
Bel jam istirahat berbunyi, para siswa dan siswi berbondong-bondong keluar kelas. Sepanjang pelajaran, Adit terus melamun memikirkan fakta yang sebelumnya diberitahukan oleh Kayla. Meski beberapa hari yang lalu ia dan Nia sudah mengetahui fakta ini sendiri, tapi tetap saja berbeda dengan fakta yang ia dengar langsung dari mulut Kayla. Sejak beberapa hari yang lalu setelah Adit dan Nia tahu bahwa Miss Kissable adalah Kayla, keduanya memang sering memikirkan tentang itu. Ada banyak rasa penasaran yang ingin mereka tanyakan pada Kayla, dan pagi ini rasa penasaran itu telah terbayar.
Tapi Adit masih tak habis pikir, benarkah Alex menyukai Kayla? Sebelumnya Adit selalu bertanya-tanya sendiri, bagaimana mungkin Alex menyukai Kayla? Bukankah Alex benci perempuan. Dan jika dibandingkan dengan Alex, Kayla hanya terlihat sebagai gadis biasa dimata orang-orang. Meski Adit mengagumi kelebihan Kayla, tapi memangnya pria seperti Alex bisa mengerti itu? Dan melihat bagaimana Alex memperlakukan Kayla selama ini, bagaimana bisa seseorang memperlakukan gadis yang ia sukai dengan seburuk itu?
Adit pikir Alex juga membenci Kayla seperti dia membenci gadis-gadis lain. Tapi fakta yang Adit lihat sebaliknya, itu sangat mengejutkan. Jika mengingat kejadian beberapa hari yang lalu di markas P-four, siapa saja bisa terbelalak melihatnya. Seorang Alex yang terkenal angkuh dan membenci perempuan, The ruler of school hari itu terlihat memelas di depan seorang gadis. Itu pun gadis yang sering ia bully, gadis yang telah ia permalukan berkali-kali dan juga pernah ia lecehkan. Siapa yang bisa percaya itu, dan apa yang Alex lakukan selama ini, meski dia menyukai Kayla dia tidak memperlakukannya dengan baik?!
Hari ini, pertanyaan-pertanyaan itu telah terjawab. Alex berlaku buruk pada Kayla sebelum dia tahu bahwa Kayla adalah Miss Kissable, gadis yang ia sukai. Setelah ia tahu, akhirnya ia memohon maaf pada Kayla. Itu yang Adit simpulkan. Tapi.. bagaimana mungkin seseorang tidak bisa mengenali gadis yang ia sukai? Memangnya apa yang membuat Alex menyukai Kayla, dan apa sebenarnya yang membuat Alex gagal mengenali wajah gadis yang ia sukai sendiri? Meski mereka memakai topeng saat pertemuan pertama, Kayla langsung bisa mengenali Alex saat pertemuan berikutnya. Sedangkan Alex tidak, kenapa? Sebegitu bencinya kah Alex dengan makhluk bernama perempuan, dan sebegitu tidak pedulinya kah seorang Alex pada gadis-gadis yang ia bully sampai ia gagal mengenali Kayla?
"Dit!" seru Kayla sambil mencolek bahu Adit, membuat lamunan Adit buyar.
Kayla dan Nia tertawa kecil, "Ngelamun?Dipanggil dari tadi gak nyahut-nyahut." ujar Nia, membuat Adit mendengus.
Melihat binar di wajah Kayla sejak pagi ini, Adit jadi penasaran. Ya, sebelumnya Adit dan Nia kan menanyakan itu, tapi Kayla belum menjawabnya. Kayla hanya menjawab dengan kalimat yang global, yang membuat Adit dan Nia menyimpulkan bahwa alasan dibalik binarnya itu ada hubungannya dengan Alex.
"Kay, hari ini kamu keliatannya happy banget."
"Aku selalu happy kok Dit. lya kan Ni?" sahut Kayla santai.
"lya sih, tapi hari ini keliatan beda. Iya kan Dit?" kata Nia yang diangguki oleh Adit.
Kayla mendengus senyum, "Aku emang orang yang gak pinter nyembunyiin ekspresi. Oke, iya aku happy."
"Ada yang istimewa ya hari ini?" tanya Adit menyelidik.
"Ya. Suasana hati aku lagi bagus."
"Apa ini ada hubungannya sama Alex?" tanya Adit lagi.
"Hm? Kok kamu mikirnya gitu Dit?" heran Kayla.
"Feeling aja sih."
"Gimana ya ngasih tau nya, iya ini ada hubungannya sama Alex sih tapi bukan karena Alex juga. Suasana hati aku emang lagi bagus aja."
"Kay, aku tebak.. kamu sama Alex baikan!" ujar Nia seraya menunjuk wajah Kayla.
Kayla terkekeh, "Tebakan kamu benar"
Nia dan Adit menaikkan alisnya tak menyangka, padahal Nia asal-asalan saja menebak begitu tapi ternyata benar. Mereka berdua bahkan tidak menduga kalau Kayla dan Alex akan berbaikan, mengingat perdebatan mereka di markas beberapa hari yang lalu.
"Kay, kamu sama Alex-.."
"Sstt..!" cicit Kayla saat intonasi bicara Nia tiba-tiba mengeras.
"Gimana ceritanya, kok bisa baikan Kay?" tanya Nia pelan.
"Ya bisa dong. Kan aku udah bilang, Alex itu bukan masalah besar buat aku. Dia tetap Mr Strawberry yang aku kenal, aku tau dia pasti setuju sama aku, dia cuman butuh waktu aja."
"Setuju apa Kay?" tanya Adit.
"Kalo kalian ngupingnya bener.. kalian pasti ngerti apa yang aku omongin" celetuk Kayla.
Nia dan Adit mengernyit dan saling melirik. Beberapa detik Kayla perhatikan kedua temannya itu berpikir, Kayla lalu mengalah dan memutuskan untuk mengatakannya langsung.
"Dit, Ni, aku pernah bilang kan kalo aku pengen ngerubah keadaan di sekolah ini. Sebentar lagi perubahan itu bakal terjadi."
"lya. Aku ingat kamu pernah bilang itu, tapi apa maksudnya ini Kay?" Adit masih bingung.
"Perubahan di sekolah kita ini bakal dimulai dari Alex, dan oleh Alex. Aku udah ngomong soal ini sama Alex, dan dia setuju"
"Apa? Maksud kamu Alex setuju buat berubah Kay?" serbu Nia syok.
Kayla mengangguk antusias.
"Ini kabar baik!" ucap Nia berbinar. la bahkan sampai berdiri dari duduknya saking bersemangat.
"Sst... eh Nia, santai dulu! Jangan sampe ada yang tau dulu!" cicit Kayla membuat Nia kembali duduk.
Untungnya saat ini di kelas tinggal mereka bertiga, jadi Kayla merasa aman membicarakan tentang hal ini pada Nia dan Adit. Tapi tetap saja Kayla harus waspada, kabar baik ini tidak boleh sampai langsung tersebar di seluruh pelosok sekolah. Kayla tidak mau Alex terusik dengan pembicaraan-pembicaraan dan gosip tentang ini, Kayla juga harus memastikan bahwa Alex benar-benar setuju untuk memulai perubahan ini.
"Maksud kamu.. kamu ngebujuk Alex buat berubah, dan dia setuju? Aku masih gak ngerti Kay" ujar Adit.
Kayla mendengus senyum, "Intinya, Alex bakal balikin keadaan di sekolah ini. Dia yang mulai ngerusuhin semuanya kan, dan dia juga yang bakal perbaikin semuanya!"
Nia dan Adit takjub mendengarnya, tapi mereka tidak serta-merta langsung bisa mempercayai kata-kata Kayla itu. Benarkah Alex si penguasa sekolah yang angkuh dan kejam itu akan membalikkan keadaan disini?
"Dit, kamu inget kan aku pernah bilang.. aku gak akan berhenti buat usahain perubahan di sekolah kita ini, apapun resikonya. Sekarang perubahan itu bakal terjadi Dit, gak lama lagi!" ucap Kayla berbinar.
"lya aku inget." sahut Adit singkat seraya tersenyum kaku dan sedikit terpaksa.
Bukan. Bukan Adit tak senang mendengar ini, tentu Adit juga menginginkan perubahan di sekolah, tapi jika menyimpulkan kata-kata Kayla.. artinya dengan dimulainya perubahan ini, Kayla dan Alex akan semakin dekat kan?
"Kamu.. deketin Alex buat perubahan ini?" tanya Adit ragu.
__ADS_1
Kayla mengernyit, "Kamu ngomong apa Dit?Kamu tau aku sama Alex gimana, kenapa kamu mikir kalo aku deketin Alex?"
Adit diam.
"Maksudnya kay, kamu kan tadi bilang kalo kamu udah ngomong sama Alex, dan dia setuju buat berubah kan?" kata Nia menengahi, Kayla mengangguk. "Nah maksud Adit.. jadi kamu sama Alex deket dong?"
Kayla mengangguk bingung. "Padahal kita sama-sama tau, kamu gak suka sama Alex. Tapi kamu tetap bujuk dia buat berubah." lanjut Nia.
"Aku ngerti. Kalian khawatirin aku kan, tapi kalian tenang aja ya! Dulu.. aku dan Alex adalah musuh, tapi sekarang kita teman. Jadi.. jalan buat perubahan ini aman kok."
"Teman?" monolog Nia.
"lya, teman."
"Kamu bilang apa Kay, Teman? Alex kan suka sama kamu, dan kamu udah nolak dia. Gimana kalian bisa jadi teman, jangan lupa Kay, dia itu Alex!" sergah Adit.
"Aku gak akan lupa kalo dia itu Alex. Tapi apa salahnya kasih dia kesempatan buat jadi lebih baik! Niat aku cuman bantu dia, dan dia mau loh, susah kan nyari Alex mau nurut sama orang?!"
"Niat kamu ngebantu, tapi gimana kalo dia nganggep itu bukan bantuan?" tanya Adit lagi.
"Itu urusan nanti. Yang penting sekarang, jalan buat perubahan itu udah kebuka didepan aku Dit, jadi kenapa aku harus ragu! Mau dia Alex atau siapapun, aku pasti bakal terlibat dalam perubahan ini. Itu tekadku dari awal."
Nia dan Adit terdiam. Mereka cukup kagum dengan Kayla, dia sesemangat ini untuk sebuah perubahan. Perubahan di sekolah yang harus dimulai dari perubahan diri Alex, dan Kayla memutuskan untuk terlibat serta membantu Alex. Meski dulu dia adalah korban Alex, tapi sekarang dia berani menghadapi Alex. Bahkan bukan hanya mengahadapi Alex, tapi dia juga yakin untuk menemani Alex dalam perubahan itu. Bagaimana bisa Kayla mempercayai Alex sebagai teman, padahal dulunya mereka adalah musuh?!
"Kamu yakin Kay?" tanya Nia.
Kayla mengangguk mantap. "Kalian gak usah khawatir! Meskipun aku belum lama kenal sama Alex, aku cukup tau sifat dia, dan aku bisa handle sendiri kalo nanti ada masalah."
"Jadi Kay, kamu sama Alex bakal deket terus dong..." rengek Nia manja.
"Ya.. mungkin."
"lh aku iri tau! Kok bisa sih kalian deket, dulunya kan kalo kalian deket pasti bikin masalah. Sekarang kalian deket buat ngatasin masalah."
"Ya ampun Nia.. kamu iri sama aku karena deket sama Alex?!" Kayla terkekeh geli.
"Sorry Kay, bukannya aku gak percaya sama kamu, tapi aku gak percaya sama Alex. Kamu yakin dia mau berubah? Kamu yakin mau bantu dia?"
"Makasih udah cemasin aku Dit. Aku yakin kok, aku percaya sama dia. Kalo emang dia cuman main-main atau bohongin aku.." Kayla menjeda kalimatnya, ia mendongak dan menerawang. "..kejadian kemarin mungkin bakal terulang lagi, dan Alex gak bakal bisa keluar dari masalahnya." sambungnya agak lirih.
"Kay, meskipun kamu tau resikonya.. kamu tetap mau bantu Alex?" tanya Nia ragu.
"Ini keputusan aku Ni, aku yakin." ucap Kayla mantap.
"Apa?!" kaget Nia dan Adit.
"Ngapain Kay?" tanya Nia cemas.
"Kamu mau ngomongin soal Alex ke mereka?"
"lya, Dit."
"Ngomongin soal apa Kay? Soal hubungan kamu sama Alex, atau soal perubahan?" tanya Nia.
"Intinya, aku harus kasih pengertian ke mereka. Mereka temannya Alex, jadi mereka harus ngerti soal ini"
Adit berdiri, "Kay, oke kamu berhasil ngomong baik-baik sama Alex dan ngebujuk dia. Tapi Bima, Sandi, sama Vicky.. kamu yakin mereka mau dengerin kamu, kamu yakin mereka bakal ngerti? Sekarang kan Alex sama mereka lagi ada masalah, aku takutnya kamu dijahatin sama mereka."
"Justru itu Dit, justru karena Alex sama mereka ada masalah, makanya aku harus ngomong sama mereka. Mereka berantem, gara-gara aku!"
"Maksudnya?"
"Bukan cuman kalian yang nguping hari itu, mereka bertiga juga." Nia dan Adit terkesiap mendengarnya.
"Mereka berantem gara-gara itu Dit, Ni! Jadi aku harus kasih pengertian ke mereka, mereka harus baikan lagi"
"Kamu? Kamu Kay yang bakal bikin mereka baikan lagi?" heran Nia.
"Hm. Aku tau mungkin ini kedengeran mustahil, tapi aku harus berusaha. Masalah ini terjadi gara-gara aku, dan aku sendiri yang harus nyelesainnya!"
"Tapi Kay, bahaya kan kalo kamu nyamperin mereka, mereka aja marahan sama Alex, gimana mungkin mereka mau dengerin kamu?!" sergah Adit.
"Aku akan coba." Kayla berbalik dan beranjak keluar kelas.
"Kay tunggu." Nia menyusul. Adit yang sempat terdiam pun ikut menyusul juga.
"Tolong jangan halangin aku ya Ni! Aku gak bakal kenapa-napa kok, aku juga kan udah biasa ngehadapin mereka."
"Tapi kali ini beda Kay, Alex gak bareng mereka kan, gimana kalo mereka bertiga nekat?"
"Apa mereka juga bakal nekat tanpa Alex?"
"Ya iyalah, justru mereka bisa lebih nekat tanpa ada Alex yang ngebimbing mereka."
__ADS_1
Kayla cukup heran dengan jawaban Nia. Jadi Bima, Sandi, dan Vicky itu selalu dibawah bimbingan Alex, begitu? Kayla pikir sebelumnya, Alex lah yang paling nekat dan kejam diantara mereka berempat. Tapi ternyata mereka bisa lebih nekat ya jika Alex tidak mengendalikan mereka?
"Aku tetap akan coba ngomong sama mereka."
"Ni, udah tenang ya.. kan sekarang Alex udah jinak, dia pasti bakal belain Kayla kalo Kayla diapa-apain sama mereka bertiga." kata Adit.
Kayla tersenyum, "Mungkin bener Alex bakal belain aku, tapi sekarang dia gak bakal ngapa-ngapain karena dia gak ada di sekolah" gumam Kayla dalam hati.
Bagaimanapun nantinya respon Bima, Sandi, dan Vicky, Kayla tetap akan mencoba bicara baik-baik dengan mereka. Kayla akan mencoba untuk membantu Alex dalam meluruskan masalah yang terjadi diantara Alex dengan teman-temannya.
.......
.......
.......
Kayla menghentikan langkahnya di depan markas P-four. Bima, Sandi, dan Vicky yang tengah asyik berbincang-bincang pun menoleh ke arah Kayla dan memicing.
"Berani-beraninya lu kemari! Mau apa lu?" bentak Bima.
"Aku mau ngomong sama kalian." ucap Kayla tenang.
Mereka bertiga memalingkan wajah dari Kayla dan memutar bola matanya malas.
"Pergi lu, kita gak ada waktu!" bentak Sandi.
Kayla hanya diam ditempat, membuat amarah Sandi tersulut karena diabaikan. Sandi hendak beranjak tapi dihentikan oleh Vicky.
"Aku akan tetap disini sampe kalian mau dengerin aku."
"Sialan! Elu pikir lu siapa, heh?! Jangan belagu ya, lu pikir kalo kita diem kita gak berani?" bentak Vicky.
"Kalian harus baikan sama Alex!"
"Gak usah ngatur-ngatur! Sadar lu, elu cuman cewek cupu yang gak berguna! Jangan lu kira karena Alex suka sama lu, lu bisa nyombongin diri ya!" kata Bima geram.
"Kalian gak suka sama aku kan, tapi kenapa kalian marahnya sama Alex?"
"Diem lu! Elu gak tau apa-apa, pergi sana!" usir Vicky.
"Apa kalian mikir, kalo Alex terluka gara-gara kalian jauhin dia. Kalian pasti juga terluka kan? Kalian bertiga dan Alex, kalian teman baik, kalian geng, kalian saling sayang, gimana bisa kalian marahan berhari-hari kayak gini, gimana bisa kalian mutusin hubungan gitu aja sama Alex? Asal kalian tau, Alex tuh ngerasa hancur ditinggalin kalian."
"Diem gue bilang!! Jangan sebut nama pengkhianat itu di depan kita!" ucap Vicky berapi-api.
"Pengkhianat? Alex bukan pengkhianat, dia gak khianatin kalian. Dia gak jujur karena dia ngejaga perasaan kalian, dia gak mau kehilangan kalian!"
Bima berdecih sadis, sedangkan Sandi dan Vicky tertawa meledek. "Apa? gak mau kehilangan kita??" ledek Sandi.
"Mana ada teman kayak gitu, pengkhianat ada!" timpal Vicky.
"Oke, kalian marah, kalian kecewa, tapi kalian tetap sayang kan sama Alex, kalian sebenarnya gak serius kan mutusin hubungan sama dia?"
"Hahaha...dengan senang hati! Elu mau tau yang sebenarnya? Gue bangga bisa ngehancurin orang kayak dia, gue gak pernah sebangga ini bisa ngebully orang. Orang bego kayak dia pantes dapetin ini!" ujar Bima menyeringai.
Kayla mendengus nafas berat, "Bim, kalo kamu liat sendiri keadaan Alex, kamu gak akan ngomong kayak gini" lirih Kayla.
"Oh ya? Sayang banget dong gue gak liat. Bro, gimana kalo kita liat!" ujar Bima meremehkan.
Sandi dan Vicky mencibir malas, "Paling juga sandiwara lagi. Sama kayak ceweknya sekarang ini, liat tuh, mukanya dimelas-melasin. Elu pikir kita bakal kasian gitu?!" ledek Sandi.
"Aku serius. Alex itu rapuh, dia hancur. Kalian pasti kenal dia kan, gimana keadaannya kalo dia lagi bermasalah sama mamanya."
Bima, Sandi, dan Vicky mengubah mimik wajah mereka saat mendengar nama mama Alex disebut. Ketiganya saling melirik datar.
"Kemarin, dia berantem sama mamanya. Dia berantem dan dipukul juga sama pacar mamanya. Dia frustasi, setelah kalian ninggalin dia, mamanya juga ninggalin dia. Dia sampe nyiksa dirinya sendiri saking frustasinya, aku liat sendiri penderitaan dia. Kalian pasti ngerti itu." lirih Kayla.
Beberapa detik, Bima, Sandi, dan Vicky terdiam. Kayla berharap kemarahan mereka pada Alex reda, dan rasa kecewa mereka juga hilang. Tapi sepertinya tidak, Vicky terdengar terkekeh.
"Heh, apa pentingnya dia frustasi ataupun gila?! Gak ada kita, kan ada elu. Dia gak butuh siapa-siapa kecuali cewek murahan kayak elu! Elu hibur aja dia, apa susahnya?!" kata Vicky sarkas.
Kayla terbelalak mendengarnya.
"Alex udah gak penting buat kita, karena dia udah gak nganggep kita penting. Jadi percuma lu ngomong sama kita!" sambung Bima.
Kayla merasa berkecil hati, ia tidak percaya jika ketiga teman Alex ini melupakan Alex secepat ini. Tidak, mereka pasti tidak serius mengatakan itu. Mereka mengatakan itu hanya karena rasa kecewa saja, mereka tidak Sungguh-sungguh membenci Alex kan?!
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung...