
Saat semuanya sudah selesai Mona pun sudah sarapan, mereka berempat berangkat menuju Gedong jengger, tempat tinggal orang tua Purba. Jarak dari sana sekitar dua jam setengah, cukup lama memang.
Mereka berangkat dengan dua mobil. Tuan Hartanto menggunakan sopir pribadinya, sedangkan Purba dan Mona yang mengendarai mobil sedan, dikendarai oleh Bizar. Saat tadi Mona bersiap, Purba menghubungi Bizar untuk segera ke rumahnya, maka Bizar segera meluncur dari apartemennya.
*#
Saat di perjalanan.
“Kirim pesan ke siapa Mas? Kok dari tadi sibuk terus?” tanya Mona.
Dia sedikit melirik bahwa purba sedang melakukan komunikasi lewat pesan pada aplikasi whatsapp-nya.
“ Fira. Aku ingin tahu keadaan kantor dulu, biar tenang,” jawab Purba.
Mona bersandar di pundak purba sambil menyimak Purba membahas tentang urusan kantor dengan Fira.
“Mama ... tolong duduknya jangan seperti ini. Sebentar... aku tidak bisa mengetik dengan leluasa, tanganku jadi pegal,” ucap Purba beralasan.
Sebenarnya dia ingin mengirim pesan pada Rara, cuman bingung kalau Mona terus melihat dia mengirim pesan seperti itu.
Tapi untungnya Mona menurut dia membetulkan duduknya tegap tidak lagi bersandar di pundak Purba.
“Rara, hari ini aku nggak ke kantor, mungkin untuk dua atau tiga hari ke depan, tapi di kantor akan ada yang menggantikan aku. Yosef kakaknya Mona. Kamu hati-hati ya.
Nanti aku ceritakan lebih jelas lagi kalau ketemu. Pokoknya cara berpakaian kamu, cara berperilaku kamu jangan sampai dimanfaatkan oleh Yusuf. Dia itu Casanova.”
Pesan purba yang begitu cukup panjang langsung sampai pada Rara, yang kini baru saja selesai mandi dan bersiap di depan cermin untuk merias diri.
Rara membaca pesan itu sedikit ada rasa takut pada dirinya. Seperti itukah sifatnya? Batin Rara.
Dia tidak tahu apa itu Casanova, belum pernah dengar kata-kata itu, tapi karena peringatan Purba, membuat Rara tahu bahwa Yosef adalah orang yang tidak baik.
Rara yang tadinya akan bersolek dengan semaksimal mungkin, menggunakan pakaian rok span di bawah lutut namun ada belahan sampai di atas lutut, berwarna coklat dengan ke atasan hem berenda di bagian leher, diurungkannya.
Kini Rara memilih pakaian rok berwarna hitam dengan ke atasan kemeja putih, dengan bagian leher cukup tertutup. Dia membayangkan cukup mengerikan juga, jika satu ruangan dengan laki-laki buaya seperti Yosep.
Entah mengapa Rara merasa tidak semangat setelah tahu Purba tidak masuk ke kantor. Dia pun secara otomatis memiliki perasaan tidak perlu dengan penampilan yang lebih baik dari kemarin, dia akan berpenampilan seadanya saja.
Sampai di kantor Rara melihat ruangan Purba belum dibuka, dia mengambil kunci pada Vira dan berbincang sebentar.
__ADS_1
“Fir, katanya hari ini Pak Purba tidak masuk ya? Katanya lagi, Pak Yosef kakaknya Bu Mona yang menggantikan untuk sementara,” tanya Rara.
“Iya benar. Kamu sudah tahu dari Pak Purba?”
“Iya, Pak Purba mengirim aku pesan, tapi aku ingin tahu apa benar Pak Yosef itu ... em ... gimana , pokoknya kita harus hati-hati padanya,” ujar Rara.
“ Pak Purba juga ngasih tahu kamu itu?” tanya Vira, malah bertanya balik.
Rara kemudian hanya mengangguk.
“Ya ... kalau Pak Purba ngasih tahu kamu harus hati-hati sama Pak Yosef, ya berarti memang kamu harus hati-hati.”
“Memang sebenarnya Pak Yosef itu gimana sih? Dan aneh juga, kenapa Pak Purba bilang seperti itu ke aku, dia juga kan adik iparnya,” ucap Rara, penasaran.
“Ya... mungkin hanya untuk jaga-jaga aja, secara ini kan perusahaan yang dia pimpin, takut ada hal yang tidak diinginkan pada karyawannya nanti. Pak Purba juga kena tanggung jawab. Mungkin seperti itu, kan tidak ada salahnya kalau hati-hati."
“Oh iya, benar juga ya. Ya udah, aku mau ambil kuncinya.”
Kemudian Fira memberikan kunci ruangan pada Rara sambil memberikan beberapa berkas untuk Rara pelajari.
Rara mulai melakukan pekerjaannya seperti biasa sampai pukul 09.00 Yosef tak kunjung datang. Rara menantikannya bukan ingin tahu seperti apa Yosef, tetapi justru agar kekhawatirannya tidak terus mengganggunya. Dia penasaran seperti apa sih kakak ipar dari istri bosnya itu?
“Maaf, selamat siang Pak. Bapak mencari siapa ya?” sambut Rara.
“ kamu tidak diberitahu?” Jawab Yosef ketus.
“Diberitahu ...? OH... Bapak, Pak Yosef? Maaf, saya belum tahu. Perkenalkan, saya Rara sekretarisnya Pak purba,” Rara menyodorkan tangannya.
“Aku, sudah tahu,” ucap Yosef, dingin.
Yusuf langsung berjalan ke kursi tempat di mana Purba biasa bekerja.
Rara tidak menggubris sikap angkuh Yosef, dia langsung melanjutkan pekerjaannya, dia tidak berani melirik sama sekali ke arah Yosef, perasaannya juga merasa dia sedang diperhatikan oleh Yosef. Takutnya saat Rara mencoba memperhatikan Yosef dan Yosef kebetulan sedang melihat ke arahnya, jadi untuk mencari aman lebih baik Rara tetap fokus ke layar laptopnya.
“Rara! coba kemari!” panggil Yosef.
Rara sedikit terperanjat dan kaget mau apa dia disuruhnya? Akan tetapi Rara menurut saja pastinya ini tentang pekerjaan, bukan hal yang lain, overthinking bergelayut di kepala Rara.
“Lihat! Perhatikan baik-baik, bagan ini. Ada yang salah tidak?” ucap Yosef sambil menunjukkan pada layar laptopnya.
__ADS_1
“Menurut saya tidak Pak, ini sudah benar dan ini juga perhitungannya sudah sesuai,” jawab Rara.
Kemudian Yosef berdiri dari duduknya, “Coba, kamu duduk di situ, biar lebih jelas lihatnya,” perintah Yosef.
Dengan ragu Rara duduk di tempat Yosef duduk tadi, dia memperhatikan bagan yang ada di layar dengan saksama. Tiba-tiba Yosef yang berdiri di samping Rara, sedikit menunduk badannya sehingga lebih dekat pada Rara.
Rara agak miring sedikit untuk menjauh posisi tubuh Yosef, yang sudah sangat dekat. Kini Rara berada dalam kukungan Yosef.
Tangan sebelah kanan Yosef berpijak di meja, tangan sebelah kirinya menunjukkan pada layar laptop, tapi melalui belakang punggung Rara, jadi seakan-akan Rara ada dalam pelukan Yosef. Rara benar-benar risi rasanya.
“Kamu bilang ini sudah seimbang? Lihat sekali lagi dong, pemasukan dan pengeluaran nominal ini tidak seimbang, karena sudah dipotong biaya tak terduga dan untuk biaya operasional. Kamu harus bisa membedakan pengeluaran untuk kebutuhan kantor yang pokok, untuk kebutuhan sekunder dan cadangan. Apa purba tidak mengajarimu?!”
“Oh iya, maaf Pak, saya kurang teliti. Nanti saya akan periksa kembali di laptop saya,”
“Kenapa harus di laptopmu? Di sini kan bisa, biar aku bisa lihat gimana cara kerjamu,” ucap Yosef, belum sepenuhnya tenang cara bicaranya.
“T-tapi Pak, kalau beda perangkat, biasanya kita jadi beda pegangan, jadi susah fokus,” jawab Rara.
“Banyak alasan. Ya sudah sana, buka bagian ini, lalu kamu perbaiki lebih teliti lagi.”
Rara mengangguk, dia akan berdiri dari duduknya dengan sedikit memajukan kursinya, agar lebih leluasa dan mengapa Yosep juga tidak beranjak dari dekatnya?
“Maaf Pak, saya mau kembali ke tempat kerja,” ucap Rara.
Setelah Rara meminta izin, barulah Yosef berdiri sedikit menyingkir dari Rara, tanpa Rara ketahui, senyum smirk di wajah Yosef. Senang melihat Rara terlihat gugup dan merasa tak nyaman dengan dirinya.
**
Saat istirahat tiba Purba melakukan video call dengan Rara, dengan alasan menanyakan pekerjaan. Padahal dia ingin tahu keadaan Rara, dia khawatir meninggalkan Rara berdua dengan Yosef.
Namun Rara tak kunjung juga mengangkat ponselnya lalu purba mengirim pesan.
‘Angkat. Penting!” pesan purba singkat pada Rara.
Rara yang sedang istirahat, makan bersama Fira membaca pesan tersebut. Dia bingung, tidak mungkin menerima panggilan video di tempat umum seperti itu. Rasa merasa, apakah itu hal biasa bagi seorang atasan melakukan panggilan video dengan bawahannya?
“Fir, aku mau tanya,” ucap Rara pada Fira.
“Tanya apa?” jawab Fira, santai.
__ADS_1
Bersambung....