Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Mengalah


__ADS_3

Saat malam waktunya tidur. Namun Rara melihat ponselnya ada pesan. Dia menghela napas, ternyata itu dari Purba. Dia enggan membacanya.  Melihat dari bar notifikasi saja malas, takut kata-kata yang tidak mengenakan.


 


Malam semakin larut, tapi Rara tak bisa memejamkan matanya. Banyak hal-hal yang bergelayut di kepalanya, termasuk pindah kerja saja, tapi kerja apa?


Ada penyesalan dalam dirinya, kenapa dia menerima tawaran Purba jadi sekretarisnya? Kerjaan dengan gaji besar, tentu risikonya besar. Rara tidak terpikirkan risiko sebelumnya, karena dia fokus ke hubungan pura-pura yang Purba minta. Bukan jadi terlibat urusan kantor yang penting.


Dibukanya ponsel dan galeri photo, dilihatnya album Azka dan Azkya sebagai pelipur kara. Ada senyum Dan air mata melihat kedua buah hatinya.


Sambil tiduran, Rara terus membuka kenangan saat mereka bersama, sampai kantuk pun tiba.


**#


“Kamu ke mana aja selama ini, Ra? Kamu tidak menghargai perasaanku?” tanya Purba yang mengejar-ngejar Rara di koridor kantor.


Rara terus berjalan entah ke mana tujuannya, yang pasti menghindari Purba.


“Ra ...? Rara! Dengerin aku dulu, aku minta maaf. Apa yang harus aku lakukan agar kau mau bicara?” tanya Purba sekali lagi.


Hingga sampai pada sebuah lift, tadinya Rara tidak akan memberi kesempatan Purba masuk, tapi Purba sangat cepat, dia menahan pintu lift agar tidak tertutup. Bahkan Rara sempat terdorong masuk secara cepat dan hampir jatuh.


Purba menahannya, pinggang Rara diraihnya. Posisi mereka sangat dekat, netra mereka saling pandang, Rara terkejut sudah berada di dalam lingkaran tangan kokohnya Purba.


 


Purba mundur beberapa langkah hingga dekat ke pintu, tombol lift. Punggungnya bersandar pada samping dinding lift. Tangan kanannya melingkar di pinggang Rara, tangan kiri Purba menyusut wajah ayu, teduh nan sederhana. Setiap lekukannya tanpa permak kekinian. Tenang dipandang mata.


Bunyi lift berdenting, Rara terenyak, hendak menjauh dari Purba. Dia malu kalau seseorang akan datang dan masuk lift.


Namun, seketika Purba menarik pinggang Rara semakin dalam. Tangan kirinya memijit kembali tombol lift yang sudah di lantai satu kembali ke lantai atas.


Rara melebarkan matanya, mengapa Purba berbuat demikian?


“Ssst ... jangan biarkan keadaan ini cepat berakhir. Aku ingin lebih lama denganmu seperti ini,” bisik Purba. 


Rara terbengong, begitu dalam menatap ke dalam manik mata bosnya itu. Seriuskah apa yang di dengar? Jangan-jangan ini hanya mimpi.


“Jangan menolak menyadari perasaanmu. Aku ingin dengar, apa yang kamu rasakan, saat kita sedekat ini?” lagi-lagi Purba berkata aneh, yang membuat Rara seakan tak biasa menapak.


Kaki Rara terasa melayang, tapi bukan rasa bahagia. Justru malah takut, takut hanya kebohongan, jebakan bosnya yang iseng.


“Derara, aku mencintaimu. Aku sayang kamu dan ingin memilikimu,” ucap Purba dengan bibirnya yang begitu dekat dengan telinga Rara.


Embusan napas Purba yang hangat, sanggup membuat Derara terbuai hingga memejamkan matanya.

__ADS_1


Rara merasakan rengkuhan tangan Purba semakin erat mencengkram pinggang kecilnya benar benar tak berjarak dengan tubuh Purba.


Tangan Rara mencengkram lengan Purba, dia menahan jarak yang semakin dekat dan dekat lagi, bahkan wajah Purba dirasakannya sudah menempel pada wajah bagian sampingnya. Pipi mereka beradu, rasanya hangat dan membuat sensasi tubuh melemah.


“Apa ini ... Pak, hujan Pak ... hujan ...!” teriak Rara.


Dengan tergagap, Rara mengusap wajahnya yang basah kena air yang jatuh dari atasnya.


 **#


“Woy ... Bangun! Siang nih, lagian tidur sambil senyum-senyum, aneh deh,” ucap Retno


Rara tergagap, masih mengusap – usap wajahnya, padahal tidak terlalu basah. Karena Retno hanya memercikkan saja.


“Apa sih Ret ... gak harus disiram juga, kan,” ucap Rara masih dengan suara parau.


“Habisnya susah dibangunin dari tadi loh.”


Rara terdiam sesaat, rupanya tadi hanya mimpi.


"Ayo mandi, masih sempet buat berangkat kerja," ucap Retno.


“Tapi ... kayanya aku gak masuk kerja deh,” sahut Rara.


“Serius? Kenapa?” ucap Retno.


“Ya udah deh, jaga diri ya.” Retno berlalu.


Sedangkan Rara, dia beranjak ke kamar mandi.


**#


Sedangkan di rumah Purba, dia bersiap berangkat kantor. Sejak kemarin sudah tak bertegur sapa dengan istrinya. Lagi pula Mona terus berada di kamar.


“Mbak Idah, kemarin Ibu udah makan?” tanya Purba.


“Ibu sudah makan, kemarin turun Pak, tapi maaf ... bukan bermaksud saya mengadu, tapi ... teman-teman Ibu kemarin banyak ke sin. Mereka minum-minum, saya Cuma khawatir, ibu baru sehat. Kemarin juga beberapa kali muntah,” ucap Mbak Idah, agak ragu.


Purba dilema, satu sisi Mona adalah istrinya, dia tidak boleh terlalu cuek. Harga dirinya sebagai lelaki sekaligus seorang suami harus ditunjukkan.


Purba mengambil roti dan mengolesinya dengan selai strawberry ditambah beberapa almond. Dibuatnya dua tumpuk roti, kemudian susu yang dibuatnya oleh tangan sendiri.


Disimpannya tas kerjanya, kemudian dia beranjak ke kamar Mona, dia harus membujuk istrinya sampai keadaan membaik. Kedua orangtuanya sudah mendapatkan susah, begitu pun adiknya, jangan sampai keadaan lebih parah.


Saat Purba hendak menaiki tangga, Mona terlihat sedang menuruni tangga. Mona pikir, mungkin Purba sudah berangkat kerja sehingga dia pergi ke dapur untuk sarapan.

__ADS_1


Namun, saat Purba dan Mona hampir saja dekat, Mona menyadari Purba belum berangkat kerja, dia sekarang di hadapannya.


Mona segera membalikkan badan, setengah berlari menuju ke kamarnya. Purba dengan gesit menaruh nampan yang dipegangnya, kemudian menyusul istrinya. Dikhawatirkan akan tumpah, jika Purba terus berlari dengan nampan di tangan.


“Ma ... tunggu, aku minta maaf!” seru Purba sambil berlari.


 Bruk ...!


Brugh ...!


Dua kali suara benturan beriringan. Suara Mona menutup pintu dengan keras di susul Purba yang menghantam pintu karena mengejar agar pintu tidak sampai ditutup Mona.


Meski pintunya sudah terlanjur ditutup, tapi Purba berhasil menahan dan membuka pintu sebelum Mona berhasil menguncinya.


Purba langsung memeluk Mona dari belakang, saat Mona akan beranjak ke tempat tidur.


“Ma... maafin aku. Iya, aku yang salah. Aku yang tidak mengerti kebutuhanmu,” lirih Purba.


Mona sang hyper, langsung luluh dengan suara berat Purba yang seksi dan dekapan tangan lembut nan hangat. Mona mulai luluh, tapi dia ingat, harus jual mahal terlebih dahulu.


Mona berusaha berontak, dia ingin melepaskan tangan Purba. Namun, berkali-kali gagal, tangan Purba sangat erat dan kuat.


“Jika aku tidak dimaafkan, tak masalah. Tapi, bersikaplah seperti biasa, bukankah minggu depan kita ada acara?” Purba berusaha membujuk.


“Lepas Mas ... lepas!” ucap Mona dengan suara kesal.


Dert ...!


Dert ...!


Ponsel Mona yang terletak di meja dekat tempat tidur berbunyi. Dalam layar tertera nama My Mom, itu adalah ibu mertua Purba.


“Kenapa tidak diangkat?” tanya Purba. Namun, Mona diam saja.


Dengan masih memeluk Mona, Purba berjalan mengambil ponsel itu, sedangkan Mona tak lagi berontak, dia tak bisa benar-benar marah, jika Purba sudah sangat manis seperti itu.


Saat panggilan berhenti, Purba memanfaatkan waktu untuk membuat Mona luluh. Dia melakukan hal yang sangat Mona sukai, hingga beberapa suara menggelikan lolos dari bibir Mona.


Panggilan kembali masuk pada ponsel Mona.


“Pagi Mom?” sapa Purba dalam panggilan video call tersebut.


Terlihat Nyonya Hartanto sangat bahagia, senyum lebar terpancar saat melihat Purba begitu mesra bersama putrinya yang dipeluk.


“Pagi juga Nak. Kalian masih saja sibuk di kamar ya? Momy senang melihat kalian bahagia seperti ini,” ucap Nyonya Hartanto.

__ADS_1


Mona sudah memasang wajah manis, karena sebelum Purba menerima panggilan ibu mertuanya, dia sempat mengecup tengkuk dan sekitar leher Mona dengan bisikan yang sangat Mona inginkan, pagi ini juga di kamar mandi.


Bersambung....


__ADS_2