Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Belenggu King


__ADS_3

Gubrakk


Kayla terperanjat kaget saat pintu ruangan ditendang dengan kasar sampai terbuka. Dan Kayla lebih kaget lagi saat melihat siapa yang ada didepan pintu. Tiga orang pria, dua diantaranya adalah komplotan penculik, sedangkan pria yang ditengah..


"Alex.."


Hati Kayla berdesir, melihat pria yang dipapah oleh dua penculik itu. Dia Alex. Ada apa ini? Mereka membawa Alex kemari? Dan kondisinya..


Ya Tuhan.. apa yang terjadi pada Alex?


Alex nampak letih tak berdaya, mereka pasti telah memukuli Alex keroyokan. Wajahnya bonyok, matanya sayu, langkahnya pun terseret-seret oleh tarikan kedua pria sangar itu. Mereka mendudukkan Alex di kursi beton yang serupa dengan yang Kayla tempati. Kursi itu letaknya di sudut lain ruangan ini, jika Kayla berada di sudut selatan ruangan ini maka Alex mereka letakkan di sudut utaranya, sedangkan pintu ada di arah barat dari tempat duduk Alex. Kayla masih terperangah getir melihat Alex juga dibelenggu sepertinya, Alex memberontak namun sepertinya ia sudah letih sehingga tenaganya tidak mampu menyaingi tenaga kedua pria yang membawanya.


"Tunggu!" Sergah Kayla.


Mereka lantas menoleh ke arah Kayla, begitu juga Alex yang nampak baru menyadari kehadiran Kayla di ruangan ini.


"Apa salah dia? Masalah kalian apa sih, kenapa dia dirantai juga?" Bentak Kayla.


Alex terperangah kaget dengan mata yang membulat sempurna, ia tak menyangka ternyata Miss Kissable nya lebih dulu disekap disini dan dibelenggu rantai diruangan kotor ini. Alex mendesah nafas berat, menatap Kayla lirih.


"Miss Kissable..." gumamnya getir.


"Heh, berisik lu! Bukannya makasih malah ngebentak. Elu mau tau ngapain dia disini, ya buat nemenin elu lah. Iya nggak?" Ujar salah satu penculik kepada temannya.


"Hahahaa... yo'i. Dan mungkin ini juga saat terakhir buat elu bedua biar bisa... apa tuh namanya bro, yang kata orang-orang sekarang? O iya, quality time! Hahaa....." timpal penculik lainnya yang disambut tawa oleh temannya.


Prokk prokk prokk!!


Suara tepuk tangan dari seseorang membuat tawa kedua penculik itu terhenti. Keduanya lantas berdiri dengan siaga di tempat, bersiap menyambut seseorang yang akan segera memasuki ruangan.


Empat orang pria yang merupakan komplotan penculik hendak masuk, namun mereka berhenti disisi pintu dan seseorang lainnya muncul di tengah mereka, dia yang terlebih dulu masuk kemudian diikuti oleh yang lainnya. Sepertinya pria bertubuh kekar yang penampilannya terlihat mencolok dari yang lainnya itu adalah Bos mereka. Dia memakai topi koboi yang membuat wajahnya tertutup, tangannya terangkat ke atas dan masih menggemakan tepuk tangan. Tepukan tangan yang seolah membuat atmosfer ruangan ini berubah seketika.


Saat pria yang bertepuk tangan itu berhenti di tengah ruangan, tepukan tangannya berhenti dan ia mengangkat kepalanya.


Duaarrr......


"King?!"


Dia King, biang masalah yang dulu sempat membuat masa depan Kayla hampir hancur. Bagaimana dia bisa ada disini, bukankah seharusnya dia berada di dalam penjara? Alex dan Kayla sama-sama terperangah kaget, amarah Alex mencuat seketika, sementara Kayla.. ketakutan mulai menderanya.


"Hahahahaa....." King melengkingkan suara tawanya, nampak puas sekali dia melihat Alex dan Kayla terbelenggu rantai tak berdaya.


"Selamat datang.. target emasku!" Ucap King seraya menyeringai melirik Alex dan Kayla bergantian.


"Apa kabar kalian, hm?" Ledeknya kemudian.


"****! Apa mau lu?" gertak Alex geram.


King lantas menyelis ke arah Alex, "Heh, udah nggak sabar ya? Oke.. oke..." katanya seraya menunjukkan raut wajah yang semakin memuakkan bagi Alex.


"Karena kalian berdua udah disini, udah siap dieksekusi, jadi biar gue mulai permainannya ya!" Ujar King menyeringai.


"Eksekusi? A..apa..?" batin Kayla takut.


Alex terbelalak mendengar King menyebut kata 'eksekusi'. Siapa yang dia maksud akan dieksekusi? Alex, atau Kayla? Tidak, Alex tidak akan membiarkan para baj****n ini menyentuh Miss Kissable nya seujung rambut pun!


Salah satu anak buah King beranjak, mengambilkan kursi khusus untuk Bos nya duduk. Ia meletakkan kursi itu tepat dibelakang King, lalu King duduk disana.


"Oke, biar gue jelasin rencananya." Seringaian mengerikan King itu membuat Kayla semakin takut, sementara Alex semakin muak melihatnya.


"Kalian beruntung loh, gue mau sedikit berbaik hati ngasih tau kalian rencana gue. Ya, karena kalian emang target yang istimewa. Kalian tau, gue keluar dari penjara cuman buat kalian loh.." ujar King santai seraya melirik Alex dan Kayla bergantian.


"Jadi gini, emm... Udah berapa lama ya kejadian itu? Iya, 7 bulan 3 minggu 3 hari. Hm, mana bisa gue lupain itu." Katanya lagi, seraya mencibir dan menaikkan alisnya tinggi-tinggi.


"Asal kalian tau ya, selama 7 bulan 3 minggu 3 hari itu.. gue nggak meratapi nasib gue di dalem penjara. Tapi gue nyiapin kejutan buat kalian, ya kejutan yang bakal gue kasih ke kalian hari ini. EKSEKUSI. Hahahaaa....."


Kayla mendesah tertahan, ia gemetar ketakutan, air matanya mulai merebak ke permukaan. Sementara Alex semakin marah dan gelisah, ia harus mencari cara untuk lepas dari King. Kalau bisa ia melawan, tapi kalau tidak.. maka setidaknya ia bisa memastikan keselamatan Kayla.


King melebarkan seringaiannya melihat ekspresi wajah Alex dan Kayla. King lalu beralih melirik para anak buahnya. "Dimana pengkhianat itu?"


"Di ruangan sebelah, Bos." Jawab salah satu dari mereka sambil menunjuk ke arah kanan.


King mengangguk-angguk, "Aman?"


"Aman Bos."


"Bagus!"


King lalu tersenyum misterius pada Alex dan Kayla, "Kalian tau siapa yang juga disekap kayak kalian di ruangan sebelah? Dia biang keroknya, pengkhianat, pecundang, bedebah. Cihh!" King berdecih sadis setelahnya.

__ADS_1


"Kalo kalian berada disini, itu karena dia, salah dia, dan buat dia. Jadi.. kalo mau marah mau ngomel atau mau mohon-mohon.. ke dia aja jangan ke gue." Lanjutnya lempeng seraya mengedikkan bahu.


"Oh oke, biar gue kasih tau siapa yang gue maksud. Mungkin kalian lupa, karena kalian udah bahagia." cibir King lagi.


Kemudian King menunjuk ke arah sebuah benda persegi yang terletak di atas pintu, benda itu menyerupai ventilasi yang besar namun ternyata itu bukan ventilasi melainkan.. layar monitor cctv. Ketika King menunjuknya, muncullah gambar seseorang yang terbelenggu seperti Alex dan Kayla, di layar monitor cctv itu. King mulai bicara padanya, membuat orang itu mengangkat kepalanya sehingga Alex dan Kayla dapat mengenalinya.


Duaaarr.......


"Papi.."


"Om Arman!"


Alex dan Kayla terbelalak melihat Arman yang dibelenggu oleh King dan anak buahnya. Jadi Arman lah yang disebut King sebagai pengkhianat? King tertawa bebas sepuasnya setelah melihat raut keterkejutan dan ketidak percayaan di wajah Alex dan Kayla. Kayla baru ingin mengatakan sesuatu pada papinya lewat layar monitor itu, tapi King mematikan monitornya.


"Kenapa King bilang papi pengkhianat, padahal kan papi juga anak buahnya, bahkan tadi pagi..." Kayla membatin.


"Heh!" King memegang rahang Kayla sehingga kepala Kayla sontak terangkat dan ia terperanjat kaget.


"Gara-gara papi sialan lu itu rencana gue sampe tertunda berbulan-bulan." ucapnya geram.


Kayla mengernyit bingung. Sementara Alex yang menyaksikan King menyentuh Kayla dengan kasar dan menatapnya sengit seperti itu, lantas meradang.


"Heh brengsek! Lepasin tangan kotor lu dari dia!" gertak Alex.


King menoleh, tertawa remeh mendengar gertakan Alex. "Nggak suka? Hentiin gue kalo bisa, jangan cuman teriak doang dong! Hahahaha......"


Para anak buah King pun ikut menertawakan Alex. Alex sungguh kesal dan menyesal, ia terbelenggu rantai, bahkan untuk beranjak dari tempat duduk laknat ini saja ia tidak mampu, bagaimana ia bisa menjauhkan Kayla dari King.


King lalu berdiri tegak sambil berkacak pinggang, menghadap ke arah Alex tanpa beranjak dari tempatnya. "Gara-gara elu bisnis gue hancur, dan gara-gara calon mertua lu gue harus tunda rencana besar gue ini selama berbulan-bulan."


King berdecih, lalu tersenyum sombong seraya mendesah lega sebelum melanjutkan kata-katanya. "Tapi hari ini, nggak ada yang bisa halangin gue. Si pecundang Arman udah K.O, elu dan anak kesayangannya ini.. juga udah digenggaman gue. Hahahahaha...."


Alex masih tidak mengerti apa yang dibicarakan pria tak waras didepannya itu, apa yang dia sombongkan?


"Tenang dulu, nggak perlu tegang.. eksekusinya ntar malam kok. Sekarang kalian nikmatin aja dulu sisa waktu kalian disini, hm!"


Alex dan Kayla saling melirik awalnya, namun netra keduanya tak lantas beralih begitu saja setelah bertemu. Jadilah keduanya saling menatap, meski dari jarak jauh. Perasaan yang telah lama terpendam pun menguar lewat tatapan itu. Tapi hanya dalam durasi yang singkat sebelum King memisah tatapan mereka.


"Oke oke.. dipending dulu baper-baper nya ya..!" ledek King sambil menjentikkan jarinya beberapa kali kehadapan Kayla.


King kemudian duduk kembali di kursinya. "Rencana eksekusi kalian ntar malem, tapi sebelum itu gue mau ramal sesuatu dulu buat kalian. Hahahaa...." Lagi-lagi tawa memuakkannya itu yang mengganggu pendengaran Alex dan Kayla.


Alex dan Kayla kembali saling melirik, rupanya King tidak tahu kalau Alex dan Kayla tidak memiliki hubungan lagi. Dia mengira Alex menantu Arman, jadi karena itukah dia menculik Alex juga?


"Tunggu! Apa salah papi, kenapa anda marah sama papi saya dan bilang kalo papi pengkhianat?" tanya Kayla memberanikan diri.


King menyeringai, "Oh jadi papi tersayang elu belum bilang? Hahahaa... dasar pecundang."


"Biar gue jelasin." ujar King seraya beranjak kemudian menunduk didepan Kayla, menatap bengis wajah Kayla seolah dia sedang menatap Arman. Alex yang melihatnya kembali dibuat resah, sementara Kayla hanya bisa menyembunyikan wajahnya takut.


"Pertama si pecundang itu berani mikir kalo gue nipu dia. Kedua gara-gara dia, elu, dan tunangan sialan lu itu.. bisnis gue ancur. Ketiga selama dipenjara dia berusaha ngehalangin rencana gue diam-diam, main belakang. Waktu gue labrak dia bukannya minta ampun sama gue tapi malah nantangin, orang yang gue percaya selama bertahun-tahun buat nanganin bisnis gue.. dia malah berkhianat." ucap king geram dengan nada yang rendah dan kalimat-kalimatnya yang ia tekankan.


Tatapan King lalu beralih pada Alex. "Saat gue mau balas dendam ke orang yang ngehancurin bisnis gue, dia nggak dukung gue tapi ngebela orang itu."


Alex menaikkan alisnya tak percaya, begitu juga Kayla. Benarkah papi Kayla lebih memilih membela Alex daripada mendukung King?


King kembali menatap Kayla, ia mengangkat dagu Kayla membuat Alex siaga. "Saat gue udah dapetin konglomerat New York buat barang bagus ini, gue kabur dari penjara demi suksesin transaksi itu. Tapi apa, si pengkhianat itu juga ikutan kabur dari penjara, buat ngehalangin gue!"


"BUAT GAGALIN BISNIS GUE, DENGER LU!!" bentaknya sambil menyentak wajah Kayla kasar.


Alex dan Kayla sama-sama terkejut dengan semua pernyataan King. Jadi karena itulah King menyandera Arman juga? King ingin balas dendam pada Arman dengan melibatkan Kayla dan Alex dalam rencananya? Jadi Arman disini karena mencoba menghalangi King, bukan mendukungnya? Arman mengkhianati King demi menyelamatkan Kayla dan Alex dari dendam King?


Kayla tertegun, terharu juga merasa bersalah. Jadi sebenarnya.. papinya datang untuk menyelamatkannya, bukan mengulangi kejahatannya. Kayla menyesal baru mengetahui itu, jika ia tahu sebelumnya maka mungkin ia dan papinya tidak akan berada disini, dan Alex juga pasti tidak akan ada disini.


(Flashback On)


Aaaakh.........


Beberapa orang perempuan menjerit seraya berebut keluar dari toilet khusus perempuan. Seorang pria berjaket dengan masker menutupi sebagian wajahnya tiba-tiba masuk ke toilet perempuan, sontak saja para perempuan di toilet pergi secepat kilat, namun sialnya pria itu menutup pintu toilet sebelum Kayla sempat keluar, atau pria ini sengaja menghentikan Kayla?


"Tolong...!" teriak Kayla panik. "Jangan-.."


"Kayla ikut papi sekarang!" sergah pria itu.


Kayla terperanjat kaget, ia sontak diam. Arman lekas memegang tangan Kayla, juga dengan tangan lainnya yang merangkul bahu Kayla.


Kayla tak bergeming, ia menatap sang papi was-was. "Pa..pi..?" ujar terbata-bata.


"Kayla papi mohon, demi kebaikan kamu ikut papi sekarang."

__ADS_1


Kayla menggeleng seraya melepaskan rangkulan papinya. "Enggak. Aku nggak percaya sama papi. Kenapa papi ada disini, harusnya kan papi dipenjara. Papi kabur?"


"Kayla, itu nggak penting sekarang. Yang penting keselamatan kamu." desak Arman.


"Keselamatan aku? Papi ngomong soal kebaikan aku? Emang apa yang bisa terjadi sama aku, justru aku nggak aman kalo aku deket papi. Jawab aku pi, papi kabur dari penjara?"


"Kayla-.."


"Papi kabur? Iya pi?" desak Kayla balik.


"Iya, papi kabur. Papi-.."


"Dan papi mau aku percaya sama papi?" Kayla terkekeh getir, "Plis pi, aku capek berurusan sama papi. Hidup aku udah tenang sekarang, jangan bawa masalah apapun lagi buat aku pi..!" Sejujurnya Kayla benci bicara seperti itu pada papinya, tapi ia takut terjadi hal buruk lagi yang bisa membuatnya trauma seperti sebelumnya.


Arman nampak tertegun, menatap Kayla sendu. Kayla memalingkan wajahnya dari sang papi seraya menghapus air matanya.


"Maafin papi. Tapi kali ini papi nggak ada niat jahat, papi bener-bener mau kamu aman, papi dateng buat ngelindungin kamu. Papi nggak lari dari hukuman, papi janji setelah papi mastiin keselamatan kamu papi akan balik ke penjara. Papi cuman kabur sebentar, buat kebaikan kamu nak. Papi nggak mau nyesel seumur hidup."


Kayla terenyuh, suara papinya terdengar parau namun juga tegas. Kayla bisa merasakan sesuatu dihatinya saat mendengar ucapan papinya, tapi.. benarkah yang dikatakan papi? Apa papi yang sudah berkali-kali menyakitinya dan mengecewakannya ini bisa dipercaya kali ini?


Tidak! Logika Kayla membantah, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan percaya pada papinya lagi setelah tragedi yang lalu. Ia tidak mau menyesal lagi dan terjebak lagi oleh kasih sayang palsu yang papinya tunjukkan. Kayla tidak boleh lemah dan terkecoh kali ini, ia tidak akan membuat mami bersedih lagi dengan mencoba percaya pada papinya.


"Aku nggak bisa percaya sama papi."


"Kayla.." Arman mendekat seraya meraih tangan Kayla.


"Stop! Papi pergi dari sini atau aku teriak!"


Arman mendengus, "Kayla-.."


"Papi pergi atau aku teriak!" gertak Kayla


Dug dug dug


Pintu toilet digedor. "Buka pintunya, siapapun didalam buka pintu sekarang!" ujar suara berat dari luar.


"Liat pi, papi nyamperin aku di tempat umum dan orang diluar pasti panik. Kalo papi emang nggak ada niat jahat papi akan buka pintu itu dan nggak akan kabur."


"Nak, papi nggak ada niat jahat dan nggak akan kabur, tapi papi nggak bisa biarin kamu keluar dari sini tanpa papi. Kamu dalam bahaya-.."


"Justru aku akan bahaya kalo papi tetap maksa aku." sela Kayla untuk yang kesekian kalinya.


"Maafin papi, tapi papi emang harus maksa kamu kalo kamu nolak kayak gini. Tolong percaya sama papi, ini papi kamu sendiri Kayla!" Arman memohon.


"Papi tau apa aja yang selama ini papi lakuin ke aku, dan papi masih mau aku percaya sama papi?"


*D*ug dug dug


"Buka pintunya atau kami dobrak?!" tegur suara dari luar lagi.


"Terserah kamu mau liat papi kayak gimana. Papi cuman minta kamu percaya sama papi kali ini aja nak, papi nggak mau nyesel seumur hidup dengan biarin kamu berada dalam bahaya. Papi tau papi salah, tapi kali ini aja.. kali ini papi bener-bener pengen nebus kesalahan papi."


dug dug dug


Brakk


Pintu mulai didobrak. Arman merasa semakin terdesak, begitu juga Kayla. Kayla mulai bimbang apakah ia harus percaya pada papinya atau bertahan pada tekadnya. Kayla takut salah langkah, dan Arman takut gagal menyelamatkan putrinya.


Brakkk


Pintu terbuka, nampaklah dua orang satpam supermarket bersama dua orang perempuan yang sebelumnya juga ada di toilet bersama Kayla. Rupanya dua perempuan itu yang melapor pada satpam.


Satpam mengamankan Arman dan Kayla ke ruang lapor di supermarket itu. Kayla semakin bimbang melihat Arman terus membujuk Satpam agar percaya bahwa dia tidak berbuat jahat dan hanya ingin menyelamatkan putrinya. Terlebih lagi Arman menepati janjinya pada Kayla, bahwa dia tidak akan kabur meski tertangkap. Namun akhirnya Kayla tetap mengedepankan akalnya yang sulit mempercayai kejujuran papinya yang merupakan seorang narapidana itu. Kayla meminta satpam menyerahkan papinya pada polisi, lalu pergi. Kayla bisa mendengar permohonan sekaligus ancaman Arman kepada satpam disana, Arman meminta setidaknya ada orang yang bisa menjamin keamanan putrinya jika dia sendiri tidak diizinkan untuk mendampingi putrinya. Kayla sempat goyah akan keputusannya mengabaikan sang papi, tapi kemudian ia tetap pergi karena takut membayangkan hal buruk dimasa lalu akan terulang kembali.


(Flashback Off)


Air mata Kayla kembali mengaliri pipinya, ia menyesal tidak mempercayai sang papi. Ia tidak tahu jika papinya memang ingin menyelamatkan dirinya bukan mencelakai. Ia tidak tahu kalau sang papi telah berubah, kembali menjadi papinya yang dulu, dan menjadi pengkhianat bagi King. Andai saja Kayla tahu, harusnya keadaan buruk yang saat ini mereka alami tidak terjadi.


Sekarang Kayla merasa bersalah terhadap papinya, dan juga terhadap Alex. Apa yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki kesalahan ini, sedangkan ia, Alex dan juga papi tengah dibelenggu saat ini.


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2