Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Dengan Waktu Semuanya Pulih


__ADS_3

Rara menyusul ke mana Azka pergi, dia baru teringat tadi saat pergi menjemput Azkia, bahwa Azka merasa tersisih jika semua orang terlalu fokus pada saudara kembarnya itu.


Padahal Rara sudah berjanji, itu tak akan terjadi. Namun, tanpa disadari ternyata terjadi juga. Di luar kesadaran Rara, dia memang terlalu senang dengan berkumpulnya Azkia bersama mereka.


"Sebentar Nak," seru Rara, dia sempat menahan pintu yang akan ditutup oleh Azka.


"Azka ngantuk, Bu," ucapnya.


"Biar Ibu temani," jawab Rara.


Azka tidak bisa berbuat apa-apa, sensitif anak kecil beda dengan anak besar yang bisa terus-terusan menolak. Azka membiarkan ibunya masuk, lalu naik ke atas tempat tidur.


"Azka kenapa? Maafkan Ibu ya, kan Azka sudah tahu keadaannya," ucap Rara saat mereka sudah berbaring.


Rara memeluk Azka yang tidur membelakangi.


Rara terus memberikan pengertian, meski pun tanpa respon dari Azka. Tangan Rara terus membelai rambut Azka.


"Tidur rupanya?" gumam Rara, saat melihat ternyata putranya terlelap, entah sejak kapan. Dari tadi Rara fokus menjelaskan dengan tak henti mengusap kepala putranya dengan lembut.


Rara beranjak dari tempat tidur. Dia sengaja tidak menyelimuti Azka. Karena hari sudah sore, agar Azka tidak tidur terlalu lama.


Rara mengerti, Azka pasti kelelahan seharian di luar dan perjalanan. Kemudian rasa iri pada saudaranya yang kembali, membuat emosinya tidak stabil dan lebih memilih tidur.


***

__ADS_1


"Kenapa Mba?" tanya Lena.


"Biasa, anak kecil." ucap Rara, saat dia sampai dapur untuk menyiapkan makan malam.


"Mungkin karena terpisah lama, kemarin-kemarin Azka merasa semua perhatian padanya, saat ada saudara kembarnya, merasa perhatian itu terbagi atau berkurang," ucap Bu Purwanti menambahkan.


"Benar Bu. Kami sempat berbincang di mobil tadi dan aku sudah menjelaskan padahal." Rara merespons.


"Nanti lambat laun juga biasa lagi. Ibu yakin. Lah, dulu kan mereka akur, malah sangat dekat terikat batin yang kuat," ucap Bu Sugeti menambahkan.


"Iya Bu, PR buat kita untuk memulihkan ke adaan," ucap Rara, dia akan membantu mereka memasak, tapi pesan masuk pada ponselnya.


'Sayang, aku tunggu di kamar,' pesan dari Purba.


Rara akhirnya berpamitan dari mereka. Tak jadi ikut menyiapkan masakan.


Bocah kecil itu dengan anteng duduk menyimak para orang dewasa memasak. Dia masih bingung harus berbuat apa di rumah orangtuanya yang sangat berbeda dengan keadaan di rumah Bu Heti, bahkan rumah yang dikampung.


***


"Gimana, Mas?" tanya Rara setelah berada di kamarnya.


Kini Purba sudah mengganti pakaian dengan kostum santai di rumah. Purba meminta Rara untuk duduk di dekatnya. Pria itu merebahkan kepalanya di pangkuan Rara.


"Aku mau cerita tentang peneror itu. Kamu jangan merasa terganggu lagi. Semuanya sudah selesai." Purba menyampaikan dengan mata memejam, senyum lepas, seolah benar-benar menikmati masa ketenangan dari segala masalah.

__ADS_1


"Maksud Mas? Peneror itu sudah tertangkap dan tidak akan membahayakan kita?" tanya Rara memastikan.


Purba menggeleng.


"Lalu?" tanya Rara kembali.


"Peneror itu hanya ingin membuat Mona malu. Pada intinya merugikan Mona karena sakit hati. Itu dari pria dekatnya Mona, bisa dikatakan pacarnya."


"Pacar?" Rara merasa heran.


"Iya," jawab Purba enteng. "Kenapa memang? Kok sepertinya terkejut begitu?" lanjut Purba.


"Tidak apa. Aku hanya melihat Mas seperti biasanya saja mengetahui Mba Mona memiliki pacar. Berarti selama ini Mba Mona selingkuh dong?" papar Rara.


"Ya, biarlah. Tidak ada ruginya buat aku juga. Malah itu menguntungkan untuk hubungan kita bukan? Ager semuanya cepat selesai dan kita bisa hidup kembali dengan normal.


Rara mengangguk, dia cukup mendukung apa kata suaminya. Tentang rencana Purba dan rumah tangga dengan Mona, Rara tak harus ikut campur memang. Biarlah itu semua urusan Purba mau lanjut atau tidak dengan Mona. Yang pasti sejauh ini Rara tidak begitu ketergantungan juga sama Purba. Apa pun keputusan Purba dengan Mona, sepertinya tak akan pengaruh banyak untuk dirinya.


***


Masalah pun terselesaikan. Dengan sabarnya perjuangan Rara mempertahankan haknya walau sebagai istri kedua, tapi karena dia menyadari posisinya, akhirnya dia menjadi istri satu-satunya bagi Purba.


Lambat lain semua keadaan menjadi normal. Azka sudah kembali bersikap seperti layaknya saudara kembar pada Azkia. Tak ada lagi rasa iri.


Sedangkan Mona, dia sudah diceraikan oleh Purba. Walau awalnya Mona menolak dengan kerasa. Namun, karena Mona akhirnya mengandung buah cinta dari Waluyo, dia tidak bisa memaksa lagi Purba untuk bertahan.

__ADS_1


Keluarga Hartanto yang lain pun tak bisa membantu Mona. Mereka menerima kesalahan putrinya yang tidak bisa berubah menjadi wanita yang bisa menjaga kehormatannya dengan baik.


TAMAT.


__ADS_2