Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Menghindar


__ADS_3

(Flashback On)


Kenzo terkejut dan heran melihat seorang gadis yang dikenalnya duduk di depan rumah kosannya. Dia, gadis itu yang sering menelponnya beberapa hari ini, dan selalu ia abaikan. Apa gerangan yang membuatnya berada disini, apa dia nekat menyusul Kenzo ke Jakarta?


"Ken.." seru gadis itu dengan tatapan rindunya.


"Chika, elu kok disini?" tanya Kenzo bingung.


Wajah Chika berubah murung. "Ada sesuatu yang sangat penting Ken, kita harus ngomong." jawabnya serius, membuat Kenzo mengernyit tak mengerti.


"Yaudah, ada apa?" tanya Kenzo to the point.


"Apa gak bisa ngobrolnya di dalam?"


"Emangnya apa yang perlu diobrolin, kita kan udah putus." sahut Kenzo acuh.


Chika menelan salivanya, merasa mencelos. "Ada sesuatu yang serius Ken, ini penting."


Kenzo berpikir. Akan melanggar aturan kos jika ia membawa perempuan masuk ke rumahnya, tapi sepertinya kedatangan Chika memang untuk sesuatu yang penting. Jika tidak, dia tidak akan ada disini kan.


Kenzo mengedarkan pandangannya ke sekeliling, waspada jika ada yang memergokinya membawa perempuan masuk ke rumah. la lalu mengajak Chika masuk ke rumahnya.


Chika duduk di sebuah kursi yang ada di rumah kos Kenzo, sedangkan Kenzo duduk di tepi ranjangnya.


"Kenapa kamu gak pernah angkat teleponku Ken, chat ku juga gak ada yang kamu balas satu pun."


Kenzo memutar bola matanya malas. "Hubungan kita udah selesai sebelum gue berangkat ke Jakarta. Gue udah kerasan disini, jadi gue gak minat ngeladenin elu lagi."


Chika meremas roknya, menahan rasa nyeri dihatinya atas jawaban Kenzo. "Jadi kamu udah lupain aku?"


"Elu tau gue bukan orang yang suka nengok ke masa lalu. Jadi ngerti kan, kalo kedatangan elu kesini tuh sia-sia."


"Kamu udah bahagia sama Kayla?" tanya Chika mencoba tersenyum.


Kenzo malah menatapnya sinis, "To the point aja kenapa sih, maksud lu kesini tuh apa?"


Chika tersentak kaget, kenapa Kenzo langsung marah. Baiklah ia harus menenangkan dirinya dulu sebelum menyampaikan maksud kedatangannya kemari.


"Ken, aku pengen tau.. apa kamu masih sayang sama aku, walaupun sedikit?"


Kenzo mendengus malas. "Ngomong apa sih lu?"


Chika gugup.


"Elu tau dari awal gimana perasaan gue ke elu, elu juga tau siapa yang ada di hati gue. Dan itu gak pernah berubah, Chik."


"Maaf Ken, tapi aku kesini buat minta kamu balik ke aku. Aku butuh kamu" ucapnya lirih, suaranya mulai parau.


"Apa?!" Kenzo tertawa meremehkan. "Kita udah sepakat ya, buat ngejalanin hidup kita masing-masing. Apa lagi maksud lu ini?"


"Sebenarnya aku.."


Chika memilin-milin kedua tangannya gugup. "Aku..."


"Kalo elu nyamperin gue cuman buat minta balikan, jawaban gue NO! Dan harusnya lu tau itu."


"Ya, aku tau. Tapi aku gak punya pilihan lain." jawab Chika lirih.


"Maksud lu?" tanya Kenzo.


"Aku.."


Chika semakin gugup dan takut. Kenzo jengah menunggu Chika yang hanya duduk dengan tegang sambil menggerak-gerakkan bibirnya tak jelas.


"Apa?" tanya Kenzo tak sabar.


"A-aku.. aku hamil, Ken"


Duaarrrrr.......


Kenzo tersentak, kaget bukan main. Matanya membulat sempurna, bahkan ia sampai merasa jantungnya berhenti berdetak beberapa detik, kemudian kembali berdebar dengan debaran yang menyesakkan.


"A-..apa? Apa lu bilang?"


"Iya Ken, aku hamil." ulang Chika seraya menatap sayu pada Kenzo.


Kenzo menggeleng-geleng dan mengusap wajahnya frustasi.


"Enggak!" gumamnya samar.


"Enggak! Enggak mungkin!" bantahnya frustasi.


Chika menangis tertunduk. Sedangkan Kenzo semakin gelisah dan frustasi, ia tidak bisa mempercayai ini, lebih tepatnya tidak siap untuk menerima kenyataan sepahit ini.


"Chik, elu jangan main-main! Elu bohong kan?!" Bentak Kenzo tiba-tiba, dengan mencengkeram bahu Chika dan menatapnya tajam, membuat Chika kaget sekaligus takut.


Chika menggeleng-geleng dalam takutnya. "Aku gak bohong.."


Kenzo mengacak rambutnya dan berteriak frustasi. "Ceroboh banget sih lu!"


"Aku yang ceroboh, atau kamu?" bantah Chika tak terima disalahkan.


Kenzo menggeram, ia mengingat-ingat kembali kejadian saat ia dan Chika melakukan itu. la kemudian mengusap wajahnya sambil meringis merutuki kebodohannya.


"Elu gimana sih, harusnya lu bisa jaga diri, biar gak gini jadinya!" bentak Kenzo geram.


"Kamu pikir aku mau kayak gini?! Enggak Ken. Tapi mau gimana lagi, kamu gak bisa nyalahin aku aja, kamu juga salah!" timpal Chika sembari terisak.


"Sialan!!"


Beberapa menit berlalu. Kenzo terdiam duduk di tepi ranjangnya dengan wajah ditekuk, ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya, dan menumpu siku pada lututnya. Mencoba berpikir dengan jernih dalam situasi berat seperti ini, tapi ia malah merasa buntu. Sedangkan Chika masih menangis, terisak seperti sebelumnya.


"Bisa diem gak sih lu, pusing gue!" gertak Kenzo kesal.


Chika menghapus air matanya dan mencoba menahan tangisannya. "Ken, kamu bakal tanggung jawab kan..?" tanyanya penuh harap.


Kenzo mendesah frustasi, dan kembali mencengkeram kepalanya yang semakin berat. Matanya memerah menahan tangis.

__ADS_1


"Papaku udah tau soal kehamilanku, tapi aku belum bilang kalo kamu yang ngehamilin aku. Papa bilang, kalo kamu gak mau tanggung jawab.. aku bakal diaborsi. Aku gak mau aborsi Ken.." lirihnya terisak.


Kenzo memejamkan matanya, dan berpikir keras. Semakin ia berpikir kepalanya terasa semakin berat. Kemudian Kenzo beranjak, membuat Chika mengangkat kepalanya menatap Kenzo.


"Gue mau keluar, sebentar"


Chika berdiri, "Mau kemana Ken?"


"Ke apotek. Kepala gue pusing" sahutnya datar.


"Aku ikut ya!" Chika meraih tangan Kenzo.


"Cuman bentar, apoteknya deket kok. Elu disini aja!" Kenzo melepaskan tangannya dari pegangan Chika.


"Ken..." gumam Chika cemas, saat melihat Kenzo membuka pintu dan hendak keluar.


Kenzo menoleh ke belakang, Chika menatapnya cemas dan penuh harap. Kenzo berpaling dan mengecutkan wajahnya, ia menelan saliva lalu keluar, meninggalkan Chika sendirian di rumah kosannya.


(Flashback Off)


Kenzo duduk sambil menekuk wajahnya dan memegang kepalanya. Beberapa menit yang lalu ia sampai di rumah Jessica. Jessica yang tidak tahu menahu pun bingung melihat tingkah gelisah Kenzo sejak tadi, diajak bicara tak nyambung.


Dertt..derrttt..


Ponsel Jessica berdering, ia mengernyit menatap layar ponselnya. Panggilan masuk dari nomer tidak dikenal.


"Hallo?" ucap Jessica setelah mengangkatnya.


"Jess, Kenzo ada sama kamu?" tanya suara di seberang sana menyeloroh.


"Siapa nih?" tanya Jessica sambil melirik Kenzo.


"Ini Kayla. Kenzo ada sama kamu apa enggak??" tanyanya lagi.


"Kayla?" ulang Jessica, membuat Kenzo terkesiap dan mengangkat kepalanya.


Kenzo menggeleng-geleng dengan wajah tegangnya pada Jessica, mengisyarat agar Jessica tidak memberitahu keberadaan Kenzo. Jessica menatap kesal Kenzo.


"Ada masalah apa lu nyari Kenzo?" tanya Jessica.


"Pliss Jess, Kenzo sama kamu kan? Ada masalah penting, tolong kasih telponnya ke dia! Aku harus ngomong sama dia"


"Hellooo... lu nyuruh-nyuruh gue?!" sewot Jessica.


"Jess, tolong! Oke maaf aku lancang, tapi ini tuh penting banget."


"Masalahnya apa dulu?" tanya Jessica pada Kayla, tapi matanya menatap sinis Kenzo.


Kenzo kelihatan semakin gelisah dan terus menggeleng-geleng, seperti tersangka kejahatan yang tertangkap basah saja.


"Kalo Kenzo gak mau ngomong, Oke. Minta dia temuin aku secepatnya, kalo dia emang cowok dia gak bakal kabur!"


Tutt..tut.. tuuutt...


Kayla menutup teleponnya. Dan Jessica bersiap menginterogasi Kenzo.


"Panik?" gumam Kenzo kecil.


"lya, kedengaran dari suaranya. Btw, apa maksudnya kamu kabur? Jangan bilang gara-gara ada masalah kamu pergi gitu aja dari rumah Kayla tanpa ngasih tau?!"


Kenzo mendesah frustasi.


"Astaga.." Jessica menepuk keningnya, artinya benar Kenzo kabur dari rumah Kayla.


Ya memang Kenzo bilang kemarin dia sakit dan menginap di rumah Kayla, karena ada mami Kayla yang bisa merawatnya ketika sakit. Tapi apa yang hari ini dia lakukan, kabur begitu saja sampai Kayla panik mencarinya? Sebenarnya ada masalah apa, kenapa dia menghindari masalahnya?


"Kayla bilang.. kalo kamu emang cowok, kamu gak bakal kabur. Kalo punya masalah tuh ya diselesain dong Ken, kok malah kabur sih, kamu mau dibilang pengecut??"


Kenzo menatap Jessica canggung. Malu sekali dia, harus dibilang pengecut oleh pacarnya sendiri. Tapi Kenzo tidak tahu harus bagaimana sekarang, Kayla sudah tahu semuanya. Padahal Kenzo sudah berniat ingin curhat dan meminta solusi pada Kayla, setelah Kayla pulang sekolah. Namun ternyata Kayla pulang bersama Chika, membuat Kenzo kalangkabut seketika. Pikirannya yang tadinya sudah mulai rileks malah berbalik kacau dalam sekejap. Alhasil ia memutuskan pergi diam-diam dari rumah Kayla, untuk menghindar dari masalah besarnya itu.


"Ada masalah apa Ken..?" tanya Jessica sambil menyentuh pundak Kenzo mencoba menenangkan dan membantu pacarnya itu.


Tidak. Tidak mungkin Kenzo memberitahu Jessica. Lebih baik Kenzo menghadapi kemarahan Kayla dan menerima amukannya akibat masalah peliknya itu, daripada harus menceritakan pada Jessica tentang masalah yang sebenarnya. Setidaknya Kenzo tak mau dicap sebagai seorang pengecut yang lari dari masalah, meski ia tidak sanggup menghadapi masalah itu apalagi menanganinya. Mau tidak mau, sepahit apapun kenyataannya, ia harus menghadapinya.


Dan saat ini.. Kenzo mulai memikirkan sesuatu yang mungkin bisa membuatnya terhindar dari masalah itu.


... __________________...


Kayla menghempaskan tubuhnya di kasur, dan terduduk lemas. Wajahnya sudah basah dan sembab, tatapannya sayu dan mulai nanar. la mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kamarnya yang semalam ditempati Kenzo. Kemarin sore Kenzo datang rumahnya, dia bilang dia sakit dan ingin mami Kayla merawatnya, jadilah mami dan Kayla memintanya menginap. Dia tidak bilang apapun, Kayla tak menyangka ternyata dia menyembunyikan masalah sebesar ini darinya dan mami.


Kayla kembali menilik tumpahan air dari gelas yang telah jatuh dari atas nakasnya, genangan air itu membasahi lantai kamar Kayla. Kayla yakin Kenzo yang menjatuhkannya, dan itu belum lama. Karena genangan air di lantai itu belum benar-benar kering, jadi Kayla bisa menyimpulkan bahwa Kenzo belum lama pergi dari sini.


Setelah Chika mengungkapkan bahwa dia hamil, yang ada dipikiran Kayla hanya satu, yaitu Kayla harus mendengar kebenarannya langsung dari Kenzo dan meminta penjelasan darinya. Kayla baru saja menghubungi Jessica untuk mencaritahu keberadaan Kenzo, Kayla yakin Kenzo bersama Jessica saat ini. Semoga saja dia mau pulang dan segera memberikan penjelasannya.


Kayla tercekat, ia menelan salivanya berat, dadanya berdenyut nyeri, hatinya sakit sekali. la menyentuh dadanya dan meremas baju bagian depannya sembari menangis. la tidak bisa menghentikan air matanya untuk tidak tumpah lagi dan lagi. Mengetahui perilaku buruk Kenzo yang sudah biasa saja ia merasa sedih, apalagi ini. Dan ini..? Entah pengakuan Chika benar atau tidak, yang jelas Kayla merasa hancur mendengarnya. Bagaimana bisa Kenzo melakukan perbuatan seperti itu pada Chika. Bagaimana mungkin Kenzo bisa sejauh itu dalam berhubungan. Apa saja yang Kenzo lakukan selama Kayla tidak berada disisinya.


Kayla juga tidak menyangka Chika bisa seperti itu, karena Kayla hanya tahu kalau Chika adalah seorang gadis yang kalem dan pendiam. Tapi ternyata Chika dan Kenzo menjalin hubungan, malah sampai melewati batas sejauh itu.


"Hiks..hiks...hhh...." Kayla mendekap dadanya dan meremas bajunya, mencoba menahan sakit hatinya.


Saat ini ia menangis sendirian di dalam kamarnya, ia tinggalkan Chika di luar yang mungkin saat ini juga masih menangis. Kayla berpikir untuk segera mengakhiri ratapannya ini sebelum Kenzo ataupun Mami datang. la harus mulai menguatkan dirinya dan juga hatinya untuk menghadapi Kenzo nanti. Dan semoga saat mami pulang, masalah sudah bisa teratasi, jadi mami tidak harus terlibat dalam masalah yang memalukan itu.


Setengah jam berlalu, Kayla masih enggan beranjak dari duduknya. la termenung dengan tatapan kosong. Tiba-tiba ia mendengar suara agak berisik dari luar kamarnya.


"Ken?" gumamnya.


Ya, itu suara Kenzo, jadi dia sudah datang.


Kayla segera keluar dari kamarnya dan menghampiri Chika yang masih duduk diruang tamu, dan Kenzo kini tengah berdiri sambil memarahi Chika.


"Kenapa harus libatin Kayla?" bentak Kenzo.


"Aku gak tau harus gimana lagi, Ken. Kamu ninggalin aku sendirian di kosan kamu seharian. Aku nyari kamu ke sekolah tapi kamu nya nggak ada. Aku takut Ken.."


"Ck, alasan. Nyusahin aja lu!" Kenzo memalingkan wajahnya jengah.


"Ken!" tegur Kayla dengan ekspresi datar saat ia sudah sampai di depan Kenzo.

__ADS_1


"Kay." balas Kenzo gugup.


Kayla menatap Kenzo lekat, dan Kenzo membalasnya ragu. Lebih tepatnya Kenzo malu, dan merasa begitu jahat. Kayla teringat saat Chika mengungkapkan perasaan Kenzo yang sebenarnya, yang katanya Kenzo hanya mencintai Kayla. Kayla rasa itu keliru, karena jika itu benar, maka semua ini tidak akan terjadi kan!


"Apa benar yang dibilang Chika?" tanya Kayla dingin.


Kenzo melirik Kayla dan Chika bergantian. Dalam hati ia sangat marah pada Chika, entah bagaimana perasaan Kayla saat ini, dan entah bagaimana anggapan Kayla tentang dirinya sekarang.


"Ken, jawab aku! Benar, kamu ngehamilin Chika?" Kayla benci mengucapkan itu, ia sakit tapi ia harus melakukannya.


Kenzo masih menatap tajam Chika, sedangkan Chika menunduk takut.


"Dia gak bisa dipercaya Kay" jawab Kenzo datar.


Chika lantas mengangkat kepalanya dan terbelalak. la tidak percaya Kenzo akan berkata seperti itu.


"Maksud kamu?"


"Aku ninggalin dia udah lebih dua bulan, tapi tiba-tiba dia datang dan ngaku hamil. Bisa aja kan dia punya cowok baru."


"Kamu nuduh aku selingkuh Ken?" tanya Chika lirih.


Kenzo terkekeh, "Selingkuh? Kita udah putus ya, dan kalo elu punya cowok baru ya dia bukan selingkuhan lu dong. Apa peduli gue!"


"Kamu tau gimana perasaan aku Ken, kamu ngerti gimana hancurnya aku kamu tinggalin. Jangankan punya cowok baru, aku gak mungkin bisa liat cowok lain selain kamu Ken..." lirih Chika miris.


"Ya bisa aja kan, elu cari pelampiasan setelah gue pergi. Dalam waktu lebih dua bulan itu apa aja bisa terjadi, dan gak mustahil elu hamil sama cowok lain!"


Duaarrrr......


Chika melemas, hatinya hancur berkeping-keping. Kenzo mengelak. Kenzo menolaknya! Tidak! Tidak! Chika tidak sanggup mendengar kata-kata yang lebih menyakitkan dari ini.


"Jadi benar, hubungan kalian emang sejauh itu?" tanya Kayla berat.


Kenzo mengusap wajahnya frustasi. la sangat bodoh, brengsek, dan egois. Kayla pasti terluka, Kayla pasti sedih mengetahui kebejatan Kenzo yang selama ini ia sembunyikan.


"Kay, tolong jangan salah paham."


"Aku nanya Ken, meskipun aku udah tau kebenarannya aku masih nanya sama kamu. Karena aku gak bisa percaya HeroKenzo ku akan berani ngelakuin yang kayak gitu. Aku masih percaya.. meskipun HeroKenzo ku itu playboy dan suka nyakitin cewek, dia gak akan bisa bikin kesalahan sebesar ini. Aku harap.. ini cuman mimpi buruk"


Kenzo menghela nafas berat, "Maafin gue Kay..."


"Kenapa minta maaf? Saat ini kata maaf gak berguna Ken. Hari ini seorang cewek datang ke aku dengan rasa sakit dan juga harapan yang besar, sebagai sesama cewek aku bisa ngerti ngerasain rasa sakit yang dia alamin. Mana bisa aku maafin orang yang udah nyakitin dia gitu aja."


"Kay, pliss jangan percaya sama dia!"


Chika hanya bisa mematung dengan air mata yang terus berderai. la merasa tidak berdaya lagi untuk bicara.


"Jadi aku harus percaya sama kamu? Yang udah kabur dan ngehindarin masalahnya? He'?! Bukan sekali, kamu dua kali lari dari masalah kamu, Ken! Kamu ninggalin Chika kemarin dan datang ke rumahku, saat Chika datang ke rumahku kamu pergi lagi. Gimana aku bisa percaya sama kamu?!" Kayla mulai emosi.


"Kay, tolong ngertiin gue, gue tuh syok! Elu tau kan kemarin gue sakit, gue bener-bener sakit elu tau itu."


"lya, aku tau. Tapi bukan berarti kamu harus kabur, Ken."


"Kamu disini dari kemarin, tapi kayaknya kamu gak niat buat ngebagi masalah kamu ke aku, atau ke mami. Kenapa Ken? Karena kamu takut dan malu, karena kamu emang salah, iya?" lanjut Kayla.


Kenzo terduduk lesu. la mencengkeram kepalanya frustasi, lalu mendongak menatap Kayla, Kayla memalingkan wajahnya dari Kenzo.


"Sorry.. gue bener-bener gak bisa mikir. Gue ngerasa buntu banget. Bilang ke gue, gue harus gimana Kay!"


"Kenapa tanya aku? Kamu itu cowok, ya kamu harusnya tau dong mesti ngapain. Tanggung jawab Ken!"


"Tanggung jawab atas sesuatu yang belum jelas kesalahan gue?"


Kayla tak menyangka Kenzo menyangkal lagi, apalagi Chika.


"Apa maksud kamu belum jelas?" tanya Kayla. "Kamu mau bilang kalo Chika bohong, kamu gak mau ngakuin anak kamu Ken?"


Kenzo terkekeh miris, ia jijik mendengar kata 'anak kamu' yang Kayla ucapkan. "Belum tentu itu anak gue Kay!" bantahnya keras.


Kayla duduk di samping Chika yang masih mematung. "Maafin aku Chik, tapi kamu harus buktiin sesuatu ke Kenzo, biar dia nggak ngelak."


Chika tidak merespon. Kayla tahu betapa terlukanya Chika saat ini, tapi kebenaran harus jelas, dan kesalahan juga harus jelas. Agar tidak ada kesalah pahaman lagi dan tidak ada pihak yang dirugikan.


"Berapa usia kandungan kamu?" tanya Kayla hati-hati.


"12 Minggu." sahutnya pelan, hampir tanpa suara.


Kayla sempat tertegun, kemudian beralih melihat Kenzo. "Kamu bisa itung Ken, 12 Minggu"


"Gak mungkin! Dia pasti bohong Kay!"


Kenzo menatap Chika horor. "Kalo elu emang udah hamil selama tiga bulan, kenapa baru bilang sekarang? Kemana aja lu sebelumnya? Elu sengaja mau ngejebak gue?!"


"Ken!" tegur Kayla marah. "Teganya kamu ngomong kayak gitu sama Chika."


"Buktiin!" sela Chika mendominasi, ia lalu mengangkat kepalanya.


Kayla dan Kenzo terdiam dan serentak menilik ke arah wajah pucat Chika. Kayla iba melihat mata sayunya yang seperti kehilangan harapan itu.


"Kalo kamu butuh bukti atas kejujuranku, buktiin aja, aku siap. Lakuin apa yang kamu mau!" ucapnya mencoba tegas namun suaranya masih terdengar berat dan lirih.


"Oke, kalo emang-.."


"Cukup Ken! Jangan ngomong apa-apa lagi sebelum kamu buktin apa yang pengen kamu buktiin. Kamu udah terlalu banyak nyakitin Chika, dan kamu juga nyakitin aku."


Kenzo diam seribu bahasa. la tahu ia bersalah, ia sangat malu, tapi ia hanya mencoba bersikap tegas saat ini. Hanya untuk menutupi ketakutan dan kegelisahannya. Di depan Kayla ia terlihat seperti pria brengsek yang tidak tahu malu dan egois, ia juga tidak ragu berkata buruk dan membentak, ia melakukannya agar ia tidak kehilangan harga dirinya sebagai seorang pria.


Sekarang Chika mulai berani melawan, dia siap membuktikan bahwa dia memang mengandung anak Kenzo. Kenzo semakin gelisah, Kenzo takut bagaimana jika memang benar Chika hamil, apa yang harus Kenzo lakukan. Kenzo tahu gadis seperti Chika tidak akan berbohong, tapi Kenzo masih berharap kalau Chika salah mengenai dirinya yang hamil.


... ....


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... Bersambung...


__ADS_2