
“Azka, kamu beli mainan banyak ya? Main yuk!” ucap seorang anak kecil seusia Azka. Dia ke sana bersama ibunya.
“Mbok Sugeti, anak saya mau main nggak apa ya? Padahal udah saya larang loh. Ngga enak karena ada Ayah baru Azka. Maaf ya, namanya juga anak kecil,” ucap tetangga itu.
Rara merasa nggak enak saat ibu tersebut mengatakan Ayah baru Azka. Meskipun dia sama Purba memang ada hubungan, tapi kenapa para tetangga suka mudah menyimpulkan seperti itu? Dan rasanya tidak sopan sekali belum tahu apa-apa sudah seperti mengetahui segalanya.
“Iya... ndak apa-apa Bu, namanya juga anak kecil, pasti pengennya main terus. Tap Azkanya masih capek. Gimana kalau mainnya besok? Sekarang kan udah sore, Azka mau mandi, belum makan juga. Besok ke sini lagi ya,” ucap Bu Sugeti pada anak tersebut, yang bertujuan semoga ibunya juga mengerti.
“Tuh dengerin, kata neneknya Azka jangan sekarang. Besok lagi ke sininya ya,” Ibu tersebut seolah menasehati putranya, tapi matanya seakan mengintai kemana-mana.
Rara mengambil sebuah coklat dari salah satu belanjaannya dan memberikan kepada anak itu, sebagai rasa tidak enak saja. Karena telah menolaknya untuk bermain dengan Azka.
“Ini buat kamu, maaf ya ... besok mainnya, sekarang Azkanya mau mandi dulu,” ucap Rara lembut pada teman anaknya.
Anak itu menggangguk setelah mendapatkan coklat dari Rara. Sepertinya Anak itu tidak masalah jika tidak bermain dengan Azka sekarang. Atau apakah yang memintanya bermain sebenarnya orang tuanya? Hanya sebuah alasan agar bisa melihat keluarga Bu Sugeti baru pulang jalan-jalan.
Entahlah, namanya juga tetangga, udah hal yang wajar jika ingin tahu urusan tetangga lainnya.
Bu Sugeti dan yang lainnya masuk ke rumah. Lena membereskan semua belanjaan, begitu juga Bu Sugeti.
Sedangkan Rara menyajikan minuman dan hidangan untuk Purba, Bizar dan pengacaranya.
Purba tidak lama di rumah Rara, mereka hanya membicarakan soal keberangkatan besok ke pernikahan Retno. Kemudian pamit kembali ke hotel.
Pakaian yang dipesan di butik bisa selesai nanti malam atau besok pagi-pagi sekali. Pemilik butik menyanggupi bahwa perbaikan pakaian bisa dalam waktu singkat, karena memang tidak perlu yang banyak diperbaiki. Pun juga tidak semua pakaian ukurannya tidak pas dengan tubuh mereka, nanti Bizar yang akan mengambilnya.
Karena mungkin hanya untuk empat orang dan di tambah untuk Azka yang ukurannya masih kecil. Karena Bizar dan pengacaranya mengenakan pakaian lain seperti pada umumnya, yaitu menggunakan batik yang mereka bawa dari rumah masing-masing.
“Gimana ya Bu, besok kita ke acara pernikahan Retno,” ucap Rara saat berada di dapur, duduk di kursi yang biasa untuk makan.
__ADS_1
“Gimana apanya?” jawab Bu Sugeti, sambil menyeduh susu untuknya.
Sudah lama sekali Bu Sugeti ingin menkonsumsi susu khusus orang tua, biar badannya tidak mudah lelah dan nutrisinya cukup.
“Aku teringat Azkiya. Kita mengenakan seragam seakan menjadi keluarga yang utuh. Bagaimana perasaan Kia? Meskipun dia masih kecil, suatu saat mungkin dia akan merasa sedih, di momen berkumpul seperti ini tidak ada dirinya.”
“Ya, gimana lagi. Ibu pun tidak bisa melakukan apa pun, tak ada daya. Oh ya, Nduk. Kok bosmu baik banget? Apakah bisa minta tolong padanya untuk membantu mengambil Aska dari Gandhi?”
Entahlah Bu aku belum berani membicarakan hal itu,” jawab Rara.
“Tapi itu yang satunya kayak bodyguard, gitu kan? Yang suka menjaga bos-bos kayak di film film, mungkin kalau dengan cara seperti itu Gandu akan memberikan Azkiya dengan mudah.”
“Tapi tidak semudah yang kita pikirkan Bu, harus dengan cara baik-baik dulu. Kalau dengan cara tidak baik, memaksa atau kekerasan, nanti mereka bisa melaporkan balik kita dengan alasan perbuatan yang tidak menyenangkan, mengganggu ketenteraman rumah orang lain. Ibu tahu gimana Gandi, dia pintar banget memutar balikan fakta.”
“Iya juga sih ya, tapi kalau kita bicara baik-baik, ditemenin sama bos kamu gimana? Sama bodyguard-nya mungkin ada rasa segan atau takut. Kita bertemu aja dulu.”
“Iya, kalau itu Rara udah kepikiran. Tapi kenapa Rara belum ngelakuin, karena memang waktunya mepet mau menghadiri pernikahan Retno.
Semuanya harus dalam keadaan tenang Bu, biar kalau ada apa-apa yang tidak diinginkan kita bisa bertindak mengambil keputusannya dengan tepat, tidak dengan gegabah.”
Bu Retno menyimak obrolan putrinya dan menelaah dengan baik, benar apa yang dikatakan Rara. Semua itu tidak mudah seperti apa yang dipikirkan.
**#
Meskipun rumah Rara dan Gandhi berjauhan namanya juga pedesaan yang walau jarak sejauh apa pun, berita besar itu pasti akan sampai meluas dengan cepat. Apalagi ini terjadi pada seseorang yang selalu disoroti oleh warga.
Begitu pun tentang kepulangan Rara sampai di telinga Gandhi dengan imbuhan-imbuhan gosip yang tentunya entah apa tujuan mereka yang menyampaikan berita tersebut.
__ADS_1
Apakah ingin membuat Gandi panas? Apakah mereka hanya ingin membuat keseruan saja di antara urusan orang lain?
Gandi yang saat ini ngomel-ngomel di depan orang tuanya, tidak memedulikan anak yang duduk di sebelah kakeknya. Azkiya melihat ayahnya yang dia tidak mengerti membicarakan apa, tapi merasa takut.
“Ya udahlah Gandi, tinggal serahkan aja anak itu. Ngerepotin diri sendiri, gimana sih? Udahlah, capek tahu, Gan...,” ucap ibunya.
“Tidak semudah itu Bu. Apakah ibu tidak mendengar tuduhan para tetangga? Mereka mencap aku jadi ayah yang tidak bertanggung jawab.”
“Tinggal biarkan saja, tetangga itu biasa ada yang baik ada yang benci ke kita. Peduli apa kamu dengan mereka? Toh kita masih tetap hidup, apa pun omongan mereka.”
“Ibu mudah saja berkata seperti itu. Gandi yang sakit Bu.”
“Emangnya Ibu nggak sakit? Nggak malu ngedengerin anaknya jadi bahan gosip? Tapi Ibu juga masih waras Gandhi, kamu sudahi bermain wanita, sudahi bersikap manja. Ibu dan Bapak sudah tua, siapa yang meneruskan usaha Bapak kalau bukan kamu? Segeralah dewasa.”
“Ibu ini gimana sih? Gandi ini lagi kesal, bukannya didukung malah ngenasehatin nggak jelas.”
“Gandi, coba kalau ngomong sama ibumu jangan terlalu keras kayak gitu. Pikirin, bener nggak apa yang diomongin orang tua? Nanti kalau ibu dan bapak nggak ada dan kamu nggak bisa kerja, semua yang ditinggalin ibu dan bapak bakal habis juga,” nasihat ayahnya Gandi.
“Bapak ini sama aja, kayak nggak ngerasain muda aja dulu. Nanti juga kalau waktunya Gandi bisa ngurus usaha. Bapak sekarang nikmatin dulu selagi bisa dinikmatin.
Kadang heran orang-orang bekerja keras mati-matian, ujungnya mati beneran. Apa yang dikumpulin nggak bisa dinikmatin.”
Begitulah karakter Gandhi memang susah sekali diajak bicara baik-baik, bahkan pemikirannya seakan menyimpang dari pemikiran orang-orang normal. Tidak bisa diberi nasehat atau diluruskan sama sekali, pemikirannya susah ditembus, karena egonya terlalu tinggi terlalu keras.
Gandi memutar otak Bagaimana caranya agar dia bisa mendapat keuntungan dari kejadian itu, menurut berita bahwa calon suami Rara adalah orang kaya dan Gandhi tidak boleh melepaskan Rara begitu saja.
Sebenarnya Gandi sadar apa yang dilakukan adalah sudah melepaskan Rara. Dan tidak berhak lagi atas Rara. Namun, namanya juga Gandhi, orang serakah dan licik tidak terima jika melihat apa yang dianggap musuhnya bahagia.
Gandi menghubungi teman-temannya, entah merencanakan sesuatu Apa karena obrolan mereka melalui sambungan telepon seperti yang serius.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya... terima kasih. :)
Bersambung...