Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Diskusi Maksud Peneror


__ADS_3

Awalnya Azka ragu untuk menceritakan pengalamannya yang sembunyi-sembunyi bertemu dengan Azkia. Untuk seorang anak kecil pertimbangannya bukan karena takut salah bicara atau karena untuk menghargai privasi kenyamanan dengan saudara kembarnya. Namun, dia bingung. Belum mengerti keadaan yang sebenarnya bagi orang dewasa apakah itu sangat penting.


Azka hanya tahu bahwa untuk menjadi saudara yang baik dia harus menepati janji, yang penting mereka tetap bisa bertemu. Azkia bahagia jika rahasianya dijaga, begitupun dengan Azka sebagai saudara kembar dia mau membahagiakan saudaranya. Pemikiran yang sederhana bagi seorang anak kecil.


"Apa yang kamu katakan, Nak?" tanya Rara antusias sekali. Air matanya yang membanjiri pipi disekanya segera. Dia merasa mendapatkan hadiah yang tak terkira, saat mendengar Azka bicara seperti itu.


Aska mengangguk, " Aku mengatakan yang sebenarnya Bu."


"Lalu sekarang di mana saudara kembarmu," tanya Rara antusias.


Azka menceritakan saat dia awal pertama bertemu dengan Azkia. Cerita yang sangat panjang dan detail, walaupun seperti itu Rara tetap sabar menunggu cerita itu sampai selesai. Dia mengerti kalau anak kecil itu ingin didengar, tidak bisa terburu-buru untuk menyelesaikan apa yang ada dalam pikirannya.


Rara mengatakan penyesalannya, kenapa Azka tidak menceritakan kepada dirinya. Tangis Rara yang sudah mereda dia mulai emosional kembali. Dengan lagi-lagi menyayangkan Kenapa Azka tidak berterus terang. Bukankah dia tahu bahwa ibunya selalu mengharapkan Azkia kumpul bersama.


Sementara itu Bu Sugeti menenangkan Rara, jangan sampai terbawa perasaan seperti itu. Nanti Azkia malah tidak ingin menceritakan lebih jauh lagi.


Rara dapat mengontrol emosionalnya, tangisnya sudah mereda kembali. Hanya dia lebih banyak diam daripada merespon cerita dari anaknya.


"Dan sudah hampir seminggu ini Azka belum ke sana lagi, makanya Azka tidak tahu kalau Ayah sakit." Bocah itu menceritakan hal yang sebenarnya.


Entah mengapa mendadak Azka sedang tidak ingin bertemu saudara kembarnya, lebih tepatnya bukan sedang tidak ingin, tapi sedang banyak keseruan aja di rumah ada bayi yang lucu, di sekolah banyak praktek kegiatan sehingga Azka tidak ingin buru-buru bertemu saudara kembarnya. Bukan merupakan atau tidak rindu tapi Azka juga tidak ingin ibunya mencurigai sering sekali dirinya main terlalu lama.


Soalnya Azka kalau bertemu Azkia akan sangat betah untuk bermain walau hanya sekedar mengobrol.


"Kalau begitu Azka mau antar ibu ke tempat Azkia?" tanya Rara, dengan nada bicara yang pelan. Karena tadi dia sempat terbawa perasaan untuk tidak sabar mengorek informasi dari putranya tersebut.


Azka mengangguk, dia bersedia mengantar kapanpun ibunya mau bertemu Azkia. Seketika Rara memeluk putranya tersebut, walau hanya baru mendengar berita Rara sudah sangat bahagia sekali.


***


Sementara itu di kediaman Tuan Hartanto.

__ADS_1


"Pak, Maaf. Dipanggil Tuan besar," ucap salah seorang pelayan di rumah tersebut kepada Purba, yang sedang rebahan di Gazebo.


Pelayan tahu bahwa Tuan mudanya itu tidak tidur, makanya berani membangunkan. Terlebih itu juga disuruh oleh Tuan Hartanto.


Purba langsung terbangun, tanpa berkata apapun lagi dia meninggalkan gazebo, lalu mengikuti pelayan meninggalkan taman tersebut. Pelayan mengarahkan bahwa Purba ditunggu di teras oleh Tuan besar.


Rupanya Tuan Hartanto ingin Purba memberikan penghormatan kepada calon besannya, karena akan pulang.


Kini Purba,  kedua mertuanya dan Yosef berada di teras, mengiringi kepergian keluarga dari calon istri Yosef. Mereka memasang senyum ramah, menandakan mereka bersukacita akan menerima keluarga baru beberapa waktu lagi.


"Mari Nak Purba. Ada hal apa? Sepertinya sangat penting?" ajak Tuhan Hartanto, menyentuh punggung Purba untuk berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.


Tuan Hartanto juga menanyakan tempat di mana yang nyaman untuk berbincang. Apakah ruang tamu? Di ruang kerja atau di taman belakang? Meskipun waktu sudah hampir sore, siapa tahu Purba memang memilih di taman belakang yang lebih leluasa dengan udara bebas, serta pemandangan yang cukup memanjakan mata. Siapa tahu yang dibicarakannya adalah sesuatu hal yang sangat penting dan urgent.


Nyonya Hartanto bertanya sebelum ikut nimbrung untuk permasalahan yang akan disampaikan oleh Purba.


"Mama boleh ikut, kok. Termasuk Bang Yosef." Purba merespon pertanyaan dari mama mertuanya, sekaligus aja meminta Yosef untuk gabung mumpung ada di sana.


Yosef sempat menoleh kepada mamanya, sepertinya ini sangat penting. Karena dirinya juga diikutsertakan. Berarti bukan masalah kantor, tapi benar-benar masalah keluarga.


Tanpa menunggu lama lagi, setelah semuanya duduk, Purba mengawali pembicaraan dari pertama dia mendapatkan pesan teror yang sifatnya masih misterius.


Awal mula dia hanya mengabaikan teror tersebut karena memang tidak jelas. Namun, beberapa hari terakhir peneror itu memperjelas apa tujuannya. Ternyata itu adalah perihal video asusila Mona, dengan salah seorang pria yang katanya mereka memiliki hubungan serius.


Yosef tidak merespon dengan signifikan karena dia tahu pasti ini mengenai Bram.


Beda halnya dengan mama dan papanya Mona. Sebenarnya kedua orang tua Mona juga tidak begitu terkejut karena mereka sudah tahu waktu itu saat mau nadi selamatkan oleh Yosef dan pelaku di penjara. Namun keterkejutan mereka mengapa sampai ada videonya segala.


"Lalu, inti tujuan si peneror itu apa Nak Purba?" tanya nyonya Hartanto. 


Reaksi seorang wanita dengan seorang pria tentu saja berbeda. Meskipun Tuan Hartanto sama-sama tidak menyangka seperti istrinya namun mimik wajah dia lumayan tenang. Daripada nyonya Hartanto yang terlihat sekali gurat kecemasan di wajahnya.

__ADS_1


Yang pasti dia meminta sejumlah uang dan jika kita tidak menuruti video itu akan tersebar.


Astagfirullah sampai segitunya Ibu pikir waktu itu sudah selesai nyonya Hartanto keceplosan bicara


. Waktu itu tanya purba sedikit mengurutkan keningnya


Berarti papa mama dan Bang Yosep sebenarnya tahu apa yang terjadi pada Mona dan kalian tidak mengatakan apapun padaku tanya purba merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari dirinya.


Jika kejadiannya seperti itu purba merasa dibohongi dan dimanfaatkan saja. Untuk tetap memaksakan rumah tangga yang sebenarnya hampir runtuh tetap terlihat utuh. Mereka tidak tahu di dalamnya hubungan Mona dan Purba semakin ke sini seakan tak ada gunanya ikatan pernikahan itu. Bahkan sampai detik ini mereka sudah masing-masing hanya saling sapa seakan sebagai teman yang itu pun bukan teman dekat.


Mereka semua terdiam, sebenarnya bukan ingin menyembunyikan dari Purba. Akan tetapi bingung harus menyampaikan dari mana terlebih dahulu. Masalah ini memang tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Purba sendiri sudah mengetahuinya.


"Katakan saja dari manapun awalnya. Nanti kalau ada yang aku kurang paham pasti bertanya." Purba meminta mereka untuk jangan ragu mengatakan.


Seakan tahu isi hati mereka, Purba memintanya dengan sangat agar permasalahannya menjadi jelas.


"Yosef, kamu saja," pinta Tuan Hartanto.


Karena Yosef yang mengetahui permasalahan yang berhubungan dengan video itu. Maka dirinyalah yang diminta untuk menjelaskan, sehingga ada kaitanya dengan teror tersebut dan semakin jelas niat dari si peneror.


Jika menceritakan yang lampau sangat jauh, tanpa diceritakan mungkin Purba juga sudah memiliki firasat. Namanya, juga pergaulan dunia malam pasti kalau perihal hubungan bebas kemungkinan besar terjadi. Meskipun ada yang bisa menjaga diri, tapi itu hal yang kecil.


"Iya, sebelum menikah denganmu, Mona memang berhubungan dengan Bram." Yosef memulai ceritanya.


"Saat itu Mona benar-benar ingin berubah menjadi istri yang baik, dia menghindar dari Yosef cukup lama.


Namun, saat kamu pergi ke luar kota, Bram datang ke rumah. Dia mendesak Mona untuk memberikan yang biasa Bram dapatkan. Mona sudah menjelaskan bahwa dia putus. Makanya, Mona tak pernah lagi menghubungi Bram atau pergi ke diskotik.


Sebenarnya Bram sempat diringkus saat itu, karena melakukan tindakan pemaksaan pada Mona, terlebih memamsa untuk berbuat mesum. Namun, karena dia sendiri memiliki kekuasaan, tak lama mungkin bebas. Bisa membayar pengaca bagus.


Terlebih Bram menunjukkan pada pihak berwajib bahwa mereka pasangan, saling suka. Saat Bram datang ke rumah waktu itu, antara Bram dan Mona hanya sedang bertengkar kecil saja. Hal yang sering terjadi pada sebuah hubungan.

__ADS_1


"Jadi, Bram sekarang dipenjara itu bukan yang pertama Kalianya?" tanya Purba.


Bersambung....


__ADS_2