
Bab146
Mona menyambut Purba yang baru saja sampai. Begitu pun juga dengan Bu Purwanti menghampiri sampai mobil, sedangkan Mbak Idah membuat minuman untuk mereka berdua yang baru datang.
Mana langsung memeluk suaminya, dia betapa rindu, Purba pun mengecup kening Mona untuk memberikan ketenangan.
Sedangkan Bu Purwanti saling tatap dengan Pak Kukuh, tanpa mereka bicara, paham satu sama lain apa yang sedang disembunyikan dari menantu anak mantan majikannya.
Mona membawa tas yang Purba tenteng, tidak terpikirkan sama sekali oleh Mona, bahwa suaminya hanya sekedar untuk menolong temannya, tapi sampai membawa tas lumayan besar, meskipun hanya tas gendong.
Begitulah, setiap kebohongan akan ada kecerobohan yang tanpa sadar dilakukan. Sayangnya kali ini Mona karena terlanjur senang suaminya datang, dia tak memperhatikan hal tersebut. Jika hanya sekedar membantu temannya kecelakaan, tapi seperti habis menginap beberapa hari hingga membawa baju persiapan ganti.
"Ini Mas, diminum dulu." Mona menyodorkan teh hangat yang dibuatkan oleh Mbak Idah saat Purba dan ayahnya sudah duduk.
Tentu saja semua yang dilakukan Purba adalah hanya untuk menghormati. Sebenarnya dia sudah cukup terlayani dengan baik di rumah Rara.
Mereka berbincang sesaat tentang bagaimana temannya yang kecelakaan, terutama Mona yang antusias bukan hanya sekedar ingin tahu, tetapi ingin menyelidiki. Apakah benar atau tidak? Moa mengamati apakah ada kebohongan atau tidak pada diri Purba.
"Ya sudah Ma, aku mau istirahat. Mungkin Ayah juga capek?" ucap Purba.
"Iya, istirahatlah. Bapak juga," Ibu Purwanti merespon ucapan putranya
Sedangkan Mona mengikuti Purba sampai ke kamar.
"Mas sudah makan?" tanya Mona setelah berada di kamar. Sambil dia membuka kemeja yang Purba kenakan, untuk bersiap mandi.
"Udah," ucap Purba, singkat.
"Masih lelah ya?"
"Hem."
"Ya udah, aku siapkan air hangat ya buat mandi."
"Boleh," jawab Purba santai.
Padahal Mona memancing. Apakah Purba tidak merindukannya? Apalagi honeymoon gagal dilakukan, walaupun capek dari perjalanan biasanya seorang pria akan tetap membutuhkan untuk menuntaskan kebutuhan biologisnya.
Tak terbayang beberapa hari tertahan dan sekarang sudah di dekat istrinya, tetapi tidak disentuh juga.
__ADS_1
'Mungkin Mas Purba terlalu lelah, biarlah masih ada hari esok,' gumam Mona sambil menyiapkan air hangat di bathtub.
Mona kembali turun sengaja menghindar dari Purba, agar hasratnya tidak terpancing melihat sang suami. Meskipun Mona sudah melakukannya kemarin, tapi kepuasan sendiri dengan ada lawan bermain tentu saja tetap ada perbedaan kenikmatan.
"Purba udah tidur, Nak?" tanya Bu Purwanti kepada menantunya.
"Belum Bu. Tadi katanya mau mandi dulu," jawab Mona, dia berhenti sebentar di ruang tamu menuju ke dapur.
"Terus kamu mau apa turun lagi? Udah malam loh, ini jam delapan. Besok kerja, kan? Atau mau libur?" Bu Purwanti mencoba perhatian kepada menantunya agar lebih dekat dan terbiasa.
"Belum ngantuk Bu, nanti saja kalau Mas Purba udah selesai dari kamar mandi, aku ke atas lagi."
Bu Purwanti mengangguk-anggukan kepalanya, dia tersenyum pertanda memahami keinginan menantunya.
Mona pergi ke dapur untuk membantu Mbak Idah beres-beres. Sebenarnya bukan membantu tapi Mona hanya duduk kursi makan, sambil mengobrol menemani Mbak Idah membereskan perabotan yang masih belum dicuci.
Mona sudah terlanjur nyaman curhat sama Mbak Idah, sedikit-sedikit seakan melaporkan kegundahan hatinya. Seperti halnya saat ini, menceritakan tentang Purba seakan seperti tidak ada gairah. Bukankah ini termasuk empat hari dia menahan hasrat sebagai suami? Apalagi gagal berbulan madu.
"Biasanya lelaki secapek apa pun kalau bertemu istri dan belum terpuaskan biologisnya akan tidak sabaran, tapi mas Purba seperti santai saja," keluh Mona.
"Tidak semua laki-laki sama mungkin Bu, Bapak itu habis membantu temannya yang kecelakaan. Bukan hanya saja lelah fisik, mungkin energi pikirannya juga terkuras. Apalagi kalau kecelakaannya parah, lumayan mengganggu pada batin." Mbak Idah mencoba menenangkan.
"Mungkin juga ya. Karena ada seorang teman yang begitu dekat. Hingga saat kemusibahan, kita ikut merasa sedih dan stres."
Setiap berbicara pada Mbak Idah, Mona merasa lebih tenang.
**#
Pukul sepuluh malam Rara sudah selesai merapikan barang yang ia bawa dari kampung, mandi pun sudah. Kini ia siap untuk tidur, kunci jendela, pintu, semua sudah dicek. Sampai kolong kasur dia cek, takut saat Rara sedang berada di kampung ada seseorang yang masuk dan bersembunyi. Karena Rara terlalu takut akan bayang-bayang Gandi di sana.
Rara sudah tertidur pulas, rasa lelahnya membuat tidur begitu nyenyak. Tanpa dia ketahui ada seseorang yang mengintai di depan rumahnya.
Seseorang dengan wajah ditutup, berpakaian hitam, berusaha membobol pintu rumah Rara. Sosok tersebut meloncati pagar, sengaja tidak membuka gembok pagar. Karena hal itu akan dilakukan belakangan oleh rekannya saat dia sedang beraksi di dalam.
Sungguh tidak sulit membobol kunci pintu rumah Rara. Karena model pintu di perumahan sudah mereka pahami, sehingga untuk membuat kunci duplikat atau dengan barang lain sudah tahu triknya.
Kebetulan kunci pintu Rara tidak diganti seperti rumah-rumah yang lain, yang sudah dirombak. Kemudian beberapa pengaman jendela dan pintu dibuat berbeda dengan bawaan saat bangunan masih original.
Pria tersebut langsung menyusup ke kamar Rara. Kebetulan wanita yang saat ini seorang istri dari Purba, tidur bukan menggunakan baju dengan bawahan celana, tapi dress selutut. Sehingga saat ini roknya tersingkap, pa-hanya tereksplor begitu saja.
__ADS_1
Tentu saja orang tersebut yang tadinya hanya melancarkan rencana, tapi setelah melihat tubuh Rara yang molek, dia tergoda juga.
Dengan tenang sosok tersebut melepas pakaiannya, kaos tangan hitam dan penutup kepala sampai pakaian bawahnya.
Lalu dirabanya benda putih yang sejak tadi menggodanya, saat disentuh begitu halus, hangat, dia mendapat job ini benar-benar seakan bonus. Selain dibayar ia dapat menikmati wanita yang aduhai.
Rara belum merasakan ada seseorang yang masuk dan menyentuh tubuhnya, dia terlalu ngantuk..
Sedangkan di luar sana ada seorang lelaki yang berusaha membuka gembok pagar, agar terkesan pagar itu membuka secara natural, bukan dirusak.
Bukan penjahat namanya kalau melakukan tindakannya setengah-setengah, seperti kucing yang dihidangkan ikan. Penjahat itu tidak akan bermain drama lagi, mumpung ada ikan lezat di depannya, hajar saja, nikmati sepuasnya. Disingkapnya lebih tinggi bagian dress Rara..Sosok itu melancarkan aksinya lebih jauh lagi.
Dan baru Rara tersadar ada yang mengganggu dirinya, dia terbangun saat ada sesuatu yang terasa nyeri di bagian dadanya.
Rupanya sosok itu menyesapnya dengan kencang.
Perlahan Rara merasa apakah itu suaminya? Antara sadar dan tidak, lama-lama tercium aroma yang berbeda yang sungguh tidak pernah dikenalnya.
Rara perlahan membuka matanya karena ngantuk yang sangat berat, dia tidak bisa sekaligus bangun. Namun, semakin sadar aroma yang diciumnya adalah dari sesuatu yang tidak mengenakkan. Bau keringat laki-laki biasa, beda dengan harumnya Purba.
"Akh...! Tolong...!"
Rara langsung mendorong laki-laki itu, berteriak, kemudian membetulkan pakaiannya.
Di sinilah lelaki itu bermain drama. Dia seakan bukan penyusup, tapi lelaki yang memang dekat dengan Rara.
"Siapa kau!" tanya Rara sambil menutup badannya dengan selimut.
"Tolong! Tolong! Ada maling!" Rara berteriak dengan menepiskan tangan lelaki itu uang terus akan menjamahnya.
Rara mau keluar kamar pun tidak bisa, karena lelaki itu berdiri menghalangi Rara untuk kabur dari pintu.
Rara hang memang awalnya kelelahan, dia lemah juga, tubuh ambruk di ranjang di dalam kukungan lelaki asing itu.
Tiba tiba Bu Molly datang, dia merekam adegan Rara dan lelaki tersebut. Sebelumnya sudah di foto, untuk antisipasi rekaman video takut gagal, tidak sesuai rencana. Karena ditakutkan ada suara teriakan minta tolong dari Rara.
"Heh! Ngapain kalian? Malam-malam pintu terbuka. Kalian berbuat mesum?" teriak Bu Molly yang sudah ada di depan pintu kamar, sambil memegang ponsel untuk merekam.
Rara terkejut dengan ucapan Bu Molly. Dia yang masih ada di bawah tubuh lelaki itu, mencoba bicara, namun tertahan. Karena si lelaki menyelanya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Jangan kurang ajar ya, kami ini sepasang kekasih. Jangan menuduh mesum sembarangan," ucap si lelaki sambil menunjuk - nunjuk Bu Molly di kamera.
Bersambung....