
Bab 148
"Sungguh tidak masuk akal, serindu apa pun masih bisa menutup pintu. Apalagi jika pria ini memang pasangan atau pacaran, pasti non Rara akan berusaha untuk mengingatkan agar menutup pintu terlebih dahulu. Orang yang berhubungan gelap pasti akan lebih hati-hati untuk menutupi hubungannya. Tidak akan gegabah," ucap Bizar menjelaskan.
Bu Molly cukup gentar juga melihat orang tinggi besar di depannya ini, tapi sudah terlanjur dia menjadi kompor, maka ucapan Bizar tetap dibantah.
"Lalu anda siapa? Suaminya? Terus yang kemarin? Bukankah selama ini anda selalu nunggu di luar? Apakah anda pria gilirannya?"
Bizar menarik napas, dia ingin menampar mulut lebar wanita ini. Namun harga dirinya akan turun jika menyakiti wanita. Bizar hanya bisa menarik nafas dalam untuk menahan emosinya.
"Pak Haji, yang pasti lelaki ini adalah penjahat. Dia menjebak istri dari majikan saya," ucap Bizar.
"Jadi, Bu Rara ini beneran sudah punya suami?" tanya Pak Haji, memastikan.
"Sudah Pak Haji," Ucap Bizar.
"Kenapa suaminya tidak datang?"
"Tuan saya baru melakukan pekerjaan besar, dia kelelahan, jadi saya yang diutus."
"Oh begitu. Kenapa tidak satu rumah sehingga tidak akan menimbulkan fitnah? Dan orang-orang akan segan untuk berbuat jahat pada Bu Rara."
"Suami Bu Rara sering pergi ke luar kota, dia memang orang sibuk. Selagi belum memiliki keturunan dia akan terus sibuk dengan bisnisnya untuk masa depan dan hari tuanya."
"Tapi dia sering kemari bukan?" tanya Pak Haji, terus memastikan kebenarannya.
"Iya," ucap Bizar singkat.
Lalu untuk memastikan, Pak haji juga bertanya kepada Bu Molly. Apakah benar yang dimaksud suaminya Rara sering datang, begitupun dengan Bizar sering ke rumah Rara.
Kenapa Pak haji menanyakan pada Bu Molly, karena saat Bizar datang dan saat berdebat seakan Bu Molly sudah kenal sebelumnya dengan Bizar dan suaminya Rara.
Bu Molly mengiyakan bahwa Bizar memang sering datang ke sana, tapi tak pernah melihat suaminya menginap atau beberapa saat tinggal. Suami Rara hanya sebentar kalau berkunjung, seperti sekedar menengok saja.
__ADS_1
Bu Molly menambahkan bumbu agar terkesan Rara memang wanita tidak baik. Mungkin orang bisa menganggap bahwa Rara adalah wanita simpanan, makanya pria yang disebut oleh Bizar tidak pernah lama di tempat Rara.
"Nah, sekarang dari pihak Bu Rara sudah jelas. Nanti tinggal bukti yang bisa diserahkan ke pihak berwajib. Sekarang dari pihak Bapak ini. Bagaimana?" tanya Pak Haji kepada lelaki yang berbuat mesum dengan Rara.
"Saya memang pacarnya Rara," hanya itu yang disebutkan oleh lelaki tersebut, dia sudah bingung lagi membuat alasan. Karena melihat sosok Bizar, otaknya blank untuk mencari kata-kata lain untuk Mengeratkan Rara.
"Jadi bagaimana? Mau diselesaikan secara kekeluargaan di sini? Atau ke pihak berwajib?" tanya Pak Haji.
"Mending ke pihak berwajib aja Pak, biar kapok. Seenaknya saja orang mesum dibiarkan begitu saja." Bu Molly kompor lagi.
"Tahan mulut Anda nyonya!" seru Bizar pada Bu Molly, kemudian melanjutkan lagi. "Non, Rara adalah isi dari majikan saya. Saya punya buktinya." Kemudian Bizar mengeluarkan ponsel saat Rara akad nikah dengan Purba, lalu beberapa foto lainnya.
Pak haji melihat foto itu, dia manggut-manggut.
Kemudian setelah dipertimbangkan dan beberapa bukti ditunjukkan, lalu diputuskan bahwa kasus ini tidak sampai pada pihak berwajib. Dan untuk hukuman Rara sudah pasti kena sanksi sosial dengan mendapatkan malu tinggal di sana. Namun, Bizar tetap tidak terima karena sebenarnya Rara adalah korban.
Justru Bizar akan memproses lewat jalur hukum, yaitu melaporkan tindakan pelecehan untuk pria tersebut yang belum diketahui namanya.
"Baiklah Pak Bizar, saya sebagai orang yang dituakan di komplek ini beserta para keamanan dan warga lain, juga mungkin akan setuju bahwa kasus ini sudah selesai untuk kami. Dengan memberi kesempatan kepada Bu Rara tetap tinggal di sini. Namun, jika nanti ada kejadian lagi terpaksa kami usir. Anggap saja kedatangan kami ke rumah ini adalah teguran keras."
"Siapa nama kamu?" tanya Bizar pada laki-laki itu.
"Kamu dengar tidak!" laki-laki itu tidak menjawabnya, berapa kali ditanya masih diam saja.
Bahkan Pak Haji pun bertanya, belum juga dijawab.
Namun, saat Bizar berdiri, entah akan melakukan apa pada lelaki itu, kemudian baru lelaki itu mengatakannya.
"Nama saya Agung Pak," ucap lelaki itu bergetar.
"Baiklah, ikut aku ke kantor polisi," perintah Bizar.
Agung sungguh terkejut, matanya terbelalak tidak menyangka kejadiannya akan sejauh ini. Dia menoleh pada Bu Molly.
__ADS_1
Bu Molly sedikit mengendikkan bahu, dia tidak tahu apa-apa. Bu Molly hanya mendapat tugas sebagai saksi mata, tidak ikut campur jika kasus ini berlanjut lebih jauh lagi.
Pak haji menghargai pembelaan Bizar, selanjutnya kasus akan diserahkan pada pihak Rara. Kalau memang merasa dirugikan oleh pria asing tersebut.
Akan tetapi untuk warga perumahan, Pak haji memutuskan jangan diperpanjang lagi.
Kemudian Pak haji meminta izin untuk mengumumkan pada warga yang masih di depan rumah Rara, bahwa kasus selesai. jangan ada warga yang ribut-ribut lagi, tetapi ada beberapa pihak yang dipercaya oleh Pak Haji untuk mengikuti kasus ini hingga ke tangan yang berwajib. Untuk membuktikan apakah benar Rara yang dirugikan atau sebenarnya dua-duanya salah.
Tujuannya adalah jika memang Rara hanyalah korban, berarti para warga harus memulihkan nama baik Rara, jangan ada isu-isu miring lagi.
Warga pun setuju, mereka kembali pulang ke rumah masing-masing kecuali tiga orang yang akan ikut dengan Bizar ke kantor polisi bersama lelaki asing itu dan Bu molly.
***
Saat di kantor polisi kasus langsung diproses, beberapa orang ditanyai terlebih Bu Molly sebagai saksi inti. Rara, kemudian Agung setelah itu Bizar terakhir.
Polisi sudah membuat BAP dan mengizinkan para saksi pulang kecuali Rara dan tersangka yaitu Agung. Serta Bizar tetap di sana karena sebagai keluarga korban.
**#
Pukul 07.00 Purba sudah mengenakan pakaian untuk kerja, saat dia bangun belum membuka ponsel sama sekali karena langsung ke kamar mandi. Sedangkan Mona, dia tidak ke dapur untuk membantu Mbak Idah, karena dia rindu sekali dengan Purba. semalam sama sekali Purba tidak menyentuhnya atau memeluknya saat tidur.
Purba sudah siap hendak pergi, hanya tinggal membawa ponselnya yang tergeletak di nakas samping tempat tidur.
Namun, saat purba ingin membuka ponselnya mengecek Apakah ada yang penting atau tidak, Mona langsung berada di depannya memegang pinggang Purba dan berdiri begitu dekat dengan sang suami hingga tak ada jarak.
"Kenapa Ma?" Purba bertanya sambil menatap pada ponselnya yang baru saja diaktifkan.
Karena posisi Mona tepat di depan Purba, sehingga ponsel yang dipegangnya berada di belakang kepala Mona.
"Sayang... aku kangen," ucap Mona merayu manja, sambil salah satu tangannya memainkan jari lentik di pipi Purba, jari itu bermain sampai bibir sang suami, memancing agar melakukannya sebentar.
"Tapi ini waktunya kerja Ma," ucap Purba.
__ADS_1
"Sebentar saja," ucap Mona sedikit merengek.
Bersambung...