnya. Belum sempat Arman menimpali ucapan Alex, dua orang polisi datang dan langsung menangkapnya. Meski terkejut, Arman tidak memberontak. Arman membiarkan polisi membawanya, berjalan mengikuti polisi, membelakangi Kayla dan Alex dengan tatapan yang masih tertuju pada kedua muda-mudi itu.


... ....


... ....


... ....


Alex dan Kayla sudah duduk di dalam mobil, namun Alex nampaknya masih enggan melajukan mobilnya. la terdiam, melihat Kayla yang masih terisak meski tidak sekencang sebelumnya. Tadi sebelum keluar dari tempat maksiat itu, Alex memakaikan jas nya pada Kayla. Alex tidak sudi membiarkan tubuh Kayla dilihat orang-orang dengan penampilan yang tidak pantas.


"Makasih.." ucap Kayla lirih, tanpa menoleh pada Alex.


Alex tidak menjawabnya, namun terus memperhatikan Kayla yang masih betah menangis, dengan wajah yang tertunduk. Sakit sekali hati Alex, ia sangat menyesalkan apa yang telah terjadi. la merasa tidak becus menjaga Kayla, hingga bisa kecolongan sefatal ini. Kayla pasti sangat menderita sejak ia diculik, meski oleh papinya sendiri. Jika tidak, maka tidak mungkin Kayla sampai menangis sepilu ini, dan sorot matanya begitu menampakkan ketakutan dan tekanan. Menyadari Alex terus melihatnya, Kayla mengusap wajahnya yang basah.


"Miss Kissable.. kamu bisa lepasin semua tekanan kamu, jangan ragu, nangis aja gak papa. Aku disini buat kamu, maafin aku ya.. aku gagal ngelindungin kamu. Kamu harus ngalamin semua ini gara-gara keteledoran aku" sesal Alex.


Kayla menoleh ke wajah Alex, menatapnya sendu. Cukup lama mereka saling menatap, dengan sorot yang redup dimata masing-masing. Seolah lewat tatapan itu mereka saling berbagi luka, dan saling menyalurkan perasaan.


Biarlah. Alex juga tidak keberatan jika Kayla menangis sepuasnya dalam pelukannya, meski air mata Kayla telah membasahi baju Alex. Bahkan pria yang ia cintai ini juga ikut terisak bersamanya, disamping menyalurkan kehangatan kasih sayang lewat pelukannya. Alex sangat menyesali kelalaiannya.


... __________________...


Nadia duduk termenung di sebuah sofa, tatapannya kosong namun air mata terus mengaliri pipinya.


"Makan dulu, Tante!"


Nadia mengangkat kepalanya melihat siapa yang bicara padanya. Sandi, dia meletakkan sepiring nasi yang lengkap beserta lauknya ke atas meja di depan Nadia.


"Makasih." ucap Nadia datar, lalu kembali menatap ke arah pintu dengan raut cemas, dan melirik jam dinding berkali-kali.


Saat ini Nadia berada di sebuah apartemen, bersama dengan Bima, Sandi, Vicky. Beberapa jam yang lalu Alex bersama para bodyguard dan ketiga temannya datang ke tempat penyekapan untuk menyelamatkan Nadia, setelah mereka membereskan anak buah Arman mereka membawa Nadia ke tempat yang aman, yaitu sebuah apartemen milik Alex.


Nadia semakin gelisah dan mulai kesal, sudah berjam-jam Alex berpamitan untuk mencari Kayla tapi sampai sekarang belum kelihatan juga batang hidung anak itu. Satu jam yang lalu Nadia menelpon Alex, namun ponsel Alex malah tidak aktif. Bagaimana ibu satu anak ini tidak gelisah, setelah berjam-jam menunggu tapi tidak juga mendapat kabar baik.


"Sabar Tante, mungkin sebentar lagi Alex datang bersama Kayla." kata Bima mencoba menenangkan Nadia.


"Mendingan Tante makan dulu ya, Tante keliatan pucat banget. Bukannya Tante gak mau Kayla sedih liat Tante?" ujar Vicky, membuat Nadia menoleh padanya.


Ada benarnya juga, jika Kayla melihat maminya dalam kondisi begini pasti gadis itu akan sedih. Nadia mengamati seluruh tubuhnya, pakaiannya kusut berantakan, rambut dan wajahnya juga. Tapi Nadia sama sekali tidak berselera menyentuh makanan, ia tidak tenang sebelum melihat Kayla baik-baik saja. Lagipula Kayla pasti mengerti kondisi maminya, dia tahu kalau Nadia disekap oleh Arman.


"Coba kamu telpon lagi, siapa tau udah aktif." kata Nadia pada Vicky.


Vicky mengiyakan dan menghubungi Alex. "Masih gak aktif, Tante."


Nadia mendengus lesu, rasanya ingin marah, melampiaskan kekesalan dan kegelisahannya, tapi sejak tadi ia sudah banyak menggerutu di depan tiga pemuda ini.

__ADS_1


"Bro, apa menurut lu Alex berhasil nemuin Kayla?" kata Sandi pelan, segan dengan Nadia.


Bima terdiam berpikir, hanya melirik kedua temannya bergantian. Vicky menjawab, "Gue yakin sih berhasil"


"Tapi, gimana kalo enggak? Atau Alex telat, dan Kayla udah..." Sandi tidak berani melanjutkan kata-katanya karena Nadia menyelis ke arahnya.


Bima memukul paha Sandi, "Jangan ngomong macem-macem lu! Positif thinking aja bisa gak sih!"


Sandi pun diam seribu bahasa. Tak lama kemudian, bel apartemen yang mereka tempati berbunyi, menandakan ada yang datang. Nadia langsung berdiri dengan antusias, begitu juga Bima, Sandi, dan Vicky.


"Lily.." Nadia melangkah terburu-buru, ingin segera memeluk putrinya.


"Mami..!" lirih Kayla saat akhirnya bisa melihat maminya kembali.


Rasa haru meliputi ruangan itu, melihat Kayla kembali ke pelukan maminya. Alex lega, saking bersyukurnya ia merasa urat-urat tubuhnya melemas,  membuatnya harus segera menemukan tumpuan untuk tubuhnya. la lantas menghempaskan diri duduk di sofa, dengan pandangan yang tak lepas dari dua insan yang tengah berpelukan hangat di depannya. Bima, Sandi, dan Vicky menghampirinya dan tersenyum bangga.


"Congrats bro!" ucap Bima seraya menepuk pundak Alex. Sandi dan Vicky pun melakukan hal yang sama.


"Thank you so much." balas Alex kepada ketiga temannya, dengan ekspresi yang haru.


Alex bersyukur ketiga temannya ada disini bersamanya. Padahal Alex tidak memberitahu mereka tentang penculikan Kayla, lebih tepatnya Alex tidak sempat memberitahu mereka karena terlalu panik. Namun ketiga teman setianya inilah yang berinisiatif sendiri untuk menyusul Alex, setelah melihat gelagat gelisah Alex saat keluar dari hotel tempat Bang Ardi beroperasi. Alex sendiri pun tidak tau kalau mereka berangkat ke Bandung menyusulnya, padahal mobil mereka berkendara beriringan dari Jakarta hingga ke Bandung. Alex baru bertemu mereka saat sudah sampai di tempat penyekapan Tante Nadia. Untungnya ada mereka, jadi Alex bisa meninggalkan Tante Nadia dengan tenang bersama mereka, saat ia berangkat menuju tempat Kayla berada.


"Udah.. udah ya sayang, kamu udah aman kok, mami disini." lerai Nadia ketika Kayla tidak berhenti menangis dan semakin erat memeluknya.


Padahal Nadia ingin sekali melihat wajah Kayla yang kini masih betah menempel di dadanya.


"Lily takut mi.." berkali-kali Kayla mengucapkan kalimat itu.


Nadia sangat terpukul mendengarnya, tidak tahu apa saja yang telah dialami putrinya. Nadia takut membayangkan hal-hal buruk yang kemunginan terjadi pada Kayla, tidak banyak yang bisa ia lakukan saat ini, hanya memeluk dan mengelus Kayla, menyalurkan kehangatan pada putri tercintanya itu.


Cukup lama Kayla menangis dalam pelukan maminya, kemudian mereka duduk dengan perasaan yang sedikit lebih baik. Nadia membelai wajah sendu Kayla, ia terkesiap mendapati Kayla yang meringis saat disentuh pipinya.


"Kamu kenapa sayang..? Pipi kamu bisa sampe merah gini, sakit?" tanya Nadia panik.


Kayla mengangguk. "Sakit mi" singkatnya, membuat Nadia semakin mencelos.


"Mami obatin ya!" Nadia beranjak untuk mencari kotak P3K, namun dihentikan oleh Alex.


"Biar saya aja Tante." ujar Alex seraya berdiri, lalu melenggang pergi.


Sembari menunggu Alex, Nadia memperhatikan seluruh tubuh Kayla. Hatinya miris, pakaian macam apa yang melekat ditubuh putrinya ini, Nadia lalu mengangkat tangannya untuk membuka jas yang menutupi sebagian tubuh Kayla, tapi Kayla menghentikannya.


Kayla mulai kembali terisak, sehingga Nadia menyadari bahwa ia melakukan kesalahan. Tidak seharusnya Nadia membuka jas yang menutupi tubuh Kayla, seharusnya Nadia mengerti. Apalagi disisi mereka berdua ada laki-laki, Bima, Sandi, dan Vicky. Ketiga pemuda itu melirik ke arah pandang yang sama, rupanya mereka sama penasarannya dengan Nadia sebelumnya.


"Maafin mami sayang.." sesal Nadia.


Alex datang dengan membawa kotak P3K lalu menyerahkannya pada Nadia. la lalu menoleh pada ketiga temannya, dan memergoki mereka tengah menatap Kayla. Lebih tepatnya mata lancang mereka bertiga terhenti pada bagian paha Kayla yang terekspos.


"Ekheemmm!" dehem Alex keras, saking marahnya.


Bima, Sandi, dan Vicky tersentak kaget. Mereka langsung mendapat tatapan sengit dari Alex, dan lantas memalingkan pandangan. Alex ingin sekali memarahi mereka karena telah lancang menatap Kayla, tapi ia tidak akan melakukannya di depan Kayla dan Tante Nadia.


"Tante, Miss Kissable, abis ini kalian istirahat ya! Ini kamar kalian." kata Alex kemudian menunjuk kamar yang terletak di samping kanannya.


Nadia mengangguk, sementara Kayla hanya menatapnya saja tanpa ekspresi. Alex lalu mengajak ketiga temannya keluar, meninggalkan ruangan itu.


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... ....


... Bersambung...


__ADS_2