
Kayla yang sudah bangkit dan berdiri sempurna mulai melangkah mendekati Jessica dan Alex yang berdiri berhadapan, Kayla mendengus tawa dan sesekali terkikik geli. Ia sampai memegangi perutnya karena merasa tergelitik.
Tatapan mereka yang sebelumnya tegang dan canggung karena perdebatan Jessica dan Alex lantas berubah menjadi tatapan protes dan sinis mereka ke arah Kayla. Kayla menyadarinya tapi ia tidak peduli.
"Oke, tantangan dan perang....... dimulai!" gumam Kayla dalam hati seraya melirik semua orang yang ada di sekelilingnya, kemudian pandangannya berhenti pada Alex dan Jessica.
"Apa-apaan lu!" bentak Jessica saat Kayla sudah berdiri di depannya.
"Jes, kamu gak kenal Alex?!" ucap Kayla sambil mendengus tawa.
"Maksud lu??" Kayla mengangkat alisnya takjub saat Alex dan Jessica melontarkan pertanyaan yang sama dan serentak.
"Jes, kamu udah tau kan sikapnya Alex kayak gimana. Dan kamu masih berharap sama dia??"
Alex mengernyit tipis mendengarnya, sedangkan mereka yang menyaksikannya agak terkejut karena Kayla berani berbicara seperti itu.
"Berani-beraninya lu ngomong gitu!" Jessica langsung marah dan hendak menjambak rambut Kayla, tapi buru-buru Kayla tahan.
"Kenapa marah? benar kan, meskipun kamu tau Alex itu benci cewek, dan semua yang dia gak suka..kamu tau kan? Tapi kamu tetap ngotot mau jadi pacar dia."
Jessica meringis kesal.
"Dan Alex, dia cuman manfaatin kamu. Liat sendiri kan, mau kamu lakuin apa pun buat dia, dia gak peduli." lanjut Kayla blak-blakan.
Alex terkekeh sombong mendengarnya, sebenarnya ia cukup kaget dengan keberanian Kayla, juga dengan yang dikatakan Kayla barusan, karena itu memang benar.
Jessica terbelalak, "Alex juga suka kok sama gue. Gue yakin, ini cuman kejutan dari Alex buat gue, sebelum dia nerima gue." sahut Jessica geram, tak mau kalah.
"Heh! Gue udah bilang berkali-kali gak ada tempat buat cewek mana pun dihati gue!" Alex mengatakannya cukup keras.
"Al, elu mainin perasaan gue? Elu mau bikin gue malu dengan ngomong gitu di depan mereka semua?" Jessica berbisik sambil memegang lengan Alex.
"Ck, lu aja yang kepede'an. Elu, yang mainin perasaan lu sendiri!" sahut Alex ketus seraya menyentak lengannya.
"Al.. Elu kok tega sih ngomong gitu sama gue? Apa yang gak gue lakuin buat lu Al, gue selalu nurut sama lu apa pun yang lu mau." ucap Jessica memelas.
"Ck, apaan sih! Gue ngelakuin apa yang gue suka, dan lu ngelakuin apa yang lu suka kan? Gue gak pernah maksa lu ngelakuin apa pun!"
Luna dan Erin yang sejak tadi terperangah dengan perdebatan keduanya lantas beranjak mendekat.
"Udah lah Jes.. ini bukan kamu deh, seorang Jessica gak akan ngerendahin diri begini" cicit Luna pelan seraya menarik tangan Jessica.
"Diam!"
"Jes, pliss lah.. kita gak bisa liat lu kayak gini, dan kota gak terima liat lu diginiin.." Erin ikut membujuk.
"Diam!" bentak Jessica geram.
"Jessica, percuma aja kamu mohon-mohon sama Alex, dia gak bakalan berubah pikiran. Kamu cuman nyusahin diri kamu sendiri. Kita kasian loh sama kamu.."
"Ngapain lu cupu, ikut-ikutan ngomong." sergah Erin sewot.
"Aku ngomong sebagai sesama cewek, Rin. Ngapain ngerendahin diri, malu-maluin diri sendiri buat cowok kayak dia." sahut Kayla dengan nada yang sama dengan Erin.
Alex mengepalkan kedua tangannya dan mengeraskan rahangnya, respon protesnya atas ucapan Kayla.
"Maksud lu kayak dia itu gimana?" kali ini Sandi, dari pihak Alex yang sewot.
"Kamu kan temannya, kamu pasti tau apa yang aku maksud."
"Elu jangan kurang ajar ya!" Sandi maju menghadapi Kayla.
"Siapa yang kurang ajar? Aku? Atau kalian?" Kayla melirikkan matanya ke arah Sandi, Bima, Vicky dan... Alex tentunya.
Sindiran Kayla membuat Alex dan ketiga temannya memanas. "Benar-benar lu ya!!" geram Bima, dengan langkah memburu ia mencoba meraih Kayla. Tapi Kayla berhasil menghindar.
"Kalian gak sadar?! Yang kalian lakuin selama ini apa? Kalian ngebully, nyakitin orang, permaluin orang, terutama cewek. Apa itu bukan kurang ajar namanya?"
Dengan emosi, Alex menendang ember kosong yang berada di dekat kakinya dengan kencang, dan tepat sasaran. Kaki Kayla terbentur ember itu hingga tergores, bahkan ember itu pecah saking kencangnya tendangan Alex.
Vicky bertepuk tangan sambil melangkah maju dan berhenti di depan Kayla, disisi Sandi dan Bima. "Wow!! Nyali lu gede' juga ya! Elu tau apa akibatnya yang lu lakuin ini, Heh?" ucapnya sinis.
"Aku udah ngerasain akibatnya, apa lagi yang kalian mau? Sekarang kalian yang dengerin aku!" Semua orang terkesiap atas keberanian Kayla, bahkan Alex dan ketiga temannya sampai melotot.
"Kalian, terutama Alex, pernah mikir gak kalo orang yang kalian bully itu gimana keadaannya, gimana perasaan orang tuanya kalo mereka tau anak-anak mereka dibully di sekolah? Dan kalian sendiri, apa gak pernah kepikir gimana reaksi orang tua kalian kalo mereka tau anaknya tukang bully??"
Duaaaaarr......
__ADS_1
Serasa tersentil, Alex, Bima, Sandi dan Vicky terbelalak. Begitu juga para siswa dan siswi yang menjadi penonton saat ini. Di antara mereka pasti banyak yang memikirkan hal sama seperti yang Kayla katakan barusan, tapi mereka tidak berani mengutarakannya.
"Ngapain bawa-bawa orang tua??" maki Alex.
"Kamu pikir orang tua nyekolahin anaknya disini buat apa? Buat dibully? Dipermaluin? Gimana sama orang tua kamu sendiri?" Kayla menunjuk Alex dengan dagunya saat melontarkan pertanyaan terakhir.
"Ck, beneran kurang ajar lu ya!!" Bima mulai naik pitam, "Elu pikir ini bercandaan he? Elu belum liat seberapa bahayanya Alex. Elu tau siapa Alex? Semua orang segan dan hormat sama dia."
Kayla malah mendengus tawa mendengar ancaman Bima, membuat emosi Bima kian tak tertahan, ia menarik rambut kepang Kayla sampai Kayla terjatuh. "Aawww...!!"
"Rasain lu!!"
Kayla tak gentar, ia tersenyum miring sembari bangkit. "Kamu salah Bim, semua orang bukannya segan dan hormat sama Alex, tapi mereka takut. Kamu sendiri bilang kalo dia bahaya kan? Bukannya orang yang bahaya itu ditakutin ya, bukan dihormatin."
"Ngajak perang ni cewek!" geram Sandi berbisik.
"Kalo dia cowok, udah gue gebukin habis-habisan!" Vicky yang berdiri disamping Sandi pun ikut menimpali, dengan suara pelan yang hanya bisa di dengar keduanya.
"Yang Alex lakuin ke mereka, itu bikin mereka takut, bikin mereka ngerasa terancam, bukan segan. Apa lagi hormat." Kayla kembali mendengus tawa.
Alex kembali menendang ember di dekatnya, tapi kali ini Kayla bisa menghindar. Kepalan tangannya semakin kuat sampai menampakkan urat-uratnya ke permukaan kulit putihnya yang kini memerah.
"Lihat Al! Seberapa besar rasa takut yang kamu tanam di hati mereka semua, aku akan hancurin rasa takut itu. Kamu harus sadar kalo selama ini yang kamu lakuin itu salah." Kayla bergumam dalam hatinya.
"Maksud lu apa, heh? Elu tau, rasa takut semua orang ke Alex itu karena kita semua ngehormatin dia! Karena dia emang berkuasa disini." Jessica angkat suara untuk membela Alex? Kayla sedikit terkesiap mendengarnya.
"Apa dia pernah ngehormatin kalian? Seenggaknya ngehargain. Pernah?"
Jessica melotot, tapi ia bingung mau menjawab.
"Jangankan kalian, guru-guru aja dia gak hormatin kan? Bukannya... orang yang gak bisa ngehormatin orang yang lebih tua dari dia itu.. gak akan bisa dihormatin, ya?"
Sungguh, Kayla memancing emosi mereka habis-habisan. Alex jadi teringat kejadian kemarin, saat Kayla mengatakan sesuatu tentang menghormati perempuan dan Kayla menyebut mama Alex. Alex meringis sadis.
Jessica mengangkat tangannya dan akan menampar Kayla, tapi Kayla menahan tangannya.
"Ngapain kamu belain dia? Dia aja gak ngehargain kamu. Selama ini kamu ngelakuin banyak hal buat dia kan? Apa pernah dia berterima kasih, sekali aja?" Jessica menautkan alisnya heran menatap Kayla.
"Aku yakin, bagi dia kamu gak ada bedanya sama cewek-cewek lain, termasuk aku." Kali ini Jessica terperangah sampai mulutnya terbuka.
Kata-kata Kayla mampu membuat para siswa dan siswi yang menyaksikannya terkesima, kecuali para fansnya Jessica. Mereka tidak terima Kayla menyebut Jessica-mereka sama sepertinya yang hanya gadis biasa dan cupu.
"Faktanya emang gitu kan. Kamu yang keliatannya dekat sama dia aja gak dihargain, apalagi cewek-cewek lain." Kayla menggeleng sambil menatap Jessica dan Alex bergantian. Ia merasa aneh sendiri dengan apa yang terjadi. "Harusnya, cowok tuh ngelindungin cewek, ngasih rasa aman buat mereka. Bukan malah nyakitin, sampai bikin mereka ngerasa terancam." Tentu saja kata-kata ini menyindir Alex dan teman-temannya.
"Seseorang gak akan dihargain sebelum dia bisa ngehargain orang lain. Dan Alex, dia cuman ditakutin selama ini. Benar kan?" Kayla bertanya pada semua orang yang hadir disana, tentu tidak ada diantara mereka yang berani menjawabnya. Kayla terkekeh, artinya benar kalau mereka semua takut.
Alex merasa harga dirinya dilukai oleh Kayla, berani sekali gadis itu banyak bicara tentangnya di depan semua orang. Emosi Alex kian menggebu tapi ia masih bertahan, berdiri di tempatnya. Nafasnya memburu, ia mengerekatkan gigi-giginya.
Alex memang tidak menyukai perempuan, suka membully dan menyakiti mereka. Ia mungkin jahat dan kejam. Tetapi, sejauh ini Alex belum pernah main tangan, seperti menampar perempuan, menjambak rambut mereka, atau menyakiti fisik mereka lainnya dengan tangannya sendiri. Yang paling buruk adalah saat ia mencengkram bahu Kayla kemarin, itu pun karena gadis itu sendiri yang memancing emosinya.
Dan kali ini, gadis itu memancing emosinya lagi, bahkan mengungkit pemicu amarahnya kemarin. Jika hari ini gadis sialan ini mengungkit pemicu amarah terbesarnya itu lagi.. maka Alex tidak akan tahan untuk tidak mengangkat tangannya.
"Cowok kayak dia gak bakalan bisa ngehargain cewek mana pun, apalagi ngehormatin. Karena, dia aja gak ngerhormatin mam-.."
"Aaaaaa........"
Semua orang terkejut, ada yang sampai terperanjat dan berteriak.
Ucapan Kayla lantas terpotong, karena Alex tiba-tiba menyerangnya. Alex meletakkan sebelah telapak tangannya di leher Kayla dan mencekiknya. Ia mendorong Kayla dengan satu tangannya itu, sampai punggung Kayla menghantam dinding. Aksi mendadak Alex ini tentu membuat semua orang tersentak dan terbelalak kaget, tak terkecuali Kayla sendiri.
Situasi seketika menjadi tegang.
"Cewek sialan!!" bentak Alex sambil mengencangkan cekikannya di leher Kayla.
Alex menatapnya sadis dengan amarah yang menggebu-gebu. Sungguh, gadis ini terlalu berani hingga membuat pertahanannya goyah. Berani-beraninya gadis sialan ini menyebut mama Alex lagi, dia berani mengatakan didepan semua orang bahwa Alex tidak menghormati mamanya sendiri, sehingga Alex tidak pantas dihormati, begitu? ****!!
Kayla mulai gentar, ia memegang tangan Alex dan berusaha melepaskannya. Ia mendesis kesakitan.
"Banyak omong lu!! Berani lu sama gue??"
"Le pa..ss..." Kayla meringis ditengah kesakitannya.
Alex mendengus sombong. "Tadi aja lu nantang gue, banyak komen soal gue, kenapa sekarang diam?? Gue gak akan ngelepasin lu!!"
"Ehh...kkh... sa kit.. Al.." ringis Kayla.
Alex malah mengencangkan cekikannya mendengar ringisan Kayla.
__ADS_1
Sementara itu, semua orang yang hadir nampak khawatir melihat insiden dihadapan mereka, termasuk ketiga teman Alex juga.
"Gue gak kepikir kalo Alex bakal senekat ini." gumam Vicky.
"Iya lah, gue juga. Selama ini semarah-marahnya dia, dia gak bakal sudi nyentuh cewek." timpal Sandi.
"Nyentuh apaan, nyekik itu mah. Bukan nekat lagi ini namanya tapi nekat bangeeeeet!!" Bima yang terlihat sangat khawatir bergegas menghampiri Alex.
"Al, Al, inget Al.. ini anak orang. Bisa mati ntar lama-lama begini." sergah Bima.
Alex mengabaikannya. Ia tak mengalihkan pandangannya dari gadis yang berani membuatnya semarah ini. Karena Alex tak mendengarkannya, Bima mencoba bicara lagi. "Al, cukup lah.. ini udah jadi pelajaran besar buat dia. Liat tuh mukanya udah merah, dia pasti kapok."
"Ngapain lu belain dia??" sewot Alex.
"Heh, gue gak belain dia. Gue peduli sama lu Al, temen gue. Kalo dia mati, temen gue jadi pembunuh dong."
Benar juga kata Bima, mana mungkin Alex bisa menjadi pembunuh. Sangat konyol jika Alex sampai membunuh orang hanya karena ia marah. Alex pun melonggarkan cekikannya di leher Kayla, tapi tak lantas melepaskannya.
Kayla yang sebelumnya merasa sesak nafas akhirnya bisa sedikit lega, dan menghirup udara sebanyak yang ia butuhkan.
"Gue gak bakal bunuh dia, tapi gue bakal bikin dia ngerti kalo ngelawan gue sama dengan cari mati." Alex kembali mengencangkan cekikannya setelah mengatakan itu.
Kayla terbelalak, ia kembali berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tangan Alex yang melingkar di lehernya.
"Al..." ringisnya lirih.
"Elu tau banyak ya tentang gue, sampai lu berani ceramah di depan semua orang. Elu pikir bisa ngelawan gue, heh??" ucap Alex menggeram.
Bima yang melihatnya dari jarak dekat, jadi cemas. Ia berusaha mencari cara agar Alex menghentikan aksinya, bukan karena Bima tak percaya pada Alex tapi jika Alex terus mencekik Kayla seperti itu, Kayla bisa kehilangan nyawanya cepat atau lambat.
"Minta maaf lu sama Alex!!" gertak Bima.
"Gak!" ucap Kayla tegas, membuat Alex dan semua yang mendengarnya terbelalak seketika. Alex mengencangkan lagi cekikannya, wajah Kayla sudah memerah.
"Ngotot amat sih!! Mau mati beneran apa??" bentak Bima kesal.
"Alex..gak ba kal bun..nuh aku!" sahut Kayla yakin meski suaranya terbata-bata.
"Gila lu!!" bentak Bima lagi.
"Kalo dia gila, gue bisa lebih gila." nada bicaranya datar tapi wajahnya menyeringai.
Kemudian Alex melonggarkan cekikannya.
Asal kalian tahu saja, sejak Alex menyambangi Kayla ketika mereka akan menyiramnya dengan empat macam elemen itu, indera penciuman Alex sudah menangkap aroma sejuk favoritnya. Alex tebak itu adalah parfum strawberry mint, yang wanginya sangat lembut dan fresh, Alex sangat menyukainya. Tapi ia tidak tahu aroma itu berasal dari mana.
Saat Alex membawa ember berisi air es dan mendekati Kayla, barulah ia tahu kalau aroma sejuk itu berasal dari Kayla. Karena itulah ia menjaga jarak dengan Kayla. Bahkan disaat beberapa kali Kayla memancing kemarahannya, ia tetap diam di tempatnya.
Ia tidak mau kejadian kemarin terulang lagi. Kejadian saat ia sangat marah dan mencengkram bahu Kayla dengan kuat, tapi kemudian ia malah terbuai dengan aroma sejuk itu dan membuat kemarahannya luruh seketika.
Alex berusaha keras untuk sabar menghadapinya, ia mati-matian menahan amarahnya dan juga menjaga jaraknya dari gadis itu. Tapi nyatanya gadis itu sudah membuat pikirannya kacau dan resah. Alex sangat menyukai aroma stroberi dari tubuh gadis itu dan sulit baginya untuk tidak terbuai dengan aroma itu, tapi disisi lain ia sangat marah dan benci dengan apa yang dilakukan gadis itu.
Sehingga, saat gadis itu akan menyebut mama Alex, yang notabenenya adalah pemicu amarahnya, kesabarannya pun habis.
Sekarang, Kayla -gadis yang sudah lancang membuatnya resah sendiri- itu tengah berada dibawah kendalinya. Tapi, lagi-lagi aroma stroberi dari tubuh Kayla mulai mempengaruhinya. Cekikannya pada leher Kayla melonggar, Kayla mengambil kesempatan itu untuk melepaskan diri darinya.
Kayla terbatuk-batuk sembari mengatur nafasnya. Dan Alex masih tak mengalihkan pandangannya dari Kayla. Kayla beranjak menjauhi Alex, tapi karena sebelumnya ia disiram dengan minyak goreng dan juga lumpur, jadilah ia kesulitan berjalan karena sepatunya licin. Kayla mendekapkan sebelah tangannya ke dinding untuk membantu menyeimbangkan langkanya. Tapi, tiba-tiba ia terpeleset.
"Aaaa....." jerit Kayla, ia menutup matanya reflek, terpaksa bersiap merelakan tubuhnya mengantam lantai.
Dengan gerakan reflek, Alex menangkap tubuh Kayla sebelum menghantam lantai. Semua orang lagi-lagi terperangah dengan insiden yang mereka saksikan.
Mereka terperangah bukan karena Kayla hampir jatuh terpeleset, tapi karena Alex. Alex menangkap dan menahan tubuh Kayla agar tak terjatuh. Alex? Yang selama ini dikenal suka membully dan mempermalukan perempuan? Jangankan suka, ia bahkan tidak mau peduli dengan perempuan-perempuan di sekitarnya.
Tadinya mereka pikir, ketika Kayla terpeleset, ia akan benar-benar jatuh menghantam lantai.
Tapi tidak, mereka malah dibuat terperangah tak percaya oleh Alex. Bagaimana mungkin, pria yang selama ini tak punya rasa peduli dan simpati sedikit pun terhadap perempuan, bisa melakukan gerakan reflek seperti itu? Ia tidak membiarkan perempuan satu ini terjatuh ke lantai, ia mau merepotkan dirinya sendiri dengan memangku perempuan itu di lengannya.
Dari mana ia dapatkan rasa peduli seperti itu?
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... Bersambung...