Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Pernikahan Impian


__ADS_3

Dua Tahun Kemudian....


Ballroom hotel bintang lima milik salah satu pengusaha ternama di ibukota, telah selesai disulap menjadi istana megah. Seolah berada di dalam ruangan utama istana disney, siapa saja yang memandangi tempat itu pasti terpukau. Dan kedua mempelai yang akan bersanding hari ini pasti akan terlihat sebagai raja dan ratu istana megah ini. Entah berapa jumlah budget yang disediakan sang tuan rumah untuk merayakan pernikahan anak mereka satu-satunya itu. Tentu sebanyak apapun rupiah bahkan mungkin dollar yang mereka rogoh, tidak akan membuat mereka rugi apalagi miskin seketika. Jika ada perayaan pernikahan yang lebih megah dari ini sebelumnya di negeri ini, maka mungkin mereka akan membuat perayaan yang lebih megah lagi.


Sang mempelai wanita yang baru selesai dirias itu tersenyum gugup. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, penata rias menanyakan adakah kekurangan dari riasannya dan sang pengantin memuji kesempurnaan riasannya itu.


"Oke, udah perfect ya. Relaks dulu ya sayang, mempelai laki-lakinya juga belum datang. Hehe.." ujar sang perias pengantin yang merupakan sahabatnya sendiri.


Feli, sang calon pengantin merasa semakin gugup digoda sahabatnya itu. Ia meminta ditinggalkan sendirian di kamar rias untuk menenangkan diri sejenak. Sang ibu pun mengatakan akan kembali menemuinya jika rombongan mempelai laki-laki telah tiba.


Feli menarik nafas dan menghembuskannya perlahan beberapa kali. Ia sungguh gugup, tapi tentunya juga sangat bahagia, karena akhirnya hari pernikahan yang ia impikan datang juga. Sebentar lagi ia akan menjadi pengantin dari pria yang ia cintai.


Feli mengelus cincin yang tersemat dijari manisnya, cincin sebagai simbol cinta yang membuat dirinya begitu istimewa dihati pria yang telah mempersuntingnya beberapa bulan yang lalu. Akhirnya setelah dua tahun lalu ia mengalami patah hati, hari ini.. hari bahagianya tiba juga. Takdir Allah memang misteri, luar biasa dan menjadi surprise tersendiri untuk Feli pribadi. Kalimat 'semua akan indah pada waktunya' yang sering ia dengar.. telah ia rasakan sendiri keindahannya. Feli mengecup singkat cincin tunangannya sebagai tanda syukur dan haru.


Pandangan Feli kemudian teralih pada benda pipih yang tergeletak di ujung meja rias berukuran dua meter, tempatnya duduk saat ini. Ponselnya menyala, menampakkan foto wallpaper di layar ponselnya itu. Feli tersenyum merekah, bukan karena mengetahui siapa pengirim chat yang membuat ponselnya menyala, tapi karena foto sepasang kekasih yang menjadi wallpaper di ponsel itu. Foto dirinya bersama calon suami, yang hari ini akan menikahinya.


.......


.......


.......


Tut.. tut.. tut...


Suara dari panggilan yang tersambung tapi belum dijawab itu membuat detak jantung Alex kentara terasa ditengah keheningan suasana. Ia duduk dengan tegang di sofa ruang tamu, sembari memperhatikan Mama dan asisten rumah tangga yang sibuk memasukkan barang bawaan ke mobil. Ketika sambungan telponnya tersambung, Alex segera menyeru di detik pertama.


"Halo Fel!"


"Iya Al?" sahut gadis diseberang telpon yang tak lain adalah Feli.


"Aku gugup nih.." jujurnya.


Terdengar kekehan kecil dari suara Feli, membuat Alex sedikit kesal. "Segugup itu ya sampe kamu nelpon aku disaat-saat kayak gini?"


Alex mendesah nafas tertahan, "Sempet-sempetnya kamu ngeledekin aku!"


"Lagian kamu sendiri sempet-sempetnya nelpon aku, bilang gugup, bukannya siap-siap?!"


"Ini udah siap kok. Bentar lagi berangkat." ujar Alex sembari kembali mengoreksi pakaian yang ia kenakan.


"Fel, kamu.. beneran udah handle kan di sana, biar aku nggak malu-maluin nanti."


"Iya, udah beres terkendali. Tinggal kamunya.. beneran udah siapin diri kan? Kalo kamu malu-maluin, aku juga ikutan malu dong."


"Tenang, udah siap kok. Cuman aku gugup aja. Kamu gimana?"


Sempat hening sebelum suara gadis itu terdengar lagi.


"Aku.. juga gugup..."


Alex tersenyum. Ia menilik jam tangannya, "Akad nya setengah jam lagi, kamu punya waktu buat relaks. Jangan gelisah ya Fel, cukup gugup aja."


"Hmm..." hanya itu yang terdengar oleh telinga Alex. Ia mendengus senyum membayangkan wajah Feli yang saat ini memerah tersipu malu, atau mungkin wajah cantik itu malah pucat karena gugup.


"Thank you." ucap Alex.


"Buat?"


"Abis nelpon kamu.. rasa gugupku jadi berkurang."


"Ih kamu! Sekarang malah aku yang makin gugup." keluh Feli.


"Ya ampun... maaf deh. Jadi aku ganggu nih. Yaudah kalo gitu, see you."


"See you." balas Feli. Dan Alex memutus sambungan telpon.


"Al, ayo nak!" panggil Mama yang sudah berdiri di samping mobil.


Alex menelan salivanya gugup, ia beranjak menghampiri sang mama. Alex tersenyum malu ditatap mama seperti itu. Terlebih lagi saat ia sudah sampai didekat mama, mamanya itu malah menggodanya.


"Ekhem... anak mama..." goda Vanessa sang mama, sambil memperhatikan Alex dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Wah... Bang Alex ganteng bangeeet..." puji Sita, adik kecilnya.


"Ehem ehem... Bang Alex..." Fita sang kembaran gadis kecil itu pun ikut menggodanya.


"Aku.. cek lagi ya ma!" ujar Alex mengalihkan, ia membuka bagasi mobil bermaksud memeriksa barang bawaan yang sangat diperlukan nanti di acara pernikahan.


"Takutnya ada yang ketinggalan." dalih Alex ketika sang mama membuka mulut lagi ingin menggodanya.


Senyuman lebar Alex tak memudar sedikitpun, dadanya saat ini dipenuhi jutaan bahkan milyaran rasa bahagia yang membuncah, disamping rasa gugupnya yang juga tak kalah besar. Rasanya ia tak sabar, tapi juga sekaligus tak siap karena takut melakukan kesalahan. Dengan izin Allah, hari ini acaranya akan berjalan lancar. Setelah lebih dari dua tahun tertunda, akhirnya Alex sampai pada titik ini. Ia memejamkan mata sejenak, menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.

__ADS_1


"Al, udah?" tanya sang papa yang sudah duduk di dalam mobil.


"Iya Pa." sahut Alex.


"Yaudah, kalian duluan. Mama nyusul di belakang aja." kata sang mama, menepuk pundak Alex kemudian berlalu.


Mereka berangkat ke hotel yang merupakan lokasi acara pernikahan, dengan mobil terpisah. Alex bersama papanya dan seorang sopir tentunya. Sementara Vanessa berangkat menggunakan mobilnya sendiri bersama kedua anak kembarnya. Di dalam mobil, Elfatt sang papa memberi banyak wejangan untuk Alex. Selain untuk membekali sang putra, juga ia maksudkan agar kegugupan tidak terlalu mengganggu pikiran putranya itu, hingga lamanya perjalanan tak terasa.


.......


.......


.......


Seluruh keluarga sudah siap dengan pakaian kondangan masing-masing, tinggal Kayla saja yang ditunggu. Ketika Kayla turun dari tangga dengan longdress hitam nya, Arsya segera mencecarnya dengan keluhan dan ejekan yang menjengkelkan.


"Lama amat sih, dandan cuman begini juga udah kayak artis mau manggung aja. Kalo dandan tujuh menit hasilnya sama kayak dandan setengah jam, ngapain harus lama-lama?! Dasar emak-emak!"


Kayla memutar bola matanya malas. Ia tak berminat meladeni adiknya yang cerewet itu, karena sejak turun tadi pandangannya hanya fokus pada satu objek. Seorang bayi cantik berusia 9 bulan yang tengah duduk anteng di kereta bayi. Saat Kayla sampai ke depan bayi itu dan jongkok untuk menyentuhnya, sang bayi mungil langsung menyambutnya dengan celotehan khas bayi.


"Hmm... sayangnya Mimi gemesin banget sih, udah cantik gini, mau kondangan ya.." celoteh Kayla juga sambil menghujani pipi gembul bayi itu dengan kecupan kasih sayangnya.


Kayla bahagia sekali. Setelah berbagai peristiwa dan prahara di dua tahun yang silam, hidupnya menjadi lebih baik sejak ia bisa memeluk sang papi lagi, yang hingga saat ini masih menjalani hukuman di penjara. Sejak saat itu tidak ada masalah apapun lagi menghampiri ketenangan hidup Kayla. Bahkan sekarang ia memiliki keluarga yang sempurna dan bahagia. Terlebih setelah kehadiran bayi cantik yang didekapnya saat ini, Kayla sangat bahagia.


"Buruan Kak, semuanya udah nungguin di depan." desak Arsya yang selalu tidak sabaran.


"Iya, iya.." sahut Kayla. Ia lantas berdiri kemudian berjalan mengikuti di belakang Arsya sambil mendorong kereta bayi.


Nadia sang mami mengambil alih bayi mungil itu saat Kayla masuk ke mobil, kemudian kembali menyerahkannya kepada Kayla saat mobil akan melaju.


"Kenapa nggak sama Mami aja sih, berisik tau Kak kalo Zhea sama kamu." gerutu Arsya, menyebut nama panggilan bayi cantik itu. Nama lengkapnya Hazhea Putri Diavella.


"Ih sewot amat sih. Zhea harus selalu sama Miminya dong, apalagi nanti di sana Mami tuh sibuk, Sya." sahut Kayla.


Arsya mencibir. "Mimi Mimi! Biasanya juga Zhea sama Mami."


"Justru karena biasanya sama Mami, jadi di momen begini tuh Kakak punya banyak kesempatan buat momong Zhea."


"Udah.., ini malah kalian kalian berdua yang ribut. Gak baik loh kalo Zhea keseringan liat kalian begitu, yang akur dong nak..." ujar sang Mami melerai, membuat kakak beradik itu menurut dan diam setelahnya.


.......


.......


.......


Kayla dan keluarganya pun tak ketinggalan memberi ucapan selamat dan doa' untuk pengantin yang bersanding di singgasana indah memukau itu. Kayla senang sekali bisa menghadiri pernikahan ini, selain karena sang pengantin adalah orang terdekatnya dulu, ia juga bisa bertemu banyak teman dari SMA Putra Bangsa. Layaknya reuni, mereka berkumpul dan bersuka cita di dalam satu acara itu juga. Sayangnya sahabat terdekat Kayla, Nia tak hadir, karena memang gadis itu tidak tinggal di Indonesia lagi sekarang. Nia bersama orang tuanya sekarang tinggal di Singapura, karena ayah Nia yang dipindah tugaskan ke negeri itu.


"Kak Kayla..!" seru Annisa seraya merentangkan tangannya ke arah Kayla. Dengan senang hati Kayla menyambutnya dan mereka berpelukan.


"Ya ampun.. kangen banget Nis sama kamu."


"Aku juga."


Adit yang datang belakangan, tidak langsung menyapa Kayla. Ia lebih memilih berjongkok, menghampiri Zhea yang duduk anteng di kereta bayinya, dengan biskuit yang sudah sedikit lunak di tangan bayi mungil itu.


"Halo sayang..." Adit mencium pipi bayi itu kiri kanan. "Maaf ya, Pipi baru dateng. Pipi kangeeen banget sama Zhea." ucapnya sambil mengelus kepala Zhea, bayi mungil itu menjawabnya dengan celotehan khas.


"Pipi?!" monolog Kayla dan Annisa bersamaan.


"Sejak kapan panggilannya jadi Pipi?" protes Kayla geli.


"Ya kan sekarang kamu pake panggilan Mimi ke Zhea." jawab Adit seraya berdiri, berhadapan dengan Kayla.


Mendengar jawaban itu Annisa tertawa, Kayla pun mencebikkan bibirnya gemas.


"Pipi. Mimi." Tunjuk Annisa pada Adit dan Kayla bergantian. "Hahaa... lucu juga tuh Kak."


"Zhea aku gendong ya." ujar Adit pada Kayla. Ia mengangkat tubuh bayi mungil itu dari keretanya, tanpa menunggu jawaban Kayla.


"Belum aku iya'in udah kamu gendong aja." komentar Kayla.


"Emang Pipi nya Zhea harus minta izin dulu mau gendong Zhea? Kan Pipi kangen sama Zhea, iya kan sayang ya." ujar Adit yang sibuk memandangi bayi mungil yang sesekali berceloteh sambil makan biskuit itu.


"Sama Mimi nya Zhea kangen juga nggak..?" goda Kayla.


Adit mendengus senyum. "Jadi kamu kangen nih sama aku..?" goda Adit balik. "Emang berapa lama ya kita nggak ketemu..?" ujarnya kemudian sambil melihat ke atas, pura-pura berpikir.


"Iih....!" Kayla memukul lengan Adit gemas. Sementara Annisa yang menyaksikan interaksi mereka tidak berhenti tertawa.


Dari kejauhan, Alex juga menyaksikan interaksi mereka. Jujur saja ia cemburu, tapi bukan berarti ia tidak senang akan kebahagiaan Kayla yang sangat jelas terlihat itu. Alex pun tersenyum tanpa mengalihkan pandangan dari gadis yang dulu suka ia panggil Miss Kissable. Alex juga bahagia hari ini, tapi ia belum lega. Karena tujuan utama yang membuatnya sampai di tempat ini hari ini.. belum terwujud. Dan untuk segera mewujudkannya, Alex harus bicara pada sepasang suami istri yang kini berbahagia.

__ADS_1


"Bro!" tepukan dipundaknya membuat Alex terkesiap.


"Diliatin aja dari tadi, kapan nih awaited moment nya..?" ujar Bima, yang disetujui oleh Sandi dan Vicky.


"Sabar aja.." Alex terkekeh kecil, kemudian menoleh ke arah Feli. Ia beranjak dari duduknya, berjalan menuju pelaminan yang lebih terlihat seperti singgasana raja dan ratu itu.


Dari kejauhan ia sudah disambut senyuman merekah dari sepasang pengantin yang duduk bersanding di sana. Ya, sepasang pengantin yang menjadi raja dan ratu hari ini, Feli dan suaminya. Tentu saja bukan Alex, hahaa....


Pria yang menikahi Feli adalah Reynand Hardinata, profesinya sama seperti Feli. Seorang pengajar sekaligus pengusaha. Sebenarnya pria yang biasa dipanggil Rey itu adalah teman Feli semasa SD, setelah pria itu pindah ke New York bersama keluarganya, dia dan Feli kembali bertemu satu tahun yang lalu. Kemudian saling jatuh cinta dan menikah hari ini.


Ketika Alex sampai ke dekat pelaminan, pengantin baru itu memanggilnya. Dengan senang hati Alex menjabat tangan kedua mempelai itu dan memberikan ucapan selamat. Keduanya terlihat sangat memukau dengan busana pengantin berwarna biru elektrik yang glamor dan elegan.


"Selamat ya... happy wedding Fel, Bang Rey..!"


"Thank you, Al.."


"Enggak sopan banget ya dia, masa' manggil kamu masih Fel Fel aja?" keluh Rey seraya tertawa, membuat Alex dan Feli pun tertawa.


Meski dulunya Alex dan Feli dijodohkan dan kemudian pernikahan mereka dibatalkan, komunikasi mereka tetap baik setelahnya. Rey pun memahami itu dan tidak keberatan.


"Sorry Bang.. susah ngebuang kebiasaan. Berasa seumuran aja gitu, biar tetap akrab juga."


Rey mencebikkan bibirnya dan mendengus senyum. "Tangan lu dingin." goda Rey kemudian.


Alex berdehem salting, membuat Feli ikut menggodanya. "Kok dingin, bukannya gerah ya liat pemandangan di sana.." Feli menunjuk ke arah Kayla dengan dagunya.


Alex pun mendengus, "Bisa sekarang nggak nih?" tanyanya to the point.


Feli dan Rey saling melirik dengan senyuman menyetujui. Hari ini memang pernikahan mereka berdua, tapi di dalam acara ini terselip sebuah agenda penting yang pemilik acaranya adalah Alex. Mereka memang telah merencanakan dua acara sekaligus sejak bulan bulan lalu, mereka sepakat bersama Alex juga untuk menggabungkan dua acara itu dalam satu hari dan tempat yang sama. Ini juga salah satu impian Feli yang tertunda, tentu sang suami sangat senang bisa mewujudkan impian itu, meski hari spesial mereka harus dibarengi dengan acara lain juga.


"Gak sabaran banget sih." ejek Rey.


"Capek bang nahan gugup.." keluh Alex.


"Keliatan kok dari muka lu, hehe.. Tapi lu udah makan belum nih?"


"Mana bisa Bang, dari tadi nunggu singgasana kalian sepi biar bisa ngomong, lama banget."


"Ya salah siapa.. mau acaranya digabungin.."


"Udah udah.. oke. Sekarang ya." lerai Feli.


Ketiganya beranjak turun dari pelaminan, menuju sebuah panggung musik yang memang disediakan di sana juga sebagai hiburan. Alex duduk menunggu di sebuah kursi yang letaknya tepat di samping kiri panggung musik itu. Sementara Feli dan sang suami sudah berdiri di tengah panggung, menyapa seluruh undangan. Seperti pernikahan umumnya zaman sekarang, sepasang pengantin mempersembahkan sebuah lagu untuk semua hadirin yang memberi mereka restu di hari istimewa mereka ini. Sebuah lagu yang juga mereka dedikasikan atas rasa syukur mereka akan terjalinnya ikatan suci pernikahan.


Meski tidak ahli dalam dunia musik, Feli suka bermain piano sejak kecil, jadi ia berperan memainkan piano saat ini. Dan sang suami yang bernyanyi, karena dulu ketika SMA Rey pernah menjadi anggota band bersama teman-temannya di New York. Semua undangan pun menikmati persembahan dari sepasang pengantin itu, bahkan tak sedikit yang terharu dan iri melihat kekompakan penampilan mereka serta keserasian chemistry mereka.


Lagu selesai dibawakan, Feli dan Rey mengucapkan terima kasih kepada seluruh hadirin. Dan pada hadirin menyambut mereka dengan tepuk tangan riuh serta sorakan gembira.


"Baik, Alhamdulillah... terima kasih banyak semuanya. Buat yang udah dateng, yang doa'in, yang ngasih kado, dan semuanya yang hadir disini. Oh ya, setelah ini kita mau dengerin juga nih lagu-lagu dari kalian.. kali aja gitu ada yang mau nyumbang lagu buat ngeramein acara kita kan.."


Swiit.. suiit....


Siulan antusias dan tepuk tangan kembali menggema riuh, membuat acara semakin semarak.


"Tapi sebelum itu..." kata-kata Feli yang membuat penasaran itu merubah siulan dan tepuk tangan riuh itu kembali hening, hadirin siap mendengarkan Feli melanjutkan kata-katanya.


"Sebelum itu, kita mau persembahin sesuatu yang spesial didepan kalian semua. Kita undang teman keren kita buat naik ke atas panggung ini. Yang pastinya kalian kenal dong siapa dia..." Feli melambaikan tangan ke arah Alex dan segera Alex beranjak naik ke panggung.


Sorak sorai tepuk tangan dan siulan kembali menggema. Terlebih ketika lampu sorot yang menyilaukan itu menyinari wajah tampan Alex yang berbinar. Senyumannya yang merekah dan sapaan ramahnya kepada seluruh hadirin membuat semarak pesta menggema di tempat itu.


"Terima kasih buat kedua mempelai kita hari ini, yang sudi kiranya mengizinkan saya berada di sini sekarang." ucap Alex.


"Teman-teman, sebenarnya hari ini bukan cuman acara pernikahan kita aja loh.. acara hari ini juga milik Alex." ucap Rey membuat para hadirin bingung. "Jadi, kita ngerencanain dua acara sekaligus hari ini. Emang enggak ada pemberitahuan sih di kartu undangan, karena emang Alex maunya acara dia ini diselipin aja katanya. Biar jadi surprise buat kalian semua, khususnya... buat seseorang yang..." Rey melirik Alex dan enggan melanjutkan kalimatnya.


"Buat seseorang yang sangat istimewa bagi saya. Lagu ini saya persembahin buat dia, yang menjadi doa dan impian saya. Lagu ini udah pernah saya nyanyiin didepan dia, tapi dulu.. saya belum punya maksud apalagi tujuan tertentu. Tapi hari ini, saya berharap dia mau dengerin lagu ini lagi, karena kalo enggak.. tujuan saya cuman jadi impian sia-sia."


Semua orang terdiam penasaran. Feli melirik ke arah Kayla yang ternyata juga memandang bingung ke arah Alex sama seperti yang lainnya. Detik berikutnya netra Kayla beralih dan bertemu dengan netra Feli. Senyuman Feli yang terkesan punya arti, membuat Kayla berpikir sesuatu.


Degg


Kayla segera mengalihkan pandangan, dan menepis secercah rasa yang baru mampir ke hatinya dikarenakan sesuatu yang baru ia pikirkan. Dan ketika Alex mulai menyenandungkan lagunya, Kayla terpaku.


Degg


Lagu itu...?


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... ....


... Bersambung...


__ADS_2