Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Purba Paham


__ADS_3

Purba sampai di lantai atas, dia melihat Fira yang sedang merapikan mejanya. Mungkin bersiap untuk pulang.


“Fira, kamu tadi lihat Rara ke ruanganku?” tanya Purba tiba-tiba.


“Tadi, kapan ya Pak? Kalau sekitar beberapa menit jadwal pulang, iya, saya lihat. Kenapa Pak?” tanya Fira balik


“Dia bawa tas?” tanya Purba lagi.


“Iya. Apakah Rara mendapat izin pulang lebih awal ya, Pak?”


Purba hanya menggeleng, kemudian mengucapkan terima kasih dan pergi.


Saat Purba masuk ke ruangan, dia langsung mengecek laptopnya. Sebenarnya sudah yakin memang Rara berarti yang tadi masuk dan membawa tasnya, tapi entah mengapa ingin rasanya tetap melihat CCTV. Dan bukan tidak percaya juga pada Bizar, ke mana dia saat Rara ruangan.


Kret ...!


“Tuan sudah kembali? Saya tidak sempat menyusul perginya Non Rara Tuan. Mungkin dia sudah benar-benar pulang,” ucap Bizar yang baru masuk ruangan.


“Iya, Zar. Tak apa. Aku masih penasaran, bagaimana keadaan dia saat membawa tas. Apakah terlihat marah, biasa aja atau sedih, aku merasa bersalah Zar.” Purba mulai masih ke bagian CCTV.


Bizar panik, dia buru-buru berjalan ke dekat Purba, “Tuan, aku sudah dapet informasi tentang Non Rara, ini lebih penting daripada CCTV itu,” ucap Bizar dan berhasil membuat Purba mengalihkan perhatian dari layar laptopnya.


“Serius? Ceritakan padaku,” ucap Purba semangat.


“Mari tuan, kita duduk di sana saja. Biar lebih enak ngobrolnya.” Bizar berjalan terlebih dahulu menuju sofa, kemudian diikuti Purba.


Pertama, Bizar menceritakan dibalik pernikahan Rara dan Gandi, atas dasar ke khawatiran orang tua Gandi, karena anaknya terlihat begitu dekat dengan Rara.


Hingga perubahan Rara saat sudah menikah dengan Gandi. Dan anehnya lagi, setelah Gandi dan Rara menikah, bukannya mereka tinggal di rumah orang tua Gandi. Ini malah di rumah Bu Sugeti, orang tua Rara.


Biasanya, pengantin baru yang belum nampan, mereka akan tinggal sementara di rumah orang tua laki-laki. Terlebih keadaan ekonomi orang tua Gandi, lebih dari cukup. Sedangkan keluarga Rara, orang susah.


Jika tinggalnya mereka di rumah orang tua Rara karena alasan Rara gak mau jauh dari ibunya, itu tak masuk akal. Rara perempuan patuh, tidak neko-neko, dia pasti mamu diajak suaminya bagaimana pun keadaannya.


“Tapi itukan baru kata tentangganya? Kita tidak tahu alasan sebenarnya,” respons Purba.


“Iya benar Pak, tapi setidaknya dari sini kita tahu, pernikahan Rara atas dasar sesuatu yang tidak wajar,” sanggah Bizar.


“Ok, lanjut. Aku ingin dengar semuanya.” Purba meminta Bizar lanjut cerita.

__ADS_1


Hingga keadaan Rara bekerja di dua tempat pagi di tokonya Pak Haji Dana, jika malam menjadi asisten Mantri sebagai petugas absensi pada pasien.


Akhirnya kejadian saat Rara diarak oleh kedua istri Haji Dahlan pun sampai. Di sini air muka Purba berubah.


Entah mengapa Purba jadi ikutan kesal dan seperti emosi mendengarnya. Bukan perkara saat ini Purba sudah kenal dekat dengan Rara. Kejanggalan-kejanggalan ketika Rara baru menikah dengan Gandi dan dia menggantikan ibunya kerja di rumah orang tua Gandi, dari situ saja sudah terlihat karakter Rara.


Jika Rara adalah wanita gampangan yang bisa menggoda siapa saja demi uang, kenapa dia mau menikah?


Biasanya wanita bebas, tidak ingin menikah cepat dan tidak begitu peduli dengan kesusahan orang tuanya. Daripada harus bekerja menggantikan ibunya, bukankah wanita yang bebas, lebih sanggup mendapatkan uang dari caranya menjual diri, atau menggoda suami orang, daripada terikat pernikahan?


“Aku merasa sangat bersalah, Zar,” gumam Purba.


Bizar tidak tahu alasan Purba berkata seperti itu. Karena yang tahu Purba marah-marah ke Rara hanya Sari yang saat itu satu ruangan bersama Rara. Dan beberapa karyawan saja yang kebetulan mendengar teriakan Purba.


Berita Purba marah-marah, belum sempat menyebar luas ke seluruh karyawan kantor, karena kejadian saat kantor sedang sibuk. Dan Bizar pun jarang berkomunikasi dengan karyawan. Kecuali membahas hal-hal yang sangat penting.


“Kenapa tuan yang merasa bersalah?” tanya Bizar tak mengerti.


“Kamu tidak tahu? Tadi aku salah paham pada Rara, gara-gara makanan yang dibuatnya?”lirih Purba, terlihat sekali wajah penyesalan.


Bizar sebenarnya tidak paham dengan apa yang diucapkan Purba, dia butuh penjelasan lebih rinci lagi, tapi tidak begitu penting. Biarlah, dia cukup tahu bahwa antara Purba dan Rara sedang ada perselisihan dan itu tidak penting baginya. Tugas dia hanya bekerja dengan baik.


 


Rara sudah sampai di rumah, tapi dia heran melihat pintu rumah terbuka. Sempat kaget sebenarnya, tapi saat melihat sepatu Retno ada di luar, rupanya Retno sudah pulang.


“Loh, kok. Kamu udah pulang duluan? Biasanya selalu setelah aku.” Tanya Rara pada Retno saat sudah sampai di rumah.


“Ra ... Aaa! Aku seneng banget.” Retno teriak histeris, dia langsung memeluk Rara. Setelah itu sedikit meloncat-loncat dengan tawa tak lepas dari bibirnya.


“Apa sih, Ret... kamu naik gaji?”


“Bukan,” singkat Retno semakin membuat Rara penasaran.


Rara akhirnya mengerutkan kening, dia sedang malas main tebak-tebakan. Hari ini adalah hari paling melelahkan dan menyebalkan, hingga tak bergairah saat meladeni teka teki kebahagiaan Retno.


“Ya udah, mending mandi dulu sana. Nanti ngobrolnya sambil makan, biar santei,” ucap Retno sambil mendorong punggung Rara ke kamar mandi. Tasnya Rara, Retno ambil untuk disimpan di kama. Setelah itu Retno balik lagi ke kamar mandi menyerahkan handuk Rara.


“E-eh tunggu, tapi wajahmu? Habis nangis ya?” tanya Retno yang memandangi wajah Rara lekat.

__ADS_1


“Enggak apa, udah ah, aku mau mandi.” Rara sedang tak ingin banyak bicara. Jadi dia sengaja dulu menghindari kecurigaan Retno.  


Retno menyiapkan makan sore untuk Rara, sebenarnya dia sudah makan tadi bareng Hendra. Hanya saja, ini demi merayakan kebahagiaannya dengan keluarga. Ya, Rara sudah dianggap sebagai keluarga sendiri oleh Retno. Sebelum dia mengabarkan berita bahagia pada keluarga yang sebenarnya di kampung, Retno ingin merayakan terlebih dahulu dengan keluarga yang saat ini dekat, yaitu Rara.


 


Rara selesai mandi, dia melihat sajian makanan di meja cukup berbeda. Ada beberapa makanan kesukaannya, pecel, ayam bakar, jagung bakar dan sambal lalap. Namun, Rara belum ingin merepsons, dia ingin benar-benar dalam keadaan santai untuk mendengarkan kabar bahagia Rara.


“Ok, ayo cerita. Jangan bikin aku kesel. Mau cerita aja kebanyakan acara, nanti aku bisa makan orang.” Rara yang baru ke luar kamar, berkicau.


“Woi ... santei. Lagi dapet Bu? Kayaknya tensi naik terus dari tadi,” ucap Retno, malah meledek Rara.


“Habis, hari ini aku kesel, dongkol, marah. Gak jelas pokoknya.”


“Emang ada apa, sih?”


“Aku dulu atau kamu yang cerita, nih? Nanti kamu gak jadi-jadi cerita,”


“Yaudah, kamu dulu aja. Kali aja ceritaku bisa membuat kamu tidak terlalu sewot gini. Ayo cerita,” pinta Retno .


Akhirnya Rara menceritakan kejadian tadi siang. Dia sudah melakukan pekerjaan sesuai apa yang Purba perintahkan, tapi salah juga.


Selama Rara bercerita, Retno mendengarkan dengan saksama. Dia tak ingin menyela sedikitpun, sekaligus biar sahabatnya itu plong, bercerita sampai tuntas.


“Jadi, kamu pulang sebelum jam tepat jadwal pulang?” tanya Retno.


Rara mengangguk. Kemudian Retno memeluknya. Dia memberikan support pada sahabatnya agar bersabar. Apalagi yang bisa dilakukan selain bersabar.


“Ok, aku baik-baik aja kok. Mungkin ini juga karena kesal sesaat aja.” Respon Rara cukup bijak.


Rara memerhatikan cicin yang melingkar di jari Retno. Rara seketika berteriak memeluk Retno, ikut senang. Rara bisa menebak, pasti bosnya Rara yang melamar.


“Selamat ya Ret ... Ah seneng deh, lihatnya. Kapan melamar resminya,” tanya Rara.


“Kata Mas Hendra anat6ar dua atau tiga bulan lagi,” jelas Retno.


“Semoga aku pas bisa ya, biar bisa hadir ke pernikahan kamu sambil pulang kampung, hehe.” Kabar bahagia Retno membuat Rara sedikit bisa melupakan masalah di kantornya.


 

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2