Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Lagi-lagi Tuduhan


__ADS_3

“Oh, ini... gak terlalu buruk.” Karyawan yang lainnya ikut nimbrung.


“Maaf, ada apa ya?” Rara berusah mencari tahu secara baik-baik.


“Alah..., sok sopan. Berapa perjamnya? Gak usah muna.”


“Maksud mbaknya apa? Saya bener gak ngerti?” tanya Rara, dia bingung apa yang sedang dibahas oleh karyawan itu.


Kurang lebih ada 6-8 orang karyawan yang berada di sana. Fira kebetulan sedang tidak ada di tempat, sehingga tidak ada yang segera melerai kericuhan tersebut.


Salah satu karyawati mendekati tepat di depan Rara, jari telunjuknya menuding dada bagian kiri Rara.


“Heh, jangan membuat malu perusahaan ini. Aku adalah karyawan senior di sini, lebih baik jangan balik lagi. Lihat, kan? Pak bos lebih memilih istrinya, daripada wanita penggoda seperti mu?”


“Apa sih? Apa maksud kalian? Tiba-tiba menuduhku aneh-aneh!” intonasi Rara mulai meninggi.


“Hahaha, lihat! Janda gatel yang sok suci, kalau udah ketahan busuknya sok-sokan polos tak tahu apa-apa,” balas karyawan yang lainnya.


“Udah deh, daripada nanti kami demo untuk mengusir kamu dari sini, mending pulang kampung sana. Kami tidak mau bos kami tergoda wanita jadi-jadian seperti kamu, nanti Perusahaan ini bangkrut. Kami makan apa? Jadi pengangguran, siapa yang mau nanggung?”


“Lalu apa urusannya denganku? Perusahaan ini mau bangkrut atau tidak, aku tidak ikut andil di dalamnya. Mengapa kalian tiba-tiba memojokkan aku?!” sudah tidak ada kesempatan buat bersabar lagi. Rara mulai melawan tak peduli keterlaluan atau tidak.


“Jelas aja kamu pengaruh. Karena wanita adalah pembawa celaka kalau jadi penggoda. Usaha hancur, rumah tangga hancur, segalanya hancur karena wanita macam kamu.”

__ADS_1


Rara sudah habis kesabarannya, dia berjalan menuju meja – meja karyawan yang berjejer. Di seret abis barang-barang di atas meja, hingga berjatuhan di lantai.


“Ok, lihatlah aku selain wanita penggoda, aku juga wanita perkasa dan berani, lihat ini,” teriak Rara.


Prak...!


Bugh …!


Beberapa barang di lempar oleh Rara. Satu meja sudah habis bersih barang-barang di atasnya. Giliran meja satunya lagi, rak berkas, keyboard komputer dan lainnya Rara lempar.


Para karyawan bukannya mencoba membuat Rara tenang, malah memanasi dengan ocehan ocehan lebih menyudutkan.


“Lihat saja, Pak Purba datang, habis kamu.”


“Begitulah karakter sebenernya, kasar. Sok polos.”


Fira segera melapor pada security melalui ponselnya. Security sebelum datang ke TKP, dia menghubungi Bizar, menceritakan kejadian saat ini.


**#


Bizar masuk ke ruang perawatan tanpa mengetuk pintu, karena takut mengganggu nyonyanya yang belum pulih benar.


“Ada apa?” tanya Purba hati-hati.

__ADS_1


Bizar kemudian membisikkan kejadian di kantor tentang Rara yang mengamuk.


“Ya ampun... kenapa aku lupa. Hari ini Rara datang ke kantor, ya? Ah!” Purba menepuk keningnya, mengapa dia benar-benar lupa.


“Tolong kamu saja yang ke kantor, kendalikan semuanya,” perintah Purba.


“Sepertinya lebih baik Bos yang datang, karena Non Rara pasti keselnya pada Tuan, jika tuan tidak ada, belum tenang sepertinya,” saran Bizar.


“Kan, ada security?” tanya Purba.


“Security takut kebablasan, Tuan. Non Rara tidak bisa ditenangkan,” ujar Bizar kembali.


“Huft ... ok, tunggu aku di mobil. Aku lihat sikon sebentar, semoga bisa pergi dan di sini juga aman.”


Bizar kemudian ke luar ruangan, dia langsung ke mobil sesuai perintah tuannya.


‘Bagaimana ya? Kalau Mona bangun, bagaimana?’ gumam Puraba.


Akhirnya Purba memanggil salah satu perawat, dia menitipkan Mona pada perawat itu dan menitipkan pesan jika Mona bangun.


Purba beralaskan akan mencari makanan dan mengambil pakaian ganti.


**#

__ADS_1


Mobil melaju cukup cepat, karena menurut berita, Rara mengamuk merusak barang-barang kantor. Purba tak ingin masalahnya menjadi besar sehingga menghambat kinerja kantor beberapa hari ke depan.


Bersambung ....


__ADS_2