
Musyawarah dua keluarga baru saja selesai. Kesimpulan tak matang yang bisa diambil dari diskusi serius itu adalah.. Feli dan Alex sama-sama bersikeras akan keputusan mereka masing-masing. Feli tetap ingin mundur dari pernikahannya, dan menikahkan Alex dengan Kayla. Sementara Alex sendiri memutuskan untuk tetap melanjutkan perjodohan, bahkan ia menunjukkan keseriusan didepan orang tuanya dan juga calon mertuanya. Para orang tua hanya bisa menghembuskan nafas panjang, mereka sudah pasrah dan menyerahkan keputusan ke tangan kedua calon mempelai itu. Tapi nyatanya kedua calon mempelai itu malah kukuh akan keputusan masing-masing, yang bertolak belakang. Jadi sebenarnya, tidak ada hasil akhir dari musyawarah mereka malam ini.
"Baiklah, nak. Kalian bisa lanjutin diskusi ini besok ya. Istirahatin pikiran sama badan kalian dulu, biar nanti bisa bahas ini lagi dengan kepala dingin." Ucap Pak William mengakhiri pertemuan mereka, sebelum beranjak pulang.
"Udah selesai, Om. Enggak ada yang perlu dilanjutin lagi. Keputusanku tetap sama, jadi kalo besok ngebahas ini lagi.. aku rasa cuman ngulur-ngulur waktu aja." Jawab Feli tegas.
"Jadi, apa rencana kamu besok?" Tanya Alex dengan sorotan tajam menantang ke dalam mata Feli.
"Nemuin keluarga Kayla. Aku sama ibu, Tante Vanessa juga ikut kan, Tante?"
Vanessa terkesiap, ia melirik putranya yang sejak tadi tak mengalihkan tatapan sama sekali dari Feli.
"Aku tau Om William setuju, jadi Om.. besok jam sembilan pagi." kata Feli seolah menegaskan keputusan finalnya.
Pak William tidak memberikan tanggapan. Sementara Ayah Feli hanya terdiam, bingung sekaligus tak terima akan keputusan keras putrinya itu. Namun lebih dari itu, ia tentu memilih sesuatu yang akan membuat putrinya bahagia, meski terpaksa mengiyakan keinginan Feli. Agus Wardhana dengan tegas mengatakan tidak mau ikut campur dengan urusan Feli jika putrinya itu kekeuh ingin menemui keluarga Kayla untuk membahas pernikahan, makanya Feli tidak meminta persetujuan sang ayah untuk rencananya besok.
"Jadi.. kamu bermaksud melamar Kayla buat aku?" Tanya Alex lagi, nada bicaranya memang rendah tapi ia sungguh geram.
Feli mengangguk tanpa ragu. Alex berdecak kecil seraya terkekeh remeh. "Tanpa persetujuanku, apapun yang kamu lakuin.. nggak bakal berjalan sesuai rencana kamu. Kamu cuman buang-buang waktu, tenaga, dan pikiran." Alex melenggang pergi begitu saja setelah mengatakan itu, bahkan tanpa pamit.
Feli, dan para orang tua yang ada di sana terdiam melihat Alex yang terus melangkah, membelakangi mereka. Setelah siluet pemuda itu hilang dibalik dinding karena ia berbelok, Feli beranjak, meminta izin untuk menyusul Alex.
"Tunggu Al!"
Langkah Alex terhenti di tengah-tengah jalan halaman rumah Feli, tepat ditengah antara rumah utama dan gerbang besar didepan sana. Alex tidak berbalik untuk melihat gadis itu, ia membiarkan Feli menyusulnya dan mensejajarkan langkah dengannya.
"Tolong maafin aku." Ucap Feli, membuat Alex menoleh ke kiri untuk melihat wajah gadis itu.
Alex mendengus panjang demi meredam amarahnya, kemudian ia mengajak Feli duduk di bangku taman pribadi yang ada di halaman luas itu.
"Aku yang minta maaf, Fel." ucap Alex tenang.
Feli tidak menjawab, ia hanya tersenyum samar.
"Apa nggak bisa kamu kasih satu kesempatan lagi buat hubungan kita? Aku tau aku yang salah karena terlalu banyak sia-siain waktu kita, tapi aku beneran udah yakin buat nikahin kamu." Ucap Alex serius.
"Sayangnya kesempatan udah nggak berlaku, kamu terlambat dan aku udah ngambil keputusan buat nggak ngelanjutin hubungan kita."
"Apa nggak bisa kamu kasih aku satu kaliii lagi kepercayaan, Fel. Aku serius dari hati aku yang terdalam... aku berusaha move on dari masa lalu, dan aku dedikasiin masa depanku bersama kamu."
"Al, setiap cewek punya impian. Disaat cewek ngeliat didepan matanya ada jalan buat mencapai impiannya.. dia akan ambil jalan itu. Tapi kalo setelah dia telusuri jalan itu, dia sadar kalo itu bukan jalannya.. maka dia akan balik, dia akan cari jalan lain. Karena kalo dia lanjutin jalan yang nggak pasti itu.. dia takut bakal nyasar. Dia..." Feli menjeda kata-katanya dengan helaan nafas panjang.
"Tapi aku akan berjalan bersama kamu, Fel. Aku akan pegang tangan kamu dan mastiin kalo kamu nggak bakal nyasar." sambung Alex.
Feli menarik satu sudut bibirnya, "Aku ingin dicintai, diistimewakan, dan berbahagia sama seseorang yang bisa membuatku merasa sempurna. Semua itu nggak akan aku dapetin dari kamu. Maaf Al, tapi cinta kamu yang terlalu besar buat Kayla.. bikin aku nggak berani nerusin langkahku lagi di jalan ini. Biarin aku ngeraih impianku sendiri."
"Gimana kalo aku bilang... aku udah mencintai kamu."
Degg
Feli menatap mata Alex, dan Alex pun demikian. Untuk beberapa saat keduanya terpaku, Feli yang memutus tatapan itu lebih dulu.
Feli terkekeh pelan seraya menggeleng. Alex meraih tangan Feli dan menggenggamnya. "Kamu nggak percaya kalo cinta bisa datang setelah pernikahan?"
"Percaya." Feli mengangguk. "Tapi aku udah yakin buat nggak jadi penghalang lagi diantara kamu sama Kayla."
"Kayla masa laluku, Fel." Alex menekankan kalimatnya.
"Sejak kapan? Sejak dia nolak bunga yang kamu kasih? Sejak dia minta kamu buat perjuangin aku?"
Alex mengernyit protes. "Aku mutusin buat perjuangin kamu bukan karena dia, tapi emang dari hatiku sendiri Fel. Kamu segitu nggak percayanya ya sama aku?"
"Pertanyaan kamu dan pertanyaan Kayla, sama. Pemikiran kalian berdua, sama. Bahkan cara kalian memahami satu sama lain pun, sama. Bukan cuman cara kalian memahami satu sama lain, tapi anggapan kalian soal aku pun.. sama. Kalian sama-sama bilang kalo.. aku nggak percaya sama kamu, Al."
Alex memutar bola matanya, frustasi. "Gimana caranya aku bisa ngeyakinin kamu kalo aku SERIUS, Fel."
"Enggak ada cara, Al. Kamu cuman perlu sejutuin apa yang udah aku atur, aku akan urus semuanya, buat pernikahan kamu sama Kayla."
"ENGGAK ADA PERNIKAHAN!" tegas Alex setengah memekik.
Feli sempat terkesiap dengan ucapan Alex yang tiba-tiba marah, keduanya saling menatap. Alex berdiri menghadap Feli, sehingga Feli harus mendongak menatapnya. "Kalo kamu emang nggak mau nerima aku, aku juga nggak akan nerima keputusan kamu." tegasnya final.
"Kamu.. nggak mau menikah sama Kayla?" tanya Feli sedikit gentar.
"Enggak." jawab Alex langsung.
__ADS_1
"Kamu mencintai dia, satu-satunya alasan kamu mau nikah muda.. itu karena kamu mencintai Kayla, Al. Sekarang pernikahan itu akan terwujud, kamu nggak-.."
"Aku bilang ENGGAK, Fel!"
Feli terpaku heran.
"Kamu nggak bisa ngatur-ngatur aku harus gimana dan nikah sama siapa. Kamu nggak berhak ngambil keputusan buat diriku, Fel. Kalo kamu mau perjodohan kita cukup sampai disini, oke. Tapi buat nikahin aku sama Kayla..." Alex menggeleng mantap. "No!"
Alex berbalik beranjak pergi, sementara Feli tertegun. Beberapa saat kemudian Feli pun berdiri, mengeluarkan kata-kata yang membuat langkah Alex terhenti.
"Kasih aku satu alasan, kenapa kamu menolak nikah sama Kayla!"
Alex berbalik, tapi hanya berdiri di tempat tanpa mendekat pada Feli. "Kamu."
Feli mengernyit.
"Kamu alasannya. Aku milih kamu." ucap Alex lagi.
Feli menggeleng, "Kamu nggak cinta sama aku."
"Kamunya aja nggak percaya." jawab Alex.
"Enggak percaya?!" heran Feli. "Sebelum ini aku selalu percaya sama kamu. Aku sabar, aku ngertiin kamu, aku nunggu.. dengan rasa percayaku yang semakin lama semakin menipis karena kamu sia-siain."
"Aku ngomong soal sekarang Fel, bukan sebelumnya. Aku tau seburuk apa diriku sebelum ini, aku cuman butuh kesempatan dari kamu buat memperbaiki itu. Aku serius mau memperbaiki kesalahanku, aku serius pengen bahagiain kamu. Aku butuh kepercayaan kamu sekali lagi." kali ini nada suara Alex lebih lirih, ia menatap Feli dalam, dan mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
Feli memalingkan wajahnya dari Alex. Sementara Alex masih menatapnya, tertegun, mencelos melihat Feli memalingkan wajah.
"Kalo emang kesalahanku nggak termaafkan, seenggaknya kamu bisa ninggalin aku gitu aja. Jangan maksa aku buat ngelakuin kesalahan yang baru, Fel."
"Setuju sama keputusanku buat nikahin kamu sama Kayla, itu kamu sebut kesalahan yang baru, Al?"
"Ya."
Feli tertawa kecil, sumbang. "Trus, kalo maksain diriku buat ngelanjutin perjodohan.. itu bukan kesalahan?"
"Aku nggak bermaksud maksa kamu. Aku cuman pengen memperbaiki kesalahanku dan menjadi yang terbaik buat kamu. Tapi kalo kamu ngerasa terbebani sama perjodohan ini.. aku nggak berhak ngelarang kamu buat mundur."
"Bukannya selama ini kamu ya yang ngerasa perjodohan ini tuh beban?"
Feli tertawa lagi, ia menggeleng-gelengkan kepala tanpa melihat Alex sedikitpun. "Lucu ya. Waktu aku ngajak kamu berjuang bersama, kamunya malah diam di tempat. Sekarang aku udah maju sendiri tanpa nunggu kamu lagi, dan nggak mau nengok ke belakang lagi, eh... kamu malah ngejar aku?"
"Seenggaknya aku pengen kamu nengok sebentar, buat liat permintaan maafku." Feli mengubah mimik wajahnya setelah mendengar ucapan Alex.
"Kalo kamu nggak suka aku kejar, seenggaknya kamu bisa noleh sekilas aja.. buat liat aku berjuang sendiri." lanjut Alex.
"Kenapa sih Al, kamu suka buang-buang waktu? Enggak semuanya loh sesuatu terjadi sesuai kemauan kita, kadang-kadang kesempatan itu cuman datang satu kali. Kalo kita sia-siain itu.. ya kita harus terima kegagalan."
Alex tertegun.
"Tapi kegagalan bukan berarti kita kehabisan jalan. Mungkin dengan kegagalan itu Tuhan pengen ngasih tau kita.. bahwa sesuatu yang nggak bisa kita raih itu emang bukan ditakdirkan buat kita."
Feli mengatakan itu bukan hanya untuk Alex, tapi juga ia tujukan untuk dirinya sendiri. Feli memilih melepaskan Alex karena ia yakin Alex bukanlah jodohnya. Feli sudah berjuang untuk cinta Alex, tapi ia gagal. Saat ini Alex meminta kesempatan darinya, meminta tangannya untuk berjalan bersama, tapi Feli tidak bisa menerimanya. Karena perjuangan Feli sudah berada di batas akhir, Feli tidak mengizinkan hatinya lagi untuk patah.
"Jadi.. kamu nyerah? Maafin aku karena terlalu egois, Fel." Alex melangkah maju mendekat ke arah Feli yang berdiri sekitar 4-5 meter didepannya.
"Nyerah dalam artian mengalah Al, bukan putus asa." jawab Feli tenang.
"Kamu udah yakin mau berjuang di jalan yang baru? Sendiri?" tanya Alex lagi.
"Ya."
Alex menatap lurus sembari melangkah. Feli yang merasa ditatap awas oleh Alex, sedikit resah namun ekspresinya tetap tenang.
"Aku udah maafin kamu, tapi bukan berarti aku setuju sama kamu. Biarin aku nentuin sendiri apa yang mau aku raih, Al."
Alex berhenti satu meter didepan Feli. "Makasih Fel. Sebanyak apapun yang kamu kasih ke aku, seberapa keras usaha kamu selama ini buat aku, thank you so much. Mungkin aku emang nggak bisa ngebales semua itu sesuai dengan yang kamu harapin. Tolong maafin aku, Fel." ucapnya tulus.
"Semuanya yang aku usahain buat kamu, dan yang aku kasih ke kamu, itu karena cinta, Al. Sesuatu yang dilakukan atas nama cinta nggak ada ruginya. Aku nggak nyesel kok, perasaan yang nggak sampai itu udah berubah jadi pengalaman terbaik, dan pelajaran berharga buat aku. Jadi, kamu nggak perlu ngerasa bersalah karena nggak bisa bales."
"Kalo kamu cinta sama aku, kenapa kamu nolak aku Fel?"
"Cinta nggak melulu harus memiliki, Al. Ada cinta yang terbalas, ada juga cinta yang bertepuk sebelah tangan. Selain itu, cinta adalah anugerah. Enggak semua orang melihat anugerah itu dengan pandangan yang sama. Tapi intinya tetap sama, Tuhan pengen liat gimana cara kita memelihara dan memperlakukan anugerah itu, dan Tuhan yang nentuin mau ngasih kita apa setelah itu. Tapi satu hal yang paling penting, Tuhan nggak akan suka kalo kita putus asa."
Alex mengangguk-angguk, ia menarik sudut bibirnya setelah melihat Feli tersenyum.
__ADS_1
"Aku akan senang kalo kamu nerima keputusanku." ujar Feli.
"Aku lebih senang sama keputusanku sendiri, kalo itu nggak ngeberatin kamu, Fel."
Senyuman Feli memudar, ia melarikan pandangan ke arah lain. Ia merasa resah lagi, tapi segera Alex melanjutkan kalimat yang terjeda, dengan mengharapkan kesediaan Feli.
"Kalo kamu udah yakin buat nggak ngelanjutin perjodohan, nggak papa. Aku nggak bisa maksa, dan nggak boleh egois juga kan. Jadi ya intinya.. enggak akan ada pernikahan." Feli melihat Alex lagi setelah mendengar itu.
Alex terkekeh kecil, "Mungkin jodoh kita masih jauh. Manusia terlalu buru-buru berencana, trus Tuhan negur.. kalo rencana mereka itu sia-sia tanpa ngelibatin Tuhan."
Feli pun terkekeh, ia mengangguk setuju. "Tapi aku tetap yakin kalo Kayla itu jodoh kamu. Aku rasa Tuhan banyak ngasih clue Nya, dan mungkin juga aku emang perantara... buat bikin kalian bersatu."
"Aku nggak tau, enggak bisa nebak Tuhan mau Nya apa. Tapi buat sekarang, mulai detik ini... oh bukan, maksud aku.. mulai beberapa menit yang lalu.. " Feli tertawa geli mendengarnya, ucapan Alex yang awalnya serius itu berubah menjadi lucu ketika Alex meralat kalimat terakhirnya tadi. Alex pun ikut tertawa sehingga ucapannya terjeda.
"Apa Al?" tanya Feli penasaran.
"Iya, jadi aku mutusin.. buat lupain soal pernikahan."
Feli mengerjap pelan, keningnya sedikit mengernyit. Agaknya ia mencerna ucapan Alex kali ini. "Aku nggak akan menikah dalam waktu dekat, Fel." jelas Alex.
"Al..." Feli mencoba memberikan pengertian, namun Alex segera menggeleng, ia menolak dan tak mengizinkan Feli bicara.
"Fel, kamu pasti mikir.. dengan kamu nyatuin aku sama Kayla maka kamu bakalan lega dan bikin aku sama Kayla bahagia." Feli mengangguk, tapi Alex menggeleng membuat Feli tak mengerti.
"Kalo rencana kamu itu terwujud, artinya aku menikah sama Kayla sesuai keinginan kamu.. sebenarnya enggak akan ada yang bener-bener bahagia, Fel. Baik kamu, aku, Kayla, maupun orang tua kita.. enggak akan ada yang bener-bener bahagia."
Feli terdiam, antara membenarkan ucapan Alex dan tidak mempercayainya. "Tapi kalian berdua saling mencintai." katanya kemudian.
"Kata siapa?"
"Ya aku tau lah, Al. Dari dulu juga-.."
"Dulu dan sekarang enggak tentu sama, Fel. Emangnya Kayla bilang kalo dia masih cinta sama aku?"
"Enggak sih, enggak bakalan lah dia jujur sama aku. Kamu juga gitu kan."
"Jangan sok tau!" tegur Alex. "Lagian kalo pun itu benar atau enggak.. aku nggak akan bener-bener bahagia nikah sama dia."
"Karena nggak pasti dapet restu?" Feli menebak alasannya.
Alex menggeleng, "Karena keadaan udah berubah, hubungan udah berubah, dan hati... enggak ada yang bener-bener tau. Tapi saat ini aku yakin buat lupain soal pernikahan dan cinta."
Feli mengangkat kedua alisnya seraya mencebikkan bibir. "Dan kamu yakin kalo Kayla juga akan berpikir yang sama seperti itu?"
Alex mengedikkan bahunya, "Mana aku tau. Akan lebih baik kalo 'iya' kan."
"Enggak juga. Aku nggak sependapat." Feli menggeleng seraya tersenyum.
Alex terkekeh, "Yaudah. Silahkan berpendapat masing-masing."
"Tapi aku akan tetap mastiin.. Kayla setuju sama keputusan aku atau enggak."
Alex memutar bola matanya malas. "Terserah! Kalo kata aku, mending kamu mikirin diri kamu sendiri daripada ngerepotin diri kamu buat sesuatu yang sia-sia."
"Kok sia-sia?" sewot Feli tak terima.
"Dia nggak bakal setuju."
"Kalo dia setuju, gimana?" tantang Feli seraya tersenyum miring dan menaikkan satu alisnya.
"Akunya enggak." sahut Alex enteng, ia mengedikkan bahunya seraya berbalik meninggalkan Feli.
"Al! Kalo dia setuju, kamu juga setuju ya!" Terdengar seperti sebuah paksaan daripada sebuah tawaran.
Alex tidak menghiraukan Feli, dan malah melanjutkan langkah tanpa menoleh lagi.
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1