
Pak William melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, kemarahannya membuncah sampai ia tidak bisa bersabar untuk segera menghakimi putranya yang telah membuat malu itu. Sementara Alex, sejak masuk ke mobil ia tak bicara sepatah katapun selain..
"Maaf..."
Itupun dengan suara yang sangat pelan lirih. Setelahnya ia diam seribu bahasa. Dan sang mama yang sangat terpukul mendengar fakta mengejutkan itu enggan pulang kerumahnya meninggalkan sang putra. la bersikeras ingin ikut bersama Alex sampai ia mendengar sendiri penjelasan dari mulut putranya. Alhasil kini Vanessa duduk di mobil yang sama bersama putranya dan mantan suaminya.
Alex memilih duduk di jok belakang, dekat dengan sang mama. Karena memang saat ini ia tengah rapuh dan butuh sandaran. Vanessa yang masih dalam keadaan terpukul itu memeluk Alex, dan terus membelai kepalanya. la tetap percaya jika sang putra tidaklah sejahat yang dituduhkan Kenzo. la yakin Alex tidak melakukan dosa sebesar itu.
Sesekali Alex terisak karena berusaha menahan air matanya. Bagaimanapun juga sebagai seorang pria, ia tidak mau papanya melihat dirinya dalam keadaan lemah. Namun kelembutan belaian kasih sang mama membuatnya berani menampakkan kerapuhannya saat ini. la bersandar di pundak sang mama dan menangis dalam diam.
Trrrrrtt......
Mobil berhenti tiba-tiba, Pak William mengerem mendadak dengan emosi yang memuncak. Kemudian keluar dari mobil dan membanting pintu mobilnya kencang. Vanessa yang mengerti situasinya pun tidak menanggapi itu, dan memilih menuntun sang putra untuk turun kemudian masuk ke rumah.
Sesampai mereka di ruang tamu, Pak William melepas jas kehormatannya dan melemparkannya ke sembarang arah. la kemudian melonggarkan dasinya sembari duduk dengan kasar. Melihat kemarahan sang mantan suami, Vanessa tidak melepaskan rangkulannya dari Alex. Vanessa khawatir jika sewaktu-waktu sang papa yang terluka itu bisa saja memukul putranya.
"Bikin malu!" gertak Pak William.
la juga mengumpat dan menggerutu mengeluarkan uneg-unegnya. "Papa kira kelakuan buruk kamu selama ini hanya kenakalan remaja biasa, papa gak nyangka kamu bisa seliar itu dan melakukan kejahatan yang serius."
"Kalian terlalu cepat ngambil kesimpulan, Kenzo bahkan gak ngomong dengan jelas." jawab Alex hati-hati.
"Kalo gitu jelasin! Jelasin perbuatan tercela apa yang kamu lakukan, sampai kamu pantas disebut baj****n?!"
"Mas.." lerai Vanessa takut-takut, ia benci mendengar sebutan kotor itu.
"Emang benar Al pantes disebut baj****n, tapi Al gak ngelakuin kejahatan seperti yang papa kira"
"Lalu?!" sang papa menyimak seksama, begitu juga sang mama.
Alex pun menjelaskan kronologi kejadian yang telah berlalu hampir satu tahun itu. Sejujurnya ia sangat malu untuk menceritakan semua itu pada kedua orang tuanya, karena itu adalah aib dirinya yang paling ingin ia tutupi dan paling ia sesali selama ini. Namun karena kekacauan yang terjadi malam ini, ia pun terpaksa mengungkapkannya, fakta yang sebenar-benarnya telah ia perbuat. Tidak ada yang ia tutupi dari kedua orang tuanya kali ini.
Alex juga menjelaskan dengan detail tentang berbagai kenakalannya di sekolah, dan juga penyebab yang membuatnya sampai menganiaya Kayla. Biarlah ia dianggap jahat ataupun dibenci orang tuanya sendiri, biarlah ia menyakiti keduanya kali ini. Toh semua kenakalan dan kebrutalannya itu sudah menjadi masa lalu, ia sama sekali tak berniat kembali ke masa jahilnya itu. Saat ini ia hanya merasa hancur, tapi ia enggan putus asa. la ingin memperbaiki kekacauan yang telah terjadi, dan ia berharap hubungannya dengan Kayla masih bisa dilanjutkan.
Vanessa memahami perasaan dan penderitaan Alex, sebagai penyebab dan pemicu kebrutalan sang putra ia begitu menyesal dan terpukul. Namun sebagai seorang ibu, dan sesama perempuan yang yang tersakiti, ia juga bisa merasakan penderitaan Kayla sebagai korban pelampiasan Alex.
"Tapi mama liat, kamu sama Kayla akrab. Kalian berteman baik kan, mama gak liat ada ketakutan atau kebencian dimata Kayla. Gimana kalian bisa lupain kejadian itu nak?"
"Kayla cewek hebat kan, Ma. Dia bukan cuman maafin aku, tapi dia bersedia nuntun aku buat bisa berubah. Dari dulu dia gak pernah takut sama aku, kalo benci mungkin pernah. Tapi hatinya sangat baik, dia bisa ngertiin aku"
Alex tersenyum lirih, "Aku emang banyak nyakitin dia, tapi dia.. bukannya balas dendam dia malah bikin aku gak bisa nyakitin siapapun lagi. Dia berhasil nyentuh hati aku Ma, dia selalu ada buat aku. Aku sekarang bisa berubah kayak gini, itu semua berkat dia"
"Kapan kejadian itu? Dan apa kamu pernah mengulanginya setelah itu?"
"Pertanyaan macam apa itu Mas? Jelas itu saat Alex masih nakal-nakalnya, sekarang dia udah jadi anak baik, mana mungkin dia bisa nyakitin Kayla." Bantah Vanessa.
"Aku tanya sama anak kamu. Biar dia yang jawab!" Pak William masih memasang wajah kerasnya.
"Hampir satu tahun yang lalu. Dan Al gak pernah ngulangin itu, Pa. Sekarang pun Al masih nyesal atas kejadian itu, makanya tadi Al gak bisa ngomong apa-apa" sesal Alex.
Sang papa terdiam. "Lalu, apa alasan kamu ingin menikahi Kayla? Apa ada hubungannya dengan kejadian itu?"
Vanessa melotot kesal ke arah Pak William, bisa-bisanya dia mencurigai putranya sendiri seperti itu.
"Enggak ada, Pa. Cinta Al tulus sama Kayla, dan Kayla tau itu. Papa juga udah tau kan alasan dan tujuan Al mau nikah?"
"Mama percaya sama kamu, nak. Kamu juga udah menyesali perbuatan kamu kan. Kesalahan bukan cuman harus disesali tapi juga dijadiin pelajaran. Pengalaman buruk masa lalu emang perlu dilupain, tapi juga perlu dibenahi untuk kebaikan masa depan." Vanessa mengusap kepala Alex lembut.
Alex merasa lebih tenang sekarang. Sedangkan sang papa yang sudah terlanjur dipermalukan, tidak bisa terima-terima begitu saja dengan perlakuan buruk Alex yang terbilang kriminal itu, meskipun tidak fatal. Mami dan Om nya Kayla juga pasti tidak akan pasrah begitu saja. Tidak ada orang tua yang rela anak mereka disakiti apalagi sampai dihina.
"Apapun itu, kamu harus tetap mempertanggung jawabkan perbuatan kamu, Al. Papa yakin orang tua Kayla gak akan biarin kamu gitu aja."
Alex mengangguk, "lya Pa, Al tau itu. Al siap nerima hukuman apapun, bahkan kalo harus masuk penjara pun Al gak keberatan."
"Apa? Kenapa sampe masuk penjara?! Enggak nak, kamu gak akan masuk penjara" sergah sang mama.
"Papa akan usahakan supaya hal itu gak terjadi. Kalo sampai kamu masuk penjara, reputasi kita akan buruk bahkan bisa aja hancur"
"Jangan pake kekuasaan papa buat ngelindungin Al, pa! Orang tua Kayla berhak nuntut Al, dan Al harus terima apapun konsekuensi nya."
Pak William berdecak frustasi, "Harusnya kamu mikir sebelum ngelakuin kejahatan itu Al" geramnya.
Alex hanya bisa menunduk, menyesali perbuatannya itu, untuk yang kesekian kalinya. Dan merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengendalikan dirinya saat itu. Andai saja..
__ADS_1
Andai saja ia bisa menahan emosinya kala itu, maka kekacauan seperti ini tidak akan terjadi. Sekarang apa yang tersisa? Jika orang tua Kayla menuntutnya.. maka reputasi bisnis sang papa dan image keluarganya dipertaruhkan. Papanya pasti sangat malu saat ini, lalu bagaimana jika para klien, rekan, dan semua orang yang berkecimpung di dalam bisnis keluarganya tahu? Maka papanya mungkin tidak bisa mengangkat kepala lagi di depan mereka semua. Dan mama, mamanya pasti juga malu mempunyai anak seperti dirinya.
Lalu Miss Kissable? Entah bagaimana dia menghadapi keluarganya saat ini, dan berapa banyak air mata yang dia tumpahkan. Alex sungguh merasa buruk, lagi-lagi ia menyakiti gadis yang sangat ia cintai itu.
Tentang si pengacau, Kenzo.. Alex tentu marah padanya. Alex bisa saja langsung menghajarnya jika ia mau. Alex diam bukan ingin membuktikan dirinya polos atau agar terlihat baik di depan orang tua Kayla, melainkan ia melatih dirinya sendiri agar lebih bisa sabar dan tidak gegabah dalam berucap ataupun bertindak. Satu hal yang masih berat untuk ia kuasai adalah menahan amarah, dan ia selalu mencoba itu di setiap kesempatan. Karena hal itu penting baginya, dan tentu penting bagi masa depannya juga.
"Maafin aku Miss Kissable..." gumamnya lirih, ia ingat tatapan tak suka Kayla saat ia berbicara sebelum pulang tadi. Alex tahu Kayla tidak suka mendengarnya mengucapkan itu, dan mungkin dia juga kesal karena Alex hanya diam saja sebelumnya, seperti seorang pengecut.
... ....
... ....
... ....
"Mi, mami istirahat aja ya." ucap Kayla ketika melihat mami nampak melamun dan masih duduk di tempatnya.
Mami tersenyum tipis, "lya. Mami beresin ini dulu, kamu juga istirahat ya sayang"
"Lily mau ngomong sama Kenzo dulu ya mi, mami duluan aja. Ini semua biar Lily yang beresin"
Kayla menyelis sekilas ke arah Kenzo, yang kini duduk dengan posisi punggung yang agak membungkuk, kedua tangannya dari siku hingga ke bawah ia tumpu pada pahanya. Kepalanya tertunduk seolah sedang menatap sepatu yang ia kenakan. Entah apa yang sebenarnya ia lakukan, atau mungkin ia sedang fokus memikirkan sesuatu. la mendongak ketika Kayla menyebut namanya.
Nadia tersenyum lirih melihat meja di depan mereka yang masih ada beberapa minuman dan cemilan di atasnya, bahkan cemilan bikinannya baru tersentuh sedikit. Di dapur Nadia juga sudah menyediakan berbagai hidangan makan malam, karena rencananya setelah selesai acara lamaran mereka akan makan bersama. Namun semuanya sudah kacau sekarang.
"Mi.." panggil Kayla seraya menyentuh pundak maminya.
"Eh iya sayang"
"Mami istirahat ya.."
"lya. Maafin mami ya, jadi kamu yang harus beresin ini."
Mau bagaimana lagi, saat ini kepala Nadia benar-benar pusing cenat-cenut. la sungguh butuh istirahat, tapi sebenarnya ia juga tidak tega membiarkan Kayla mengerjakan semuanya sendirian apalagi setelah menghadapi kekacauan tadi.
"Ih mami, gak papa. Ada Kenzo kok yang bantuin." ujar Kayla mencairkan suasana, meski sang mami tahu saat ini Kayla masih marah pada Kenzo.
"Yaudah, mami duluan ya. Kalian jangan berantem."
Kayla dan Kenzo saling melirik lalu tersenyum pada mami. Hanya tersenyum saja, mereka tidak berani meng'iya'kan pesan mami, karena saat ini suasana hati mereka sedang tidak baik.
"Kay!" Kayla tak merespon.
"Kay.."
Kenzo mendengus, "Katanya mau ngomong."
Kayla beranjak ke dapur membawa perabotan yang ia bereskan dari atas meja. Sementara Kenzo hanya diam memperhatikannya dari belakang. Setelah Kayla kembali dari dapur ia mulai bicara pada Kenzo tapi ia enggan duduk.
"Kamu tau Ken aku marah sama kamu." katanya ketus sambil berdiri di depan Kenzo, ia menyilangkan tangannya di depan dada.
"lya gue tau. Tapi sebenarnya yang bikin elu marah tuh apa sih?" jawab Kenzo seraya mendongak melihat wajah Kayla.
Bukannya menjawab pertanyaan konyol Kenzo, Kayla malah mendelik tajam kearahnya. Haruskah Kenzo bertanya seperti itu, tidakkah dia mengerti kesalahannya apa, dan apa yang Kayla inginkan!
"Kamu masih gak ngerasa kalo kamu itu salah?!" Kayla bertanya balik.
"Salah? Gue itu nyelamatin elu Kay! Ya mungkin cara gue agak gak sopan tapi gue lakuin itu demi kebaikan lu"
"Nyelamatin aku dari apa?"
"Ya dari cowok baj-.."
"Stop Ken!" Gertak Kayla marah.
Kayla berjalan keluar rumah, ia tambah marah sekarang. Kayla duduk di kursi yang ada di teras rumahnya, sedikit meredakan emosinya. Kayla benci Kenzo menyebut Alex seperti itu. Alex tidak seperti itu, dia tidak jahat. Karena Alex yang jahat, yang tak berperasaan, dan yang brengsek itu sudah tidak ada lagi. Alex yang itu telah jadi bagian dari masa lalu Kayla, bukan saat ini apalagi masa depan.
"Kok keluar? Takut ganggu istirahat mami kamu?" tanya Kenzo yang sudah berdiri didepan Kayla.
"Alex udah berubah, Ken. Apa orang yang ngasih kesaksian ke kamu itu gak bilang kalo sekarang Alex udah berubah?"
"Kay, gue tau cowok kayak gitu. Dia gak beneran berubah, dia cuman nyari muka doang buat bisa dapetin elu. Udah banyak gue temuin cowok model begitu, elu terlalu polos Kay makanya dia gampang ngejebak elu. Elu harus ngerti itu"
"Aku gak ngerti sama cara berpikir kamu" sahut Kayla ketus, membuat Kenzo mendengus.
__ADS_1
"Nggak semua cowok sama kan, Ken. Aku kenal cowok bukan cuman dia kok, jadi aku juga liat kali, aku juga bisa bedain mana yang tulus mana yang munafik. Kamu sama Alex aja beda."
Kenzo merasa tersinggung dengan kata-kata Kayla, "Maksud lu, gue sama dia beda tuh apa? Dia baik dan gue enggak, gitu? Elu mau bilang kalo gue munafik?"
"Astaga.. ya nggak gitu lah. Karakter orang kan masing-masing beda, kita gak bisa nilai orang dari satu perbuatan yang dia lakuin doang. lya kan! Dan aku gak suka cara kamu nilai Alex dengan liat masa lalunya."
Kenzo terkekeh, "Oh.. jadi intinya itu. Elu gak suka gue ngejelek-jelekin dia. Elu suka kan sama dia? Perasaan belum lama deh lu bilang kalo elu sama dia itu cuman teman biasa, jadi itu lu bohongin gue?"
"Ken.. tolong ngertiin aku. Disaat dia mau serius sama aku, aku harus bisa ngambil keputusan. Emang bener aku sama dia cuman teman sebelumnya, tapi sekarang beda, aku udah libatin perasaanku buat dia."
Kenzo terdiam dengan raut wajah yang marah, ia menatap sinis ke arah Kayla.
"Elu yakin dia bisa berubah?" tanyanya setelah beberapa saat terdiam.
"lya"
"Trus kenapa lu gak percaya kalo gue juga bisa berubah?" Kayla mengernyit bingung.
"Elu liat gue kayak gimana sih Kay, dimata lu gue tuh apa sih? Gue juga bisa berubah, gue juga bisa serius, dan gue juga punya perasaan!" Kenzo meninggikan nada bicaranya.
Kayla terbengong kaget, kenapa Kenzo tiba-tiba marah seperti ini. Kayla pun berusaha mengatasinya.
"Ken, aku gak bermaksud banding-bandingin kamu sama Alex. Aku cuman pengen kamu ngerti perasaan aku. Kamu lebih berpengalaman kan dibanding aku soal perasaan, rasa suka itu bisa datang kapan aja dan sama siapa aja kan, Ken."
"Jadi maksud lu, elu suka sama Alex?"
Kayla tersenyum tipis. "lya."
Kenzo tertegun sesaat. "Sejak kapan Kay?"
"Aku gak tau"
"Tapi gue gak ngerestuin elu sama dia." bantah Kenzo.
"Kenapa?"
"Kenapa masih nanya? Jelas-jelas dia udah ngehina elu, dia kasar sama lu, trus elu mau hidup bareng dia? Kay, ini tuh dia minta elu buat jadi istri dia, bukan pacar. Nikah itu hubungan yang gak main-main, kalo suatu saat dia balik jadi kasar dan ngehina lu lagi gimana? Elu gak bisa minta putus! Elu mau nanggung penderitaan itu seumur hidup elu?"
"Kamu kok mikirnya gitu sih Ken?"
"Ya karena gue mikirin elu. Gak ada jaminan juga kan kalo dia emang beneran komitmen sama elu, bisa aja nanti dia ngelirik-lirik cewek lain"
"Emangnya kamu!" Kayla tertawa geli.
Kenzo kesal, ia tak merasa itu lucu ataupun pantas ditertawakan. Kenapa Kayla tidak bisa menganggapnya serius, apa Kayla pikir pria seperti Kenzo akan selamanya seperti ini? Apa dia pikir Kenzo tidak bisa jadi lebih baik?
"Kay, sebagai sesama cowok gue tau sisi lemahnya cowok. Dan sebagai sesama anak muda gue ngerti jiwa mudanya cowok model Alex. Gue takut elu disakitin lagi sama dia. Seberapa sering dia nyakitin lu dulu, bukan gak mungkin dia bakal lebih nyakitin elu lagi nanti. Jangan ngambil keputusan terburu-buru, dan jangan pilih cowok yang pernah nyakitin elu!"
Kayla terdiam, ekspresi wajah Kenzo kali ini terlihat serius. Kayla bisa memahami kekhawatiran Kenzo, dan Kayla bersyukur atas perhatian Kenzo. Tapi tidakkah Kenzo mengerti bahwa Alex benar-benar telah berubah, dan Kayla yakin, jika memang Alex adalah jodohnya maka cobaan apapun nantinya dalam rumah tangga mereka Kayla bisa mengatasinya.
"Ken, keputusan yang aku ambil itu juga bukan perkara mudah buat aku. Aku udah mikirin itu dan pertimbangin matang-matang juga, dan aku yakin sama pilihan hati aku."
Kenzo terdiam dan sedikit tertunduk, ia terlihat menelan salivanya.
"Kamu tau rasanya jatuh cinta kan, Ken?" kata Kayla sambil tersenyum memandang langit, membuat Kenzo mendongak menatapnya.
Kayla tertawa kecil, "Ya kamu pasti tau lah, kan kamu udah sering pacaran. Kalo gitu, kamu pasti ngerti perasaan aku saat ini." Kenzo terpaku.
"Aku jatuh cinta, Ken" Kenzo mengerjap satu kali, ia menelan salivanya lagi.
"Sama Alex." lanjut Kayla, membuat Kenzo memalingkan wajahnya.
"Mungkin kamu harus lebih mengenal Alex lagi, biar kamu ngerti kenapa aku yakin sama dia. Kalo kamu emang gak bisa ngerestuin aku sama Alex, seenggaknya.. hargain perasaan aku ini ya, Ken!"
Kayla masih berbicara sambil memandang langit, tanpa ia tahu pria di sampingnya itu tengah menahan sesuatu yang bergemuruh di dalam dirinya. Tangannya terkepal kuat dan urat-uratnya menyembul ke permukaan kulitnya. Jika saja saat ini Kayla melihat wajah Kenzo, maka Kayla akan langsung menyadari perubahannya itu.
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ...
... Bersambung...