Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Takut Jatuh Cinta


__ADS_3

(Flashback On)


Kayla dan Adit duduk di sebuah batu besar dipinggir danau.


"Ada apa Kay?"


"Aku udah baca surat kamu"


Degg


Seketika Adit tegang dan gugup. Ia menunduk, menghindari tatapan Kayla.


"S..Surat? Ya Tuhan.. gimana ini, kok aku jadi gugup gini sih." batin Adit.


"S-..surat?"


"lya, surat kamu di boneka itu." ulang Kayla.


"Aku nggak sadar dari awal sih kalo di boneka itu ada surat, soalnya kamu nyelipinnya apik banget." Kayla tertawa kecil.


Adit rasa Kayla kelihatan santai dan tenang-tenang saja membicarakannya, padahal Adit begitu gugup. Entah bagaimana tanggapan Kayla tentang isi suratnya itu.


"Jadi, kamu udah baca?" tanya Adit kaku.


"Hm."


"Mmm..." Adit mengulum bibirnya, merasa salah tingkah. "Gimana tanggapan kamu?"


Kayla tersenyum seraya menaikkan alisnya, dan tatapan itu membuat Adit semakin gugup. Debaran jantungnya sudah tidak bisa dikondisikan.


"Astaga.. Kayla kan belum ngomong apa-apa, kenapa aku segugup ini!" rutuknya dalam hati.


"M..maksud aku.. tanggapan kamu soal.. isi surat itu, gimana?"


"Aku pengen denger dulu tanggapan kamu soal aku." kata Kayla.


Kayla mendengus tawa melihat tingkah aneh Adit, membuat Adit tertawa kecil.


"Tanggapan aku soal kamu?" Adit mencoba berbicara dengan santai dan normal. Kayla mengangguk.


"Maksudnya?" tanya Adit lagi.


"Ya.. aku rasa selama ini kita temenan tuh stabil-stabil aja deh, aku nggak pernah ngira kalo kamu.. bakal suka sama aku."


Adit bingung ingin menjawab apa. "Kalo boleh jujur, aku suka." ucap Kayla.


Degg


"Aku suka temenan sama kamu." sambung Kayla. "Aku seneng punya teman dekat kayak kamu. Tapi Dit, apa selama ini.. ada perlakuan aku yang bikin kamu ngerasa lebih? Atau mungkin aku pernah ngasih harapan ke kamu?"


"Enggak kok. Kenapa kamu mikir kayak gitu?"


"Syukur deh. Aku paling ngehindarin itu"


Adit mengernyit bingung, daripada bertanya langsung dia lebih memilih memikirkan sendiri kata-kata Kayla barusan.


"Kamu bener. Kita berteman baik sejauh ini, dan aku juga nggak mau pertemanan kita rusak gara-gara perasaan itu. Aku hargain kamu Dit, aku senang kamu berterus terang."


Kayla lalu terkekeh, "Tapi, apa harus berterus terangnya lewat isi surat yang sweet itu? Suratnya diselipin lagi, sebenarnya kamu niat nggak sih ngungkapin perasaan kamu? Kenapa nggak langsung aja!"


Adit gelagapan, ia melarikan pandangannya dari Kayla.


"Aku disini Dit, ayo ngomong!" Kayla mengulum senyumnya, geli melihat gelagat Adit.


"Dit, kalo kamu ngerasa ada perlakuan aku ke kamu yang berlebihan. tolong jangan anggep itu spesial ya! Aku nggak mau terkesan ngasih harapan palsu, kamu kan tau aku udah komit gak mau pacaran. Bukannya apa-apa sih, aku cuman nggak suka kita canggung-canggungan kayak gini. Kamu sendiri bilang, apapun jawaban aku kita harus tetap berteman kayak biasa kan!"


Adit menoleh, ia tertawa kaku. "lya Kay, sorry!"


Beberapa saat mereka berdua diam. "Aku nggak tau dari kapan aku mulai suka sama kamu. Kamu itu.. cantik, pemberani dan kuat. Aku paling suka liat semangat kamu dan senyuman kamu, Kay. Dari awal kita ketemu, aku udah ngerasa ada yang beda dari kamu dibanding cewek-cewek lain."


Ah, dipuji seperti ini rasanya Kayla jadi tersanjung. Wajahnya tertunduk malu. Kenapa sekarang malah ia yang jadi gugup.


"Aku beruntung bisa temenan dekat sama kamu. Dan.. pasti aku lebih beruntung lagi kalo bisa jadi lebih dari teman kamu." Adit melirik Kayla yang tertunduk, membuatnya terkekeh kecil.


"Kenapa kamu ngerasa gitu?"


"Siapapun yang bakal jadi cowok kamu pasti beruntung Kay. Senyum kamu, gaya bicara kamu, sama sikap kamu.. itu bikin siapa aja yang ada di dekat kamu ngerasa nyaman."


Kayla menggeleng kecil seraya tersipu malu. "Kamu salah, Dit. Siapapun yang bakal jadi cewek kamu, dia yang pasti beruntung."


Adit tertawa kecil. "Emang apa yang aku punya sampe bisa bikin cewek ngerasa beruntung dapetin aku?"


"Buktinya aku nyaman sama kamu."


Degg


"A..aku salah denger kan?! Kayla bilang.. dia nyaman sama aku?" tanya Adit dalam hati.


"Apa aku salah ngomong?" tanya Kayla hati-hati. "Sorry Dit! Aku cuman terus terang aja, bukan maksud buat bikin kamu melting kok."


Adit terkekeh, "Apa aku keliatan melting?"


Kayla menggigit bibir bawahnya, "Nyaman bukan berarti suka kan? Aku selalu ngerasa nyaman kok sama orang-orang terdekat aku"


Adit mendengus, "Itu nyaman versi kamu. Kalo versi aku.. rasa nyaman sama lawan jenis yang bisa bikin kita ngerasa spesial, kita ngerasa dia itu spesial buat kita dan sebaliknya. Nyaman sama suka itu emang beda, tapi dari rasa nyaman itu.. bisa timbul suka."


Kayla agak takjub mendengar penuturan Adit. la terdiam beberapa saat, memikirkan kata-kata Adit dan menelaah perasaan yang tengah ia rasakan.


"Dit?"


"Ya?"


"Aku boleh curhat dikit nggak?"

__ADS_1


"Boleh dong. Banyak juga boleh."


"Aku serius loh."


"lya. Kamu pikir aku nanggepinnya bercanda? Ngomong aja Kay, aku siap jadi teman curhat kamu"


"Thanks Dit!"


Adit mengangguk, Kayla menghela nafasnya sebelum mulai curhat."


"Aku.. takut jatuh cinta, Dit."


Adit menaikkan alisnya. "Takut? Kenapa?"


"Aku takut jatuh cinta sama orang yang salah"


"Aku pengennya jatuh cinta cuman sama orang yang bakal jadi suami aku nantinya. Cuman sama satu orang, dan diwaktu yang tepat."


"Bukannya cinta itu datang sendiri ya? Bahkan cinta bisa hadir tanpa kita minta, tanpa kita mau, dan tanpa bisa kita pilih."


"lya kamu benar. Makanya aku batasin hati aku, aku mutusin buat nggak mau pacaran. Bukan berarti aku gak mungkin jatuh cinta sebelum waktunya sih, tapi aku berusaha ngehindarin perasaan itu. Supaya aku nggak ngerasain yang namanya patah hati. Gitu kata mami aku."


Adit tersenyum. "Owh.. jadi mami kamu udah wanti-wanti kamu banget ya, biar kamu gak disakitin sama cowok"


"lya lah. Tapi keputusan itu ada ditangan aku kok. Mami aku cuman kasih pengertian, aku sendiri yang mutusin nggak mau pacaran."


Adit mengangguk, masih mendengarkan Kayla seksama.


"Dari cerita mami aku, pacaran itu resikonya gede'. Emang bener dari pacaran mungkin bisa kasih kita pengalaman buat satu hubungan, tapi pacaran banyak ruginya. Enggak sedikit kan orang-orang yang pacaran itu ngelakuin apa aja yang disukain sama pacarnya, ngasih apa aja yang diminta pacarnya, suka rela ngasih semua yang dia punya. Trus kalo putus, apa yang tersisa! Bagus kalo sampe nikah, kalo enggak kan kasian suaminya, atau istrinya. Apa yang tersisa yang bisa dia kasih buat pasangannya kalo semua yang dia punya udah dikasih ke pacarnya"


"Kalo udah kayak gitu, pasti nyesel deh. Aku nggak mau nasib aku kayak gitu. Jadi aku mutusin buat jauhin yang namanya pacaran. Tapi mami aku nggak ngelarang kok aku temenan sama cowok. Cuman temenan, kalo lebih.. aku No!"


"Aku ngerti. Kamu bener Kay, pacaran itu banyak ruginya. Pihak cewek atupun pihak cowok sama-sama rugi kalo mereka salah milih pasangan."


Mereka kemudian terdiam bersama pikiran masing-masing.


"Dit, makasih ya udah mau dengerin curhat aku"


Adit mengangguk seraya tersenyum. Senyuman yang paling Kayla suka, lesung pipinya mengembang.


"Makasih juga udah mau baca surat aku Kay, udah ngasih aku kesempatan ngomong berdua kayak gini. Jadi teman kamu aja udah cukup kok buat aku. Kalo aku nggak ditakdirin buat jadi pendamping kamu, bisa deket sama kamu pun aku udah ngerasa beruntung"


"Makasih atas pengertiannya Dit. Tetap kayak gini ya, jadi teman baikku!"


Adit mengangguk, "Kalo kamu butuh teman curhat aku siap kapan pun. Cari aja aku! Kalo kamu lagi seneng ataupun susah, aku juga siap buat kamu, jangan sungkan ya Kay!"


"Makasih Dit! Kamu juga ya, aku lebih suka Adit yang freindly dan terbuka kayak gini loh, daripada yang nulis surat diem-diem dan gak ngomong sama sekali. Pas ngomong gugup lagi! Haha..."


Adit mendorong kecil lengan Kayla kesal, iapun ikut tertawa.


(Flashback Off)


Adit cengar-cengir sendiri sambil memandangi layar ponselnya, lebih tepatnya di sana ada foto selfienya bersama Kayla dipinggir danau kala itu. Sejak saat itu sampai sekarang, dua bulan telah berlalu, ia dan Kayla semakin akrab dan Kayla juga sering curhat padanya.


Kelas XIl IPS, sekarang itulah kelas yang ditempati oleh Kayla dan Adit. Selama lebih satu bulan berada di kelas dua belas, Kayla merasa semakin semangat dalam belajar. Tentu, Adit si kutu buku bersamanya sehingga Kayla sering mendiskusikan tentang pelajaran dengannya.


Tentang Alex, akhir-akhir ini Alex lebih sering menghabiskan waktu bersama mamanya. Tapi kedekatannya dengan Kayla juga tidak bisa dibilang berjarak. Mereka masih sama, Alex sering berbagi ceritanya pada Kayla, dan Kayla selalu jadi pendengar sekaligus penasehat yang baik untuk Alex.


Selain itu, tiga minggu belakangan Alex lebih sering menyinggung tentang niat lamarannya pada Kayla. Meski sampai sekarang Alex belum benar-benar melamarnya, Alex semakin mendekatkan diri dengan mami Kayla, hal itu membuat Kayla merasa tidak enak. Alex juga sering mengajak Kayla bertemu dengan mamanya, Alex ingin mamanya lebih mengenal Kayla. Calon mantu mama, katanya.


Karena hal itulah, Kayla mulai mencoba menjaga jarak dengan Alex. Apalagi Alex selalu memberikan perhatian pada Kayla, bersikap manis dan hangat, terkadang juga merayunya. Itu semua membuat perasaannya semakin tak karuan jika berada di dekat Alex. la sulit mengerti apa yang tengah berkecamuk dihatinya. la takut jatuh cinta pada Alex.


Kayla percaya, Alex mencintainya. Kayla juga tahu Alex tulus dan berniat serius. Tapi hatinya tidak yakin akan niat lamaran Alex yang agak terburu-buru, menurutnya. Alex memang sudah mengutarakan niatnya itu beberapa bulan yang lalu, tapi tetap saja bagi Kayla ini terlalu cepat. Kayla tidak siap untuk itu.


Entah bagaimana jalan pikiran Alex sehingga ia berani mengambil keputusan sebesar itu dalam hidupnya. Disamping usia yang masih terlalu muda, ia masih sekolah dan belum cukup dewasa untuk sebuah rumah tangga kan?!


Kayla menghela nafas panjang sembari menyandarkan punggungnya ke bangku. Nia yang melihatnya pun jadi heran.


"Sebenarnya kamu nih kenapa sih Kay? Akhir-akhir ini kok aku liat kamu kayak stres gitu, muka kamu kusut mulu. Kamu frustasi, apa banyak masalah? Cerita dong!"


Kayla melirik Nia lesu, "lya aku punya masalah yang serius, tapi aku gak bisa cerita sama kamu. Sorry ya Ni! Ini masalah pribadi aku sama mami."


"Udah dibicarain belum sama mami kamu?"


"Udah. Tapi belum ada jalan keluarnya" jawabnya lesu.


"Ih aku penasaran deh, masalah apa sih? Kalo aja aku bisa bantu Kay, aku kasian tau liat kamu kayak gini. Ngelamun mulu, jarang senyum, kalo senyum pun terpaksa nih, iya kan!"


Kayla mendengus, ia mengubah mimik wajahnya yang lesu menjadi lebih cerah dengan senyuman yang ia kembangkan. Meski sudah berusaha, tetap saja raut kusutnya terlihat dimata Nia. Nia mendesah kecil seraya menggeleng lemah.


... ....


... ....


... ....


"Hai Al!" sapa Jessica yang kini duduk di samping Alex.


"Hai." sahut Alex singkat seraya meliriknya sekilas.


Alex kembali melanjutkan kegiatannya, yaitu menulis.


"Gue tebak, sampe sekarang elu belum jadian sama Kayla."


"Emang kenapa?" tanya Alex cuek.


Jessica tertawa kecil, "Udahlah Al, gue bilang juga apa, Kayla itu gak bakal nerima elu. Sebaik apapun dia sama elu, dia masih punya trauma. Lagian ya, makin kesini tuh dia makin deket deh sama Adit."


Alex menghentikan gerak jemarinya. la sempat terdiam kemudian menoleh sekilas dan bertanya, "Trus?"


"Ck, sok nutup mata!" Jessica memutar bola matanya jengah. "Masa elu gak nyadar, Kayla itu suka sama Adit"


"Mereka temenan, mereka deket, atas dasar itu elu bilang Kayla suka sama Adit?!"

__ADS_1


"Ya ampun Al, harusnya elu tuh ngerti, Kayla juga mikir kali buat nerima elu. Dari level aja kalian itu beda jauh. Liat Kayla sama Adit! Mereka cocok dari sisi manapun, cupu-kutu buku, kelas menengah, flat dua-duanya. Gak cocok dia buat elu Al!"


Alex mendengus malas. "To the point aja deh, mau lu apa?"


Jessica tersenyum lebar, ia bertekan dagu dengan siku yang ia tumpu di meja Alex, tepat di depan wajah Alex. Sehingga Alex tak punya pilihan selain menatapnya.


"Kurang perfect apa sih gue? Anak-anak selalu nge-ship kita loh Al, mereka pasti bakal happy banget kalo kita jadian"


Alex tersenyum miring. "Ya. Elu perfect. Banyak kan cowok yang ngantri buat elu gandeng, trus ngapain masih ngarepin gue yang jelas-jelas udah nolak lu, udah permaluin lu, juga udah punya cewek pilihan sendiri!"


Jessica mendengus seraya menurunkan tangannya. "Apa sih istimewanya cewek cupu itu? Gue gak terima kalo sekali lagi elu ngehina gue! Jesslovers bakal ngehujat elu, dan fans-fans elu juga bakal kecewa." bentaknya.


Dengan rasa kesal Jessica berdiri dan melenggang pergi. Sementara Alex hanya mengedikkan bahunya acuh. Entah sudah berapa kali Jessica merayunya dan menyudutkan Kayla bermaksud agar Alex menjauhi gadis itu, tapi Alex tidak peduli. Sifat keras kepalanya dan kepercayaannya yang tinggi membuat ia teguh pada pendiriannya, dan cintanya membuat ia tetap pada pilihannya. Jika diibaratkan, Jessica hanya bagai kerikil yang tidak bisa menjadi pengganggu di jalannya, apalagi menjadi penghalangnya untuk meraih tujuannya. Yaitu mendapatkan hati Kayla.


... ___________________...


"Selamat pagi anak-anak!" seru Bu Fitri yang baru masuk kelas.


"Selamat pagi, Bu!" jawab murid serentak.


"Hari ini kita kedatangan murid baru." ujar Bu Fitri semangat.


Seketika murid-murid riuh menebak-nebak siapa murid baru itu. Mereka menilik lekat ke arah pintu kelas, ada yang bersiul bersiap menyambut kedatangan murid baru, ada juga yang merapikan tatanan rambutnya dan juga bajunya. Baik itu siswa laki-laki ataupun siswi perempuan, sama saja.


"Silahkan!" ujar Bu Fitri ke arah pintu, yang dibalik sana sudah berdiri seseorang.


Dia, murid baru itu mendongak sekilas, melihat papan penanda kelas yang tertera di atas pintu. 'Kelas XIl IPA'. Dia tersenyum kemudian melangkah memasuki kelas barunya.


Dengan gaya khasnya, ia melangkah santai sambil mengendong tas di pundak kirinya. Dia bersiul sambil memainkan alisnya, melirik satu persatu wajah penghuni kelas itu, yang menatap lurus ke arahnya. la menghentikan langkahnya di samping Bu Fitri.


"Yaah... gue kira murid barunya cewek." gerutu Sandi pelan.


Vicky terkikik, "Nyesel ya San elu ngaca tadi?!"


Sandi mencibir menanggapi ledekan Vicky. Beberapa murid laki-laki mendengus malas karena ternyata murid barunya laki-laki, berlagak cool pula anaknya. Sementara murid-murid perempuan menatap takjub ke arahnya, bisa ditebak kan kalau murid baru itu..


"Ganteng banget...!" cicit seorang siswi.


"lya, bisa saingan ini sama Alex" timpal temannya pelan sambil memegang lengan teman di sampingnya.


"Ck ah, cewek mah.. liat ginian aja matanya gak ngedip." gerutu siswa laki-laki di belakangnya.


"Maaf Bu, saya kurang sopan ya." ujar murid baru itu cengar-cengir.


Bu Fitri tersenyum, "Hmm.. awal perkenalan yang unik. Lain kali kalo masuk ucap salam ya!"


"Siap Bu" sahutnya santai sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Bu Fitri terbelalak kaget.


"Eh eh, aduh.. maaf Bu, kebiasaan." katanya sambil menepuk matanya, dengan raut sesalnya.


"Yaudah, ibu maafin. Lain kali jangan diulangi. Silahkan perkenalkan diri kamu!"


"Halo semuanya! Assalamu'alaikum.." ucapnya sambil meletakkan telapak tangannya di sudut kanan keningnya, seperti memberi hormat.


"Wa'alaikum salam.."


"Kenalin, nama gue Kenzo Putra Kurniawan. Panggil aja Kenzo. Gue pindahan dari beberapa sekolah SMA di Jakarta, sebelumnya gue sekolah Bandung dari TK sampe kelas sebelas."


Beberapa murid tertawa kecil menanggapinya, ada juga yang heran, dan ada juga yang hanya acuh saja, seperti Alex.


"Gimana tuh maksudnya, elu di Bandung sampe kelas sebelas. Trus kok bisa pindahan dari beberapa SMA di Jakarta?" tanya Bima.


"lya. Gue dua bulan di Jakarta pindah sekolah empat kali. Dan ini sekolah yang ke lima, hehee.. semoga ini yang terakhir, dan yang gue cari ada disini"


Beberapa murid menyorakinya, tapi dia enjoy saja.


"Emang apaan yang lu cari?" tanya salah seorang siswa.


"Ntar kalo ketemu gue kasih tau"


"Bu, boleh nanya nggak?" ucap seorang siswi, membuat senyum Kenzo mengembang.


"lya. Silahkan!" jawab Bu Fitri. "Tapi jangan yang aneh-aneh ya!"


Siswi itu menyengir, "Enggak jadi deh Bu"


"Kenapa gak jadi?" tanya Kenzo langsung, membuat siswi itu tersipu malu.


"Emangnya mau nanya apa?" Gue jomblo apa udah taken?" tebaknya, membuat para murid kembali menyorakinya.


Bu Fitri menggeleng-geleng sambil terkekeh geli. "Udah..udah.." kata Bu Fitri menenangkan kelas yang riuh.


"Kenzo, silahkan kamu duduk. Di sana!"


Bu Fitri menunjuk tempat duduk paling belakang, tepat di samping Doni, si ketua kelas.


"Terima kasih, Bu" ucap Kenzo seraya mengangguk sekali dengan sopan.


Kenzo berjalan gontai menuju tempat duduk barunya. Samar-samar ia mendengar seorang siswa mencibir, "Sok ganteng, sok keren amat sih!"


Kenzo tersenyum miring mendengarnya. "Emang gue ganteng, sirik aja lu" sahutnya pede tapi hanya di dalam hati.


Sementara Alex memperhatikan Kenzo sedari tadi, ia menilik seksama wajah Kenzo sejak anak baru itu berdiri di depan hingga berjalan melewati tempat duduknya.


"Kok kayak pernah liat, dimana ya..?"


... ....


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... Bersambung...


__ADS_2