
Buggh!!
Ahkkh!
Alex terhempas ke lantai setelah dihajar Om Iwan. la meringis lalu bangkit. "Om, tolong dengerin saya dulu!"
"Dasar baj****n! Berani-beraninya kamu masuk ke kamar ponakan saya, ngapain kamu hah?!"
"Saya cuman ngomong sama Lily Om."
"Cuman ngomong?! Kamu kira saya buta?!" Om Iwan mencengkeram pergelangan tangan Alex dengan kencang. "Saya bisa liat tangan kurang ajar kamu ini nyentuh ponakan saya!" pekik Om Iwan di depan wajah Alex sambil menyentak tangannya.
Buggh!!
Lagi-lagi Om lwan menyerangnya. Setelah sebelumnya meninju perut Alex, kali ini wajahnya lah yang jadi sasaran.
Alex menelan salivanya sembari mengatur deru nafas. la mengusap ujung bibirnya yang berdarah akibat serangan Om Iwan. la tidak marah tapi justru malu, karena yang dikatakan Om lwan benar, ia memang kurang ajar. Om Iwan menatapnya penuh amarah, dan Alex menyadari situasi itu tapi ia tetap mencoba bicara baik-baik.
"Maafin saya Om. Kalo Om kasih saya kesempatan buat ketemu Lily, saya nggak akan ngambil jalan ini. Tapi saya nggak berniat buruk sama sekali, saya bener-bener cuman mau jelasin ke Lily Om."
Om Iwan bercedih. "Trus kamu kira saya percaya sama kamu?"
"Harus berapa kali saya bilang, enggak ada yang perlu dijelasin lagi. Semuanya udah jelas. Kamu denger kan waktu itu papa kamu yang terhormat bilang apa? Urusan kita udah selesai! Gak perlu kamu ngomong apapun lagi." gertak Om lwan dengan gigi yang menggemelatuk.
"Enggak ada yang selesai Om, semuanya berantakan. Saya harus bicara sama Om, sama Tante Nadia juga. Masalah ini sama sekali belum selesai, papa ngambil keputusan tanpa saya tau Om, mama saya juga gak tau soal ini. Kita pasti bisa bicarain ini baik-baik kan Om?"
Om lwan mendengus. "Mama kamu kan udah kemari tempo hari, dan penjelasannya udah cukup. Enggak ada yang bisa diperbaiki lagi, karena papa kamu udah terlanjur ngehancurin semuanya." kali ini nada bicara Om lwan terdengar lebih rendah dan datar.
"Tolong Om.. kasih saya kesempatan." mohon Alex.
Om lwan berkacak pinggang dan kembali menatap Alex kesal. "Bagi saya semuanya udah selesai. Papa kamu yang bijaksana sekaligus egois itu udah mengakhiri semuanya, lupain tujuan kamu datang kemari, udah gak ada artinya lagi"
"Om..." suara lirih Alex menggema di telinga Om lwan. Alex menghela nafas, lesu.
"Sekarang kamu pergi!" peringatkan Om lwan untuk yang kesekian kalinya, sudah bosan rasanya Om lwan mengulangi kalimat itu tapi mau bagaimana lagi, pemuda di depannya ini keras kepala dan begitu gigih.
"Kasih saya kesempatan Om, saya akan bikin papa ngerti dan nyesalin kesalahannya. Saya dan mama saya akan memperbaiki semuanya Om."
"Kamu dan mama kamu? Trus papa kamu?" Om lwan terkekeh miris. "Lupain Al! Udah terlambat, papa kamu udah terlanjur mempermalukan keluarga kami. Keterlaluan! Saya nggak akan menjatuhkan harga diri saya dengan menerima kamu kembali!" sungut Om lwan seraya tertawa kecil, mencibir.
Duaarrr.......
Dada Alex semakin sesak mendengar tanggapan Om lwan. "Tolong jangan bilang kayak gitu Om, saya nyesel gagal mencegah papa. Saya nggak pernah mau hal ini terjadi. Om pasti kenal papa saya kan.. ini bukan keinginan saya. Om pasti juga tau gimana perasaan saya sama Lily, saya.."
"..saya cinta sama Lily Om, saya sama sekali nggak bermaksud nyakitin Lily, apalagi mempermalukan keluarga kalian"
"Tapi itu udah terjadi. Nasi udah jadi bubur, Alex. Kata-kata papa kamu yang menyakiti kami itu nggak bisa ditarik ulur lagi. Jadi, saya mohon.. cukup sampai disini."
Alex mencelos. Tapi ia belum putus asa. "Enggak bisa gitu Om. Saya sama Lily saling mencintai, kalian nggak berhak misahin kita. Soal kesalahan papa saya, saya bisa memperbaiki itu. Percaya sama saya Om."
"Yang misahin kamu sama Kayla itu papa kamu sendiri!" sergah Om lwan marah.
"Dan Om sama Tante Nadia pasrah aja?Keputusan itu cuman dari papa sendirian, saya sama mama nentang itu. Tapi Om sama Tante Nadia terima?" balas Alex mulai frustasi.
Om Iwan melotot, menarik kerah jaket Alex lagi. "Anak kurang ajar! Kamu tau saya susah payah nahan emosi saya sama kamu, tapi kamu emang gak tau diri ya!"
Buggh!!
Sekepal tinjuan mendarat di wajah Alex. Namun Alex tidak melawan ataupun menghindar.
"Saya nggak t**ol dengan mau menerima keputusan bodoh papa kamu. Tapi penghinaan yang papa kamu kasih, udah ngubah hati saya. Papa kamu bilang Kayla nggak pantes buat kamu" Om lwan terkekeh, "Bagi saya.. kamulah yang nggak pantes buat Kayla. Kamu cuman bisanya nyakitin dia"
Duaaar.......
Jantung Alex serasa disambar petir, terbakar api kebencian dari tatapan Om Iwan. Alex mengepalkan kedua tangannya, berusaha menguatkan dirinya yang kini sudah frustasi. la tidak bersedia mendengar dirinya disebut tidak pantas untuk Kayla, tapi itu juga tidaklah salah. Memang benar ia bukan pria yang baik dan sering menyakiti Kayla. Tapi ia selalu berjuang untuk memperbaiki dirinya agar ia pantas untuk Kayla.
"Saya emang bukan cowok baik, tapi saya selalu berusaha buat jadi baik Om. Saya selalu membenahi diri saya supaya saya pantas buat Kayla. Dan Kayla kasih kepercayaan itu ke saya, saya nggak akan-siain kepercayaannya." tekad Alex.
Om Iwan geram, tak habis pikir dengan kegigihan Alex. Dalam hati terpaksa Om Iwan harus mengakui bahwa Alex memang pria berprinsip teguh, dan harusnya dia pantas dipertimbangkan. Tapi Om lwan benci mengakui itu, mengingat perlakuan Pak William pada Nadia dan Kayla.
__ADS_1
"Harus berapa kali saya bilang, enggak ada lagi kesempatan buat kamu!! Saya nggak akan ngebiarin kamu bikin Kayla lebih menderita dari ini!" bentaknya geram.
"Tapi Lily setuju ngasih saya kesempatan. Saya udah jelasin ke dia." jawab Alex membuat Om lwan semakin murka.
"Ngomong apa kamu sama Kayla? Apa aja yang udah kamu lakuin ke ponakan saya, hah??"
"Brengsek!" Om lwan meninju Alex lagi.
Alex meringis dan tubuhnya terhuyung, tapi tidak sampai jatuh.
Nafas Om lwan memburu, saking marahnya. Lalu terkekeh, "Papa kamu yang terhormat itu udah ngehina ponakan saya, kamu tau!! Dia ngerendahin harga diri Kayla seolah-olah dia yang paling suci. Dia ngomong sembarangan seolah dia yang paling benar. Emang dia kira anaknya ini cowok baik-baik apa!"
Alex memberanikan diri menatap ke mata Om Iwan, yang dibalas Om lwan dengan tatapan benci dan meremehkan.
"Cihh!! Kamu berharap saya mau percaya sama cowok brengsek kayak kamu?" Om Iwan berdecih.
"Papa kamu yang terhormat itu harus tau kelakuan anaknya, yang gak tau sopan santun menyelinap masuk ke kamar anak gadis orang. Saya mau liat, apa dia masih punya muka di depan saya. Setelah dia ngehina ponakan saya dan adik saya, dia mungkin lupa kalo anaknya yang dia bangga-banggain ini.. seorang baj****n. Dan bisa ngehancurin kehormatannya kapan aja."
"Om, saya sangat tau kalo papa saya udah keterlaluan. Tapi tolong jangan nilai saya kayak gitu. Saya sayang sama Lily, dan saya nggak mungkin ngerusak dia. Saya nggak akan mengotori cinta saya dengan perbuatan kayak gitu. Saya disini dengan niat baik. Saya mau memperbaiki semuanya, tolong.. lupain kata-kata papa saya kalo memungkinkan" mohon Alex dengan suaranya yang semakin parau karena frustasi.
Om Iwan berdecih marah. "Lupain kata-kata papa kamu? Kamu gak tau apa aja yang papa kamu bilang, meski saya sendiri juga nggak mendengar langsung.. tapi kata-kata papa kamu itu udah menciptakan luka dihati adik saya dan keponakan saya. Kata-kata itu juga MELUKAI HARGA DIRI mereka, kamu tau!!"
Alex mendesah nafas berat, memejamkan matanya penuh sesal. Lalu kembali memandang Om Iwan. "Tapi Om tau kan.. saya nggak akan pernah bisa ngelakuin itu."
Om Iwan terkekeh meremehkan. "Kamu kira kenapa papa kamu ngelakuin itu, heh?! Karena kamu. Karena KAMU, Alex!" Om lwan mengetuk-ngetukkan telunjuknya beberapa kali ke dada Alex.
"Meski bukan kamu yang ngomong, bukan kamu langsung yang menyakiti adik saya dan keponakan saya, itu sama aja. Sekarang hubungan kamu dan Kayla udah berakhir, kami udah ngerasa terhina dan tersakiti, itu semua udah terjadi.. apa bisa kamu membuat kami melupakan itu??"
Alex tertegun dengan kepala yang menunduk. Matanya sudah berkaca-kaca, ia menelan salivanya berkali-kali dengan susah payah.
"Sekarang kamu pergi!" kali ini suara Om Iwan terdengar rendah.
Alex mengepalkan tangannya kuat-kuat, ia tidak mau pergi begitu saja. la mau memperbaiki semua ketidak benaran ini. la tidak bisa membiarkan hubungannya dengan Kayla berakhir seperti ini. Tidak bisa!
Melihat Alex yang tak bergeming, Om Iwan mendorong dada Alex tapi Alex tetap diam. Melihat itu, amarah Om lwan kembali tersulut.
"Ck, batu kamu ya! Pergi saya bilang!" hardik Om lwan seraya mendorong keras tubuh Alex hingga jatuh terduduk.
Tanpa pikir panjang, Om lwan yang sudah tersulut amarah itu pun langsung menghajar Alex. "Kamu mau buktiin ke saya kalo kamu kuat? Kamu tahan banting? Bukan cuman keras kepala ya ternyata kamu juga batu. Jangan kamu kira dengan kamu kayak gini saya bakal ngerubah pikiran saya!!" bentak Om Iwan sembari menghajar Alex bertubi-tubi.
Alex hanya meringis dan merasakan sakit dari pukulan yang ia terima. Tanpa perlawanan, dan tidak mundur.
"Sialan!! Lawan saya, ayo lawan!" maki Om Iwan yang kesal karena Alex hanya diam menerima pukulannya.
"Pukul saya Om, lampiasin semua amarah Om, semua kekecewaan Om sama saya. Saya terima hukuman ini, asalkan saya bisa mendapatkan restu Om lagi." ucap Alex terengah-engah sementara Om Iwan semakin murka dan tak berhenti menghajarnya.
"Cuihh!! Mimpi kamu! Saya nyesal merestui kamu melamar ponakan saya, dan jangan harap kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau!! Kamu baj****n, nggak pantes buat ponakan saya."
"Stop Om!" sergah Kayla yang tengah berjalan cepat ke arah mereka.
Om Iwan menoleh, agak terperangah melihat Kayla membela Alex. Sementara Alex terenyuh, ia tersenyum samar dibalik wajah babak belurnya.
"Lepasin dia Om!" pinta Kayla yang kini sudah berdiri di depan mereka.
"Apa-apaan kamu Kayla?" gertak Om lwan marah.
Om lwan menatapnya tak percaya. Namun sorot mata Kayla tidak menggambarkan sebuah permohonan, tapi ketegasan. Jika saja Kayla mengiba padanya agar Alex dilepaskan, maka Om lwan tidak akan berpikir untuk menolaknya. Tapi ini.. baiklah Om Iwan akan mengalah. Om Iwan lalu mengalihkan tatapannya pada Alex, dan menyentak pemuda itu dari cengkeramannya dengan kasar hingga Alex kembali tersungkur.
Kayla menelan salivanya dan mengalihkan pandangannya dari Alex. Demi apapun Kayla tidak sanggup melihat kondisi Alex, menyedihkan. Dia terduduk lemas dengan nafas yang terengah-engah, wajahnya babak belur, dan penampilannya berantakan. Namun Kayla tetap berdiri di tempatnya, ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak mendekati Alex dan menolongnya. Karena Maminya dan Om nya tidak akan menyukai tindakan itu. Kayla mengepalkan kedua tangannya, ia kira mudah mengabaikan Alex tapi nyatanya sulit, hatinya sakit.
"Miss Kissable.." panggil Alex lembut, ia bangkit dengan lebih semangat dari sebelumnya.
Kayla memejamkan matanya sekilas sembari menguatkan dirinya. "Ngapain lagi kamu disini?" ketus Kayla.
Alex melongo dengan perasaan mencelos, kenapa sikap Kayla seperti ini?
"Kamu denger kan Om ku bilang apa, pergi dari sini karena semuanya udah selesai." lanjut Kayla, masih dengan nada yang sama.
Om Iwan mengernyit, sekaligus lega. Jadi ini arti dari sorot mata Kayla tadi. Tadinya ia pikir Kayla menghentikannya demi membela Alex, tapi ternyata Kayla pun mengusir pemuda itu. Sementara Nadia yang sedari tadi berdiri mematung ditengah ruangan, merasa penasaran akan apa yang didengarnya. Benarkah yang ia dengar, Kayla memarahi Alex? Nadia harus menyaksikannya, ia tidak mau melewatkan bagian penting ini. Lantas Nadia pun melangkah menyusul ke depan rumah.
__ADS_1
"Miss Kissable?" bingung Alex tak habis pikir. la maju selangkah mendekati Kayla tapi dengan sigap Om Iwan menghalanginya, menarik kerah jaketnya lagi.
"Nggak usah ngotot ya! Kamu udah babak belur gitu masih mau nentang Om aku?" Kayla memarahi Alex tapi ia tidak menatap wajahnya.
Alex tertegun. "Oh, kamu nunggu aku yang ngusir kamu? Oke, pergi dari sini!" tegas Kayla seraya mengangkat telunjuknya ke arah jalan.
Alex tercekat. Menyakitkan sekali ketika kalimat itu keluar dari mulut Miss Kissable nya sendiri. "Kenapa Miss Kissable..?" batinnya.
"Kamu dengar sendiri? Kayla juga nggak menginginkan kehadiran kamu, jadi apa lagi yang kamu tunggu?" ujar Om lwan.
"Miss Kissable, izinin aku sampe Om dan Mami kamu mau dengerin aku." pinta Alex lembut.
"Apa lagi yang mau kamu lakuin? Semuanya udah selesai. Tujuan kamu kesini cuman mau ngomong sama aku kan? Udah, aku udah dengerin kamu."
"Tapi Om sama Mami kamu-.."
"TERSERAH!" Kayla menyela marah, "Kalo kamu nggak sayang sama diri sendiri, terserah. Kalo kamu mau mati disini, terserah, nggak usah dengerin aku!" bentak Kayla.
Setelahnya Kayla langsung berbalik, menyilangkan tangannya di depan dada dengan kesal. Tapi ia tidak langsung melangkah pergi, ia tetap di tempatnya hingga ia bisa melihat maminya berdiri didepannya dan tertegun menatapnya.
Alex terdiam beberapa saat. "Miss Kissable, tolong jangan kayak gini sama aku.. kamu kasih aku kesempatan kan?"
"Ck, tuli ya! Dasar batu kamu!" umpat Om Iwan muak. "Pergi dari sini!"
Alex tak menghiraukan Om Iwan, ia tetap mencoba bicara pada Kayla. "Miss Kissable, kenapa-.."
"Cukup ya!" sergah Om Iwan cepat, menyadari Alex berani melangkah maju lagi untuk mendekat ke arah Kayla.
"Bener-bener gak tau diri kamu! Kayla nggak sudi liat muka kamu, kamu tau itu, hah?!" bentak Om lwan muak.
Kayla menunduk, ia bukan hanya menyilangkan tangannya di depan dada tapi juga mencengkeram kedua lengannya getir. la menahan diri agar tidak menangis, ia ingin pergi dari sini sekarang tapi langkah kakinya masih berat. Semua gelagatnya itu tak luput dari perhatian Nadia.
Om Iwan menoleh ke wajah Kayla, lalu beralih pada Nadia. "Nad, bawa Kayla masuk!"
"lya Mas." Nadia mengangguk.
Nadia menarik tangan kanan Kayla namun Kayla tetap berdiri di tempatnya, membuat Nadia menoleh kembali. Arah pandang mata Kayla tertuju pada tangan kirinya, Nadia pun lantas mengikuti arah pandang Kayla. Ternyata tangan kiri Kayla dipegang oleh Alex, sehingga membuat langkah Kayla tertahan di tempat.
"Saya mohon, Tante. Kasih saya kesempatan." ucap Alex sungguh-sungguh.
Nadia memalingkan wajahnya dari Alex, entah kenapa sejak perlakuan Pak William beberapa hari yang lalu Nadia jadi menilai buruk Alex, sama seperti papanya. Nadia tidak tahan melihat wajah Alex, hatinya menaruh kasih pada anak itu, tapi luka juga menganga di sana. Ditambah lagi suara mengiba Alex yang membasahi luka hati Nadia, membuat luka itu terasa semakin sakit.
Om Iwan dengan cepat melepaskan tangan mereka, membuat Alex dan Kayla menatap getir ke arah tangan mereka yang dipisahkan secara paksa. Kayla menggigit bibir bawahnya, bagaimana pun juga air matanya tidak boleh sampai lolos, Alex harus melihat ketegasannya bukan kelemahannya.
"Pergi dari sini!" tegas Om lwan untuk yang kesekian kalinya.
Setelah tangan Kayla terlepas dari pegangan Alex, Nadia langsung menariknya masuk ke rumah. Meski berat, Kayla melangkah menjauh dari Alex, mengikuti tuntunan sang mami. la ingin sekali menoleh melihat Alex, tapi ia tidak bisa melakukannya. Dan Alex terus memandangi punggung Kayla yang melangkah semakin menjauh darinya, ia tidak melepaskan pandangannya seolah tak ingin siluet gadis itu hilang dari pandangannya. Alex takut tidak bisa melihat Miss Kissable nya lagi.
"Miss Kissable..!" seru Alex, ia hendak menyusul Kayla namun ditahan oleh Om Iwan.
"Saya bilang pergi!" bentak Om Iwan murka, sambil mengambil ancang-ancang untuk menghajarnya lagi.
"Baik Om, saya pergi. Tapi Om harus tau, saya belum pasrah apalagi nyerah. Saya akan memperjuangkan cinta saya." ucap Alex kemudian berbalik.
Om lwan hanya menanggapinya dengan dengusan kesal, sembari mengamati langkah Alex dari belakang. Meski dengan berat hati Alex meninggalkan rumah Kayla, ia tersenyum samar. la mengerti tentang sikap acuh tak acuh Kayla padanya.
"TERSERAH!" Kayla menyela marah, "Kalo kamu nggak sayang sama diri sendiri, terserah. Kalo kamu mau mati disini, terserah, nggak usah dengerin aku!!" bentak Kayla.
"Aku ngerti Miss Kissable, kamu marah bukan karena kamu benci dan mau ngusir aku. Tapi kamu khawatirin aku kan?" gumam Alex dalam hati, ia mengusap sudut bibirnya yang perih akibat tinjuan Om lwan.
Lalu Alex tersenyum sambil melanjutkan langkahnya. "Hm, makasih... Miss Kissable, i love you!"
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... Bersambung...