Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Sendirian


__ADS_3

Sudah dua hari sejak perdebatan yang berujung perpecahan itu, Alex selalu terlihat murung. Baik di rumah ataupun di sekolah, ia kesepian. Di rumah hanya ada para asisten rumah tangganya yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, belum lagi papanya yang memang selalu sibuk dan pulang larut malam. Sedangkan di sekolah, suasana sudah berubah bagi Alex. Tanpa Bima, Sandi, dan Vicky yang selalu memeriahkan hari-harinya, yang selalu menemaninya juga mengikutinya kemanapun dan apapun yang ia inginkan.


Juga tanpa Miss Kissable yang menenangkan hati dan mata saat melihatnya. Gadis itu menghindarinya, dan tidak mau melihatnya. Chat Alex pun tidak ia balas sejak dua hari lalu. Jangankan dibalas, dibuka saja tidak. Telepon Alex juga tidak diangkatnya, padahal Alex berkali-kali menelponnya sejak hari itu. Alex ingin berbicara dengannya, meski sekali saja. Tapi Kayla selalu menghindar dan mencari alasan.


Ketiga temannya yang sudah ia kecewakan pun mengabaikannya. Mereka juga menghindar dari Alex, kadang-kadang menyindirnya saat mereka hanya berempat. Setidaknya Alex bersyukur karena Bima, Sandi, dan Vicky tidak mengumbar masalah yang tengah mereka alami kepada siapapun. Meski mereka bertiga menjauhinya, mereka tetap menghargai privasi Alex. Alex semakin merasa buruk, karena mereka tidak mau diajak bicara. Kata maaf dan penyesalan Alex seolah tidak ada artinya bagi mereka, sekecewa itukah mereka padanya?


Alex frustasi, selama di sekolah ia hanya melamun, ia menjadi sangat sensitif. Tidak bisa diajak bicara oleh siapapun, ia merasa terganggu saat ada yang mengajaknya bicara, bahkan saat ditanya oleh guru di jam pelajaran, ia malah marah. Selama Bima, Sandi, dan Vicky tidak mau mendengarkannya, ia tidak mau mendengarkan siapapun. la tidak mau berinteraksi dengan siapapun, dan tidak bisa disentuh sedikit saja.


Kemarin Doni menyapanya dan menanyakan keadaannya, tapi Alex membentaknya. Pagi ini Bu Feli juga melakukan hal sama, tapi Alex juga memarahinya. Bu Feli mencoba menghibur dan menasehatinya juga, tapi Alex tidak suka itu, ia pun lagi-lagi memarahi Bu Feli. Tentu hal ini tidak luput dari perhatian para fans nya, juga siswa-siswi lainnya, bahkan guru. Alex terlihat kusut, baik dari segi penampilan pakaiannya juga ekspresi wajahnya. Dan ia tidak terlihat berjalan bersama Bima, Sandi, dan Vicky, ini sangat mencolok dimata siapa saja yang memperhatikannya. Karena semua orang tau mereka adalah P-four yang tidak pernah terpisah dan selalu terlihat bersama.


Dua hari ini, perubahan yang terasa janggal itu pun menjadi trending topik dan gosip terhangat di kalangan gadis-gadis rumpi. Dan ini menggelitik rasa penasaran Jessica yang notabenenya termasuk orang terdekat P-four. Tidak sedikit siswa ataupun siswi yang menanyakan perihal mereka pada Jessica, padahal mereka tahu sejak insiden jebakan gagal itu P-four seolah musuh bagi Jessica.


"Mereka berantem ya?"


"Kayaknya iya deh. Tapi Bima, Sandi, sama Vicky masih bareng, Alex doang yang kayak jauhan gitu."


"lya ya. Aneh, sebenarnya ada masalah apa mereka?"


"Gue jadi kasian sama Alex."


"Kasian kenapa? Gue tadi liat Alex mau ngomong gitu sama Bima, Sandi, sama Vicky, tapi gak diledenin sama mereka. Kayaknya sih mereka marah sama Alex."


"Masa? Mereka bisa marah juga sama Alex?"


Jessica mengernyit dalam, mendengarkan percakapan beberapa orang siswi yang duduk di belakangnya. Kantin jadi tambah ramai dengan rumpi-rumpi itu, hampir semua orang membicarakan Alex dan ketiga temannya. Jessica sudah bicara pada Bima, Sandi, dan Vicky tapi mereka tidak memberitahu apapun. Padahal Jessica yakin mereka ada masalah, tapi mereka menutupinya. Dan untuk bertanya langsung pada Alex, itu tidak mungkin. Disamping Alex sangat sensitif sekarang, Jessica juga masih menyimpan dendam pada Alex, disebabkan kejadian-kejadian sebelumnya yang membuatnya malu sekaligus merasa terhina.


Disisi lain, Kayla yang juga mendengar percakapan itu merasa cemas. la melamun sambil mengaduk-aduk mie nya, Nia dan Adit memperhatikannya dengan sedikit kesal. Tentu Nia dan Adit kesal, sejak hari itu keduanya sering menyindir Kayla tentang Alex dan Miss Kissable, tapi Kayla selalu terlihat menghindari topik pembicaraan itu. Kayla memang menunjukkan gelagat yang tidak biasa saat Nia dan Adit berusaha mengorek informasi darinya, tapi Kayla tetap tidak mengatakan apapun, ia selalu mengalihkan pembicaraan jika dihadapkan dengan topik itu.


Kayla merasa cemas dengan apa yang sebenarnya terjadi pada P-four, masalah apa yang tengah terjadi diantara mereka sampai mereka nampak menjauhi Alex? Apa ini karenanya? Apa Bima, Sandi, dan Vicky tahu tentang perdebatannya dengan Alex hari itu? Karena kalau dipikir-pikir, mereka terlihat menjaga jarak dengan Alex setelah kejadian itu kan? Tapi kenapa mereka menjauhi Alex, padahal kan Alex menolak Kayla tempo hari. Mungkin jika Alex menuruti Kayla, Kayla akan maklum Bima, Sandi, dan Vicky marah padanya. Tapi ini, apa yang membuat mereka menjauhi Alex? Apa mungkin sebenarnya mereka terkejut dengan fakta Miss Kissable, atau mungkin Mr Strawberry? Memangnya mereka belum tahu tentang itu sebelumnya, apa Alex merahasiakan itu dari ketiga sahabatnya juga?


Kayla juga mendengar kalau Alex jadi lebih sensitif sekarang, ia jadi mudah marah dan tidak bisa disapa atau disentuh sedikitpun. Kayla pikir.. memangnya apa yang aneh dengan itu? Bukankah Alex memang pemarah dan tidak suka diusik!


Kayla terkesiap dan terkejut sampai menjatuhkan sendoknya saat namanya dipanggil. Annisa memanggilnya sambil berlari kemudian berhenti di depan Kayla.


"Kak, Kak Kayla..!" seru Annisa sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


"Ada apa Nis?" tanya Adit.


"Aku butuh bantuan Kak Kayla. Kak Alex mukulin Bryan, Kak!"


"Bryan?" tanya Kayla.


"lya, Bryan teman sekelas aku. Tolong ya Kak, ntar Bryan bisa bonyok sama Kak Alex.." rengek Annisa.


"Kenapa Alex mukul dia, emangnya Bryan ngapain?" tanya Nia.


"Sepele banget Kak, Bryan tadi itu lari-larian sama teman-temannya trus hampir nabrak Kak Alex. Hampir kok, gak nyampe kesentuh sedikitpun, tapi Kak Alex malah marah trus mukul Bryan gitu aja." Annisa menjelaskan dengan panik.


Annisa, Adit, dan Nia melirik Kayla, menunggu reaksinya. Tapi Kayla hanya mendengus, dan nampak cuek.


"Kak, ayo ikut aku!" ajak Annisa seraya meraih tangan Kayla.


"Biarin aja Nis!"


Ketiganya menaikkan alisnya heran mendengar respon Kayla. "A-..apa maksud Kak Kayla?" tanya Annisa.


"Aku gak akan campurin urusan Alex!" jawabnya datar.


Adit dan Nia saling melirik, mereka mengerti maksud Kayla. "Jangan gitu Kay, kasian Bryan, cuman kamu yang bisa hentiin Alex kan?" ujar Adit mencoba membujuk.


"Kenapa aku? Itu kan masalah dia" sahut Kayla cuek.


"Bukan Kay, ini soal orang yang dia pukulin. Lupain dulu masalah kamu sama Alex, dan kita liat Bryan!" kata Nia, membuat Kayla meniliknya bingung.


"Masalah aku sama Alex? Maksud kamu apa Ni?"


Astaga.. Nia keceplosan. Nia langsung melirik Adit, dan Adit berdecak kecil menyayangkan ucapan Nia.


"Kita tau Kay. Bukan cuman Bima, Sandi, sama Vicky yang ngehindarin Alex, tapi kamu juga. Padahal sebelumnya selama Alex sakit, kamu selalu cemasin dia kan. Tapi sekarang kita liat kamu ngehindarin dia, gak mungkin kan gak ada masalah?" kata Adit.


Kayla menelan salivanya. Sekarang Kayla juga cemas kalau Adit dan Nia tahu tentang dirinya dan Alex. "Mereka gak tau soal itu kan?" batin Kayla.


Sejak kemarin memang Adit dan Nia sedikit cuek padanya, Kayla merasa itu janggal, tapi ia tidak tahu apa alasannya. Semoga ini tidak ada hubungannya dengan kejadian hari itu. Lagipula Kayla dan Alex hanya berdua saja kan waktu itu, tidak ada orang lain. Tidak mungkin juga kalau ada yang mengintip atau menguping kan?

__ADS_1


"Kak!" seru Annisa.


"Ayo..!" bujuk Annisa lagi.


"Kita liat dulu Kay!" ajak Adit.


Kayla ragu, tapi ia tetap beranjak. Mereka pun mengikuti Annisa untuk melihat kejadian yang membuat Annisa panik itu. Sepanjang jalan, Kayla hanya memikirkan apa ia akan menghentikan Alex dan bicara padanya? Padahal ia sudah bertekad tidak akan bicara pada Alex sebelum Alex mau berubah. Tapi Alex terus saja membuat ulah, Kayla kesal, kenapa Kayla harus repot, kenapa Kayla tidak bisa mengabaikannya saja?!


Sesampai mereka disana, di tengah koridor kelas, Bryan tertelentang pasrah dibawah kungkungan Alex. Alex masih memukulnya dan mengumpat kasar, padahal Bryan sudah babak belur. Di sana ada Pak Bayu dan Bu Feli yang mencoba menghentikannya tapi sia-sia. Kayla lihat sekeliling, tidak ada Bima, Sandi, dan Vicky di sana. Apa mereka sungguh tak memperdulikan Alex?


"STOP!!" seru Kayla keras.


Alex langsung berhenti, dan semua orang sontak melirik ke arah Kayla. Alex sempat tertegun kemudian bangun dari atas tubuh Bryan, dan Bryan menghela nafas lega. Teman-teman Bryan pun segera membantu Bryan dan membawanya ke UKS bersama Pak Bayu. Sedangkan Bu Feli tetap di sana, ia penasaran dengan Kayla, juga dengan apa yang akan terjadi. Apakah Alex akan melampiaskan kemarahannya pada Kayla juga atau sebaliknya.


Kayla menatap sinis Alex, Alex hanya meliriknya sekilas kemudian ia menundukkan pandangannya. la berdiri dengan gontai sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Kayla langsung pergi setelahnya, dikuti Adit dan Nia. Semua orangpun membubarkan diri setelah Kayla pergi, menyisakan Bu Feli bersama pertanyaan dibenaknya, dan juga Alex yang masih berdiri di tempat dengan wajah kusutnya serta tatapan yang kosong.


... ...


...________________...


Di bawah cahaya lampu kerlap-kerlip yang meredup dan menerang bergantian setiap detiknya, dan juga suara dentuman musik yang memekakkan telinga, Alex duduk termenung di sudut ruangan club yang tidak terlalu besar itu. Bukan club milik keluarga Sandi yang biasa ia datangi, ini lokasinya lebih jauh dan tidak seramai di lingkungan club besar keluarga Sandi itu. Tapi sama saja, di dalamnya orang-orangnya melakukan aktivitas yang lumrah dilakukan saat orang datang ke club.


Sebenarnya Alex tidak suka tempat ini. Dua jam yang lalu ia keluar rumah berniat mencari angin dan merelaksasikan pikirannya yang kacau, ia menyusuri jalanan kota mengendari motor gede' kesayangannya, dan tidak menemukan tempat yang cocok untuknya yang ia sukai. Kemudian ia singgah di sebuah kios untuk membeli rokok, dan ia melihat seorang pria keluar dari sebuah club dengan gembira sambil meneriakkan kata-kata yang menarik perhatian Alex.


"Yuhuu...Yeyyhaa....! Gak papa kantong plong, yang penting pikiran plong! Hahahaha...."


Akhirnya Alex masuk ke club itu, tapi setelah Alex lihat-lihat, tidak ada yang spesial ditempat itu. Sama saja dengan club lainnya, masih lebih ramai di club keluarga Sandi, dan tempatnya juga tidak semewah dan sebesar club milik keluarga Sandi.


"Lumayan juga, ada grup band yang nyanyi disini." gumam Alex saat melihat ke atas panggung.


Alex pikir ia akan bersantai sebentar di club itu, menghisap rokok sambil menonton anak band yang sedang menyanyi. Meskipun Alex mencoba melupakan sejenak saja pikiran-pikiran yang mengusiknya, tapi ia tetap tidak bisa. Ungkapan kekecewaan dari ketiga temannya, juga keputusan Miss Kissable untuk menjauhinya, tetap saja semua itu membuatnya frustasi.


Ditengah-tengah lamunannya, Alex mendengar seseorang menyebut nama yang familiar ditelinganya. Sehingga ia tersadar dari lamunannya dan mencari sosok yang namanya disebut itu.


"Vanessa..!" seru beberapa orang perempuan yang melambaikan tangan.


"Hai..!" balas Vanessa.


"Apa kabar beb?" tanya seorang perempuan sambil cipika cipiki pada Vanessa.


"Baik.." jawab Vanessa membalas.


Pertemuan ala ibu-ibu biasanya seperti itu kan, cipika cipiki, bertanya kabar dan juga bertanya-tanya hal tak penting lainnya. Semua itu tak luput dari tatapan jijik Alex. Alex berpikir apakah mamanya itu memang sering datang ke tempat-tempat menjijikan seperti ini? Menggandeng pria yang berbeda-beda dan berpakaian minim seperti itu? Alex benci sekaligus sakit melihatnya.


"Eh beb, kita cari tempat duduk dulu deh." ajak seorang perempuan pada Vanessa.


Mereka mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang kosong, dan sampailah pada tempat duduk Alex yang masih kosong di beberapa kursi dekatnya, karena Alex hanya sendiri.


"Penuh. Kecuali yang itu, gak papa kali ya kalo kita gabung sama dia. Dia kayaknya anak baru, belum pernah gue liat disini." seorang perempuan menunjuk Alex dan memberitahu pada Vanessa.


Vanessa terbelalak sekaligus gugup melihat putranya ada di tempat ini, dan putranya itu tengah menatap dirinya. Vanessa tahu putranya tidak suka padanya dan apapun yang ia lakukan. Vanessa mengkhawatirkan reaksi Alex kali ini, mengingat sebelumnya pertemuan mereka di club lain waktu itu.


Perempuan yang tadi menunjuk Alex mengajak Vanessa dan pria yang bersamanya menghampiri Alex, tapi Vanessa nampak ragu. Saat mereka sudah berdiri didekat Alex, perempuan tadi menyapanya dan meminta duduk di dekatnya. Alex berdiri, tanpa mengalihkan tatapan tajamnya pada sang mama yang berdiri dengan gugup.


"Silahkan!" ucap Alex datar kemudian pergi dari sana.


"Al!" seru Vanessa seraya berbalik, menyusul Alex.


Sontak teman-temannya pun heran karena ternyata Vanessa mengenal akan muda itu, dan mereka mengikuti Vanessa menyusul Alex. Alex menghentikan langkahnya tanpa menoleh.


"Nes, dia AI? Anak kamu yang kamu ceritain kemarin?" tanya pria yang datang bersama Vanessa tadi.


Vanessa mengangguk kikuk. Teman-temannya pun tersenyum berbinar.


"OMG.. Nes, ini anak lu beb? Ganteng banget.."


"Gue pikir tadi brondong lu yang mana, Hehehe.." goda temannya, membuat Alex bergidik geli.


"Serius Nes dia anak lu? Jadi anak lu main juga?"


Alex emosi mendengarnya, ia mengepalkan kedua tangannya. Vanessa pun merasa demikian.


"Enggak. Alex gak gitu, dia pasti cuman nyari gue makanya dia ada disini" dalih Vanessa.

__ADS_1


Alex mencibir, "Kenapa bilang gitu? Malu punya anak kayak aku? Mama gak tau apa-apa soal aku."


Perkataan Alex membuat Vanessa dan teman-temannya terperangah. Alex kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu.


"Bukannya kamu yang malu Al, punya ibu kayak mama ini? Kamu bersikap acuh kayak kamu gak kenal mama." lirih Vanesa dalam hati.


"Hey, hati-hati! Kata-kata itu gak pantes keluar dari mulut seorang anak sama ibunya!" geram pria yang tadi.


Alex menghentikan langkahnya sejenak untuk menatap pria itu. "Siapa lu? Gak usah sok nasehatin gue!"


"Alex!" tegur Vanessa.


"Pacar baru, lagi? Heh!" cibir Alex lalu kembali berbalik.


Vanessa menyusulnya bersama teman-temannya. "Alex, mama mohon jangan pernah dateng ketempat begini lagi!"


"Kenapa, mama sendiri suka tempat begini kan? Kenapa aku gak boleh kesini?"


"Ini bukan tempat kamu!"


"Ini juga bukan tempat mama!" balas Alex meninggi. "Mama pikir aku gak tau, mama suka datang ke tempat begini, gonta-ganti cowok, itu bikin aku tambah benci!" bentak Alex.


"Jaga mulut lu!" bentak pria Vanessa.


"Gak usah ikut campur kalo gak mau bonyok!" Alex menatap sengit pria itu.


"Alex!" tegur Vanessa lagi. "Pergi dari sini!"


Alex tak mengindahkan teguran Vanessa, ia masih menatap sengit pria yang datang bersama mamanya itu, dan melangkah maju menghadapnya.


"Nes, apa dia emang suka kurang ajar sama kamu? Biar aku kasih pelajaran!" ucap pria itu dingin.


Alex terkekeh, "Siapa takut! Gue mau liat seberapa keras pukulan lu dibanding cowok mama yang waktu itu." tantang Alex.


"Alex! Cukup nak, mama gak mau kamu berantem lagi! Ayo pulang!" Vanessa menarik Alex untuk mundur tapi Alex menyentak tangannya. Dan itu menyulut amarah pria Vanessa.


"Kenapa? Mama gak mau liat cowok mama ini babak belur juga kayak yang waktu itu? Jangan khawatir, mama kan disini buat dia. Mama juga pasti bakal lebih belain dia kan daripada aku?!" cibir Alex sambil menunjuk wajah pria itu.


Teman-teman Vanessa emosi dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Alex, sedangkan Vanessa hanya bisa diam dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dan pria nya yang berusaha bersabar menghadapi Alex pun mulai berang.


"Al, ngomong yang sopan nak, dia calon papa kamu."


Alex melotot tajam mendengarnya, "Aku masih punya papa! Dan dia, gak pantes buat mama." bentaknya, kemudian terkekeh. "Terserahlah! Toh kalian sama-sama gak waras." Alex berlalu setelahnya.


Pria Vanessa akan menghajarnya tapi dihentikan oleh Vanessa. "Mas, jangan! Biar aku yang ngomong sama Alex."


"Ngomong apa Nes, anak kayak gitu gak bisa diajak ngomong baik-baik. Dia harus dikasih pelajaran biar ngerti!"


"Mas dia anakku, biar aku yang urus dia."


"Nes, itu beneran anak lu? Kok dia gitu?" tanya teman Vanessa heran.


Vanessa menyusul Alex yang sudah berjalan keluar club, pria nya pun ikut menyusul Alex yang melangkah kasar keluar club dengan amarah yang tertahan. Urat-uratnya menegang, ia mengerekatkan gigi-giginya dan mengepalkan kedua tangannya. la marah, benci sekaligus sakit hati mendengar mamanya lagi-lagi membela pria yang bersamanya. Sebelumnya juga begitu, beberapa kali Alex bertemu dengannya, mamanya selalu bersama pria yang berbeda-beda, saat Alex menegurnya mama selalu membela pria nya itu.


Alex benci itu, mama selalu mengorbankannya demi orang lain. Dulu dan sekarang sama saja, mama selalu lebih memilih dan membela orang lain dibanding dirinya. Meski Alex terluka sekalipun mama tetap tak membelanya. Bisakah sekali saja mama lebih mementingkannya dibanding yang lain? Bisakah kali ini saja Alex mendapatkan perhatian mama?


Kali ini saja, disaat ia sendirian, teman-temannya menjauhinya, gadis yang ia cintai pun tak mau bicara dengannya. Disaat papa selalu sibuk dan pulang pergi keluar negeri, Alex tidak punya siapapun yang bisa ia ajak bicara ataupun curhat. la tidak punya orang sedekat itu untuk bisa ia ajak berbagi perasaan.


Sekarang mama pun nampak tak suka melihatnya, tatapan mama tadi menambah duka dan luka Alex. Tatapan mama saat memintanya pulang, juga saat mengatakan pria itu akan menjadi papa tirinya, itu melukai hati Alex. Kenapa pria-pria mama itu lebih penting untuknya daripada anaknya sendiri?


Kenapa mama selalu seperti ini? Apakah mama tidak bisa melihat duka dimata Alex saat ia menatapnya?


Alex tidak tahu harus kemana sekarang, ia keluar rumah untuk menenangkan pikiran dan hatinya, tapi yang terjadi malah sebaliknya. la bertemu mama dan ia semakin frustasi, ia sendirian dan kebingungan.


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2