
Sampai di basement, Rara masuk ke dalam mobil di samping Bizar. Namun, pintunya dikunci.
Tok...! Tok ...!
“Mas Bizar, buka.” Rara sedikit berteriak.
“Kamu tidak perlu berteriak. Apa kamu tidak lihat, pintu di belakang terbuka?” Purba menegur Rara yang sibuk meminta buka pintu pada Bizar.
Rara menoleh pada tempat duduk bagian belakang, dia sedikit berjalan pada pintu yang sejak tadi sebenarnya sudah dibuka.
“Saya duduk di sini Pak?” tanya Rara ragu.
“Hem,” jawab Purba.
“Kemarin kan saya tidak boleh duduk di belakang. Karena ....”
“Udah... masuk, bawel,” potong Purba, menepuk tempat duduk di sampingnya.
Rara mengikuti saja. Selama dalam perjalanan, Rara hanya diam. Gerogi juga kalau duduk sangat dekat dengan Purba.
“Nona, alamatnya di mana?” tanya Bizar.
Rara bingung, dia tidak enak sama Retno. Belum izing juga, takutnya ada gosip tetangga. Rara aja belum pernah Retno lihat diantar cowok.
“E, em ... Mas Bizar, saya turun di depan sana aja. Nanti ada pangkalan OJOL.” Rara agak-agak takut.
“Rumahmu di pangkalan ojeg? “ Tanya Purba.
“Eh, bukan, bukan Pak. Anu ... saya malu sama teman saya, kalau pulang di antar pria, apalagi pake nibil5 bagus. Tetangga suka rame Pak. Saya juga numpang di rumah temen,” Rara mencoba menjelaskan.
“Hah ... ribet. Yaudah, kita makan dulu di tempat biasa Zar, “ ucap Purba.
Kalau sekedar makan, Rara tidak menolak.
Beberapa saat kemudian, Purba menerima panggilan.
“Assalamualaikum Pa.” Purba memberi salam pada seseorang di seberang telepon.
“Iya, Pak, Maaf. Aku belum sempat kasih tahu, Beberapa hari kemarin Mona masuk rumah sakit. Rencana mau kabari bapak dan ibu nanti kalau pekerjaan kantor sudah stabil,” jawab Purba.
Rara menyimak percakapan Purba dengan siapa. Namun, perkiraan Rara, itu sih orang tuanya Purba, karena Purba sangat santun dalam berkata. Jika seperti ini, Purba terlihat bukan seorang direktur perusahaan.
Sosok sederhana dari diri Purba sangat terlihat, tuturnya bagus, tenang dan auranya pun mendadak berubah seperti terlihat lebih dewasa.
__ADS_1
“Iya Pak, maafkan Purba Pak. Nanti kalau Purba pulang, Purba cerita semua. Untuk sekarang ya seperti itu adanya. Ikuti saja apa kata mandornya Pak Hartanto. Sekali lagi maafkan Purba ya, Pak. Ini gara-gara Purba, Bapak jadi menderita juga.”
Rasa sungguh penasaran, apa yang dibahas bosnya itu. Tetapi dia takut jika harus banyak tanya. Perasaan Rara jadi kasihan pada Bisnya ini.
Susana hening, apalagi Purba sudah selesai menelepon. Rara sangat canggung Susana diam seperti itu. Bebera saat kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah makan terlihat nyaman khas Nusantara.
Rara pikir akan ke suatu tempat mewah. Nyatanya ini sebuah bangunan sederhana, dominan dari bambu, tapi sepertinya tempat makannya berada di belakang bangunan ini. Dari depan seperti bangunan kecil biasa, tapi banyak kendaraan terparkir di sana.
Rara ikut turun saat Purba turun, dia tak menunggu diperintah, apalagi suasana dari tadi sunyi.
Benar saja, saat memasuki bangunan, ada jalan panjang ke belakang dengan bangunan saung kanan kiri, ada juga taman dan beberapa kolam. Pesawahan yang dan saung di tengah-tengahnya.
Sejuk sekali, cocok untuk melepas lelah sambil memanjakan kerut.
Rara, Purba dan Bizar memesan satu tempat dan sekaligus beberapa menu. Setelahnya, berjalan kembali ke tempat yang dituju sesuai nomor yang diberikan pelayan tadi.
“Em ... Bapak, maaf. Yang tadi siapa? Ayahnya Pak Purba ya?” Rara memberanikan diri bertanya, dia bosan dengan suasana sepi, berasa tegang jadinya.
Purba hanya mengangguk. Rara lega, rupanya Purba tidak marah.
“Ra, setelah makan, kamu diantar Bizar ya. Sampai mendapatkan grab, kamu tidak boleh naik ojeg.” Purba menyarankan.
“Kan, biasa naik angkot,” ucap Rara.
“Oh ... iya, baiklah.” Rara ikut saja.
Beberapa menu sudah terhidang, Purba terlihat makan dengan lahap.
“Uhuk ... uhuk ...,” Purba batuk, tersedak sambel karena makannya terbu-buru.
Rara refleks mengambilkan minum, sedangkan tangan kirinya mengusap-usap punggung Purba.
“Pelan-Pelan, Pak. Makanya.” Rara memperingatkan.
Purba memegang tangan Rara yang membantunya untuk minum. Rara sedikit terkejut. Ini benar-benar dekat. Dua kali Rara disentuh tangan oleh Purba, rasanya masih aneh saja. Gugup dan malu tidak jelas.
Makam Pun selesai.
“Hati-hati Ra,” ucap Purba saat Rara turun dari saung temoat makan.
Rara menatap menatap Purba dengan senyuman, “Terima masih Pak.” Kemudian Rara pergi, diiringi Bizar.
“Mas, Bizar. Boleh tanya?” ucap Rara, saat berjalan menuju depan bangunan restoran.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Bizar singkat.
“Pak Purba sedang ada masalah keluarga ya? Ayah, Ibunya kenapa?” tanya Rara penasaran.
“Itu bukan urusan saya, Non. Jadi saya tidak bisa menjelaskan.” Jawaban Bizar di luar ekspektasi Rara.
“Mas Bizar kan, assistennya. Masa tidak tahu,” desak Rara.
“Meskipun saya orang terdekat Pak Purba dan saya tahu segalanya tentang beliau, saya tidak berhak banyak bicara pada orang lain, tentang beliau.”
“Hum ... ok. Tak apa.” Rara mengerti dengan posisi Bizar.
“Itu Non, mobil yang sudah dipesan untuk mengantar Non Rara Pulang,” ucap Bizar menunjukkan.
“Permisi Non, saya hanya bisa mengantar sampai sini,” lanjutnya.
“Iya, makasih Mas Bizar.” Rara tersenyum sebelum menuju mobil yang sudah dipesan online untuk menjemput.
Ponsel Bizar bergetar saat dirinya mau kembali ke tempat Purba berada.
“Iya Tuan?” tanya Bizar melalui sambungan telepon.
“Kamu tunggu di depan. Barusan Pak Gunawan mengabari sudah dekat sini. Nanti kamu bareng Pak Gunawan ke sini, agar beliau tidak lama cari-cari tempat kita,” pesan Purba.
“Baik Tuan. “
**#
Pak Gunawan sudah sampai, kini satu tempat dengan Purba dan Bizar, di tempat tadi mereka makan.
Perbincangan sudah berlangsung sekitar setengah jam. Saat pelayan menyajikan beberapa hidangan tradisional, sesuai ciri khas rumah makan tersebut, sebuah ide muncul dari Pak Gunawan.
“Pak Purba, bagaimana jika nanti dalam event Busana Nusantara, kita juga menyajikan stand-stand jajanan tradisional. Agar suasana Nusantara kental, jadi tidak hanya memamerkan budaya dari sisi fashion saja,” papar Pak Gunawan, terlihat begitu percaya diri bahwa hal itu akan membuat acara sukses.
“Idenya sangat menarik, Pak. Meski aku tidak tahu mendatangkan dari mana sajian seperti itu. Jika harus mewakili berbagai daerah,” respons Purba positif, tapi diakhir dengan kendala pasokan.
“Jika Pak Purba setuju dengan ide saya, itu bisa diatur. Perkara pengadaan atau kita bisa meminta orang untuk membuat. Tidak perlu seluruh daerah, setidaknya 10 stand dari perwakilan daerah.” Pak Gunawan memberikan gagasan kembali.
Purba setuju, masih ada waktu untuk mencari dari mana barang bisa diadakan atau mencari orang yang bisa membuat makanan tersebut.
Tiba-tiba dia ingat Rara, bahwa Rara dari Jawa Tengah, hobinya juga masak. Besok Purba akan diskusi dengan Rara.
Bersambung ...
__ADS_1