Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Kabar Baik


__ADS_3

(Flashback On)


"Selamat ulang tahun Miss Kissable."


Kayla tersenyum manis, membuat pria dihadapannya itu tak bisa mengalihkan pandangan. Kayla terlihat sangat cantik dan wajah yang berseri-seri. Gaun biru muda yang melekat ditubuhnya membuat penampilannya semakin anggun, begitu juga dengan hiasan kepalanya yang berupa bando mutiara. Ia berjalan kearah pria yang baru saja mengucapkan selamat ulang tahun padanya.


"Makasih Mr Strawberry." tuturnya seraya menerima buket bunga yang diserahkan pria itu.


Kayla mengirup aroma segar dari bunga yang kini berpindah ke tangannya, ia sampai memejamkan matanya menikmati wangi bunga itu. Namun setelah ia kembali membuka mata dan memandang Alex, senyumannya memudar. "Tapi.. bukan ini yang aku mau."


Alex mengernyit seraya menarik satu sudut bibirnya. "Kamu nggak suka bunganya?"


"Suka. Tapi sayangnya aku ngarepin hadiah yang lain."


"Apa?" tanya Alex penasaran.


Kayla sedikit ragu mau mengatakannya. "Apa kamu akan kasih yang aku mau? Kamu bakal ngabulin permintaan aku?"


"Aku akan memenuhi permintaan kamu, sekalipun itu sesuatu yang sulit.. aku akan kasih sesuai sama harapan kamu."


Senyuman Kayla mengembang, ia meletakkan bunganya ke atas meja yang ada disampingnya kemudian menggenggam kedua tangan Alex. Matanya memandang wajah tampan itu dengan sorot kepercayaan dan penuh harap.


"Aku.. pengen kamu bawa papiku kehadapanku. Aku kangen sama papi, Mr Strawberry. Aku pengeeen banget papi ada di sisiku saat ini."


(Flashback Off)


Suara detikan monitor menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruangan ICU itu, dimana seorang pasien terbaring di sana dan dua orang pria terdekatnya bersama dengannya.


"Hei, apa kabar? Senang bisa ketemu kamu lagi." Ucap Alex saat sudah berdiri di dekat ranjang Kayla.


Alex melirik pria paruh baya yang duduk disisi kanan ranjang Kayla, sementara dirinya berdiri disisi lain ranjang itu. "Liat Miss Kissable, siapa yang ada disini."


"Aku kabulin permintaan kamu, aku bawa papi kamu kesini.. buat kamu Miss Kissable."


Arman tersenyum tipis. Ditengah kegelisahan yang menderanya semalaman, tak disangka pagi harinya ia mendapatkan kabar gembira. Pemuda yang kini berdiri disisi kiri ranjang putrinya datang menemuinya pagi ini. Bukan datang untuk mengunjungi, tapi untuk menjemputnya. Membawa kabar baik yang melegakan hati dan pikirannya, ketika ia tak bisa berhenti merindukan sang putri.


"Terima kasih, Alex."


Alex pun tersenyum seraya mengangguk. "Om yakin, kalo Kayla sadar.. dia pasti akan ngucapin terima kasih juga sama kamu." kata Arman lagi.


Alex duduk, "Saya harap mimpi itu benar-benar petunjuk, dan emang ini yang Kayla tunggu Om. Semoga sebentar lagi Kayla sadar."


Kedua pria berbeda usia itu memandang lirih pada gadis cantik yang masih dalam kondisi koma itu. Beberapa saat mereka hanya diam, tanpa kata, hanya dengusan nafas yang terdengar.


"Alex."


"Iya Om?"


"Kamu.. sangat memperhatikan Kayla." Arman menjeda kalimatnya sejenak. "Om sangat bersyukur, tapi.. apa nggak akan ada masalah?"


Alex menatap bingung, sehingga Arman mendengus senyum. "Om dengar.. kamu udah bertunangan sama perempuan lain."


Oh, Alex mengerti ke arah mana pembicaraan Om Arman. Ia terkekeh pelan seraya menundukkan kepala, "I-iya Om.."


"Tapi Om nggak usah khawatir, keluarga saya.. dan calon istri saya ngerti kok." ujar Alex terbata-bata karena grogi.


"Jadi mereka ngerti? Mereka.. mengartikan perhatian kamu sebagai apa?"


Alex hanya membuka mulutnya tanpa tahu harus mengatakan apa.


"Om nggak tau kedekatan kamu sama Kayla sebelumnya seperti apa, Om cuman tau kalo kalian pernah bertunangan. Sekarang pun Om nggak tau gimana hubungan kalian. Om cuman mau memastikan.. kalo perhatian kamu ke Kayla ini nggak akan membuat kesalah pahaman yang bisa menjadi masalah buat hubungan kamu sama calon istri kamu."


Alex mendengus pelan.


"Alex?"

__ADS_1


"Iya Om?" Alex mengangkat kepalanya.


"Apa kamu.. masih mencintai Kayla?"


Degg


.......


.......


.......


Waktu 3 jam Arman diluar penjara sudah habis, 15 menit yang lalu ia pamit pulang pada Kayla dan berterima kasih kepada semua orang yang mengizinkannya menemui Kayla. Kini ia kembali ke bilik tahanannya dengan diantar langsung oleh Elfatt. Hatinya berat meninggalkan Kayla sementara keadaan putrinya itu belum juga membaik. Meski hati Arman telah lega karena sudah bisa memeluk sang putri, ia pulang ke penjara dengan perasaan hampa, karena dirinya dan bahkan semua orang terlanjur berharap.. kalau kehadirannya disisi Kayla akan mampu membangunkan gadis itu dari koma nya. Namun sayangnya tidak.


"Arman!"


Arman yang baru beberapa menit duduk di lantai sel tahanannya, mendongak ketika mendengar namanya dipanggil. Elfatt yang tadi mengantarnya ternyata kembali, pria berjas itu berdiri diluar sel dengan wajah yang nampak sumringah.


"Ada apa?" tanya Arman penasaran, ia berdiri mendekati Elfatt dengan tatapan penuh tanya.


"Alex barusan telepon, Kayla udah sadar."


"Alhamdulillah......."


Elfatt dan Arman mengucap rasa syukur, begitu bahagia mendapat kabar baik yang selama ini mereka tunggu-tunggu. Mata Arman berkaca-kaca, membayangkan bagaimana indahnya senyuman Kayla saat ini. Mungkin anak gadisnya itu belum bisa langsung tersenyum saat sadar, tapi rasa haru dan bahagia Arman membuatnya membayangkan bagaimana wajah berseri putrinya, sebagaimana mimpinya semalam saat Kayla datang dan memeluknya dari belakang.


"Alex bilang.. nggak lama setelah kita pamit Kayla menggerakkan kelopak matanya. Dan sekarang dia udah sadar, Dokter David yang memastikan itu. Ini benar-benar kabar baik." kata Elfatt antusias, ia juga sangat lega dan senang mendengar kabar itu.


"Alhamdulillah.... terima kasih Pak." ucap Arman terharu.


Elfatt mengangguk kemudian pamit setelah memberikan kabar gembira itu pada Arman. Sekarang Arman benar-benar lega, ia akan menjalani harinya dengan baik mulai sekarang, tidak ada lagi beban pikiran yang sebelumnya selalu memberatkannya. Kayla sudah bangun dari koma nya, dan semuanya akan baik-baik saja.


.......


.......


.......


Mata sayu Kayla yang baru terbuka beberapa menit yang lalu mengarah pada sebuah keluarga yang tengah berpelukan haru. Kayla mencoba menggerakkan sudut bibirnya yang terasa kaku, ia senang melihat mami, ayah, dan Arsya yang tengah berpelukan hangat. Ingin sekali rasanya ia beranjak dari ranjangnya dan menghambur masuk kedalam pelukan itu, tapi apa daya, keadaan membuatnya harus puas hanya melihat orang-orang tersayangnya itu saja dari tempat pembaringan yang membuat tubuhnya sangat kaku ini.


"Kayla?"


Panggilan itu membuat pandangan Kayla teralih kepada sang pelaku yang menyebut namanya. Pria bersnelli Dokter yang Kayla taksir usianya sebaya dengan Om Iwan itu tersenyum padanya.


"Gimana perasaan kamu?" tanyanya.


Kayla mengerjapkan matanya sebagai jawaban, karena ia belum bisa menggerakkan kepalanya untuk mengangguk dan belum bisa mengeluarkan kata untuk menjawab pertanyaan Dokter itu. Setelah tersenyum lega Dokter David menolehkan pandangan, membuat orang-orang yang dipandangnya itu merenggangkan diri dari pelukan mereka, dan lantas bersiap mendengar ucapannya.


"Keadaan Kayla sudah membaik dari sebelumnya, tapi sistem kerja otaknya belum stabil sepenuhnya. Jadi saya sarankan.. dia beristirahat dulu untuk beberapa jam kedepan. Jika kalian ingin mengajaknya bicara, hanya hal-hal ringan saja dulu ya, tanpa membuatnya harus berpikir banyak. Jangan menanyainya dengan hal-hal yang membuat otaknya bekerja berat untuk mengingat. Demi kelancaran pemulihannya."


"Terima kasih Dok, thank you so much!" ucap Tio sepenuh hati.


"Terima kasih banyak Dok. Terima kasih..." Nadia pun mengucapkannya, dengan tatapan penuh syukur dan kedua tangan yang ia dekap ke dadanya sendiri.


"Terima kasih Dok." Arsya pun tak ketinggalan.


Dokter David mengangguk seraya tersenyum simpul, kemudian keluar ruangan lebih dulu. Dan ketiga anggota keluarga terdekat Kayla itu segera mendekati ranjangnya.


Nadia mengecup kening Kayla kemudian mengusap kepala Kayla sambil memandanginya. "Sayang..."


"Duduk dulu, Nad." ujar Tio seraya menarik pelan lengan Nadia.


Pasalnya sejak beberapa jam yang lalu Nadia tidak pernah tenang dan terus berjalan mondar mandir, kekhawatirannya sekaligus harapannya meningkat drastis sejak Arman masuk ke ruangan Kayla, hingga pria itu pulang. Bahkan dialah yang paling kecewa mengetahui Kayla tidak bereaksi meski setelah bertemu dengan sang papi. Sampai Dokter memberi kabar baik pun ia tak juga bisa mengistirahatkan tubuhnya barang sejenak pun. Setelah kecewa oleh harap yang tak terkabul, Nadia mendapatkan kabar baik yang membuat rasa bahagianya menggebu-gebu, sang suami jadi tidak tega melihatnya yang saat ini memandangi Kayla dengan wajah letihnya yang penuh keringat dan nafas yang terengah-engah. Meski itu juga bentuk dari kebahagiaan Nadia yang memuncak. Bagaimanapun juga, Tio tidak mau sampai Nadia drop lagi karena terlalu bahagia setelah kesedihan membuat istrinya itu terguncang dan hampir putus asa, bak orang linglung.


"Iya Mas." jawab Nadia menurut.

__ADS_1


"Kayla.." Tio pun mengusap kepala Kayla dengan tatapan lembut.


Kayla mengerjap senang, ia terlihat membuka mulut perlahan seperti ingin mengatakan sesuatu pada Tio, namun dilarang oleh ayah sambungnya itu.


"Jangan ngomong dulu, kamu butuh banyak istirahat nak. Kita semua disini, ayah, mami, sama Arsya, kita bahagia liat kamu udah bangun."


Kayla mengalihkan pandangannya pada sang mami. Tio tertawa kecil, "Liat mami kamu! Dia sampe sebahagia itu liat kamu buka mata lagi, dia selalu nungguin hari ini nak. Tapi kamu nggak usah khawatir, dia sehat kok, cuman terlalu kangen aja sama kamu." ujar Tio lagi menenangkan suasana.


Ketika pandangan Kayla teralih pada Arsya, anak itu terisak kecil sambil menampilkan senyum getirnya pada Kayla. Ia terlihat mengusap ujung matanya lalu terkekeh malu, membuat Kayla menatapnya bingung. Tio lantas menepuk-nepuk pundak Arsya, sambil tertawa kecil.


"Enggak tau kenapa, adik kamu ini jadi cengeng sekarang." lakar sang ayah.


Kayla berhasil menarik sudut bibirnya membentuk senyuman yang samar. Andai saja ia sehat seperti biasa, pasti sekarang ia sudah mengejek Arsya, ingin sekali ia mencubit pipi tembem adiknya itu sambil menggodanya. Menggemaskan sekali melihat Arsya menghapus air matanya sendiri, seolah berlagak dewasa padahal masih cengeng.


...__________________...


Sehari setelah Kayla bangun dari koma, Elfatt dan Vanessa menjenguknya. Sebenarnya kedua orang tua Alex ini ingin sekali langsung menemui Kayla sesaat setelah gadis itu bangun, namun Dokter meminta mereka menundanya demi memberi jeda pada otak Kayla agar tidak berpikir berat. Karena mungkin ingatan Kayla akan berputar dan otaknya akan bekerja lebih banyak jika ia melihat orang lain selain yang terdekat dengannya, karena kemungkinan sebagian memorinya hilang atau tersendat akibat cedera otak. Akan buruk jika ketika Kayla melihat Elfatt ataupun Vanessa dan dia tidak mengenali mereka langsung, sehingga ia harus berpikir mengingat siapa mereka, itu akan menjadi penghambat proses pemulihannya. Jadi Dokter David menyarankan agar cukup keluarganya saja dulu yang menemaninya untuk beberapa jam kedepan.


Hari ini ketika melihat Elfatt dan Vanessa berdiri didepannya, Kayla tersenyum tipis membalas senyuman mereka. Elfatt dan Vanessa lega, artinya Kayla masih mengingat mereka dan kemungkinan besar kinerja otaknya pulih dengan cepat. Kondisi Kayla saat ini ia sudah bisa membuka dan menutup matanya dengan baik seperti sebelumnya, tapi ia belum bisa bersuara. Ia mencoba berbicara namun hanya gerak mulutnya saja yang jelas sementara suaranya hanya terdengar seperti bisikan yang sangat pelan. Ia belum bisa bergerak banyak apalagi untuk bangun, butuh waktu beberapa hari untuk tahap itu. Tapi kondisinya itu cukup membuat keluarganya lega, begitu juga yang dirasakan Elfatt dan vanessa.


"Kayla, makasih nak.. kamu udah nyelamatin nyawa Om." Ucap Elfatt tulus. "Hati kamu besar sekali, sampai kamu bersedia menolong orang yang udah bikin kamu menderita ini."


Kayla mengerjapkan matanya pelan, ia membuka mulut untuk menjawab ucapan Elfatt sehingga Elfatt mendekat agar bisa memahami apa yang ingin Kayla katakan.


"Jangan ngerasa bersalah, Om. Aku senang Om baik-baik aja." Itu kalimat yang dapat disimpulkan oleh pendengaran dan pengamatan Elfatt.


"Tapi Om udah nyakitin kamu. Dulu Om menghina kamu, Om memisahkan kamu dengan Alex. Om egois sekali Kayla, Om nyesel..." ucapnya dengan kepala tertunduk. "Apa kamu bisa maafin Om?"


Kayla mengangguk samar seraya tersenyum tipis. "Om nggak harus nyesel, aku ngerti kekhawatiran Om soal Alex." ucapnya samar namun tetap bisa dimengerti oleh Elfatt.


"Om nyesel karena udah nggak adil sama kamu, Kayla. Soal kekhawatiran Om, sekeras apapun usaha Om menyelamatkan masa depan.. itu nggak akan mampu mengubah takdir. Kita semua nggak ada yang mau musibah ini terjadi, tapi tetap terjadi kan. Kamu dan Alex harus mengalami penderitaan ini juga, padahal seandainya dulu-.."


"Om.." tangan Kayla bergerak menyentuh tangan Elfatt, menghentikan pria itu terus menyalahkan dirinya.


"Kita nggak bisa ngerubah takdir kan? Setiap musibah pasti ada hikmahnya. Aku yakin ada banyak pelajaran dan kebaikan yang kita dapat dari musibah itu, salah satunya.. aku sekarang udah baik-baik aja. Stop nyalahin diri sendiri ya Om." Kayla lihat wajah Elfatt dan Vanessa masih terlihat sedih dan iba padanya, mungkinkah ada kecemasan lain yang mereka rasakan.


"Alex baik-baik aja kan Tante?" tanya Kayla membuat Vanessa mendekat.


"Iya nak, Alex baik. Dia udah sehat, berkat kamu." Vanessa mengusap kepala Kayla.


"Kalo gitu nggak ada yang perlu dikhawatirin lagi." kata Kayla diiringi senyuman leganya.


Tetap saja Elfatt merasa bersalah, meski ia yakin bahwa Kayla benar-benar akan baik-baik saja setelah ini. Sementara Vanessa, sembari memandangi wajah sendu Kayla ia teringat sikap Alex akhir-akhir ini. Putranya itu sangat memperhatikan Kayla dan tidak berhenti memikirkan gadis yang dicintainya ini, sampai-sampai dia melupakan banyak hal yang penting dalam hidupnya. Vanessa khawatir kalau cinta Alex untuk Kayla semakin besar sementara hari pernikahannya dengan Feli semakin dekat. Vanessa juga khawatir tentang bagaimana perasaan Kayla terhadap Alex, entah dia sudah move on atau mungkin perasaan cinta itu kembali hadir setelah keduanya menghabiskan waktu di markas penculik dan saling melindungi kala itu.


Sebagai ibu, dan sebagai seorang perempuan yang pernah hancur oleh cinta, ia tidak mau ada satu orang pun tersakiti diantara Alex, Feli, maupun Kayla. Tapi keadaan tidak mungkin berpihak pada keinginannya, mereka bertiga akan sama-sama tersakiti nantinya. Entah siapa yang lebih dulu tersakiti, Vanessa takut menghadapi hari itu, hari dimana ia akan melihat salah satu dari mereka atau mereka bertiga sekaligus tersakiti.


Tepukan kecil dipundak Vanessa membuatnya tersadar dan kembali ke masa sekarang yang ia hadapi. Ia buang pikiran negatifnya itu, dan ia tarik sudut bibirnya saat mantan suaminya menyadarkannya agar tidak membuat Kayla cemas. Vanessa lihat Kayla memandangnya dengan sorot penasaran, pasti raut wajah Vanessa tadi membuat gadis yang baru bangun dari koma itu bertanya-tanya.


Vanessa lantas mendekat dan mengecup pucuk kepala Kayla. "Cepat pulih ya nak, Tante sayang sama kamu."


Kayla tersenyum, ia senang Tante Vanessa dan Om William menjenguknya. Ia senang kedua orang tua Alex yang sebelumnya selalu canggung saat bertemu dengannya kini hangat lagi. Memang sejak pertunangannya dengan Alex putus Tante Vanessa masih sering menemuinya namun Kayla lah yang terus membuat jarak hingga akhirnya Tante Vanessa merasa canggung. Sementara Om William, papa Alex itu memang sengaja menjauhi dirinya sehingga membuat Kayla merasa menjadi sangat asing untuknya. Tapi hari ini, Alhamdulillah..


Dulu Kayla merasa dimusuhi oleh Om William, dan ia merasa memusuhi Tante Vanessa demi usahanya untuk move on dari Alex. Namun hari ini.. Kayla merasa lega dan tidak punya musuh lagi.


Alhamdulillah...


Ini benar-benar kabar baik setelah musibah yang Kayla alami.


... ....


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... Bersambung...


__ADS_2