Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Persaingan Lama Mencuat


__ADS_3

Bab 118


Rara langsung memegang dadanya, lebih tepatnya kerah bajunya untuk menghentikan Mona menyentuh kalung tersebut.


"Maaf Bu. Kenapa ya?" tegas Rara.


"Aku hanya ingin lihat," ucap Mona.


"Maaf, meskipun anda bos saya, tapi anda tidak sopan. Tidak ada dalam aturan perusahaan untuk seenaknya menyentuh karyawan. Tubuh saya adalah privasi. Saya tidak bisa sembarangan disentuh, kalau tidak ada hubungannya dengan pekerjaan."


"Oke! Baiklah!" ucap Mona.


Dia tak masalah tangannya yang sebelumnya sudah maju ke leher Rara, kini disingkirkannya. Kemudian mengangkat kedua tangannya pertanda Mona tidak keberatan. Dan tidak merasa tertindas saat Rara tegas melarang dirinya.


Bibirnya yang terikat senyum, sinis dengan alis diangkat, dia berlalu dari sana. Namun ...


"Baiklah, betah-betah kerja di sini," ucap Mona. Nadanya sudah tak ramah lagi, tapi seakan ucapan itu adalah tantangan.


Mona tidak tahu bahwa mungkin inilah hari terakhir Mona akan bertemu dengan Rara di kantor tersebut. Karena akhir minggu ini Rara akan resign.


Sepanjang dirinya ikut mengaudit management kantor cabang, pikiran Mona terus berselancar. Memang Mona tidak melihat liontin kalung itu. Apakah liontin yang sebenarnya ia inginkan? Sebuah liontin singa oleh-oleh yang suaminya bawa dari Singapura atau memang jenis rantainya saja yang serupa?


Iya, Mona hanya melihat rantainya saja yang melingkar di leher Rara, karena liontinnya tentu saja masuk ke dalam baju.


Sekitar dua jam Mona mengikuti audit dengan suaminya dan Baskoro, tiba-tiba dia pamit ke belakang, padahal mau ke ruangan HRD.


***


Saat sampai di ruangan HRD.


Mona meminta staf HRD memberikan data karyawan. Agar tidak terlihat janggal maka Mona meminta seluruh data karyawan baru yang masuk tiga bulan terakhir.


Jika Mona hanya meminta milik Rara saja, takutnya akan ada kecurigaan. Mona juga sadar video perselisihannya yang tersebar di seluruh kantor cabang, para karyawan mungkin diam tidak seheboh di perusahaan lain. Namun, Mona peka, mereka tetap mengingat tragedi itu bahwa Mona dan Rara ada persaingan.


Mona duduk di ruang HRD langsung membuka profil Rara, ternyata masuk pada tanggal yang sangat janggal menurutnya.


Diingat kembali tanggal tersebut adalah saat Purba izin ada tugas keluar kota dan tanggal tersebut juga Rara sudah resign dari kantor pusat.

__ADS_1


Namun, rupanya Rara tidak langsung bekerja di kantor cabang. Apakah selama empat hari itu Rara cuti di rumah? Harusnya jika di rolling dari salah satu kantor bisa langsung bekerja esok harinya. Tidak ada proses cuti apalagi ini lebih dari tiga hari.


Mona menyambungkan kecurigaannya, apakah Rara pergi bersama Purba karena waktunya sangat pas sekali. Ketika Purba ke luar kota tiga hari, ternyata keempat hari baru pulang.


Sedangkan Rara dipindah tugaskan bertepatan dengan Purba keluar kota dan Rara berada di kantor cabang setelah empat hari keluar dari kantor pusat.


"Cocok sekali waktunya," batin Mona.


Mona mengabadikan data Rara saat terdaftar di kantor cabang pada tanggal berapa, melalui kamera ponselnya.


"Terima kasih Pak," ucap Mona, sambil menyerahkan kembali berkas data karyawan.


"Iya Bu, sama-sama. Maaf, kalau boleh tahu ada apa ya?"


"Tidak apa-apa, hanya ada teman saya yang menitipkan saudaranya di sini. Saya ingin tahu aja," ucap Mona berbohong.


"Oh baik Bu," ucap sang HRD langsung percaya.


Mona keluar ruangan HRD dengan bibir tersungging.


Tak lama kemudian Mona dan Purba keluar dari ruangan Baskoro karena telah selesai mengaudit.Mereka lanjut menuju ke perusahaan lain.


Saat di depan pintu, Mona menarik Purba mendekat ke meja Rara.


Mona bersandiwara bahwa dia ingin menanyakan beberapa hal untuk mencocokkan informasi yang Baskoro berikan. Agar Purba tidak curiga, Mona memberi alasan bahwa memberikan beberapa pertanyaan kepada Rara adalah penting.


Meskipun Rara sekretaris Baskoro, tapi dahulunya Rara adalah sekretaris kantor pusat, sudah harusnya Rara memberikan penjelasan yang jujur.


Padahal Mona hanya ingin menunjukkan kepada Purba bahwa dirinya sadar alasan Purba malam itu tentang liontin adalah alasan palsu.


"Rara ada semut di lehermu," ucap Mona disela memberikan beberapa pertanyaan pada Rara, padahal itu bohong. Tidak ada semut sama sekali di leher atau di kerah baju Rara.


"Eh?" respons Rara, sambil menunduk mencoba melihat ke arah lehernya atau kerah.


"Sepertinya tidak ada Bu," ucap Rara, karena dia tidak merasakan ada hewan kecil yang berjalan di lehernya.


"Sini aku bantu," ucap Mona, mengibas-ngibas kerah Rara.

__ADS_1


Mona sengaja mengibas kerah Rara agak keras, sehingga sedikit tersingkap. Saat kalung itu tersangkut oleh jari Mona, Rara segera menahan dada, sehingga liontinnya tetap di dalam pakaian, tidak terlihat.


"Ups, maaf. Untung tidak putus, aku nggak sengaja," ucap Mona.


Purba langsung gelagapan, dia lupa bawa Rara pasti mengenakan kalung itu. Sialnya dia tidak ingat tadi, bahwa dirinya akan ke kantor cabang bersama Mona.


Andai tadi ingat, Purba akan lebih dulu memberitahu Rara agar melepaskan sementara kalungnya. Namun, sekarang sudah terlanjur, mudah-mudahan Mona tidak curiga.


Rara hanya mengangguk tersenyum, memaklumi ketidaksengajaan Bu bosnya.


"Ayo Ma, udah cukup pertanyaannya. Semua sesuai. Tidak mungkin Pak Baskoro melakukan kecurangan," ucap Purba.


Padahal dia sudah tak tahan di sana, takut ada hal aneh lagi yang menjurus terbuktinya hubungan dia dan Rara.


"Iya Pa, tapi sebentar. Boleh aku tanya? Kalungmu kayaknya bagus, rantainya kokoh. Beli di mana? Kebetulan aku suka rantai kalung seperti itu," ucap Mona, lagi-lagi memancing reaksi Rara dan Purba.


Rara bingung untuk menjawab, ia sedikit gugup. Akhirnya menemukan alasan, "Ini pemberian Ibu saya," ucap Rara.


"Oh ... pantesan, memang kalau warisan pemberian ibu selalu bagus ya," ucap Mona dengan sudut mata melirik pada Purba.


Mona sadar wajah Purba sedikit berubah, terlihat urat tipis di sisi pelipisnya menegang, juga sedikit terlihat bulir keringat.


"Iya Bu," ucap Rara mengangguk, tanda dia setuju dengan pendapat Mona.


Barang-barang kualitas zaman dulu memang kenyataannya selalu terbaik.


"Ya sudah, see you next time." Kemudian Mona berjalan dengan menggandeng lengan Purba, sedikit disandarkan kepalanya kepada lengan suaminya, sengaja buat memanasi Rara.


'Lihat saja, sudah semakin jelas kecurigaanku. Namun, ini belum saatnya membuka bukti. Kalian pasti masih bisa mengelak. Ingat! Istri sah tidak pernah kalah dari pelakor,' batin Mona.


Mona tidak akan merasa jijik membayangkan jika memang Purba sudah melakukan hubungan intim dengan Rara.


Mona tidak bisa berpikir bahwa Rara akan menjaga kehormatannya, walau ada hubungan dengan Purba. Karena dia sendiri dulu bebas berhubungan dengan siapa saja terutama Bram, maka pikiran dia saat ini pun Rara sama Purba pasti sudah ada main.


Mungkin kalau istri yang lain akan merasa jijik suaminya pernah berhubungan intim dengan wanita lain, tapi tidak berlaku dengan Mona. Tam masalah, dia sudah kebal dengan **** bebas, yang penting saat dirinya berhubungan dengan Purba tetap puas, tidak akan membayangkan bahwa itu bekas Rara.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2