
Hening dan tegang, setelah Kayla bicara tak ada seorang pun yang angkat suara. Semuanya terdiam. Kayla yang menyadari suasananya lantas mengedarkan pandangannya ke semua orang kecuali Alex, setelah sebelumnya hanya menunduk. Sejujurnya Kayla merasa gugup mengatakan itu di depan semua guru, tapi demi keadilan dan perubahan.. Kayla melakukannya.
Kayla terkesiap ketika menyadari pandangan semua orang tertuju padanya, ekspresi mereka membuat Kayla merasa tidak enak.
Alex yang sebelumnya terbelalak kaget, kini berusaha menstabilkan kembali ekspresinya dan juga perasaannya. Alex berdehem kecil,dan itu membuat semua orang tersadar dari kekagetannya.
"Penganiayaan? Pelecehan? Heh, kasar banget. Dia bohong, Pak. Saya nggak sekejam itu" protes Alex dengan ekspresi kesalnya.
"Oh ya? Kalo kamu lupa biar aku ingetin" sergah Kayla.
Terpaksa kali ini Kayla harus melirik Alex, padahal ia masih merasa trauma berada di dekat pria brengsek ini.
"Ini!" Kayla menunjuk pipi dan bibirnya. "Pak, dia megang saya kenceng banget sampe kukunya nancep di pipi saya, ini kemarin berdarah loh. Rahang sama leher saya rasanya keseleo, dia juga ngelecehin saya.Dan sebelum itu dia nyekik saya, Pak." jelas Kayla mengulangi.
Sebelum memanggil Alex dan semua guru, Pak Rahmat sudah terlebih dahulu mendengarkan penjelasan Kayla tentang maksudnya menghadap Pak Rahmat dan juga tentang kronologi kejadian yang ia alami. Karenanya saat Kayla mengulangi laporannya hanya Pak Rahmat yang tidak berekspresi, awalnya saat Kayla lebih dulu memberi tahunya pun Pak Rahmat kaget bukan main, ia tidak mempercayai Kayla. Karena itu lah semua guru ia minta datang ke ruangannya.
Alex yang sejak tadi menghindari bertatapan dengan Kayla pun akhirnya menoleh ke sisi kiri dimana Kayla duduk disampingnya.Alex merasa sedikit terkesiap melihat jejak perbuatannya di wajah Kayla. Apa dia seganas itu tempo hari?
"Hello....elu bilang gue ngeaniaya lu? Elu sendiri lupa kalo lu juga sama?"
"Apa?" Kayla menatap Alex tak percaya.
"Elu juga ngeaniaya gue! Nih. kerah baju gue sampai robek gara-gara elu! Kancingnya juga lepas tiga" sahut Alex sambil menunjuk baju bagian atasnya.
Kayla menaikkan alisnya, apa benar kata Alex kalau Kayla merusak bajunya? "Mana? Gak ada!"
"Mana mau lah gue pake tu baju lagi. Harus banget apa gue kasih liat ke elu?" sahut Alex ketus. Alex merasa benar-benar kesal tapi ia berusaha menahannya.
Tempo hari setelah pulang sekolah dan hendak mandi, Alex baru menyadari kalau kerah bajunya robek dan tiga kancing baju bagian depannya hilang entah kemana. la teringat saat ia meraup bibir Kayladengan kasar, Kayla berusaha melepaskan diri dengan berbagai cara sampai Kayla mencengkeram kerah baju Alex untuk menahan dirinya sendiri saat ia mulai melemah. Karena itu lah kerah baju Alexsampai robek dan kancingnya hilang.
"Pak, kejadian itu banyak kok saksinya, dan saya juga punya bukti yang memberatkan Alex." lanjut Kayla.
Alex terkekeh, "Memberatkan.. emangnya timbangan?" gumamnya meledek.
"Apa buktinya? bekas cakaran di muka lu itu? Siapa tau itu cuman dicakar kucing, Pak. Bisa-bisanya dia aja ngefitnah saya"
"Alex? Jangan coba ngehindar ya, saksinya banyak." tantang Kayla sebelum beralih menatap Pak Rahmat lagi.
"Pak, bekas cakaran di muka saya ini Alex pelakunya, sebelumnya dia nyekik saya sampai saya sesak nafas, abis itu dia cengkeram rahang saya dan.. dia paksa nyium saya." ucap Kayla dengan lirih dan memelankan kalimat terakhir yang ia ucapkan.
Para guru kembali dibuat terbelalak, dan diantaranya saling melemparkan pandangan satu sama lain. Alex malu mendengarnya,ia mendesis kesal seraya mengalihkanpandangannya random.
"Alex?" seru Pak Rahmat saat melihat Alexyang seolah tak peduli. Alex pun menoleh.
"Apa yang dikatakan Kayla.. benar atau tidak? Saya ingin mendengar dari kamu, jelaskan bagaimana kronologi kejadian yang sebenarnya!"
"Dia yang mulai, Pak." jawab Alex kesal tanpa menoleh ke arah Kayla.
Kayla reflek menatapnya tak percaya, Bisa-bisanya dia nyalahin aku?!" batin Kayla.
"Jadi, benar atau tidak?" tanya Pak Rahmat lagi.
"Benar" Sahut Alex tanpa disangka-sangka, Kayla menghela nafas lega, ia pikir Alex akan mengelak dengan berbagai cara.
"Benar kita emang ciuman." lanjut Alex, Kayla terbelalak mendengarnya, apa-apaan kalimatnya itu?
"Dia ini anaknya emang suka ngerecokin saya, Pak. Kemarin itu dia mancing-mancingemosi saya, dia kayaknya sukaaa banget gitu bikin saya kesal. Kan semua orang tau kalo saya ini orangnya emang emosian, nah dia ini Pak.. nantang saya, ya saya kasih pelajaran aja" kata Alex dengan ekspresisantai dan menyilangkan tangannya ke dada.
Melihatnya Kayla merasa bergidik sekaligus geli, bisa-bisanya dia berkata seperti itu. "Apa-apaan kamu?" kesal Kayla.
"Emang benar kan, elu suka nantangin gue, mancing-mancing emosi gue? Apa harus gue bilang kalo elu ngelakuin itu biar dapetin perhatian gue?"
Kayla menatap ilfil ke arah Alex yangsedang memainkan tatapannya itu dengan seringaian yang mengerikan sekaligus menggelikan. Para guru yang melihatnya pun agaknya heran, ada yang malah mengulumsenyum.
"Ehemm." Pak Rahmat berdehem memutus tatapan Alex dan Kayla.
"Sebelumnya dia ngata-ngatain saya Pak, trus ngatain orang tua saya, wajar dong saya marah. Kalo dia mau nuntut saya.. saya juga bisa nuntut dia, atas ujaran kebencian yang dia lakuin"
"Ucapan aku gak separah itu sampai kamu bisa nuntut aku, sedangkan kamu ngelakuin dua kejahatan sekaligus" Alex menyelis tajam setelah Kayla mengatakan itu.
"Kamu nyekik aku"
"Oke, emang bener saya nyekik dia Pak,tapi saya cuman ngasih peringatan.. bukan nyekik beneran kok. Mana berani saya nyeaniaya anak orang" dalih Alex.
"Apanya bukan nyekik beneran? Leherku sampe merah. Kamu juga megang rahang aku kenceng banget, apa itu bukan penganiayaan? Dan kamu juga paksa nyium aku sampe aku hampir pingsan." balas Kayla menggebu-gebu karena saking kesalnya.
Para guru yang mendengarnya dibuat geleng-geleng takjub membayangkan apa yang Alex lakukan pada Kayla. Hanya satu orang yang sejak tadi terlihat menahan amarahnya, Pak Bayu.
Alex terkekeh geli sebelum menimpali ucapan Kayla. "Awalnya emang gue maksaelu, makanya gue pegangnya kenceng, tapi.. elu nikmatin juga kan? Jadi.. masalah selesai" ujarnya kemudian mengedikkan bahu remeh.
Lagi-lagi semua orang terbelalak mendengarnya, ada yang sampai menutup mulut dan ada juga yang menahan tawa. Kayla menggeleng cepat dan gelagapan. "Enggak!"
Kayla menatap Alex dengan geram. "Kamu jangan ngada-ngada ya! Jelas-jelas kamu maksa dan aku juga jelas-jelas nolak. Mereka semua yang liat pasti tau situasinya."
Kayla lalu beralih menatap Pak Rahmat. "Pak, apa boleh saya menghadirkan saksi disini?"
"lya boleh kalau itu memang diperlukan. Siapa yang mau kamu hadirkan disini?" jawab Pak Rahmat setelah berfikir sejenak.
__ADS_1
Alex hanya terkekeh menanggapinya. Beberapa menit kemudian, seseorang yang dipanggil sebagai saksi memasuki ruangan.
"Jessica, kamu menyaksikan kejadian itu?" Tanya Pak Rahmat langsung yang diangguki oleh Jessica.
"Jadi, apa kamu bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi? Kayla bilang Alex menganiayanya dan juga melecehkannya. Sedangkan Alex bilang Kayla sengaja memancing amarahnya dengan mengatainya dan mengatai kedua orang tuanya."
Beberapa menit yang lalu Kayla memang meminta dipanggilkan Jessica sebagai saksi, meski Jessica selama ini mendukung Alex tapi kan kejadian tempo hari membuat Jessica marah dan kecewa pada Alex, jadi Kayla cukup yakin kalau Jessica akan memberikan perlawanan pada Alex dan mungkin membelanya hari ini.
"Saya di sana cuman sebentar, Pak. Saya nggak tau pasti kejadian yang sebenarnya, tapi waktu itu Kayla emang keterlaluan ngatain Alex. Alex marah dan... menurut saya tindakannya itu gak bisa disebut sebagai hukuman buat Kayla, itu terlalu manis." Jessica mengatakannya dengan menatap tajam ke arah Kayla, ia benci mengatakannya apalagi kalimat terakhirnya itu, tapi ia lebih benci jika Kayla menang.
Kayla terperangah tak percaya sedangkan Alex tersenyum miring.
"Tuh denger kan, saksi lu bilang apa? Kenapa gak lu akuin aja sih kalo gue emang manis, lu suka kan meskipun awalnya gue paksa?" celetuk Alex.
Kayla meringis jijik mendengar ejekan Alex itu. Sedangkan Jessica mengepalkan tangannya kuat, apa yang Alex katakan barusan membuatnya meradang, ia jadi menyesal mengatakan tindakan Alex itu manis.
"Jes? Kamu kok bilang gitu sih? Kamu marah kan sama Alex tapi kenapa-.."
"Marah gak akan ngerubah faktanya!" sela Jessica, dan itu cukup membuat Kayla bingung.
"Tapi faktanya.. Alex emang memperlakukan aku dengan kasar dan kamu liat itu" bantah Kayla.
"Udah deh gak usah berlebihan, panjang-panjangin masalah aja lu! Mau lu apa sih?" bentak Alex.
"Tenang dulu!" Pak Rahmat angkat bicara, kemudian beralih menatap Jessica.
"Jessica, ada lagi yang mau kamu katakan?"Jessica menggeleng. "Terima kasih sudah memberikan kesaksian. Silahkan!"
"Permisi, Pak" Jessica pun pamit keluar ruangan setelah menyelis tajam ke arah Kayla, ia sama sekali tak melirik Alex karena rasa kecewa dan kesalnya.
Jessica melangkah lebar dan cepat membawa kekesalannya, ia tidak peduli tatapan para siswa dan siswi yang sangat penasaran dengan apa yang terjadi di dalam ruangan kepala sekolah itu. Sampai di kelasia menggebrak meja dan berteriak
"Hehh!! Sialan!!"
"Pak, tapi saya gak bohong, yang saya bilang semuanya itu benar, emang kejadiannya begitu. Saya merasa sangat dirugikan atas tindakan Alex yang keterlaluan dan kurang ajar tempo hari. Saya sampe sakit, dan kemarin gak bisa masuk sekolah. Rasa nyeri di leher dan rahang saya juga baru sembuh, saya bahkan kesulitan makan kemarin karena rahang saya susah digerakin, bibir saya bengkak dan nyeri juga Pak. Alex gigit bibir saya waktu itu sampe berdarah dan sekarang sariawan." Kayla berusaha meyakinkan Pak Rahmat dan para guru yang lain agar mempercayainya, karena ia memang benar.
Alex sempat terkesiap mendengar penjelasan Kayla yang blak-blakan dan terdengar frustasi itu. Setelahnya Alex terkekeh geli. "Segala sariawan lu sebutin. Elu tau kenapa gue gigit bibir lu? Karena elu duluan yang gigit bibir gue! Kalo lu mau bukti, nih..bekas gigitan lu, gue jua sariawan!" Alex mendoerkan sedikit bibirnya memperlihatkan apa yang ia maksud.
"Jangan mutar balikin kebenaran Al. kamu yang gigit bibir aku, kamu juga gak mau ngelepasin aku sampe aku sesak nafas. Keterlaluan!" bentak Kayla geram.
"Heh! Elu lupa, elu duluan yang gigit makanya gue bales. Dan kenapa gue gak ngelepasin lu? Karena elu megang gue, dan.. nikmatin ciuman gue kan?!"
Astaga... semua orang dibuat geleng-geleng kepala dan terperangah dengan perdebatan mereka, apalagi kalimat yang Alex katakan barusan.
"Ini ngebahas gaya ciumannya?" gumam Bu Weni dalam hati.
Sebagian para guru ada yang salah tingkah dan menutup mulutnya, ada juga yang mengernyit dalam sambil menggigit bibirnya sendiri. Hanya Pak Bayu yang sejak tadi mengepalkan tangannya geram.
Perasaan Kayla kini resah tak karuan, segala rasa yang mengganggu itu berkecamuk didalam hatinya, dan yang dominan adalah rasa sakit hati, sehingga rasanya Kayla ingin menangis saat ini juga. Bisa-bisanya Alex berkata seperti itu. Kalau Kayla tidak bisa memenangkan perdebatan ini, berarti Kayla akan dipermalukan lagi dan ia gagal membuat Alex dihukum atau bertanggung jawab atas tindakan kurang ajarnya itu.
Kayla berdiri dengan tegas. "Salah besar! Aku tersiksa Al, apa harusnya aku pingsan aja ya kemarin atau langsung mati sekalian biar semua orang percaya kalo kamu emang ngeaniaya aku!" bentak Kayla kesal.
Alex malah menertawakannya, membuat para guru yang menyaksikannya kebingungan.
"Kayla, tenang dulu.. ayo duduk." Pak Rahmat berusaha menenangkan.
"Maaf, Pak." Kayla menarik nafasnya kemudian menghembuskannya perlahan mencoba meredam amarahnya. la kembali duduk dan terus menunduk.
"Kok kayak saya sama istri saya sih berantemnya" gumam Pak Rahmat dalam hati.
"Pak, saya rasa permalasahan ini cukup sampai disini deh." kata Alex yang sudah merasa bosan.
"Boleh saya menghadirkan saksi lagi Pak? Kayla menyela sebelum Pak Rahmat sempat menjawab.
"Em.." Pak Rahmat nampak berpikir sambil melirik Kayla dan Alex bergantian.
Alex mengedikkan bahunya acuh, membuat Pak Rahmat lantas mempersilahkan Kayla.
Beberapa menit kemudian, dua orang siswi memasuki ruangan. Salah satunya adalah siswi yang pernah menjadi korban bullying Alex, dan yang lainnya adalah salah satu fans Jessica.
Pak Rahmat memberikan pertanyaan yang sama saat Jessica dipanggil untuk bersaksi sebelumnya, kemudian mempersilahkan kedua siswi itu menjawab bergantian.
"Menurut saya Kayla yang salah, Pak. Setelah Alex ngasih peringatan ke Kayla dengan cekikan itu, Kayla hampir aja kepeleset dan Alex nolongin dia, jadi gak sempat jatuh. Tapi setelahnya Kayla malah ngata-ngatain Alex jawab siswi yang pertama.
"Benar, Pak. Waktu itu Alex udah maafin dia dan udah mau pergi, tapi Kayla ngata-ngatain Alex lagi, dia ngata-ngatain orang tua Alex juga. Tapi yang kami gak ngerti.. Alex bukannya marah-marah lagi, malah.. " siswi yang bicara ini ragu untuk melanjutkan kata-katanya, ia hanya melirik Pak Rahmat dan Alex bergantian.
"Menciumnya?" Pak Rahmat melanjutkan.
Siswi yang merupakan fans Jessica itu mengangguk. Kayla mendengus nafas berat, Kayla tidak mendapat pembelaan atau dukungan dari mereka. Tapi apa benar kata-kata yang Kayla lontarkan waktu itu keterlaluan? Apa mereka menyalahkannya dan menyudutkannya karena itu? Apa memang Kayla yang bersalah dalam kasus ini, dan bukan Alex?
"Tapi, kalian liat kan waktu itu Alex nyekik aku sampai aku pucet? Dan dia ngelecehin aku, bukan nyium ya! Aku hampir pingsan waktu itu."
Kedua siswi ini saling melirik satu-sama lain sebelum menjawab.
"Aku disana gak sampe selesai kalian ciuman, soalnya lama-... ups!" si siswi yang menyahut ini lantas terdiam dan menutup mulutnya setelah menyadari kata-katanya yang keceplosan.
"Maaf, Pak. Maksud saya.. saya gak di sana sampai kejadian itu selesai." ralatnya.
__ADS_1
"Saya juga nggak berani liat lama-lama." sambung siswi yang lainnya.
Alex dan Kayla menunduk malu, tapi dengan perasaan yang berbeda di dalam hati mereka. "Cewek bego tapi keras kepala, gak ada yang bakal belain elu!" batin Alex.
Kayla mulai merasa putus asa, siapa lagi yang bisa ia mintai dukungan? Kalau saja Adit dan Nia ada di sana waktu itu...
"Saya juga mau ngehadirin saksi, Pak." Ucapan Alex lantas membuyarkan lamunan Kayla.
Pak Rahmat menyetujui, tidak lama setelah kedua siswi tadi keluar, masuklah tiga orang siswa tampan yang tak asing. Bima, Sandi, dan Vicky. Kayla mendengus kesal dan memutar bola matanya jengah, kenapa Alex memanggil ketiga anak buahnya ini? Sudah jelas mereka akan memihaknya, apa dia mau membuat Kayla lebih menderita?
Pak Rahmat kembali mengulangi pertanyaannya kemudian mempersilahkan Bima, Sandi dan Vicky berbicara.
"Alex cuman ngasih dia pelajaran kok Pak waktu itu, soalnya dia sengaja ngehujat Alex, kita aja marah ngedengarnya apalagi Alex" Bima menjawab lebih dulu.
"Gue nggak ngeaniaya dia kan?" tanya Alex, Ketiganya nampak menaikkan alis agak terkesiap, tapi kemudian menggeleng serentak.
"Gue nggak ngelecehin dia kan?" kali ini ketiganya nampak ragu untuk menggeleng dan malah saling melemparkan pandangan.
"Ayo jujur!" desak Kayla.
"Ngelecehin apa? Al, dia nuduh lu gitu?" tanya Sandi.
"Wah, kasar amat. Pak, nambah lagi tuh satu, dia ngehujat Alex, didepan Bapak lagi." sambung Vicky.
"Yang kasar itu perlakuan Alex ke aku ya, kalo aku sampe ngomong gitu apalagi sampe ngelapor ke kepala sekolah... artinya Alex emang udah keterlaluan. Kalian juga sama, keterlaluan!" bentak Kayla kesal.
Pak Rahmat berdehem saat nada bicara Kayla mulai meninggi lagi karena emosi. "Maaf, Pak." lirih Kayla seraya menunduk.
"Ck, udah deh... ngalah aja! Enggak capek apa lu ngedebat gue? Jelas-jelas lu yang salah, lu yang bikin masalah!" kata Alex dengan malas.
Kayla mendengus lagi, iya benar Kayla capek tapi Kayla belum siap menyerah. la masih berharap ada satu orang saja yang mau mempercayainya dan berada dipihaknya.
"Baiklah, apa sudah selesai?" tanya Pak Rahmat yang Kayla lihat wajahnya kelihatan lelah. "Sebenarnya saya pusing, mendengar perdebatan kalian yang tidak jelas. Sekarang saya persilahkan kepada Bapak dan lbu guru sekalian untuk memberikan pendapatnya."
Satu-persatu secara bergiliran para guru mulai angkat bicara, dimulai dari guru yang duduk paling dekat dengan Pak Rahmat.
"Maaf nih, Pak. Menurut saya mungkin ini hanya kesalah pahaman antara mereka berdua. Kalau saya dengar dari perkataan Alex, sepertinya.. mereka saling suka." salah satu guru berpendapat.
"Saya sependapat, saya sering mendengar ada bentrok antara Alex dan Kayla, biasanya remaja yang seperti itu kan bisa jadi... dari benci jadi cinta." Pak Rudi malah berkata seperti itu.
"Yang mereka perdebatkan sejak tadi.. persoalannya terlalu sensitif dan pribadi, saya rasa kurang pantas dibicarakan disini. Itu seperti pertengkaran suami istri." Perkataan guru ini lantas membuat Pak Rahmat mendengus tawa.
Kayla hanya bisa terdiam mendengarkan perkataan satu-persatu guru yang semakin membuatnya putus asa, karena tidak ada yang memihaknya. Bahkan mereka seolah menganggap masalah ini sepele.
"Gue bilang juga apa, gak usah mimpi bisa menang ngelawan gue!" gumam Alex pelan sambil sedikit mendekatkan wajahnya kearah Kayla tanpa menoleh.
Kayla lantas tersadar dari lamunannya. Tiba saatnya giliran guru terakhir yang bicara, Kayla menoleh ke arahnya. Pak Bayu melirik Kayla sekilas, Pak Bayu bisa mengerti tatapan Kayla tapi yang keluar dari mulutnya berbanding terbalik dari yang dipikirkannya.
"Saya hanya mendengar kejadian itu dari mulut ke mulut Pak, saya tidak tahu kejadian yang sebenarnya, jadi saya tidak bisa berkomentar"
Kayla mendengus nafas berat. Lupakan saja!Bahkan Pak Bayu yang kemarin datang kerumahnya dan menunjukkan keprihatinannya itu pun tak bisa Kayla harapkan saat ini.
Alex menyeringai sambil melirik ketiga temannya, dan dibalas senyuman oleh ketiganya.
"Baiklah. Kita sudah mendengar komentardan pendapat dari para guru. Jadi, saya sarankan sebaiknya kalian berdamai saja dan saling memaafkan. Dan kepada Bapak dan Ibu guru sekalian saya persilahkan meninggalkan ruangan iní."
Kayla menaikkan alisnya, ia merasa kecewa dan tak bisa menerima keputusan kepala sekolah. Sedangkan Alex langsung mengangguk. Para guru pun satu-persatu meninggalkan ruangan, Alex dan teman-temannya pun beranjak.
"Tapi Pak.."
"Sudah lah Kayla.. saya punya banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan, permasalahan kalian ini saya rasa tidak terlalu serius dan bisa ditangani oleh guru BK, Pak Rudi"
"Pak Bayu?" Seruan Kayla sontak menghentikan langkah Seruan Kayla sontak menghentikan langkah Pak Bayu yang sudah di ambang pintu, juga Alex dan ketiga temannya yang kini menoleh ke belakang ke arah Kayla.
"Pak Bayu percaya kan sama saya? Pak Bayu tau selama ini Alex dan teman-temannya itu gimana sama saya, tolong bilang sesuatu!" Kayla nampak memohon sambil menatap Pak Bayu serta melangkah maju dan kini terhenti di samping Alex.
Pak Rahmat pun kini berdiri di tempat,setelah Pak Bayu meliriknya mengisyarat izin untuk bicara.
"Kayla memang murid yang baik dan sopan,dan Alex.. dia juga anak yang baik meskipun sedikit bandel. Tapi sekali lagi, saya hanya mendengar tentang kejadian itu. Saya tidak tau sedekat apa hubungan kalian berdua sampai hal yang memicu kegegeran itu bisa terjadi. Permisi!" ucap Pak Bayu tegas sebelum berlalu.
Kayla hanya bisa mematung dalam keputusasaan. Alex menyeringai lalu mendekatkan wajahnya pada Kayla dan berbisik, "Sedekat apapun pun hubungan elu sama Pak Bayu, mau elu nyerahin diri lu ke dia sekalipun.. tetap aja dia gak belain elu, karena dia pengecut. Dan elu.. cuman kerikil yang gak ada harganya."
Jantung Kayla terasa tersambar petir mendengarnya, sakit sekali. Kayla reflek melototi Alex dan mengangkat tangannya.
Plakk
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Alex, membuat semua orang yang melihatnya terperangah seketika.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...
__ADS_1