Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Sengaja


__ADS_3

Kayla melangkah keluar dari ruang koperasi sekolah, dengan membawa setelah seragam ditangannya. Beberapa menit yang lalu, Alex membawanya ke toilet pria. Alex jengkel padanya dan memintanya bertanggung jawab karena telah menyebabkan baju seragam Alex kotor akibat tumpahan kuah bakso. Alhasil Kayla pergi ke ruang koperasi dan mengambilkan seragam untuk Alex. Baru beberapa langkah ia keluar dari ruang koperasi, Jessica berdiri dihadapannya menghentikan langkahnya.


Jessica memandangi Kayla dari ujung kaki sampai ujung kepala, dengan gaya angkuhnya.


"Itu seragam buat Alex?" tanyanya ketus.


"lya." singkat Kayla.


"Sorry ya Jes, aku gak bermaksud permaluin kamu kok. Aku-.."


"Ck, halaaah... bilang aja lu caper sama Alex! Sini seragamnya!"


"Tapi Alex minta aku sendiri yang kasih seragamnya ke dia"


"Gue yang udah bikin seragam Alex kotor, jadi gue juga yang bakal kasih seragam ganti buat dia!" Jessica merebut baju seragam dari tangan Kayla.


"Tapi yang salah kan aku, kamu gak sengaja Jes.."


"Diem lu! Niat lu mau ngerjain Alex kan? Yaudah, kalo gitu ngapain lu ngasih seragam ini ke dia. Abis lu kerjain trus lu sok perhatian gitu?"


Kayla mendengus, "Bukan gitu Jes, tapi-.."


"Dimana Alex nya?" tanya Jessica menyela.


"Di toilet." jawab Kayla singkat.


"Biar gue aja!" ucapnya sebelum berbalik meninggalkan Kayla.


Kayla hanya mendengus sambil mengedikkan bahunya. la lalu tersenyum geli, karena ia justru senang Jessica mengambil alih pekerjaannya. Jadi ia tidak perlu repot-repot menemui Alex dan memberikan seragam itu pada Alex. Kayla kemudian berbalik, berjalan menuju kantin untuk melanjutkan makannya.


Kayla hanya merasa tidak enak karena satu hal, tadi Alex memintanya membawakan seragam ganti untuknya. Alex memperingatkan Kayla dengan keras jika harus Kayla sendiri yang datang dan memberikan seragam itu padanya. Tapi sekarang Jessica lah yang akan datang, bukan Kayla. Apa Alex akan marah? Ah, sudahlah. memangnya kenapa jika dia marah, Kayla kan sudah terbiasa menghadapi kemarahan Alex.


Sementara Alex yang sedang berada di toilet dan menunggu Kayla, tersenyum smirk saat ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah toilet. Alex sudah melepas seragamnya yang kotor, juga membersihkan sebagian tubuhnya yang terkena tumpahan kuah bakso. Saat pintu toilet diketuk, dengan cepat Alex membukanya. Tapi yang ia harapkan tidak terjadi sesuai dengan rencananya.


Alex terbelalak kaget sekaligus kesal, melihat siapa yang ada dihadapannya. la segera merebut seragam yang dipegang Jessica dan menutup pintu dengan membantingnya keras didepan muka Jessica.


"Ck, ah.. sial!" umpatnya geram.


Tadinya Alex berencana untuk mengejutkan Kayla. Ketika Alex membuka pintu, maka Kayla akan terkejut melihat tubuh bagian atas Alex yang telanjang. Tapi ternyata yang datang bukan Kayla, melainkan Jessica. Jadilah Jessica yang melihat tubuhnya, bukan Kayla. Alex merasa menyesal langsung membuka pintu tadi, tidak memastikan dulu siapa yang datang. Alex mendengus kesal sambil mengenakan seragamnya.


Sementara Jessica yang terperangah masih terpaku dengan apa yang dilihatnya barusan. Mulutnya sampai terbuka dan matanya membulat sempurna saat melihat dada telanjang Alex dan perutnya yang sixpack tadi. la memegang dadanya sendiri yang bergemuruh karena saking deg-degannya.


Jessica terkekeh takjub, meski pintu toilet yang menampakkan pemandangan mempesona itu sudah tertutup, mata Jessica tak lantas berkedip.


"Ya ampun... gila! Keren banget... uwh.." desahnya bergumam sendiri.


Belum selesai Jessica dengan renungan takjubnya, dua orang siswa datang untuk masuk ke toilet. Keduanya menatap Jessica bingung, tentu saja karena ekspresi Jessica yang terlihat aneh, tersenyum sendirian sambil menatap pintu toilet dan menempelkan tangannya didada.


"Jes, ngapain lu?" tanya salah seorang siswa.


Jessica terkesiap, ia berdehem kecil untuk  membuang malunya. "Apa urusan lu, kepo!" sahut Jessica ketus.


"Elu lagi nunggu seseorang apa mau masuk ke dalem?" tanya siswa lainnya.


"Pe'ak lu, ngapain gue ke toilet cowok?!" kesal Jessica kemudian pergi dari sana.


... ....


... ....


... ....


Langkah Kayla terhenti ditengah jalan, karena Bima, Sandi, dan Vicky menghadangnya. Bima menjentikkan jarinya satu kali, memberi kode agar Kayla mengikuti mereka. Kayla mengerti, mereka bertiga pasti ingin tahu keputusan Kayla terkait tiga permintaan mereka kemarin.


Kayla mengikuti langkah mereka sampai mereka berhenti di aula sekolah. Bima, Sandi, dan Vicky berdiri berhadapan dengan Kayla, mereka menatap Kayla serius dengan kedua tangan masing-masing berkacak pinggang. Kayla menelan salivanya sebelum mengatakan sesuatu.


"Jadi..?" tanya Bima.


"Aku gak bisa." jawab Kayla tegas.


"Elu yakin?" tanya Sandi.


"Ya, aku yakin. Aku gak akan lakuin tiga hal yang kalian minta."


"It's okay.. Kita gak bakal terima Alex lagi" ucap Vicky.


Kayla terdiam, meski ia memikirkan Alex tapi ia yakin kalau ia tidak akan melakukan tiga hal yang diminta oleh tiga pria dihadapannya ini. Karena tiga hal itu merugikan Alex juga diri Kayla sendiri. Kayla pikir, dikerenakan kemarahan dan rasa kecewa Bima, Sandi, dan Vicky meminta itu darinya, dan itu tidak benar. Mereka bertiga harus mengontrol perasaan mereka dan meredakan amarah mereka, agar bisa berpikir jernih dan penuh pertimbangan. Meski butuh waktu, tapi itu tidak masalah. Biarkan mereka mengerti dulu, dan Alex bersabar menghadapi mereka. Dengan seiring berjalannya waktu, Kayla berharap mereka bertiga bisa memaafkan dan memaklumi Alex, dan Alex juga bisa menghargai mereka.


"Waktu yang bakal mutusin, apa kalian bakal terima Alex lagi atau enggak." Kayla berbalik setelah mengatakan itu.


"Jangan nyesel.. elu nolak tantangan kita, kita tetap bisa ngewujudin tiga hal itu!" Bima memperingatkan.


Kayla mengepalkan kedua tangannya, merasa gentar. Tapi ia berusaha bertahan pada keputusannya.


"Aku gak akan nyesel sama keputusan aku. Justru mungkin kalian yang bakal nyesel karena nyoba buat nyakitin teman kalian sendiri!" ucap Kayla membelakangi mereka, tanpa berbalik.


"Heh, sayangnya dia bukan teman kita lagi. Yang pasti bakal nyesel itu dia, karena gak ngehargain kita!" cibir Vicky.


Kayla berbalik, "Kalian perlu waktu buat mikir, yang kalian lakuin itu benar apa enggak? Yang kalian rasain itu sebenarnya apa, coba liat hati kalian sendiri! Jangan nyimpen dendam, apalagi sama teman kalian sendiri" ucap Kayla tegas.


Setelahnya Kayla benar-benar pergi, meninggalkan ketiga pria itu dalam diam, juga meninggalkan kata-kata yang membekas dibenak mereka.


Meski mereka bertiga tidak berminat menerima kata-kata Kayla yang sarat akan sindiran itu, nyatanya mereka terpikir juga. Hati mereka seolah tak sejalan dengan otak mereka. Mana mungkin hati berbohong tentang perasaan yang ada didalamnya, meski otak mereka menentangnya dan enggan memikirkannya.


... ________________...


"Oke anak-anak, pelajaran kita cukup sampai disini. Jangan lupa PR yang halaman 41 tadi, dikumpul hari Senin yal!" tutur Bu Weni menutup pelajaran.


"Baik, Bu!" sahut para murid serentak.


Setelah Bu Weni keluar kelas, Nia segera mengubah posisi duduknya menyamping, menghadap Kayla.


"Kay, ada apa?"

__ADS_1


"Apanya Ni?" bingung Kayla.


"Kamu tadi, apa coba maksudnya, kamu sengaja ngerjain Alex pake jadiin Jessica lagi sebagai umpan! Kamu pikir itu lucu?!" sungut Nia.


Kayla mendengus senyum, "Ini permulaannya aja Ni! Aku bantu Alex loh.. dia pengen belajar ngendaliin emosinya, jadi aku pancing aja dia." sahut Kayla santai.


"Trus, dia marah kan! Kamu pikir segampang itu ngendaliin emosi, Alex kan anaknya emang emosian dari sananya!"


"Ih, tau dari mana kamu kalo Alex emang emosian dari sananya?!" celetuk Kayla.


"Serius tau Kay, masih untung kamu gak diapa-apain."


"Ni, kamu lupa siapa Alex? Dia gak bakal ngapa-ngapain aku. Lagian tadi itu aku cuman nyoba kok, justru dari sana dia bakal belajar ngelatih emosinya. Udah deh kamu tenang aja pokoknya." kata Kayla santai, membuat Nia mendengus pasrah.


Nia dan Kayla beranjak keluar kelas. Sambil berjalan menuju gerbang sekolah, keduanya melanjutkan perbincangan.


"Kay, btw tadi kamu diajak kemana sama Alex? Trus ngapain aja?" tanya Nia kepo.


"Ke toilet" singkat Kayla.


"Ke toilet? Ngapain ke toilet, kamu serius gak diapa-apain kan sama dia?"


"Ya enggak lah, Ni! Alex cuman minta aku bawain seragam ganti buat dia, udah gitu doang."


"Dia marahin kamu juga? Apa kamu dikasarin sama dia?"


Kayla tertawa kecil, "Kepo banget sih, Nia. Dia cuman marah sebentar kok"


Nia menggeleng-geleng tak habis pikir. "Aku heran Kay, kamu kok gak ada takut-takutnya ya sama Alex!"


Kayla mengernyit seraya tersenyum miring. "Jangan bilang karena dia Mr Strawberry." ujar Nia.


"Enggak kok, aku kan gak tau dari awal kalo dia Mr Strawberry. Pas pertama kali kita ketemu di sekolah, aku juga takut kok liat dia. Secara mukanya yang flat, sama tatapannya yang tajam itu kan nyeremin."


"Nah itu dia! Trus Kay, apa yang bikin kamu biasa aja sama Alex setelah itu? Kamu berani nentang dia, sampe nantangin lagi"


"Emm.. apa ya, mungkin karena aku sebelumnya udah pernah kenal cowok model kayak dia kali." ujar Kayla sekenanya.


"Apa? Kamu pernah kenal cowok kayak Alex, gimana maksudnya?" bingung Nia.


Kayla mendengus senyum, "Maksud kamu..di sekolah sebelumnya kamu dibully juga?" tanya Nia semakin penasaran.


"Bukan gitu Ni. Di Bandung, aku punya temen cowok yang cool dan flat kayak Alex, dia ganteng sama populer juga di sekolah, tapi playboy sih. Kadang dia tuh nyeremin, kadang juga malah ngelindungin aku"


"Oh ya?" takjub Nia. "Gantengan Alex apa dia Kay?" tanyanya kepo.


"Gimana ya.. aku sih paling gak pinter bandingin kegantengan cowok. Haha.. lagian kamu kepo banget sih, Ni"


"Dia emang teman kamu, apa sebelumnya musuhan juga kayak kamu sama Alex?"


"Kita emang temenan dari kecil. Makanya semenakutkan apapun dia buat orang-orang, aku biasa aja sama dia, karena emang udah terbiasa."


"Btw, kenalin dong aku sama dia." ujar Nia pelan seraya menyengir.


Nia cemberut, membuat Kayla terkekeh geli. "Namanya siapa Kay?" tanya Nia lagi.


"Namanya-.."


"Kayla.. Nia..!" seru seseorang dari belakang, membuat Kayla dan Nia menoleh, kalimat Kayla pun terhenti seketika.


Anggita yang mengendarai motornya menghampiri Kayla dan Nia. "Keasyikan ngobrol ya kalian bedua, parkiran udah lewat."


Kayla dan Nia mengernyit bingung. "Maksud aku, kalian udah ngelewatin parkiran." ralat Anggita.


Kayla dan Nia mendengus. "Ya..emangnya kenapa Ta?" tanya Nia bingung.


"Lah.. motor kamu mau ditinggal Kay?" Anggita tertawa kecil.


"Kamu ke sekolah bawa motor Kay?" tanya Nia.


Kayla menggeleng bingung, "Motor aku Ta? Cuman mirip kali" kata Kayla.


"Eh.. itu motor kamu lah, aku kenal plat motor kamu." ujar Anggita, membuat Kayla bingung.


Kayla mengernyit berpikir. Ya ampun.. Kayla baru ingat, kemarin kan motonya dibawa oleh Alex. Apa jangan-jangan Alex benar-benar berangkat ke sekolah dengan motor Kayla? Lucu kedengarannya, memangnya Alex mau mengendarai motor Kayla ke sekolah, memangnya dia tidak malu dilihat orang-orang!


"Emm... hehe iya, aku lupa." ujar Kayla cengengesan.


"Jadi kamu bawa motor Kay?" tanya Nia lagi.


"Ya iyalah, kalo bukan Kayla yang bawa tuh motor, siapa lagi! Gak mungkin kan motornya datang sendirian ke sekolah.. haha.." celetuk Anggita.


"Yaudah..aku balik ya, Ni.. Ta.!" kata Kayla kemudian berbalik dan menuju parkiran sekolah..


... ....


... ....


... ....


Sesampai Kayla di parkiran, ia tidak melihat motornya. Meski ada banyak motor di sana yang masih terparkir, juga sebagiannya sudah lalu lalang di sekitar Kayla, Kayla tentu bisa mengenali motonya dengan sekali lirikan saja.


"Mana? Ah, jangan-jangan Anggita ngerjain aku." gumam Kayla.


Ah sudahlah, daripada Kayla buang-buang waktu untuk mencari motornya yang belum tentu sungguhan ada di parkiran sekolah, lebih baik Kayla langsung saja ke halte, untuk menunggu angkot langganannya.


Saat Kayla hampir sampai di halte, angkot langganan Kayla melaju begitu saja. Sontak Kayla panik dan mengejar angkotnya.


"Bang.. tunggu Bang.. saya belum naik!" teriak Kayla sambil melambaikan tangan.


Kayla mendesah pasrah karena angkotnya terus melaju, meninggalkannya sendirian di halte.


"Yah.. angkotnya pergi. Masa' aku pulang jalan kaki.." rengek Kayla sendiri.

__ADS_1


"Kenapa harus jalan kaki kalo ada motor" seru sebuah suara dari belakang Kayla.


Tett..tett..!


Suara klakson motor pun menyapa Kayla, mengiringi suara seseorang yang menyerunya tadi. Detik berikutnya motor itu berhenti disamping Kayla. Kayla menaikkan alisnya melihat siapa yang menghampirinya.


"Alex?"


"Hai.." sapa Alex.


Kayla mengernyit menilik Alex dan motornya, "Ya ampun Al. kamu beneran ke sekolah pake motor aku?"


Alex mengedikkan bahunya santai. "Ayo naik!"


"Hah?"


"Ayo naik, aku anter pulang!"


"Ini motor aku Al, kamu niat balikin apa enggak sih? Malah nawarin nganter pulang."


"lya, aku anter kamu pulang, sekalian balikin motor kamu."


"Aku bisa pulang sendiri." ucap Kayla cuek.


"Oh, yaudah. Motornya aku bawa lagi aja kalo gitu, aku anter motor kamu langsung ke rumah kamu ya! Kamu kalo mau pulang sendiri, tunggu aja angkot!" ucap Alex seenaknya.


"Apaan sih Al! Kamu yang turun, biar aku bawa motor sendiri! Angkot aku juga udah jalan, kamu mau aku nunggu angkot sampe sore disini?!" sungut Kayla.


Alex terkekeh, "Aku tau"


"Tau apa?" bingung Kayla.


"Kalo angkot kamu udah jalan" sahutnya sambil menaik turunkan alisnya.


Kayla jadi curiga pada Alex. "AI, jangan bilang kalo kamu sengaja ngebiarin angkot aku pergi duluan?"


Alex menatap Kayla takjub, "Woww.. kok bisa tau?"


Malah itu jawaban Alex, membuat Kayla kesal saja. "Apa?" ucap Kayla tak percaya.


"lya aku sengaja nyuruh supir angkotnya jalan, biar kita bisa pulang bareng"


Kayla mendengus lesu, "Apa-apaan kamu Al, bisa-bisanya kamu sengaja ngerjain aku gini.."


"Kamu juga sengaja kan tadi ngerjain aku, dua kali lagi! Pertama di kantin, trus di toilet. Ngapain kamu nyuruh Jessica yang ngasih seragamnya?" sungut Alex.


"Jadi ceritanya kamu ngebalas aku?" Kayla terkekeh, "Oke..." gumamnya seraya mengangguk.


"Soal ngasih seragam, Jessica sendiri yang kekeuh mau nganter ke kamu, yaudah aku ngalah aja. Kalo soal di kantin, aku sengaja nguji kamu Al!"


"Nguji?" Alex mengernyit bingung.


"lya. Katanya kamu mau belajar sabar, belajar ngendalin emosi, iya kan?"


Alex mendengus, "Gak harus kayak gitu juga kali caranya.." rengek Alex geregetan.


"Jadi Al, apa aja yang kamu lakuin hari ini? Kamu udah mulai sesuatu belum buat diri kamu sendiri?" Alex mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Ngehindarin pertanyaan aku ya?" sindir Kayla.


"Apa sih Miss Kissable, udah ah! Ayo naik, panas nih." katanya mengalihkan.


Kayla diam sambil menilik motornya. la ragu dan canggung jika harus berboncengan dengan Alex.


"Kemarin malam kamu yang bonceng aku, sekarang aku yang bonceng kamu" kata Alex.


Kayla masih diam.


"Ayo!" ulang Alex seraya memberikan sebuah helm pada Kayla.


"Eh?" Kayla tersenyum heran melihat helm nya. Kayla melirik Alex, ternyata Alex memakai helm nya sendiri.


"Sengaja. Karena kamu nolak berangkat bareng, jadi aku pastiin kamu harus mau pulang bareng aku."


"Maksa nih..?" celetuk Kayla.


Alex memperhatikan wajah Kayla, ia tersenyum penuh arti. "Apa aku jahat merlakuin kamu kayak gini?"


"Maksudnya?" bingung Kayla.


"Aku gak mau kamu ngelakuin sesuatu buat aku karena terpaksa. Kalo kamu ngerasa aku maksa kamu, kamu gak perlu nurutin aku"


Kayla terkekeh geli, "Apa sih Al, ngambek nih ceritanya?" ujar Kayla menyengir.


"Al, kalo kamu ngerasa aku maksa kamu buat belajar berubah, jangan lakuin!" ucap Kayla serius.


"Enggak kok Miss Kissable, iní emang mau aku, keputusan aku. Kamu cuman ngebimbing aku, aku bersyukur kamu hadir dihidup aku." balas Alex serius.


"Oke, sini helm nya!" pinta Kayla, membuat Alex tersenyum senang.


Meski merasa canggung, Kayla tetap setuju dibonceng oleh Alex. Ada beberapa orang siswa dan siswi yang masih berkeliaran di sekitar sekolah dan melihat Alex dan Kayla mengendarai motor berboncengan, mereka heran karena Alex dan Kayla terlihat akrab. Alex hanya mengabaikan mereka, biarlah mereka beranggapan sesuka hati mereka. Toh Alex tidak bisa berlama-lama menyembunyikan perasaannya pada Kayla, dan menahan dirinya untuk tidak mendekati Kayla.


Sebenarnya Kayla merasa risih, tapi Alex memintanya agar relaks dan tidak perlu memperdulikan mereka. Sepanjang perjalanan mereka mengobrol untuk menghilangkan situasi canggung diantara mereka berdua.


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2