Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Belajar Bersikap Baik


__ADS_3

Rara masih menimbang-nimbang apakah harus membalas pesan dari purba atau tidak.


Namun, dorongan hatinya untuk segera menceraikan Gandi secara sah lebih mendominasi. Akhirnya diberanikan untuk membalas pesan itu. Terserah Purba akan menanggapi dirinya sebagai wanita seperti apa pun itu.


Rara memiliki perasaan, dia wanita tidak memiliki attitude, main kabur begitu saja. Dan sekarang dia berusaha seakan tidak ada masalah.


‘iya pak maaf, kemarin saya pulang duluan’ balasan, pesan Rara.


‘oh ya pak maaf hari ini saya tidak masuk kerja,' lanjut Rara lagi.


Pikiran tentang Aska dan kebebasannya menjalani hidup dengan tenang, selalu terngiang-ngiang di kepala Rara. Meskipun perasaannya masih marah kesal, malu untuk bersikap agresif pada purba, tapi semua itu ditepiskannya.


Rara tidak peduli, sikapnya yang sekarang berniat akan lebih agresif jika direspons baik oleh purba , jika pun tidak direspons dengan baik maka Rara tak akan merasa sakit hati, anggap saja ini sebuah peruntungan.


 Jika Purba malah membenci dirinya, dia tinggal keluar perusahaan kemudian mencari tempat kerja lain, itu yang ada dalam benak Rara saat ini.


 


**#


 


Sementara itu di sebuah cafe tempat Retno bekerja. Saat jam istirahat tiba Retno makan siang bersama tunangannya yaitu Hendra


“Sayang, kamu masih inget nggak, temenku yang bernama Rara?” Ucap Retno sambil mengunyah makanannya.


“Iya, aku masih ingat. Kenapa?” sahut Hendra tunangan Retno.


“Kemarin dia kan pulang kerja masih awal, mungkin lebih cepat hanya beberapa menit lah, tidak terlalu cepat juga, tapi saya kok heran ya. Dia bercerita habis diperlakukan kurang baik oleh bosnya.”


“Kurang baik bagaimana?”


“Temanku bilang, katanya dia hanya salah menyajikan suguhan buat para tamu rapat, padahal itu adalah sesuai perintah bosnya, tapi bosnya malah marah karena katanya makanan itu tidak cocok untuk mereka.”


“Lalu yang membuat kamu aneh apa? Kurang baik dari segi mananya?” tanya Hendra lagi.

__ADS_1


“Ya aku pikir masa hanya kesalahan seperti itu aja ditegurnya sampai Rara nangis. Kelihatan banget matanya sembab, tapi aku juga aneh, herannya kenapa Rara sampai berani kabur begitu dari perusahaan. Nggak takut dipecat dia?”


“Kenapa kamu tidak tanya langsung ke teman kamu itu, ada apa sebenarnya. Apalagi dia kan belum kerja lama, kan? Sebulan aja baru mau berapa hari lagi. Kok berani-beraninya hanya karena sakit hati terus pulang duluan. Iya sih, aneh seperti yang kamu katakan.”


“Tapi, aku curiga antara Rara dan bosnya itu ada apa-apa.”


“Ada apa-apa bagaimana?”


“Ya seperti kita ini, ada hubungan spesial gitu, hehe,” ucap Retno diakhiri tertawa sedikit malu.


“Ah, kamu ngaco aja. Pak purba itu sudah punya istri, masa temenmu mau jadi pelakor?”


“Iya juga ya, nggak kepikiran , kalau temanku itu bakal ngerebut suami orang, dia itu orangnya tidak banyak tingkah,” jawab Retno, meski dia sendiri gak yakin sepenuhnya. Seseorang bisa berubah kapan saja.  


“Ya udah, nanti kalau lihat temanmu suasananya udah enakan, coba deh ditanya. Takutnya beneran dia suka sama bosnya, kita kan nggak tahu karakter orang yang dulunya diem jadi bagaimana. Kalau kepepet atau ada tujuan lain kan kita nggak tahu.”


Retno melanjutkan makannya bersama tunangannya itu, tapi di sela makan, dia sambil berpikir apa yang dikatakan Hendra ada benarnya juga.


 


**#


Kaki jenjangnya yang putih mulus, pinggangnya yang ramping serta wajahnya yang putih licin tanpa jerawat sedikit pun. Rambutnya yang panjang melebihi bahu, ikal, dia biarkan tergerai begitu saja.


Sedangkan Purba sudah siap dengan pakaian casualnya, kaos berwarna biru dongker, bawahan Levi’s berwarna hitam. Purba termasuk laki-laki yang suka dengan warna gelap.


Rencananya mereka akan menonton. Setelah permainan panas mereka di pagi hari itu, terbersit pikiran untuk menonton film yang mereka lihat trailernya di media sosial.


Hari ini Mona benar-benar bahagia sekali dengan perubahan Purba yang selama pernikahan mereka, yang hampir setahun ini mungkin baru hari ini purba sangat manis terhadapnya.


Di meja makan Mona juga yang menyiapkan makanan untuk Purba.  Mereka sarapan bersama walaupun sarapannya kesiangan, karena ini sudah menunjukkan pukul 10.00 Wib


Purba tidak jadi berangkat Ke kantor, karena dia terlanjur waktunya dipergunakan untuk membujuk Mona. Namun, Purba sudah mengirim pesan pada Bizar, untuk menghandle pekerjaan di kantor.


“Mas kita ke rumah papa dulu ya, udah lama loh kita nggak berkunjung ke sana,” pinta Mona, sesaat sebelum mereka menuju mobil.

__ADS_1


“Iya,” ucap Purba singkat.


Saat mereka sedang makan ada seseorang yang menghubungi ponsel Mona yang terletak di atas meja, terlihat panggilan itu atas nama Bram. Purba melirik ponsel tersebut kebetulan purba juga berada di samping Mona.


“Kenapa tidak diangkat?” tanya Purba, saat Mona mengabaikan panggilan itu.


“Yakin aku angkat? Nanti aku main lagi sama mereka loh ke diskotik,” ucap Mona, dengan lirikan manja.


Purba hanya menarik nafas.


“Kita tiap hari kaya gini, ya. Kamu jangan ketus-ketus lagi sama aku. Aku bisa kok jadi istri yang baik manis dan kita harus bisa punya anak lagi ya? Nanti aku konsul deh, ke dokter. Apakah waktu dekat ini aku bisa memiliki anak lagi. Pokoknya aku akan menjadi istri dan ibu yang baik,” terang Mona, dengan ekspresi sangat bahagia.


“Terserah kamu saja,” ucap Purba santai.


Makan telah selesai, Purba menuju mobil terlebih dahulu. Karena Mona ada sesuatu yang ketinggalan sehingga dia menuju kamarnya kembali.


Saat purba di dalam mobil dia mengecek ponselnya mungkin ada pesan masuk dari klien panggilan atau beberapa email yang masuk. Wajahnya semringah saat melihat pesan dari Rara


Aku pikir dia akan mengabaikanku, batin purba.


Melihat pesan Rara yang direspons biasa saja membuat purba tersenyum, rupanya dia tidak marah. Purba pikir pesannya akan dibalas, super ketus dan panjang. Biasanya kalau wanita marah, kan seperti itu.


Kemudian purba membalas dengan voice note, karena melihat Mona sudah keluar dari rumah. Sehingga kalau mengetik lama, takut keburu ketahuan, tambah masalah.


‘Iya masalah kemarin aku juga minta maaf ya. Dan hari ini kenapa kamu tidak berangkat kerja kamu sakit? Apa perlu ke dokter?’ balasan voice note Purba.


Mona sudah membuka pintu mobil bertepatan saat purba selesai membalas chat , sedikit gugup, meskipun Purba masih merasa dengan Rara belum terjadi apa-apa.  Akan tetapi entah kenapa saat dirinya berinteraksi dengan Rara, seakan-akan takut ketahuan oleh siapa pun, terlebih di dekat Mona.


Banyak kerjaan ya Mas? Kok muka kamu kayak yang cemas seperti itu?” tanya Mona, saat sudah duduk di dalam mobil.


“Biasalah,” Jawab Purba, singkat.


 


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2