Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Sebuah Maksud


__ADS_3

Pak William menilik wajah putranya lekat, mencari kebenaran dari ucapan putranya itu barusan. Pak William juga memperhatikan kaki Alex yang terpasang gips. Kayla jadi merasa takut, apa papanya Alex akan marah jika tahu anaknya celaka gara-gara Kayla?


"Benar Pa, Al baik-baik aja kok sekarang. Ya wajar kan namanya camping, ke hutan, apalagi kemarin itu ada angin kenceng. Ada pohon yang tumbang trus nimpa Al. Udah, gitu kejadiannya"


"Papa harus cari tahu, nanti papa tanya sama Pak Erwin!" Alex mendengus mendengarnya.


Pak William kemudian melirik Kayla, gadis yang duduk berhadapan dengan Alex, di brankar yang bersebelahan.


"Hmm.. apa kita pernah ketemu?" tanya Pak William saat melihat wajah Kayla.


Kayla nampak kaku, sedangkan Alex tersenyum. "Dia, Pa!"


"Dia? Oh.. cewek yang waktu itu kamu kenalin?" ujar Pak William seraya berpikir.


"lya, papa bisa langsung ngenalin dia?" Alex cukup heran.


Karena ia saja yang sering bertemu Kayla tidak bisa langsung mengenali bahwa Kayla adalah Miss Kissable.


"lya kan? Apa papa salah?"


"Bener kok, Om." sahut Kayla canggung.


"Siapa namanya Al, papa lupa."


Alex tersenyum ke arah Kayla, "Lily"


Kayla sedikit terkesiap mendengar Alex menyebutnya Lily. Ah, Kayla baru ingat waktu itu kan mami memperkenalkannya sebagai Lily, dan kemudian Alex memperkenalkannya pada papanya juga dengan nama Lily. Sejujurnya Kayla risih dipanggil Lily oleh orang lain, apa ia harus meralatnya?


"Oh iya, Lily!"


"Sebenarnya nama saya Kayla, Om. Tapi mami saya suka manggilnya Lily."


Pak William mengangguk, "Kamu sakit?"


"Enggak, cuman lemas aja tadi. Tapi sekarang udah baikan kok, Om."


"Hei apa yang mau kamu lakuin?" tanya Pak William yang melihat Kayla berusaha melepas jarum infusnya.


Alex berdecak kesal, "Ngotot banget sih?! Seenggaknya nunggu dokter dulu kek!"


Pak William mengernyit melihat Alex mengomeli Kayla. Detik berikutnya seorang dokter muncul di ambang pintu, membuat Kayla merasa lega.


"Dok, saya boleh pulang kan?"


"Pulang? Apa kamu sudah merasa baikan?" tanya Dokter perempuan paruh baya yang sedang berjalan ke arah Kayla.


"lya, Dok. Saya udah baikan, saya bisa pulang kan?"


"Sebentar, apa kamu masih pusing?" tanya Dokter, Kayla menggeleng.


"Biar saya cek dulu tekanan darah kamu." ujar Dokter kemudian mengambil alat untuk mencek tekanan darah Kayla.


Tekanan darahnya sudah lebih baik, tapi belum normal. Dokter juga meminta Kayla membuka matanya lebar-lebar untuk dicek menggunakan alatnya.


"Apa kamu dijemput?" tanya Dokter sambil melirik Kayla, Alex dan papanya juga.


Alex mengernyit tak terima, apa Dokter mengizinkannya pulang? Sedangkan Kayla tersenyum lega.


"Saya akan pulang sendiri Dok!"


"Enggak!" bantah Alex cepat seraya melototi Kayla. "Enggak kan Dok? Dia gak boleh pulang sekarang kan, dia harus banyak istirahat, iya kan Dok?"


"Dok, setelah saya pulang saya pasti istirahat. Tapi saya harus pulang sekarang, saya gak mau orang tua saya khawatir" bujuk Kayla lagi.


"Saya bisa mengizinkan kamu pulang tapi harus ada yang menjamin, kalau kamu memang akan beristirahat setelah kamu sampai di rumah! Dan sesampai kamu di rumah, kamu langsung makan ya, dan minum obat ini!" Dokter memberikan dua macam obat pada Kayla.


"Terimakasih Dok!" antusias Kayla.


"Tetap aja gak bisa pulang sendiri kan Dok?Artinya kamu gak bisa pulang sekarang, karena gak ada yang jemput!" timpal Alex.


Kayla mendengus lesu, "Al, kamu kenapa sih gak percaya banget? Aku pasti istirahat di rumah, aku cuman gak mau mami aku khawatir karena aku gak pulang." Kayla mencoba menjelaskan.


"Telpon aja mami kamu, kasih tau-.."


"No! Aku baik-baik aja, cuman itu yang harus mami tau."


"Papa yang akan nganter Lily pulang."


Mereka pun menoleh ke arah papa Alex, "Apa?"


"Bapak ini..?" bingung Dokter.


"Saya papanya Alex, saya juga kenal anak perempuan ini. Anda bisa mempercayakan dia pada saya, Dok! Saya akan mengantarnya pulang dan memastikan dia akan baik-baik saja." ucap Pak William tegas.


"Pa?" sergah Alex bingung.

__ADS_1


"E-..enggak usah, Om. Saya-.."


"Diam! Kalo kamu mau pulang kamu harus dianter sama papa aku! Kalo gak mau ya gak usah pulang!" tegas Alex.


Kayla jadi heran melihat reaksi Alex, juga papanya yang menawarkan untuk mengantarnya pulang. Kayla melirik Dokter yang nampak menunggu persetujuan Kayla untuk diantar oleh papanya Alex. Kayla pikir Dokter mungkin akan mengurungkan niatnya mengizinkan Kayla pulang jika tidak ada yang menjemputnya atau tidak ada yang mengantarnya.


Kayla mengangguk ragu, "Terima kasih Om!"


Meskipun kesal dan khawatir, Alex mengalah dan membiarkan Kayla pulang karena papanya mau mengantar Kayla. Padahal kondisi Kayla belum stabil sepenuhnya, dia malah ingin cepat pulang. Seharusnya dia beristirahat saja dulu disini, setidaknya sampai besok pagi agar kondisinya stabil, dan Alex pasti merasa lega.


... ....


... ....


... ....


Kayla menatap lurus ke depan ke arah jalanan, ia merasa canggung dengan suasana seperti ini. Sebelumnya Kayla duduk di kursi mobil bagian belakang, tapi papa Alex memintanya duduk di depan. Alhasil sekarang Kayla duduk di samping kursi kemudi, yang dikemudikan oleh papa Alex sendiri. Setelah papa Alex menanyakan dimana alamat rumah Kayla, dan Kayla memberitahunya, suasana menjadi hening.


"Jadi.. Lily, emm.. Om panggil kamu Kayla, apa Lily nih?" Papa Alex mencoba mencairkan suasana.


"Kayla aja Om, soalnya saya gak terbiasa dipanggil Lily"


"Oke, tapi Alex memperkenalkan kamu waktu itu dengan nama Lily?"


"lya Om, soalnya mami saya ngenalin ke Alex pake nama itu. Tapi selain mami, selama ini saya dipanggilnya Kayla kok." Kayla mendengus senyum mencoba menghilangkan rasa canggungnya.


"Kamu satu sekolah sama Alex?"


"lya Om."


Pak William tertawa geli, membuat Kayla bingung. "Dasar anak itu" gumamnya di tengah tawanya.


"Kamu tau Kayla, Alex bilang sebelumnya dia nyari kamu kemana-mana, pas di acara malam itu dia bisa ketemu kamu tuh..senang banget dia. Kayak emang lama gak ketemu gitu, emangnya di sekolah kalian gak saling kenal ya?"


"Kenal kok Om. Sebenarnya pas di acara itu saya juga kaget kenapa Alex gak ngenalin saya, mungkin karena saya waktu itu dandan ya. Tapi Om, emangnya benar Alex nyari saya?"


"lya, dia bilang sebulan lebih dia nyari kamu. Saking penasarannya dia sampai ngelukis kamu, padahal katanya cuman pernah liat wajah kamu dalam mimpi. Konyol!" Pak William pun tertawa geli.


Waktu di acara malam itu Pak William memang sempat bilang kalau Alex melukis wajah Kayla, tapi Kayla tidak menyangka kalau itu benar. Bagaimana bisa dia melukis wajah Kayla padahal waktu itu dia belum pernah melihat wajah Miss Kissable kan? Dan dia juga belum tahu kalau Miss Kissable adalah Kayla? Apa benar juga yang dibilang Alex, kalau dia sering memimpikan Miss Kissable?


"Alex ngelukis wajah saya, Om?"


"lya. Om pikir gak mungkin dia bisa ngelukis wajah orang yang gak pernah dia liat kan?Ternyata emang kalian satu sekolah dan sering ketemu. Hahaha... ngerjain papanya dia ternyata." lakar Pak William.


"Om boleh tau Kayla, sedekat apa kamu sama Alex?"


"Oh ya? Om pikir kalian pacaran." kata Pak William, membuat Kayla merasa tersedak ludahnya sendiri.


"Hehe enggak Om."


"Om masih bingung, pas di acara malam itu.. Alex gak ngenalin kalo kamu teman sekolahnya? Jangan-jangan dia cuman ngerjain kamu"


"Saya mikirnya juga gitu awalnya. Tapi pas saya kasih tau, dia beneran kaget. Dia malah gak percaya kalo saya adalah cewek yang dia cari. Saya juga gak tau kalo dia cari-cari saya. Padahal di sekolah kita sering ketemu kok."


"What?" Pak William pun kembali tertawa, "Gimana bisa? Aneh banget anak itu. Kalian sering ketemu di sekolah tapi dia gak tau kalo kamu adalah cewek yang dia cari?"


"Hehe iya Om. Om kayak gak tau Alex aja, dia kan anaknya emang gak pedulian sama orang. Jangankan ngenalin saya, di sekolah tuh Alex bahkan gak ngenalin mana yang teman sekelasnya, mana yang bukan" celetuk Kayla.


Pak William mendengus tawa, setelahnya terdiam. "Dia begitu ya sekarang. Kayaknya teman-teman sekolahnya lebih kenal Alex daripada papanya sendiri."


Kayla agak terkesiap mendengarnya, kenapa nada bicara papanya Alex terdengar berbeda.


"Maaf Om kalo saya salah ngomong, saya-.."


"Enggak papa! Enggak papa Kayla. Om emang selalu sibuk, sampai kurang merhatiin anak Om sendiri."


Kayla jadi merasa tidak enak hati. "Maaf Om."


"Kayla, bisa kamu ceritain gimana Alex disekolah?"


Kayla terdiam. Bukankah ini kesempatan bagus untuk memberi tahu semua kelakuan Alex pada papanya? Papanya harus tahu kan kalau anaknya di sekolah itu suka menyusahkan orang-orang. Dengan begini, Alex akan mendapat teguran dan dia bisa berubah. Tapi. bukankah Alex sudah mulai berubah? Jadi, mengadukan kelakuan buruknya pada papanya harus dipertimbangkan bukan?


"Kayla, kamu pasti tahu banyak tentang Alex. Kalian keliatannya akrab, meskipun kamu bilang.. jarang akur ya?"


"Emm... iya Om. Alex.. dia cerdas, tegas, disukain banyak orang, emm.. dingin juga sih anaknya" ujar Kayla sambil menimbang-nimbang kalimat yang ia ucapkan.


"Om tau itu. Maksud Om, kelakuannya seperti apa, apa dia nakal? Dia dingin, karena memang dia gak pedulian.. atau dia malah suka mengganggu orang?"


Kayla terkesiap, "Alex.. bandel sih Om. Hehe pasti gak jauh beda kan sama di rumah." ujar Kayla berusaha tidak gugup.


Kesal sekali Kayla pada dirinya sendiri. Kenapa ia tidak jujur saja tentang kelakuan Alex, terlebih lagi tentang dirinya yang sering dibully oleh Alex dan teman-temannya. Bukankah jika Kayla langsung bicara pada papanya Alex, masalah akan mudah diatasi?


"Om jarang punya waktu buat Alex, jadi Om gak tau banyak tentang perkembangannya. Kita jarang ngumpul, apalagi ngobrol. Om terlalu sibuk, dan Alex juga anaknya gak suka diperhatiin, dia paling gak suka dilarang-larang. Jadi bisa dibilang, Om enggak terlalu mengenal dia."


Kayla heran mendengarnya. Apa yang papa Alex katakan, Alex tidak suka diperhatikan?Bukankah semua anak itu butuh perhatian orang tua?

__ADS_1


"Dia mungkin terlihat dingin dan cuek, tapi kalo akrab sama orang dia bisa balik ke sifat aslinya." papa Alex terdengar menghela nafas panjang. "Om kangen sama dia yang dulu"


"Maksudnya Om?"


"Alex dulu gak kayak gini Kayla, dia dulu anak yang periang, ramah dan penurut. Dia humble dan penyayang. Tapi sejak mamanya pergi.. dia berubah, lama-lama dia jadi anak yang pendiam, pemarah dan suka membangkang."


Kayla terperangah, Alex dulunya anak yang baik dan mudah bergaul, dia tidak nakal dari kecil ternyata. Lalu apa yang terjadi, sampai Alex yang periang dan penyayang berubah menjadi pria pemarah dan kejam di sekolah? Awal mula Kayla mengenalnya dia tidak terlihat punya kasih sayang sama sekali, dia seperti tidak punya hati sampai tega menyakiti orang dan menertawakan penderitaan orang lain, bukan? Padahal dulunya dia anak yang baik, apa yang terjadi sehingga kepribadiannya bisa berubah begitu, ini ada hubungannya dengan mama Alex?


"Jadi Alex dulunya gak kayak gini, dia berubah sejak mamanya pergi, Om?"


"Hm, peristiwa itu emang besar banget pengaruhnya buat Alex, buat Om juga. Om sempat terpuruk setelah mamanya Alex pergi, sekarang Om udah bangkit lagi. Tapi Alex.. dia masih terjebak, saat itu dia masih kecil jadi mungkin karena itu dia sangat tertekan. Om gak mengira kalo dia akan berubah sebanyak ini, Om kangen dia yang dulu, Om mau dia kembali kayak dulu."


Kayla terenyuh, entah peristiwa apa yang membuat Alex dan papanya sempat terpuruk? Peristiwa yang ternyata juga mengubah kepribadian Alex, tapi.. selama Alex menjadi Mr Strawberry dia baik, artinya dia bisa kembali menjadi Alex yang dulu kan?


"Maaf Om, mungkin Om kurang merhatiin dia, tapi saya lihat dia mulai berubah kok, cepat atau lambat dia pasti bakalan balik lagi jadi Alex yang dulu."


"Kamu benar Kayla. Om sadar itu, dan itu terjadi sejak dia kenal sama kamu"


"Saya, Om?" Kayla menaikkan alisnya bingung.


"lya, Om liat perubahannya itu sejak dia sibuk cari-cari kamu, dan sekarang kalian keliatan lebih dekat. Om liat tadi cara dia bicara sama kamu di rumah sakit, dan Om senang Kayla! Karena itulah kita disini"


Kayla semakin bingung, "Maksud Om?"


"Ya Kayla, mungkin kalo kamu ngerti dunia bisnis, kamu akan mikir kenapa Om mau mengantar kamu pulang? Orang seperti Om ini, pebisnis yang sibuk, mana mungkin mau melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan buat Om." Pak William menjeda perkataannya dengan tertawa kecil.


"Maaf kalo kamu merasa dimanfaatkan, tapi Om emang punya sebuah maksud kenapa Om mau mengantar kamu. Om senang melihat perubahan pada diri Alex, kehadiran kamu mempengaruhinya Kayla! Kamu bisa bikin dia berubah. Apa kamu mau bantu Om?"


Apa ini? Jadi Pak William punya sebuah maksud, dia menawarkan mengantar Kayla pulang untuk sebuah maksudnya itu? Bahkan Pak William berpikir kehadiran Kayla mempengaruhi perubahan Alex?


"S..saya Om? Apa yang bisa saya lakuin? Dan kenapa saya?"


"Kenapa kamu, Om gak punya jawabannya. Tapi Om yakin kamu bisa membantu. Kayla, Alex itu suka sama kamu."


Degg


Bahkan papanya tahu bahwa Alex menyukai Kayla. Kayla kan jadi gugup.


"Soal kamu suka sama dia juga atau enggak, Om gak mentingin itu. Om gak berhak ikut campur soal itu. Tapi Om akan sangat bersyukur kalo kamu mau mendampingi Alex."


Degg


"Dampingi dia menuju perubahannya. Om tau dia anak yang nakal dan gak penurut, dia cuman ngelakuin sesuatu yang dia mau tanpa mikirin siapapun-.."


"Tunggu Om, jadi Om tau tentang kelakuannya di sekolah?" tanya Kayla menyela.


"Om gak tau, tapi Om pernah dengar dia membully seorang siswi tahun lalu"


"Tahun lalu? Huh... kalo Om William tau kelakuan Alex yang sekarang gimana ya." gumam Kayla dalam hati.


"Om harap kamu mau bantu Om, Om pengen Alex berubah jadi lebih baik. Dan perubahan itu udah kamu mulai, Kayla! Jadi kamu mau kan mendampingi Alex?"


"Tapi Om, saya.., apa yang bisa saya lakuin? Gimana bisa perubahan Alex itu karena saya?"


"Om percaya sama kamu. Mungkin Tuhan mentakdirkan kamu yang jadi perantara berubahnya Alex menjadi lebih baik. Ini sangat penting buat masa depannya, Alex harus bisa keluar dari bayangan masa lalunya dan mulai mikirin masa depannya. Dia anak Om satu-satunya, dia harus belajar lebih dewasa dan serius menghadapi masalah. Kamu tau kan Alex itu gak pedulian, trus gimana dia bisa bertanggung jawab sama kerjaannya juga bisnis Om nantinya?"


Kayla terdiam, "Om, saya cukup kaget waktu Om nyerahin dia tanggung jawab besar perusahaan sama aset lainnya. Apa gak terlalu dini buat Alex ngurus itu semua? Maaf kalo saya lancang, tapi Om pasti tau kalo Alex belum mampu."


"Om tau, tapi Om percaya karena dia mulai berubah Kayla. Dia jadi suka memikirkan hal-hal penting akhir-akhir ini, Om liat dia mulai dewasa, makanya Om coba kasih dia tanggung jawab biar dia bisa belajar. Om tau dia masih keras kepala dan gak mau nurut, Om juga sempat ragu buat ngasih dia tanggung jawab tapi emang udah waktunya dia ambil bagian dalam bisnis Om. Karena itu, dukungan kamu sangat dibutuhkan, Kayla!"


Kayla jadi gelagapan, bagaimana bisa om William mempercayakan hal seperti ini padanya? Apa yang harus Kayla katakan sekarang, dan apa yang akan Kayla lakukan nantinya?


"Tapi kenapa saya, Om? Mungkin Alex belajar lebih dewasa ataupun berubah itu karena emang udah waktunya aja, seiring berjalannya waktu kan semua orang bisa berubah, dan pemikirannya juga jadi lebih dewasa. Kenapa harus saya mendampingi Alex?"


Pak William terdiam. Dia berpikir mungkin Kayla belum mengerti tentang sebuah maksud yang ia utarakan, tapi ia akan mencari cara agar Kayla mau membantunya. la ingin melihat Alex kembali menjadi Alex yang dulu, yang meski masih kecil dia menunjukkan kepantasannya untuk mewarisi semua harta dan bisnis orang tuanya. Dia anak yang cerdas, sopan, dan punya wibawa. Tapi Alex yang sekarang, bisa dibilang cukup mengecewakan jika harus jadi pemimpin. Bagaimana pemuda yang pemarah, egois, dan arogan bisa menangani tanggung jawab besar?


Jika Pak William tidak melihat setitik perubahan pada diri putranya itu, ia tidak akan memberikan tanggung jawab perusahaan atau properti apapun padanya saat ini. Tapi Pak William melihat perubahan itu, Alex yang jarang bicara apalagi tersenyum sekarang bisa tertawa bahagia dan bercerita banyak tentang seorang gadis. Belum pernah Pak William lihat Alex sebahagia itu setelah bertahun-tahun, sejak kepergian sang mama.


Karena itulah Pak William yakin, gadis yang bisa membuat putranya bahagia itu, pasti juga bisa menjadi kekuatannya dan dukungan terbesarnya.


Bukan hanya ingin Alex menjadi pemimpin yang pantas, tapi Pak Wiliam juga sangat ingin Alex melupakan kebenciannya pada sang mama.


Ya, hal yang selalu menjadi pikiran Pak William tentang putranya. Jika Alex bisa bersikap dewasa, maka dia pasti bisa mengerti tentang hubungan di masa lalu yang selalu mengusiknya, juga tentang hubungan yang bisa saja menghambatnya di masa depan. Tentang hubungannya dengan sang mama, yang seharusnya tidak berubah karena masa lalu, ataupun mempengaruhi masa depannya.


Pak William ingin Alex menjadi anak yang berbakti dan penyayang seperti dulu, yang selalu menghormati dan menghargai sang mama, yang mencintai sang mama lebih dari siapa pun. Pak William tidak mau Alex menjadi anak durhaka karena tidak bisa melupakan luka masa lalunya. Yang nantinya itu bisa merugikannya ataupun menghancurkannya di masa depan.


Restu seorang ibu sangat dibutuhkan untuk kesuksesan anaknya, Bukan?


... ....


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... Bersambung...


__ADS_2