Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Minyak, Pasir, dan Lumpur


__ADS_3

Baru beberapa langkah Kayla beranjak pergi menjauhi Jessica dan yang lainnya, langkah Kayla terhenti seketika. Di hadapannya, sang penguasa sekolah yang pemarah itu beserta kedua temannya tengah menghalangi jalannya.


Kayla mendenguskan nafas berat melihat mereka.


Ketiganya, Alex, Sandi dan Vicky menampilkan senyuman smirk mereka. Sedangkan Bima, ia sudah lebih dulu ikut menertawakan Kayla bersama Jessica dan yang lainnya. Karena sebelumnya, Bima mendapat bagian memancing Kayla keluar dari perpustakaan. Ya, Bima membuat kegaduhan di perpustakaan hanya untuk memancing Kayla agar keluar hingga berada di tengah keramaian para siswa dan siswi seperti sekarang ini. Agar rencana mempermalukan gadis itu berhasil sesuai keinginan mereka.


"Gimana Al?" Jessica menghampiri Alex dan kembali berdiri dihadapan Kayla.


Kayla membuang mukanya, jengah melihat ekspresi mencemooh dan bangga dari wajah mereka.


"Good! Bakalan lebih bagus lagi kalo dia masuk kelasnya Pak killer dengan penampilan begini" kata Alex sambil menelengkan kepalanya dan menyapu pandangannya pada Kayla dari kaki sampai kepala.


Teman-temannya lantas tertawa mendengan perkataan Alex, seolah membayangkan Kayla akan diceramahi habis-habisan oleh Pak Sugi guru killer itu. Sementara Kayla menatap kesal ke arah mereka.


"Owh...bisa di atur..!" sahut Jessica lempeng.


"Tapi elu senang kan? Elu puas?" tanya Jessica agak mendesak, karena ia tidak sabar menantikan jawaban Alex yang akan menerimanya menjadi pacar Alex.


Alex hanya tersenyum smirk menanggapinya.


Alex dan yang lainnya terus berceloteh ria mengejek dan menertawakan Kayla. Sesekali para siswa dan siswi yang menyaksikannya juga ikut tertawa dan menimpali perkataan mereka, membuat suasana semakin keruh dan mengecutkan hati Kayla.


Kayla lelah menghadapi ini, Kayla benci suara tertawaan mereka yang mengalun-alun mengguncang pikiran dan hatinya.


Kaya menghembuskan nafas berat. Kayla mengepalkan tangannya kuat dan mengeraskan rahangnya, menatap mereka dengan garang. Detik berikutnya Kayla mendorong bahu Alex dan Sandi yang tepat berada dihadapannya. Membuka jalan untuk dirinya sendiri dan berlari sekuat tenaganya. Ia menekan segala rasa yang berkecamuk di dadanya, tidak peduli mereka menganggapnya memberontak atau menantang mereka. Yang Kayla tahu saat ini ia tidak tahan berada di sekitar mereka.


Mereka semua terkejut atas respon mendadak yang Kayla lakukan, Alex dan Sandi saja sampai terhuyung karena dorongan Kayla pada bahunya. Bukan karena dorongan Kayla kencang, tapi mereka yang tidak waspada.


Bima dan Sandi yang hendak beranjak untuk mengejar Kayla, dihentikan oleh Alex.


"Biarin aja!"


Mereka menatap bingung ke arah Alex dengan tautan alisnya masing-masing, terutama Jessica yang sudah repot-repot menjalankan rencana pembullyan itu.


Alex yang paham akan gelagat Jessica, mulai beringsut mendekati gadis itu. Jessica sudah mulai ge'er dibuatnya, wajahnya seketika merona.


"Elu punya rencana lain kan, Jes?" ujar Alex. Terdengar seperti pertanyaan tapi tatapannya seolah meminta Jessica untuk membuat rencana baru untuk gadis sok berani itu.


Jessica tersentak dan gelagapan. "Jadi Alex belum puas sama kerjaan aku. Oke, kali ini aku bakal bikin dia puas dan dengan senang hati nerima aku jadi pacarnya." gumam Jessica dalam hati.


"Oh, iya! Ada dong.. tenang aja, tu cewek gak bakalan lepas hari ini. Elu bakalan puas sama kinerja gue." ucap Jessica yakin, meskipun ia belum mempunyai rencana baru.


"Good..!" seru Alex semangat sambil membelai kecil ujung rambut Jessica dengan telunjuknya dan melepaskannya sembarang.


Jessica tersenyum bangga, sikap Alex yang seperti ini membuat Jessica semakin yakin kalau Alex akan menerimanya.


.......


.......


.......


Kayla berusaha membersihkan wajahnya dan badannya dari lem yang melumuri dirinya, dan ia harus mengganti seragamnya juga. Ia kesulitan menghilangkan noda-noda lem yang menempel di sebagian anggota tubuhnya, karena lem itu mulai mengering.


Bahkan di wajah Kayla juga, kulitnya sampai memerah karena ia menggosoknya dengan lebih kencang.


"Hhhuuuuffth......."


Kayla mengentikan aktivitasnya karena tangannya sudah pegal, dan noda-noda lem itu belum juga bersih seluruhnya dari badannya. Tapi ia tidak punya banyak waktu, sebentar lagi bel akan berbunyi, dan pelajaran selanjutnya adalah Biologi, yang artinya ia harus berhadapan dengan Pak Sugi, jangan sampai Kayla telat lagi.


Tiba-tiba bel masuk berbunyi, Kayla terkesiap dan ia segera melanjutkan aktivitasnya kembali. Ia harus segera menyelesaikan ini dan masuk kelas sebelum Pak Sugi datang. Ia tidak mau ketinggalan pelajaran lagi gara-gara harus mengurus dirinya yang kacau sehabis dibully. Ia tidak akan membiarkan Jessica atau siapa pun tertawa mengejek lagi jika nanti mereka sampai melihatnya telat atau dihukum oleh Pak Sugi.


... ....


... ....


... ....


Kayla bisa bernafas lega saat ia sudah duduk di bangkunya sebelum Pak Sugi masuk. Dan sampai pelajaran hari ini berakhir Kayla tidak mendapat gangguan lagi dari Alex ataupun Jessica dan yang lainnya. Namun, perasaan Kayla tetap tidak enak, apalagi tadi sesaat setelah pelajaran terakhir selesai Jessica, Luna dan Erin nampak terburu-buru meninggalkan kelas.


Kayla meraih tasnya dan beranjak keluar kelas, ia menyempatkan menyapa Adit dulu sebelum pulang. Karena sebelumnya Adit terlihat khawatir pasal adiknya yang diberitahu oleh Bima dan entah apa yang terjadi.


"Dit!"


"Ya?"


"Tadi kamu-.."


"Emm aku buru-buru Kay, adik aku udah nungguin. Aku duluan ya!" sela Adit seraya bergegas meraih tasnya dan berlalu meninggalkan Kayla.


Kayla sempat merasa aneh dengan sikap Adit, tapi kemudian ia memakluminya. Ia pikir mungkin ada sesuatu yang terjadi pada adiknya Adit, yang entah itu baik atau tidak, dan membuat Adit harus segera pulang.


Kayla berjalan di koridor menuju ke gerbang sekolah, searah dengan para siswa dan siswi lainnya yang masing-masing akan pulang. Ada yang langsung ke luar menunggu angkot atau jemputan sendiri, ada juga yang ke tempat parkir dulu bagi yang pulang dengan kendaraan pribadi.


Sambil berjalan, Kayla merogoh isi tasnya lalu mengeluarkan sebotol parfum kecil dari dalam sana. Karena Kayla masih bisa mengendus bau lem dari tubuhnya, dan Kayla juga tidak sempat membersihkan rambutnya dengan benar tadi karena waktunya yang mepet. Jadilah Kayla berinisiatif untuk menyemprotkan parfum ke tubuhnya untuk menyamarkan bau lem itu. Walaupun sudah mau pulang, tapi kan Kayla akan naik angkot, dia tidak akan merasa nyaman jika para penumpang lain di angkot nanti terganggu dengan bau aneh yang berasal dari tubuhnya.


Kayla mengernyit ketika ia melihat banyak orang berkerumun di salah satu bagian koridor, tidak jauh dari posisi Kayla saat ini. Karena penasaran dan orang-orang juga banyak yang ke sana, Kayla pun ikut menyusul. Anehnya, ketika Kayla sampai di sana dan bahkan belum sempat berdesakan dengan yang lainnya, mereka serentak menoleh ke arah Kayla dan bergeser dari posisi masing-masing, seolah membuka jalan untuk Kayla.


Kemudian, seseorang yang berada di belakang Kayla mendorongnya sampai ia jatuh tersungkur di lantai. Sehingga botol parfum yang dipegang Kayla terlempar ke atas dan menumpahkan isinya ke kepala Kayla. Niatnya hanya menyemprotkan sedikit parfum malah membuatnya mandi parfum sekarang.


Krtakk.. criliriing...


Botol parfum Kayla jatuh ke lantai dan pecah, membuat Kayla mendengus lesu. Padahal itu parfum baru ia beli dua hari lalu, baru beberapa kali ia pakai sekarang sudah habis riwayatnya.


Kayla mengusap kepala dan sebagian wajahnya yang basah oleh parfumnya sendiri, ia meringis merasakan nyeri di lututnya akibat tersungkur, lalu mendongakkan kepalanya. Ternyata Jessica, Luna dan Erin telah berdiri dihadapan Kayla. Masing-masing mereka memegang sebuah ember yang entah apa isinya.


Kayla lalu menoleh ke belakang mencari sosok yang barusan mendorongnya. Ia melihat Alex, Bima, Sandi dan Vicky disana. Mereka masing-masing menyilangkan tangannya ke dada, tidak lupa dengan senyuman smirk mereka. Kayla memejamkan mata, menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar, menahan kekesalannya. Mereka lagi? Masih belum puas?!


Dan semua siswa dan siswi yang tadi berkerumun, mereka seolah-olah mendukung aksi para pembully ini. Kayla menatap satu persatu wajah mereka, dan.....


Oh, sialnya Kayla baru sadar kalau semua orang ini adalah fans mereka. Para siswanya adalah fans fanatik Jessica, dan para siswinya fans fanatik Alex. Tentu mereka semua akan mendukung Jessica dan Alex.


"Ya ampunnnn.... mereka sengaja ngejebak aku?!" batin Kayla geram.


Byuurrrr....

__ADS_1


Tiba-tiba Kayla merasakan guyuran air di tubuhnya, Erin menumpahkan isi ember yang ia pegang.Tapi, tunggu dulu..


Ini bukan air, melainkan minyak. "Minyak goreng??" gumam Kayla kaget. Kayla jadi mual mencium bau lemak yang pekat, dari minyak goreng yang melumuri wajah dan tubuhnya.


"Hahahahahahaahhaahaa...."


"Eeiuuh.....jijay deh!"


"Hoeeekk ... jadi mual gue."


"lucu ya..hihihii."


Mereka mulai tertawa dan melontarkan ejekan pada Kayla. Belum sempat Kayla memprotes, Luna sudah menumpahkan isi dari ember nya ke atas kepala Kayla.


Lagi. Kayla diguyur oleh isi ember mereka yang kedua, semoga tidak ada yang ketiga. Kayla terbatuk-batuk akibat tumpahan isi ember Luna.


"Goreng tepung...!!" celetuk Luna seraya menumpahkan seember pasir yang dipegangnya.


Ya, kali ini Kayla diguyur dengan seember pasir sehingga membuat pernafasannya sedikit terganggu akibat butiran pasir itu masuk ke hidungnya.


"Hhhh...." Kayla menggeram kesal, tapi itu justru membuat mereka lebih melengkingkan tawa mereka.


Kacamata Kayla sampai terlepas karena siraman pasir Luna. Kayla mencoba bangkit, tapi minyak yang melumuri seluruh tubuhnya membuat Kayla jadi kesulitan karena licin.


"Bangun kalo bisa! Gue hitung sampe tiga ya! kalo gak bisa, gue tambahin nih!" ejek Jessica. Ia sudah mengangkat ember yang ia pegang, bersiap untuk menyiram Kayla, membuat Kayla mendengus lemas.


Byuuuuur......


"Ufftth...pihh!" Kayla tak sengaja menjilat sesuatu yang baru melumuri wajahnya itu.


"Lumpur? Jorok amat sih Jes, mainan lu." Vicky nampak mengeluh.


"Oh, lumpur?! Gue kira coklat. Hahahaaa..."


mereka kembali tertawa.


Cukup!! Kayla benar-benar kesal dan marah. Apa-apaan mereka! Pertama minyak? lalu pasir? dan ini, lumpur?? Sekarang seluruh badan Kayla tertimbuni oleh ketiga macam benda itu.


Kapan mereka puas membuatnya menderita?


Kayla bangkit dengan susah payah dan akhirnya ia bisa berdiri sempurna. Ia menyeka wajahnya dengan tisu yang baru ia keluarkan dari dalam tasnya, membersihkan sedikit minyak, pasir dan lumpur yang menopengi wajahnya bagaikan masker. Ia menatap garang pada semua orang yang tertawa dan mengejeknya saat ini.


Alex bertepuk tangan antusias, membuat semuanya terdiam dan memfokuskan pandangan mereka ke arahnya.


"Is very good!!" ucapnya lantang, membuat wajah Jessica berbinar-binar.


Jessica segera berlari mendekati Alex.


"Eetts...! satu lagi!!" Sela Alex menghentikan Jessica yang akan memeluknya.


Langkah Jessica terhenti, ia mengernyit bingung menatap Alex.


"Bim!" serunya seraya mengulurkan tangan kanannya meminta sesuatu dari Bima.


Byuurrr.....


"Aaaawh......" jerit Kayla.


Lagi. Kayla disiram, tapi kali ini tubuh Kayla memberikan reaksi berbeda dari sebelumnya. Ia sangat terkejut dan tegang, tubuhnya seketika terasa kebas dan menggigil, giginya menggeletak dan ia reflek berjongkok mengerucutkan tubuhnya, ia memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan.


Bukan hanya itu, Kayla juga merasakan denyutan panjang dan nyeri sekali di kepalanya, jantungnya juga berdetak lebih cepat, tulang-tulangnya terasa ngilu saking dinginnya.


"Brrr...... dingin..." ejek Alex.


Bagaimana tidak? Alex baru saja menyiramnya dengan air es yang dinginnya seperti air yang baru ditimba dari laut kutub utara. Kayla kedinginan dan bibirnya mulai memucat.


Alex menyeringai seraya melempar sembarang ember nya. "Perfect!!" ucapnya, disambut sorakan dari para fans nya yang setia menonton dari awal.


Sorakan ruih itu lantas menarik perhatian para siswa dan siswi lainnya, yang masing-masing berbalik menghampiri kerumunan itu padahal mereka sebelumnya ingin pulang.


"See..? Kita jadian?!" kata Jessica antusias.


"Jadian apa?" sahut Alex cuek.


"Al??" tanya Jessica tak percaya.


"Apa?" tanya Alex balik.


"Gue bikin semua ini buat lu, dia udah dipermaluin banget, dan lu puas kan. Jadi sesuai janji lu-..."


"Gue gak pernah janji." sela Alex ketus.


Jessica mendengus tak percaya. " Al, tapi kita udah sepakat kan, kalo gue berhasil bikin dia malu dan terhina, kayak gini.." ucap Jessica nge gas sambil menunjuk-nunjuk Kayla, ia menjeda ucapannya untuk menghela nafas. "..lu bakal terima gue jadi pacar lu!"


Alex terkekeh sombong. "Gue gak ngerasa pernah bikin kesepakatan apapun dan sama siapa pun, termasuk elu!"


"Loh, Al? Elu lupa atau sengaja ngelupain?" sanggah Bima, membuat Alex meniliknya tajam.


"Enggak! Emang kapan gue pernah bikin kesepakatan konyol gitu?"


"Waktu pertama kali gue nyatain perasaan gue ke elu" jawab Jessica.


Kayla jadi ingin tertawa mendengarnya, pertama kali nyatain perasaan Jessica bilang? Emang udah berapa kali dia nyatain perasaannya ke Alex? Apa Alex selalu nolak dia, sampai ada kesepakatan segala!?


"Elu yang ngomong, atau gue?" tanya Alex ketus.


"Ya..gue sih, tapi-.."


"Yaudah, berarti lu sendiri yang bikin itu kesepakatan dan nyetujuinnya. Gue enggak!!" Alex menekankan kalimat terakhirnya.


Jessica menatap Alex tidak percaya, ia menatap satu persatu wajah teman-teman Alex, kemudian Erin dan Luna, seolah meminta dukungan dari mereka.


"Gue gak tau ya soal kesepakatan itu" sergah Vicky cari aman.


"Ada kok Vick, waktu itu gue denger pas mereka ngomongin itu" timpal Sandi.

__ADS_1


"He'eh.. kalian sepakat kok kayak yang Jessica bilang" Luna ikut mengingatkan.


"Dan elu setuju kok Al!" timpal Erin, membuat Alex menyelis tak terima.


"Emang elu masih ingat? waktu itu gue ngomong apa?" tantang Alex


(Flashback On)


"Gue gak tertarik buat pacaran" ujar Alex datar.


"Gue bisa lakuin apa aja buat lu. Elu bisa minta apapun dari gue" rayu Jessica.


"Not interested" sahut Alex datar.


Jessica pantang menyerah, ia memutar otaknya mencari ide agar bisa membujuk Alex. Pokoknya Alex harus jadi pacar Jessica, tekadnya.


"Al, elu sama teman-teman lu kan sering ngebully anak-anak, gue mau kok ambil bagian buat ngebully mereka juga. Dengan senang hati malah." ucapnya lembut dan agak manja.


Bukannya luluh, Alex malah geli mendengar kata-kata dan suara Jessica yang lebaynya dibuat-buat. Alex tak merespon kata-kata Jessica.


"Kalo cuman ngebully anak-anak kayak biasa mah gak menantang, Jes!" Bima menyahut.


"Maksud lu?"


"Selama ini gak ada siapa pun yang berani ngelawan Alex, siapa pun korban bullying kita pasti dia pasrah-pasrah aja" lanjut Bima.


Alex tersenyum miring seraya mengangguk sombong. Jessica terdiam sejenak lalu ia tersenyum menang bahkan sebelum melakukan apa-apa.


"Gimana kalo kita bikin kesepakatan" usul Jessica.


"Kesepakatan??" ulang mereka serentak kecuali Alex, yang nampak tak tertarik sama sekali.


"Gini, kalau nanti ada anak yang berani ngelawan Alex, dan gue berhasil ngehukum dia dan bikin dia ciut... lu terima gue kan?"


Alex menilik Jessica sekelebat. "Elu? ngehukum dia? Heh! kalau dia berani sama gue, gimana dia bisa ciut sama lu?" tantang Alex.


"Gue, Jessica Shenaitara Wilson, bisa bikin cowok mana pun bertekuk lutut" ucap Jessica penuh percaya diri.


"Kecuali Alex!" celetuk Vicky, membuat Jessica mendengus kesal.


"Iya kalo yang berani ngelawan Alex itu cowok, nah kalo cewek?" Sandi ikut nimbrung.


"Heh! itu lebih gampang lagi"


"Kalo ceweknya anak konglomerat trus lebih cantik dari lu?" timpal Vicky.


"Elu ngeremehin gue?!" semprot Jessica kesal.


"Secara Jes.. elu ngomongin perkara di masa depan yang gak jelas bakal terjadi atau enggak, jadi banyak kemungkinannya dong.." Vicky tak mau kalah.


"Ck, lagian gak bakalan ada yang berani ngelawan gue." sahut Alex jengah.


"Gimana kalo emang bakalan terjadi?" tantang Jessica. Karena tidak ada sahutan dari Alex, Jessica melanjutkan. " Kalo gue berhasil ngehukum anak itu-.."


"Dan bikin dia malu di depan semua orang.." Bima menyela, menambahkan.


"Oke, dan bikin dia malu di depan semua orang, Alex bakalan terima gue! Gimana Al?" ujar Jessica.


Alex hanya memutar bola matanya jengah, ia tidak suka diperlakukan seperti ini. Diatur dan seolah dikekang dengan tantangan semacam itu? Oleh seorang cewek? Huh!!


"Menurut kalian?" Alex ingin tahu pendapat ketiga temannya. Hanya ingin tahu, bukan meminta saran atau pertimbangan.


Dan mereka semua mengangguk. "****!!" menyebalkan. Alex beranjak kesal seraya berucap lantang "Terserah!"


(Flashback Off)


"Yang nyetujuin kesepakatan itu kalian semua, kecuali gue! Tanya sama mereka bertiga!" ucap Alex seraya menunjuk ketiga temannya dengan dagunya, di kalimat terakhirnya.


Benar kata Alex, mereka yang menyetujui kesepakatan itu, meskipun mereka tahu Alex tidak tertarik. Alhasil, sekarang mereka hanya bisa terdiam dan saling melemparkan pandangan.


"Al.. kok elu gini sih?" Jessica akhirnya angkat suara ditengah suasana akward mereka.


Alex mengernyit "Maksud lu?"


"Elu nolak gue? Setelah semua yang gue lakuin? Liat Al.. semua ini gue lakuin buat lu! Cuman buat elu, Al!"


Alex tak peduli.


"Liat dia! Elu suka kan liat orang yang berani ngelawan lu ini menderita?" Jessica menunjuk Kayla yang masih berjongkok memeluk tubuhnya, kedinginan.


"Liat gue!" lanjutnya seraya memperhatikan sekujur tubuhnya sendiri yang sedikit kotor karena terpercik lumpur yang ia siramkan ke kepala Kayla. "Gue rela kotor-kotaran, basah-basahan buat bikin lu senang Al!"


"Gue senang." sahut Alex dengan ekspresi wajah sok polos, tanpa merasa bersalah.


"Tapi gue gak senang kalo harus nerima lu jadi pacar gue!" lanjutnya sambil mengubah mimik wajahnya, ketus.


Jessica menghela nafas berat sambil menggelengkan kepalanya. Rasanya ia ingin menangis saat ini juga. Di tengah kecanggungan suasana dan kegalauan hati Jessica, tiba-tiba terdengar suara cekikikan pelan.


Mereka semua menoleh serentak ke arah suara itu.


Kayla yang sudah bangkit dan berdiri sempurna mulai melangkah mendekati Jessica dan Alex yang berdiri berhadapan, Kayla mendengus tawa dan sesekali terkikik geli. Ia sampai memegangi perutnya karena merasa tergelitik.


Tatapan mereka yang sebelumnya tegang dan canggung karena perdebatan Jessica dan Alex lantas berubah menjadi tatapan protes dan sinis mereka ke arah Kayla. Kayla menyadarinya tapi ia tidak peduli.


"Oke, tantangan dan perang..... dimulai!"


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2