
Dua hari setelah gips di kakinya di lepas, Alex akhirnya kembali masuk sekolah. Satu-satunya yang Alex rindukan saat kembali ke sekolah adalah Miss Kissable. Tentang pelajaran, suasana sekolah, dan yang lainnya ia tidak peduli.
Sejak Alex memasuki gerbang sekolah, kemudian memarkirkan mobil sport nya, sampai ia berjalan menuju kelasnya, semua mata hanya tertuju padanya. Kerinduan para fans nya pun terobati setelah melihat pangeran tampan mereka kembali ke sekolah. Seperti biasa Alex berjalan dengan gaya cool nya yang memukau, ia memiliki postur tubuh yang tinggi ideal untuk ukuran seorang pemuda, sorotan matanya yang tajam, hidungnya yang mancung, rahangnya yang tegas dan bibir tipisnya yang sensual dapat memikat mata para gadis yang melihatnya. Termasuk gadis baru yang bergabung di sekolahnya, dia bukan murid tapi guru.
Felisha Wardhana Arum, seorang guru muda berusia 25 tahun yang mengajar di bidang kesenian. Dia mulai mengajar di SMA Putra Bangsa sejak beberapa hari yang lalu. Dan sekolah ini adalah sekolah pertama yang ia masuki setelah ia diterima menjadi guru tetap. Sebelumnya ia hanya seorang guru honorer di salah satu sekolah di IbuKota.
Hari ini pemandangan nan indah terpampang di depan mata Felisha. Dia seorang gadis yang normal tentu saja ia terpukau melihat ketampanan Alex, sama seperti gadis yang lainnya.
"Seganteng ini, luar biasa! Dia terlalu sempurna untuk jadi anak berusia 17 tahun! Kenapa gak seumuran aku..?" gumamnya dalam hati.
Kemudian ia tersadar, ia merasa seperti orang bodoh, yang melongo takjub karena melihat salah satu murid yang tampan.
"Hufft.. apa-apaan sih aku?! Ingat Feli, kamu guru disini, dan dia murid" rutuknya dalam hati.
Alex berjalan gontai dengan sebelah tangan yang ia masukkan ke saku celananya, dan sebelah tangannya memegang gagang tas yang ia selempangkan di sebelah bahunya. Bima, Sandi, dan Vicky yang berjalan bersamanya terhenti di depan kelas mereka, dan ketiganya bingung melihat Alex berjalan melewati kelas mereka. Tidak mungkin kan Alex lupa dimana kelasnya, hanya karena tidak masuk selama lebih dari satu bulan?
"Al!" seru Bima.
Alex pun menghentikan langkahnya, membiarkan ketiga temannya menghampirinya. Mereka menatap bingung ke arah Alex, dan Alex mengerti maksudnya.
"Mau kemana lu?" tanya Vicky.
Alex tentu tidak bisa menjawabnya, tidak mungkin kan ia bilang kalau ia ingin menemui Miss Kissable? Mereka kan tidak tahu kalau Miss Kissable juga sekolah disini, dan dia juga adalah gadis yang mereka kenal. Alex memikirkan alasan untuk menjawab pertanyaan itu.
Alex melirik ke sekeliling, ternyata ia sudah berdiri di dekat kelas Kayla. Tidak jauh didepannya ternyata gadis yang ia rindukan tengah berjalan menuju ke arahnya, lebih tepatnya ke arah kelasnya. Hati Alex begitu bahagia melihatnya, jantungnya mulai berdegup lebih kencang. la menahan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat berubah dan tetap datar seperti biasanya. Walaupun itu berat, karena bahasa tubuh selalu mengikuti dan menggambarkan isi hati kan?
Bima, Sandi, dan Vicky yang tak mendapatkan jawabannya pun lantas mengikuti arah pandangan mata Alex yang nampaknya terpaku pada satu objek. Mereka mengernyit saat menyadari Alex melihat kearah Kayla.
"Bro, jangan bilang lu liatin si cupu itu?" ujar Sandi nampak tak terima.
"Ngapain sih lu, Al?" tanya Vicky.
Kayla menghentikan langkahnya di depan Alex, tepatnya di depan kelasnya. Keduanya berdiri dengan jarak 1-2 meter yang sejajar dengan kedua sisi pintu kelas Kayla. Mata Kayla pun tertuju pada Alex, dan ia tersenyum tipis.
Tentu Kayla senang melihat Alex sembuh dan bisa berdiri dengan sempurna, sekarang pun Alex sudah bisa sekolah lagi. Tapi Kayla berusaha menahan dirinya agar tidak terlalu menunjukkan rasa senangnya itu berlebihan. Jika tidak, orang-orang yang melihatnya akan heran.
Keduanya saling menatap, seolah mereka berbicara lewat tatapan mata itu. Ada banyak kata yang ingin mereka ungkapkan, setelah tidak bertemu selama lebih satu bulan. Dan mata mereka seolah menyiratkan semua yang ada di dalam hati mereka.
Tidak ada yang berani lewat diantara mereka berdua, baik itu yang mau masuk kelas ataupun yang mau keluar kelas. Seolah-olah tatapan mata keduanya telah menutup dan mengunci jalan lewat.
"AI?!" tegur Bima sambil menepuk bahu Alex, membuat Alex tersadar dan reflek memutus tatapannya.
Alex baru sadar, ternyata bukan hanya Bima, Sandi, dan Vicky saja yang memperhatikannya dengan Kayla yang saling diam menatap, Tapi siswa-siswi lainnya juga. Alex jadi tersipu dan sedikit gugup, bagaimanapun juga ia tidak akan membiarkan mereka berprasangka atau menduga-duga hal yang negatif. Jangan sampai ada satu orang pun diantara mereka yang meremehkannya atau menganggapnya berubah, ia harus menjaga image nya dan harga dirinya di depan semua orang!
"Gue harus bikin perhitungan sama dia!" Kata Alex datar sambil melirik Bima, Sandi, dan Vicky.
la tahu kata-katanya cukup lancang untuk ia tujukan pada Miss Kissable, dan mungkin Kayla terkejut mendengarnya. Alex bahkan malu untuk menatap mata Kayla saat ia mengatakan itu. Tapi ia tidak bisa membiarkan harga diri dan ketegasannya dipertanyakan, apalagi setelah kejadian-kejadian sebelumnya yang terjadi antara ia dan Kayla. Entah apa yang mereka pikirkan tentang dirinya. Apapun itu, dimata mereka Alex harus terlihat tetap sama seperti dulu.
"Perhitungan?" bingung Vicky.
"Hm, cewek gak tau terima kasih ini harus dikasih pelajaran!" kata Alex lagi.
Alex tidak menatap Kayla saat ia mengatakannya, tapi setelahnya ia mencoba meliriknya sekilas. Alex cukup heran karena senyuman tipis Kayla tidak sirna dari bibir kissable nya, tapi malah mengembang.
"Owh.. good!" seru Sandi.
"Jadi, mau kita apain nih?" tanya Bima.
"Bukan kita, tapi gue." sahut Alex datar seraya tersenyum smirk.
Trririing... tririring...
Bel masuk berbunyi, membuat mereka semua membubarkan diri dari sana dan masuk ke kelas masing-masing.
... ....
... ....
... ....
Saat jam istirahat pertama, Alex dan ketiga temannya pergi ke markas pribadi mereka. Sudah lama Alex tidak duduk bersantai di sana, rasanya sangat menyejukkan mengingat selama sebulan ini ia hanya duduk di rumah saja.
"Jadi, rencana lu apa bro?" tanya Bima mengulangi.
"Ntar. Sekarang gue lagi pengen nyantai! Btw, selama gue gak ada, kalian kesini juga nggak sih?"
"Kadang-kadang. Gak seru sih, hampa juga rasanya bro gak ada elu! Kayak minum teh tanpa gula. Gak sempurna P-four tanpa elu." lakar Sandi membuat ketiga temannya tertawa geli.
"Salah alamat lu mau ngegombal!" Ledek Vicky.
"Eh Al, elu harus liat si guru baru itu! Cantik banget bro, baby face gitu dia. Semoga aja sih lu gak berpaling hati dari Miss Kissable." ujar Bima membuat Alex terkekeh.
"Ngapain lu ngomongin dia lagi, gak bakal tertarik gue! Emangnya lu berpaling hati dari Sissy pas liat dia?" ujar Alex remeh.
"Ya tetap Sissy lah! Lagian kan dia guru, kalo gue sama dia.. brondong dong? Amit-amit ah naksir sama cewek yang lebih tua." Sahut Bima.
"Halaaah.. tapi kalo ceweknya secantik Bu Feli mau kan lu?!" sergah Vicky.
"Kan gue bilang sayangnya dia guru, trus lebih tua dari gue. Kalo dia seumuran gue mah..."
"lya mau!" sambung Sandi sambil menertawakan Bima, sebelum Bima menyelesaikan kalimatnya, Vicky dan Alex pun ikut tertawa.
"Bro, gue ada usul nih buat Bu Feli" kata Bima membuat ketiga temannya menatap tanya ke arahnya.
"Jam pelajaran kedua ini Bu Feli masuk kelasXIl IPB, kita kerjain dia kayak yang waktu kita ngerjain Pak Rudi!" usul Bima.
__ADS_1
"Boleh juga." komentar Alex, merekapun tersenyum smirk.
... ....
... ....
... ....
Alex bersama ketiga temannya beraksi sebelum jam pelajaran kedua dimulai. Setelahnya keempat pria tampan yang berpengaruh ini memilih bolos dari jam pelajarannya untuk melihat rencana mereka apakah berhasil atau tidak, mereka tidak akan melewatkan keseruan ini.
Bu Feli pun masuk kelas, dan memulai pelajarannya. la mengambil sebuah kapur tulis untuk menuliskan materinya di papan tulis. Alex, Bima, Sandi dan Vicky fokus pada kapur tulis yang diambil Bu Feli. Ketika Bu Feli mulai menulis di papan tulis, dan baru satu huruf ia menulis, ia mengernyit bingung karena merasa ada yang aneh dengan kapurnya. Ia kemudian menulis lagi satu huruf, dan..
Srrett......
"Aww!" jerit Bu Feli sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Saat Bu Feli menggesekkan kapur ke papan tulis, kapur itu malah memantikkan api dan membuat jari Bu Feli terbakar, sehingga dengan reflek Bu Feli melepaskan kapurnya seraya menjerit.
Keempat pria jahil yang sedang mengintip di jendela menertawakannya. Sontak saja semua mata tertuju pada arah orang-orang yang tertawa itu, lalu beralih pada Bu Feli. Beberapa siswa yang terkejut akan kejadian itu pun menghampiri Bu Feli.
"Kenapa Bu?" tanya seorang siswa.
"Ada apa sama kapurnya?" tanya Bu Feli bingung.
Seorang siswa bernama Marchel yang merupakan ketua di kelas itu menunduk, mengambil kapur yang tadi dilempar Bu Feli. la memperhatikan kapur itu, dan ternyata itu bukanlah kapur asli. Di ujung kapur yang barusan dipakai Bu Feli tadi terdapat korek api, bukan satu tapi tiga batang korek api, pantas saja ketika digesekkan ke papan tulis bisa menyala. Siswa itu juga melihat dan mencium aroma tembakau dari kapur palsu itu, ia lalu mematahkan kapurnya dan keluarlah serbuk tembakau yang biasa terdapat dalam rokok.
"Astaghfirullah..." gumam seorang siswa.
"Rokok, sama korek?" heran Bu Feli.
Marchel mendengus, ia tahu siapa pelakunya yang membuat kapur palsu dan menjahili Bu Feli. Dan para murid lainnya juga pasti sudah bisa menebak, toh pelakunya sedang tertawa menang di luar kelas mereka.
Bu Feli pun emosi, melihat ke arah jendela dan mendapati siswa-siswa nakal yang juga menjahilinya kemarin itu. Bu Feli pun beranjak untuk menegur siswa-siswa nakal itu.
"Bu?" seorang murid mencoba menghentikan tapi ia bingung harus mengatakan apa.
"Maaf Bu, sebaiknya abaikan saja mereka." ujar siswi lainnya.
"Loh, kenapa? Kalian pasti juga mengira kalo mereka pelakunya kan, kenapa ibu gak boleh menegur mereka?" kata Bu Feli kemudian berlalu.
Saat Bu Feli sudah berada di luar kelas dan melangkah mendekati siswa-siswa nakal itu, mereka menghentikan tawanya. Bu Feli menatap tegas ke arah mereka tapi mereka nampak santai saja menghadapinya. Dan Bu Feli cukup terkejut melihat Alex ada bersama mereka. Sebelum langkah Bu Feli sampai ke hadapan mereka, tiba-tiba saja Bu Feli terpeleset.
Alex, Bima, Sandi, dan Vicky mendengus tawa kemudian mereka pergi begitu saja meninggalkan Bu Feli yang masih terduduk di lantai.
"Hei kalian!" tegur Bu Feli kesal.
"Bu?!" Marchel dan dua orang teman sekelasnya menyusul Bu Feli dan membantunya bangun.
"Anak-anak nakal!" gerutu Bu Feli sambil menatap kesal ke arah siswa-siswa nakal itu dari belakang mereka.
"Maaf Bu, mereka emang suka gitu. Makanya tadi kita mau hentiin ibu" ujar Marchel.
"Siapa aja, Bu." sahut teman Marchel yang bernama Egi.
"Mereka junior kalian kan? Apa kalian akan menghukum kenakalan mereka?"
Marchel dan kedua temannya hanya saling melirik. "Bukannya ibu mau kalian menghukum mereka, tapi ibu pikir biasanya senior itu berkuasa di sekolah." ujar Bu Feli.
"Disini beda Bu, di sekolah ini cuman Alex yang berkuasa."
"Alex? Siapa dia?"
"Yang itu." tunjuk Egi pada punggung Alex yang masih terlihat berjalan menjauh.
"Yang paling ganteng itu?" tanya Bu Feli.
Marchel dan kedua temannya mengangguk. Bu Feli mengernyit, dan akhirnya ia pun mengingat dimana ia pernah mendengar dan melihat anak yang sangat tampan itu sebelumnya. Ya, saat pertama melihatnya tadi pagi, Bu Feli memang merasa pernah bertemu dengan anak tampan itu sebelumnya, tapi ia lupa dimana dan kapan ia pernah bertemu dengannya.
"Alex." gumam Bu Feli.
"Dia anak tunggalnya Bapak Elfattar Smith William, pemilik sekolah ini, Bu" tutur Marchel memberitahu.
Bu Feli mengangkat kedua alisnya lalu mengangguk-angguk. Tentu saja, sekarang Bu Feli ingat wajah tampannya itu. Pada acara peresmian restoran dan penyerahan aset berapa waktu lalu yang diadakan oleh Pak William, Bu Feli hadir di sana dan bertemu Alex. Bu Feli cukup terkejut mengetahui Alex ternyata anak yang nakal dan juga berkuasa di sekolah.
... ....
... ....
... ....
Setelah pelajaran terakhir usai, Alex, Bima, Sandi, dan Vicky tidak langsung keluar kelas. Karena jika mereka keluar berbarengan dengan siswa-siswi lainnya, jalan dari koridor sampai ke parkiran pasti macet. Mereka bersantai di kelas sambil menjahili dua orang siswi yang sedang piket kelas.
Setelah dua orang siswi itu selesai membersihkan kelas dan keluar, merekapun beranjak. Berjalan di koridor melewati kelas-kelas lainnya, Alex sengaja memasang matanya dengan seksama saat akan melewati kelas Kayla. la sudah lama ingin menyapa gadis itu, tapi tertahan oleh situasi. Ketiga temannya pasti akan mempertanyakannya, dan anak-anak lainnya juga pasti akan bertanya-tanya dan bergosip jika melihatnya bersama Kayla.
Saat Alex melewati kelas Kayla, gadis itu ternyata masih di sana. Dia sedang mengerjakan tugas piketnya bersama seorang siswi lainnya. Alex tersenyum senang.
"Yes! Gue punya kesempatan." batin Alex.
Alex tetap melanjutkan langkahnya bersama ketiga temannya, ia membiarkan sampai Kayla selesai piketnya dulu, atau setidaknya sampai teman Kayla itu keluar dulu baru ia akan menemuinya. Lagipula ia juga harus mencari alasan untuk memisahkan diri dari ketiga temannya ini agar bisa menemui Kayla.
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
"Kay, aku duluan ya! Buru-buru nih." kata Ayu sambil meletakkan sapu di tempatnya.
"lya." jawab Kayla.
"Sorry ya ninggalin.."
"Enggak papa, santai aja Yu." sahut Kayla sebelum Ayu keluar kelas.
Kayla pun melanjutkan tugasnya, menyapu lantai kelas dan ia hampir selesai. Tiba-tiba Kayla mendengar suara decitan pintu yang ditutup, atau dikunci? Kayla terkesiap dan langsung menoleh. Seseorang berdiri dibelakang pintu yang baru saja dikuncinya, Kayla menghela nafas lega melihatnya. Tadinya Kayla pikir, ia dikunci sendirian di dalam kelas, tapi ternyata orang itu mengunci dirinya sendiri bersama Kayla dikelas ini.
"Kamu Al. Ngagetin aja."
Alex tersenyum dan berjalan ke arah Kayla, ia duduk di atas meja dengan kaki yang ia tempatkan di kursi. Kedua tangannya ia silangkan ke depan dada, matanya terus memandangi Kayla yang sedang sibuk menyapu.
"Hai Miss Kissable..!" sapanya lembut.
"Hai Al." balas Kayla seraya terkekeh geli.
"Eh ya ampun.. kamu ngapain disitu? Ntar bangkunya kotor." tegur Kayla.
"Ini tempat duduk siapa?" tanya Alex.
"Jessica."
"Biarin deh kalo gitu" sahutnya lempeng.
"AI, kamu mau ngerepotin aku? Kamu tau Jessica kan, besok pagi dia pasti komplain sama yang piket hari ini, kenapa bangkunya kotor, gak bener bersihin kelas, dan bla bla bla. Dia bisa ngomel, Al!"
"Oke." Alex pun turun dan duduk di bangku Kayla.
"Miss Kissable, kamu gak takut?"
"Takut apa?"
"Waktu aku dateng tadi apa yang kamu pikirin?"
Kayla mengernyit, "Maksud kamu?"
"Ya kan aku ngunciin kamu disini, emang gak takut ya?"
"Kenapa takut, kan ada kamu." jawab Kayla santai, ia tetap fokus pada lantai dan sapunya tanpa menoleh ke arah Alex.
Alex senang mendengarnya, walaupun terlihat cuek Kayla manis juga. "Justru karena ada aku, kamu gak mikir gitu kalo aku bisa aja ngelakuin hal buruk ke kamu?"
Kayla berhenti, ia menoleh ke arah Alex seraya tersenyum. "Kalo kamu emang mau ngelakuin hal buruk ke aku, kamu udah lakuin itu di hutan kemarin. Iya kan?!"
Setelah mengatakan itu Kayla kembali melanjutkan pekerjaannya. Alex terdiam mendengarnya, ia merasa senang Kayla mempercayainya dan tidak berpikiran buruk tentangnya.
Selesai dengan tugas piketnya Kayla meletakkan sapu ke tempatnya di sudut kelas. Kemudian ia berjalan mendekati Alex, lebih tepatnya mendekati bangkunya karena tasnya ada di sana.
"Jadi Al, kenapa kamu nyamperin aku diam-diam trus ngunci pintu?"
"Karena aku kangen sama kamu."
Kayla menaikkan alisnya, "Ngomong apa sih kamu?"
"Ya aku kangen sama kamu. Kamu keterlaluan, gak jengukin aku sama sekali. Untung aku gak nekat nyamperin ke rumah kamu."
Kayla jadi kembali merasa bersalah, meski ia tahu Alex mengatakan itu tidak serius. Alex pun menyadari bahwa kata-katanya tadi menyinggung Kayla.
"Miss Kissable, pliss aku bercanda kok. Jangan dipikirin ya! Enggak papa kamu nggak jenguk, aku kan udah sembuh, trus kita bisa ketemu lagi sekarang. Aku cuman kangen sama kamu."
"Maaf Al..."
"Ck, udahlah.. lupain semua itu!"
"Tapi.."
"Kamu gak kangen sama aku?" tanya Alex menyela.
"Gimana ya.. kalo aku bilang gak kangen ntar kamu kesel, kalo aku bilang kangen.. ntar kamu ge'er" celetuk Kayla, membuat Alex tertawa kecil.
"Al, apa yang terjadi hari ini?"
"Apa?" bingung Alex.
"Aku denger kamu ngerjain guru baru itu" ucap Kayla tanpa melihat Alex. Dan Alex menyimpulkan bahwa Kayla kesal padanya.
"Hah, siapa bilang?" dalih Alex.
"Ini hari pertama kamu balik ke sekolah Al setelah kamu sembuh, masa' udah bikin ulah sih? Emangnya selama di rumah kamu udah gak sabar banget ya mau ngebully?" ucap Kayla datar.
"Miss Kissable..." Alex mencoba merayunya.
"Kamu apain Bu Feli? Dia guru Al, bukan siswi yang bisa kamu remehin semau kamu. Aku pikir kamu udah berubah." kali ini Kayla menunjukkan kekesalannya dengan menatap Alex.
Alex mulai merasa cemas. Tidak! Alex tidak mau membuat Miss Kissable kesal padanya apalagi marah. Alex tidak mau mengecewakannya ataupun membuatnya menjauhi Alex.
Apa dia akan mengingatkan Alex soal kesepakatan mereka juga? Bagaimana jika dia serius akan membongkar tentang Mr Strawberry?
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...