
Akhirnya dengan pertimbangan matang purba setuju dengan keputusan mertuanya. Karena tidak mungkin dia menolak, memang kalau diperhitungkan Yosef yang lebih berhak atas perusahaan itu daripada dirinya meskipun purba merasa kurang percaya dengannya.
Entah mengapa sebelum kepergiannya pulang kampung, Purba ingin bertemu Rara sebentar, dia ingin menceritakan bahwa bagaimana karakter Yosef sebenarnya.
Purba dan Mona hanya berkunjung sampai sore hari di rumah tuan Hartanto. Saat mereka akan pulang menuju rumahnya, Mona meminta untuk menonton film tentang percintaan.
Kemarin memang sudah menonton tapi itu film horor yang sedang viral sehingga mereka sepakat menonton bersama karena memang film tersebut membuat penasaran, tapi kali ini Mona ingin menonton film romantis.
Karena menurutnya itu dapat membangun suasana kebersamaan dirinya dan Purba lebih lengkap lagi.
Purba tidak dapat menolak kemauan Mona, karena dia sedang menumbuhkan kepercayaan pada diri Mona.
Purba ingat saat membaca salah satu postingan di media sosial, "Jika jiwa sudah hancur jangan disengajakan mencoreng noda di depannya. Karena jiwa itu akan lebih nekat menghancurkan dirinya, bahkan orang-orang sekitarnya akan celak. Perlakukanlah jiwa itu selembut mungkin sampai kesadarannya menerima bahwa lingkungannya tidak bisa dia kendalikan seenaknya."
Karena purba merasa saat ini semakin dia sengaja untuk berbuat buruk di hadapan Mona, semakin Mona menjadikan kelemahannya itu untuk menyerang balik Purba. Contohnya seperti mengadu pada papanya, dia membuat dirinya depresi dan hal itu membuat Purba kena tanggung jawab yang lebih terutama dari keluarganya.
Setelah sampai di bioskop Purba menawarkan beberapa makanan untuk teman menonton.
"Aku pengen jus jeruk hangat saja dan seperti biasa popcorn. Nggak ada makanan lain kan?" pinta Mona.
"Ya udah, aku antri dulu ya. Kamu tunggu saja duduk di sebelah sana," ucap Purba menunjukkan tempat duduk yang berjajar, di samping tembok-tembok sekitar bioskop itu.
Kebetulan pengunjung belum begitu banyak, Purba dan Mona mendapat tempat duduk di barisan kedua. Selama menonton film tersebut, Mona selalu memeluk lengan Purba. Hatinya sungguh bahagia, fantasinya pun melayang, dia ingin romantis seperti di adegan film tersebut.
"Sayang, nanti kita pulang main yuk!" kata Mona dengan bisikan halus di telinga Purba.
Purba yang badannya condong miring ke kiri karena menyeimbangkan untuk mendengar bisikan Mona dia bingung main apa, sudah malam.
"Mama, kita kan seharian udah di luar. Main apa lagi?"
"Ih ... sayang, kayak gitu aja gak tahu. Ya main pokoknya, kita harus segera punya anak lagi. Biar hidup kita lebih lengkap, kan nggak seru rumah tangga kita udah sangat baik loh, apalagi dengan kehadiran anak, iya kan?" bujuk Mona.
Purba mengangguk dengan menepuk tangan Mona yang berada di lengannya pertanda ia menyetujui permintaan istrinya.
Mengapa purba seakan mudah saja menuruti keinginan Mona untuk diajak bercinta? Purba sudah merubah pola pikirnya. Kalau dulu saat baru pertama menikah dia mau tak mau untuk melayani Mona, karena memang tidak ada cinta.
Akan tetapi sekarang Purba berusaha meyakinkan dirinya, bahwa lelaki memang butuh dipuaskan nafsunya.
Kenapa tidak, Purba menikmati Mona dengan tubuh yang sempurna, wajah yang cantik, permainan yang bagus, justru mungkin lelaki di luar sana sangat mendambakan istri seperti Mona.
Maka dari itu Purba mencoba untuk menyalurkan sugestinya, bahwa nikmatilah sesuatu yang bisa dinikmati di depannya, jangan disia-siakan.
Apalagi itu istrinya sendiri. Makanya purba akhir-akhir ini sama-sama mengimbangi permainan Mona dan itu tidak begitu menyebalkan buat Purba.
__ADS_1
Malah untuk Mona sendiri sebaliknya, dia lebih bahagia. Dia pikir Purba sudah dapat menerima dirinya dengan permainan yang bisa lebih panas dari sebelumnya.
**#
Saat sampai di rumah ternyata Mona tertidur di dalam mobil, Purba membunyikan klakson agar scurity yang ada di pos jaga, menghampirinya.
"Pak, tolong mobilnya ditempatkan ya. Aku mau menggendong ibu," ucap Purba.
Kalau kepada para pelayan, Purba memanggil ibu kepada Mona, karena untuk menyelesaikan dengan para pelayan, tukang kebun dan scurity.
"Baik Pak," ucap security tersebut.
Sedangkan Purba membawa Mona dengan cara digendong. Sampai ke kamar saat Mona ditaruh di tempat tidur dia terbangun, tangannya melingkarkan di leher Purba.
"Mas jangan lupa ya, janji ...," gumam Mona, dia masih memejamkan matanya.
"Mama... ini sudah malam, kamu juga sangat lelah sepertinya ucap," Purba.
"Tapi kalau untuk itu tidak lelah ... ayo aku siap. Apalagi kalau permainanmu menggemaskan aku pasti bangun hayo," paksa Mona, pada Purba.
"Tapi aku harus ke kamar mandi, dulu kita habis dari luar badan kita kotor."
Seketika Mona bangun, lalu berkata, "oke, aku juga akan membersihkan diri karena aku sepertinya nggak enak, lengket karena keringat," kata Mona langsung berjalan ke kamar mandi.
Setelah Mona membersihkan diri, dia hanya mengelap badannya dan membersihkan bagian-bagian yang akan mereka gunakan untuk bermain malam ini. Mona bersiap di tempat tidurnya sedangkan Purba masuk ke kamar mandi.
Setelah purba keluar, Mona meminta Purba jangan mengenakan apapun. Purba juga melihat Mona sudah siap tanpa sehelai benang pun di tempat tidur.
Purba menarik nafas, imajinasinya dia setting agar seakan-akan dia adalah kucing yang akan menyantap ikan di depannya. Bayangkan, ikan itu adalah ikan yang sangat bagus dan dia harus menikmatinya. Itulah kunci mengapa sekarang purba bisa mengimbangi permainan Mona, rasa kesal, benci karena terpaksa menikahi sudah dikesampingkan.
**#
Keesokan harinya seperti biasa purba bangun pagi untuk masuk ke kantor.
"Mas, kamu masuk kantor? Kan kata Papa, kita akan ke rumah ibu dan ayah di kampung," ucap Mona yang belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
"Aku hanya sebentar Ma, menitipkan beberapa hal penting kepada Vira dan Bizar juga," ucap purba dengan segera memakai pakaiannya.
"Ya... Ya... udah, terserah deh, tapi aku mau lanjut tidur ya. Oh ya, BTW makasih ya. Semalam aku suka banget, ternyata kamu semakin ke sini semakin hot," ucap Mona.
Namun, Purba langsung turun ke lantai bawah untuk sarapan, dia tidak menggubris perkataan Mona yang terakhir.
Beberapa saat, Purba sepertinya mendengar ada kendaraan masuk ke halamannya.
__ADS_1
"Itu siapa ya Mbak Idah? Pagi-pagi sekali udah ada yang kemari," tanya Purba.
"Akan saya lihat, tuan," ucap Idah yang sudah menyediakan makanan di meja, kemudian pergi dengan segera ke teras
Saat purba sedang menikmati sarapannya ternyata itu adalah Tuan dan Nyonya Hartanto, mereka sangat rapi sepertinya akan menuju ke suatu tempat.
"Papah, Mama, pagi-pagi sekali, mari gabung ikut sarapan." Purba mempersilakan kedua mertuanya.
"Gimana Mona? Sudah siap?" tanya nyonya Hartanto.
"Siap, apa mah?" tanya purba tidak begitu mengerti.
"Bukannya kita akan menemui ayah ibumu sekarang?"
"Sekarang? saya pikir besok," tanya Purba sedikit bingung.
"Gimana sih, kamu bilang tidak ingin lama meninggalkan kantor, mumpung kamu dari kemarin sering libur. Ya... sekarang sekalian saja, itung-itung cuti," jelas Tuan Hartanto.
"Tapi Mona belum bangun, Mah."
"Biar mama yang bangunin," ucap Nyonya Hartanto menuju ke kamar Mona.
*##
"Sayang, kamu belum bangun? Ayo siap-siap, biar kita tidak terlalu siang," ucap Nyonya Hartanto saat sudah berada di kamar Mona.
Mona terperanjat, mendengar suara asing di rumahnya, biasanya kalau tidak suara Purba ya pelayannya.
"Mama ...pagi-pagi sekali?" ucap Mona terbangun, sambil mengerjapkan kedua matanya.
Tubuhnya pun ditutupi selimut, karena dia belum menggunakan pakaian sedikitpun.
"Kita, kan mau ke rumah orang tuanya Purba. Kamu lagi mengapa lupa seperti suamimu, dasar... seperti pengantin baru aja." Nyonya Hartanto geleng-geleng kepala melihat Mona, yang masih bertubuh polos, meskipun tertutup selimut, dia tahu semalam anaknya baru melakukan apa.
"Jadi sekarang Mah? aku pikir besok."
"Kamu sama saja seperti suamimu. Mengapa tidak menyimak perkataan Papamu dengan baik kemarin? Ayo bangun, biar mama yang rapikan tempat tidurnya."
"Inga!t Jangan pakai pakaian terlalu terbuka, apalagi di tubuhmu banyak sekali tanda merah. Kamu nggak malu apa?" lanjut Nyonya Hartanto.
"Kenapa harus malu Ma? Justru bangga, ini dilakukan oleh suami sendiri," bela Mona, sambil beranjak ke kamar mandi.
Nyonya Hartanto, hanya menggeleng dan tersenyum. Kelakuan anak zaman sekarang memang terlalu berani dengan hal-hal tabu. Zaman dulu hal seperti itu sangat dirahasiakan, bahkan yang pacaran sekarang aja berani bermesraan di depan umum. Zaman aneh ...
__ADS_1
Bersambung...