Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Pemicu Dan Penenang


__ADS_3

Kayla berjalan mengelilingi rak barang dagangan di mall, sambil menilik dan mencari sesuatu yang ingin ia beli.


Samar-samar ia mendengar suara beberapa orang yang sedang memperdebatkan sesuatu. Karena merasa tidak asing dengan salah satu suara yang ia dengar itu, Kayla jadi penasaran dan mulai melangkah menuju asal suara.


Kayla menghentikan langkahnya saat melihat Alex yang berdebat dengan seorang ibu-ibu dan seorang bapak-bapak. Kayla bersembunyi di balik rak terdekat, sambil mengintip tiga orang yang sedang berdebat itu.


"Bukan urusan kamu!" ucap Alex ketus.


"Ck..sekali-sekali nurut lah kalo dibilangin" Si bapak itu bedecak terlihat mulai kesal.


"Buat kebaikan kamu, nak.." sahut si ibu.


Alex nampak tak berminat membalas ucapan si ibu ataupun bapak itu, ia memilih beranjak dari sana tanpa menatap wajah si ibu ataupun bapak itu. Tapi si ibu memegang lengan Alex, menahannya agar tidak pergi.


Dengan kasar Alex menyentak tangan si ibu hingga terlepas. "Udah dibilangin gak usah sok peduli! Urus aja urusan sendiri!"


Kayla terbelalak tak percaya, Alex membentak ibu itu. Kayla pikir Alex bersikap buruk dan kejam hanya di sekolah dan pada para siswi saja, karena ia membenci perempuan. Tapi ini, ibu-ibu pun ia bentak juga.


Setelah membentak ibu itu Alex berlalu begitu saja. Si ibu sempat terdiam, pasti dia kaget. Kemudian si ibu berusaha mengejar Alex.


"Tunggu nak.. dengerin mama dulu.. Al.."


Apa? Mama? Ibu itu mamanya Alex? Dan Alex barusan ngomong kasar sama dia? Kayla menggeleng tak percaya, bahkan matanya sampai melotot dan mulutnya terbuka ketika mendengar itu.


Bagaimana bisa Alex memperlakukan mamanya sendiri seperti itu. Berkata kasar dan membentak orang tua sendiri, bukankah pantas disebut kedurhakaan. Apa Alex tidak punya perasaan sampai dia bisa melakukan itu. Kayla tidak habis pikir.


... ________________...


Kayla terus menatap maminya sepanjang makan malam. Ia masih terpikir perihal yang ia saksikan tadi sore di mall.


Mami yang sudah selesai makan akan beranjak, mami mengernyit ketika melihat tatapan Kayla yang ambigu.


"Kenapa sayang?"


"Eh, enggak papa Mi." Kayla terkesiap mendengar suara mami.


"Mi?"


"Ya sayang?"


"Apa selama ini.. Lily pernah ngomong kasar sama mami?" tanya Kayla ragu.


Mami menatap mata Kayla bingung. "Kamu ngomong apa sih?"


"Apa Lily pernah bikin mami sakit hati?"


"Lily... kamu kenapa sayang? Kamu itu anak kesayangan mami, anak paling baik dan sopan. Mana pernah kamu nyakitin mami."


Kayla menghela nafas seraya tersenyum tipis.


"Kalo Lily ada salah, maafin Lily ya Mi!"


Mami tersenyum tulus seraya menatap putrinya. "Mami pasti maafin kamu sayang, lagian kamu gak bikin salah apa-apa kok. Kamu sebenarnya mikirin apa sih sayang? Ada masalah?"


"Enggak ada masalah kok. Surga dibawah telapak kaki ibu kan Mi, Lily gak mau jadi anak durhaka kalo Lily pernah nyakitin mami."


Mami terkekeh seraya menggeleng "Anak mami sayang.." ucapnya sembari beranjak dan mengusap kepala putrinya.


"Mami duluan ya sayang.." Mami kemudian berlalu meninggalkan Kayla.


Kayla pun beranjak untuk mencuci piring, setelah selesai Kayla menyusul mami duduk di sofa. Terlihat sebuah amplop dengan ukiran emas di permukaannya terletak di atas meja, karena penasaran Kayla meraihnya.


"Apa ini, Mi?"


"Itu undangan, sayang.." sahut mami dengan mata berbinar.


Kayla mulai membuka amplop itu dan mengeluarkan sebuah kartu undangan dari dalamnya.


"Undangan dari Bos mami, acara penyerahan sebagian aset-aset kekayaan dan bisnisnya buat anaknya Bos." lanjut mami.


"Wow... acara penyerahan aset!" gumam Kayla takjub.


"Iya, sekaligus pembukaan restoran baru juga. Kata teman-teman mami yang karyawan lama sih anaknya bos itu masih SMA loh sayang."


"Masih SMA, Mi? Hebat banget bisa diserahin aset dan tanggung jawab sebesar itu."


"Iya sayang, dia anak tunggalnya Bos. Makanya Bos ngadain acara resmi ini, semua rekan bisnis dan karyawannya di undang loh."


Kayla mengangguk sembari membaca undangan itu. "Acaranya minggu depan.." gumam Kayla.


"Iya sayang, kamu temenin mami ya.."


"Lily?"


"He'em.., undangannya buat dua orang loh sayang, partner mami kan cuman kamu. Mau ya?"


"Emm...." Kayla meletakkan telunjuknya didagu nampak berpikir.


"Ya sayang....nanti mami kenalin deh sama anak Bos mami yang keren itu." rayu mami


"Ih.. mami apaan sih.. mami aja belum kenal dia kan, udah mau ngenalin sama Lily..!?" celetuk Kayla.


Keduanya tertawa kecil.


... ________________...


Kayla baru sampai ke sekolah dan ia berjalan di koridor menuju kelasnya.


"Itu Bu Weni?" gumam Kayla ketika ia melihat sosok Bu Weni berjalan dari arah berlawanan. Saat langkah keduanya sudah mendekat Kayla menyapa Bu Weni.


"Selamat pagi, bu" Kayla meraih tangan Bu Weni lalu menciumnya.


"Eh Kayla.. selamat pagi" sahut Bu Weni.


"Bisa bantuin ibu nggak?"


"Bisa bu, ibu butuh bantuan apa?"


"Terima kasih ya! Ayo ikut ibu" Kayla mengangguk.


Bu Weni berjalan mendahului Kayla, dan Kayla mengekori di belakangnya.

__ADS_1


"Sebenarnya tadi ibu sudah minta panggilin Adit, tapi ternyata Aditnya belum datang." ujar Bu Weni sambil berjalan.


"Sebenarnya ini tugas ketua kelas sih, tapi kamu yang gantiin gak papa kan?"


"Iya, bu. Saya senang bisa bantuin ibu" sahut Kayla seraya mengembangkan senyumnya.


Setelah sampai di ruang guru, Bu Weni menyerahkan tumpukan buku pada Kayla, dan memintanya membawa tumpukan buku itu ke kelas.


Karena buku yang Kayla bawa cukup banyak dan berat, ia kesulitan dan keseimbangannya terbatas. Tiba-tiba seseorang menyenggolnya dari belakang, membuat Kayla terjatuh dan tumpukan buku yang ia bawa berserakan di lantai.


Gubrakkk...


"Aww...." jerit Kayla. Ia mendongak ke arah orang yang barusan mengenggolnya.


"Alex?"


Alex hanya mengerlingkan matanya menatap Kayla malas, ia kemudian berlalu dengan langkah yang nampak terburu-buru.


Ketika Kayla memunguti buku-buku yang berserakan, ada tangan yang ikut membantunya. Kayla menoleh, "Adit?"


"Biar aku bantu, ini juga seharusnya tugas aku." ucapnya lalu terkekeh.


"Makasih Dit, tadi Bu Weni nyari kamu loh.."


"Aku tau, tapi tadi ada hal yang penting banget dan gak bisa aku tunda, makanya aku telat."


"By the way, makasih ya udah gantiin aku, hehee.." lanjut Adit sambil menyengir.


Kayla mengerucutkan bibirnya dan mengernyit menunjukkan kalau ia sedang pura-pura kesal.


... ....


... ....


... ....


Alex berjalan cepat dan terburu-buru sambil mengepalkan kedua tangannya. Ketika sampai di tempat tujuannya ia langsung menyerang targetnya.


Sebelumnya Alex diberi tahu oleh Sandi, bahwa Vicky dan pacarnya, Lira, sedang bertengkar, kemudian Reza datang dan ikut mendebat Vicky. Reza memang menyukai Lira tapi Lira lebih memilih Vicky jadi pacarnya. Saat Lira dan Vicky sedang bermasalah Reza mengambil kesempatan untuk memperlihatkan pada Lira kalau ia lebih baik dari Vicky, dengan membelanya.


Vicky yang sudah tersulut amarah pun lantas memukul Reza, hingga terjadilah adu pukul antara Vicky dan Reza.


Jadilah kini, Alex datang untuk membela temannya itu, ia menghajar Reza. Dan mau tidak mau Reza pun membalas Alex, meskipun ia tahu konsekuensinya jika berurusan dengan Alex.


Tentu saja Reza yang hanya gaya selangit tapi kemampuannya di bawah standar itu tidak bisa mengalahkan Alex, jangankan mengalahkan, mengimbangi serangannya saja susah. Akhirnya Reza pun tersungkur dengan kondisi babak belur.


... ....


... ....


... ....


Setelah pelajaran pertama selesai dan para murid masing-masing berjalan memenuhi koridor kelas, Kayla dan Nia berjalan menuju kantin. Tahu-tahu mereka melihat banyak siswa berkerumun dan terdengar keributan di dekat kelas XI IPA, karena penasaran mereka pun mendekat.


Tepatnya didepan kelas XI IPA, para siswa maupun siswi nampak berdesak-desakan di sekitar pintu kelas. Kayla dan Nia hanya bisa ikut menengok dengan mengangkat kepalanya dan berjingkit kaki untuk meninggikan posisi berdirinya agar dapat melihat apa yang terjadi.


"Ada apa ya Ni?"


Beberapa orang terlihat keluar dari kerumunan, mungkin karena mereka sudah melihat yang terjadi di dalam dan rasa penasaran mereka terjawab, jadi mereka memilih meninggalkan tempat.


"Eh, tunggu. Ada apaan sih?" tanya Nia pada salah satu siswi yang baru keluar.


"Sherly, dia dibully sama P-four. Kasian dia nangis tuh di dalem." jawab siswi itu.


"Sherly??" gumam Nia tak percaya.


Selain Jessica, Sherly adalah salah satu siswi yang populer di sekolah. Dia anak pengusaha sukses yang bisnisnya terbilang internasional. Dia memang dikenal sombong, karena dia suka memamerkan barang-barang mahal dan branded miliknya pada semua orang, yang katanya oleh-oleh dari orang tuanya yang sering pulang pergi untuk urusan bisnis diluar negri. Dia punya banyak teman, menurut Nia sih, teman-temannya itu hanya memanfaatkan Sherly, karena dia kaya dan suka dipuji, dan Sherly sering mentraktir mereka shoping. Dia dan teman-temannya adalah fans fanatiknya Pak Bayu, maksudnya mereka sangat menyukai Pak Bayu dan suka cari perhatian dengan guru olahraga yang tampan itu.


Nia cukup kaget saat mendengar Sherly dibully. Jadi, gadis sombong itu juga kena bully Alex dan teman-temannya? Kesalahan apa yang dia lakukan sehingga membuat Alex menghukumnya?


"Nia?" Kayla menepuk pundak Nia yang terlihat melamun.


"Kenapa kamu? Emangnya siapa Sherly? Kok kamu kayak kaget gitu dengarnya?"


"Sherly itu kayak Jessica, maksudnya dia itu cewek populer juga disini. Ya gak sepopuler Jessica sih, tapi dia juga cukup berpengaruh kok."


Nia meringis sambil menggelengkan kepalanya sebelum ia melanjutkan kata-katanya. "Dia pasti syok banget sekarang karena dibully sampe dikerumunin begini."


"Kasian.." lirih Kayla. "Kita samperin yuk!"


"Hah? samperin? Ngapain sih Kay.. gak usah ah" sanggah Nia.


"Kok kamu gitu sih, seenggaknya kita liat dulu keadaan dia"


"Kayla, cewek sombong kayak dia biarin aja lah ngerasain dibully sekali-sekali, biar dia sadar"


"Nia! kok ngomongnya gitu sih" sergah Kayla mulai kesal, ia kemudian beranjak ikut berdesakan dengan siswa-siswi lainnya untuk melihat Sherly di korban bullying.


Betapa terkejutnya Kayla saat melihat keadaan Sherly yang memprihatinkan, tapi orang-orang malah menjadikannya tontonan, Kayla jadi tidak tega.


"Bubar semuanya..bubar..!" pekik Kayla seraya mengayun-ayunkan tangannya agar semua orang berhenti menonton Sherly.


Sherly yang sebelumnya menunduk kini mendongak mencari sosok yang barusan angkat suara untuk menyelamatkannya dari tatapan-tatapan jijik, sinis, dan mengolok-olok itu, peristiwa yang sangat memalukan bagi Sherly.


"Kamu.. baik-baik aja?" tanya Kayla ragu sambil menyentuh pundak Sherly, walaupun Kayla tahu keadaan Sherly tidak sedang baik-baik saja. Eskpresi wajah pilu yang Sherly tunjukkan menjelaskannya.


Ia hanya menatap Kayla dengan matanya yang merah dan wajahnya yang basah oleh keringat dan air mata.


Kayla memperhatikan keadaan Sherly, seragam yang dipakainya terlihat kacau dan berubah warna, warna merah di sepanjang pakaiannya dari pinggang sampai rok bahkan kakinya. Ia terlihat seperti baru saja disiram dengan air berwarna merah dibagian tengah tubuhnya. Sehingga air itu mengalir di sepanjang kakinya bahkan sampai ke sepatunya. Dan lagi, air berwarna merah ini terlihat seperti darah sungguhan, bahkan baunya pun sama.


"Ini darah?? Darah sebanyak ini gak mungkin kan darah haid dia? Gimana bisa ini terjadi?" gumam Kayla dalam hati.


Sherly duduk dibangkunya dengan tubuh ditekuk dan kepala menunduk dalam sebelum Kayla datang. Tempat duduk Sherly yang posisinya di depan dan di ujung kanan paling dekat dengan pintu membuat orang-orang yang mengerumuninya mudah untuk melihat keadaannya dari dekat dan dengan jelas.


Kayla sungguh prihatin dengan keadaannya. Tega sekali Alex dan teman-temannya itu mempermalukan seorang gadis seperti ini.


"Makasih..." lirihnya sambil menatap mata Kayla.


Kayla duduk disampingnya.


"Aku nggak tau apa yang terjadi, tapi aku bisa bantu kamu." ucap Kayla berhati-hati.

__ADS_1


Sherly mengangguk cepat, seolah ia benar-benar membutuhkan bantuan saat ini.


"Tapi sekarang kita harus ke toilet dulu."


Sherly membulatkan matanya. "Enggak, aku malu." cicitnya panik.


"Kamu harus ganti baju dan bersihin badan kamu"


"Aku gak bisa kemana-mana dengan keadaan kayak gini..!" sahutnya frustasi.


Kayla terdiam, memikirkan sesuatu untuk bisa membawa Sherly keluar tanpa harus membuat Sherly malu. Kayla mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Ia beranjak ketika mendapatkan sebuah ide. Kayla meraih sprei jendela kelas dan melepasnya. Ia kemudian membalutkan sprei itu ke tubuh Sherly untuk menutupi sebagian tubuh Sherly yang berlumuran darah.


"Apa apaan nih?" keluh Sherly, ia terlihat ilfil dan risih ketika Kayla membalutkan sprei ke tubuhnya.


"Gak papa ya, yang penting darahnya ketutupin." bujuk Kayla.


Terpaksa Sherly menurut, ia mengangguk pasrah.


Keduanya berjalan keluar kelas, awalnya Sherly menghentikan langkahnya di ambang pintu, ia merasa sangat malu dilihat orang-orang. Kemudian Kayla merangkulnya erat dan perlahan menggiring langkahnya yang berat. "Gak usah peduliin yang lain, yang penting sekarang kamu bersih-bersih dulu." bisik Kayla.


Setelah sampai di toilet, Kayla memberikan seragam cadangannya pada Sherly, seragam yang selalu ia simpan di loker, kalau sewaktu-waktu ia pasti membutuhkannya jika seragamnya dikotori oleh kajahilan Alex dan teman-temannya.


Setelah Sherly membersihkan dirinya dan sudah terlihat lebih baik, Kayla mengajaknya bicara, menanyakan kronologi kejadian yang baru menimpanya. Awalnya Sherly ragu untuk berbagi dengan Kayla, karena sebelumnya mereka tak saling kenal. Sherly hanya mengenal Kayla sebagai gadis menyebalkan yang suka mendekati Pak Bayu.


Tapi kemudian, Sherly berpikir hanya Kayla yang peduli padanya disaat keadaannya seperti ini. Apa kabar teman-temannya yang selama ini suka mengintilinya dan selalu memujinya? Ternyata mereka tidak ada disaat Sherly membutuhkan mereka.


"Hari ini gue pake tas baru, tas itu limited edition yang baru dibeliin nyokap kemarin di Inggris." Sherly memulai kisahnya.


"Dan tadi pagi gue kasih liat ke teman-teman sekelas, gue ngizinin mereka megang tas gue dan mereka main-mainin itu tas. No problem sih soal itu, udah biasa. Tapi tau-tau itu tas gak sengaja kelempar kena muka Alex dan dia langsung marah-marah."


Sherly terdiam beberapa saat sebelum menghela nafas dan melanjutkan kisahnya. "Gue balas marahin dia, mungkin itu kesalahan gue sampe dia bikin gue malu banget kayak gini." raut wajahnya dan nada bicaranya mulai berubah.


"Pas bel tadi gue buru-buru ke toilet, setelah gue keluar dari toilet trus jalan ke kelas, tiba-tiba gue kepeleset di depan pintu, gue jatuh. Yang bikin gue syok ternyata di belakang gue ada baskom yang isinya darah, banyak banget. Gue langsung jatuh nimpa baskom itu, dan...." Dia menggeleng dan menutup matanya, agaknya tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Kayla mengusap pundaknya, menyalurkan rasa empati yang Kayla miliki.


"Gue langsung diketawain dan ditatap jijik sama semua orang. Alex sama gengnya nyemperin gue dan ngancem kalo gue berani ngulangin kesalahan gue, mereka bakal bikin gue lebih malu lagi." katanya lirih mengakhiri kisahnya.


"Keterlaluan!" geram Kayla. "Tapi, itu beneran darah?"


"Gak tau, sama aja kan itu darah atau bukan, yang ngeliat pasti jijik dan ngeri. Gue sendiri aja jijik."


"Yaudah, gak usah dipikirin lagi." ujar Kayla seraya menatap iba pada Sherly.


"Pliss gue gak suka diliatin kayak gitu. Gue mungkin gak bisa ngebalas Alex, tapi gue gak akan biarin satu orang pun ngehina gue."


Kayla mengangguk. "Aku suka semangat kamu." ucapnya seraya tersenyum. Sherly membalas senyuman Kayla.


"Makasih ya.."


Prak Prakk Prak


Suara tepuk tangan mengalihkan perhatian keduanya. Ternyata Alex dan teman-temannya sudah berdiri di depan keduanya.


"Ini pahlawannya?" ledek Bima sambil menatap remeh Kayla.


"Mau jadi wonderwoman kesiangan lu cupu?!" timpal Sandi.


"By the way... kayaknya dia mesti dikasih penghargaan nih Al." Vicky pun ikut menimpali.


Alex yang sejak tadi hanya tersenyum smirk lantas maju, menatap Kayla tajam. "Pasti bro, pasti gue kasih penghargaan."


Melihat Alex mendekat, Kayla beranjak, melangkah maju menghadapi Alex tanpa rasa takut. Alex menghentikan langkahnya, dengan jarak dua langkah di depan Kayla yang nampak sudah siap dengan aksi perlawananya. Alex menyilangkan tangannya ke dada, Kayla pun melakukan hal yang sama.


"Heh! benar-benar berani nih cewek. Nantangin ya?" batin Alex.


"Harus gue akuin, elu cukup berani. Gak bosen dibully? Gak kapok?"


"Kalo aku tanya balik, kamu gak bosen ngebully orang tiap hari? Kamu sadar nggak, kalo perbuatan kamu itu sebenarnya bukan cuma ngerugiin orang yang kamu bully, tapi juga ngerugiin diri kamu sendiri?"


Alex terkekeh, "Gak usah sok pintar kalo elu sendiri aja gak berdaya waktu dibully!"


Kayla tersenyum miring. "Trus kamu sendiri ngerasa paling hebat? Selama ini kamu bebas ngelakuin apa pun yang kamu suka, tanpa kamu sadar kalo itu bisa ngehancurin diri kamu sendiri. Apa untungnya kamu bikin malu Sherly?" tutur Kayla seraya menatap Alex tajam.


"Gue emang bebas dan bisa ngelakuin apa aja, apa lagi cuman nyingkirin cewek-cewek recehan kayak kalian." sahutnya songong dengan menyentilkan jari telunjuk ke jempolnya remeh.


"Segitu rendahnya ya cewek dimata kamu?"


Alex memutar bola matanya jengah.


"Heh, jelas. Orang yang gak bisa ngehormatin ibunya sendiri, gak mungkin bisa ngehormatin cewek mana pun."


Duuaaaarrr.....


Alex tersentak, dadanya langsung memanas bak disentil kasar. Alex langsung mengubah ekspresi wajahnya dari yang datar dan acuh saja menjadi tegang penuh emosi. Cara bicara Kayla cukup datar dan santai, tapi kata-kata yang ia keluarkan nyatanya mampu memicu amarah Alex.


Bisa-bisanya Kayla melibatkan mama Alex dalam hal ini, tidak tahu kah dia kalau Alex paling tidak tahan jika membahas sesuatu yang berkaitan dengan perempuan yang telah mengecewakannya itu.


Dengan tangan yang sudah terkepal kuat, wajah memerah dan rahang mengeras, Alex mencengkram bahu Kayla dengan kedua tangan yang sudah menegangkan urat-uratnya itu. Kayla terkesiap, tapi ia tak gentar. Ia menelan salivanya, meminimalisir keterkejutannya atas tindakan Alex.


"Berani-beraninya lu!!" bentak Alex seraya mendorong tubuh Kayla sampai punggung Kayla menubruk dinding. Alex mencengkram bahu Kayla dengan lebih kuat.


"Aaahkk..." jerit Kayla karena benturan keras tubuh bagian belakangnya pada dinding.


Nafas Alex semakin memburu seirama detak jantungnya yang berdebar liar, bahkan Kayla bisa merasakan hembusan nafas Alex menerpa wajahnya. Sialnya di posisi sedekat ini, Alex malah mencium aroma penenangnya itu lagi dari tubuh Kayla.


Di tengah amarahnya yang hampir tak terkendali, Alex malah melonggarkan cengkramannya pada bahu Kayla, karena terbawa kedamaian aroma yang dihirup oleh indra penciumannya yang sensitif itu.


Jika Mama adalah kelemahannya dalam mengendalikan diri, maka Stroberi adalah kekuatan yang mampu mengendalikannya.


Jika Mama adalah pemicu kemarahannya, maka Stroberi adalah penenangnya, pereda api amarah di dalam jiwanya.


... ....


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... Bersambung...


__ADS_2