
Bab110
Mona mengeratkan pelukannya dengan senyum bahagia, ternyata yang dipikirkannya benar-benar kejutan. Purba bersikap santai seolah tidak ada sesuatu yang spesial untuk Mona padahal sudah disiapkannya.
Mona diam, dia tidak ingin mengingatkan Purba lagi, mungkin waktunya belum tepat untuk memberikan kejutan itu.
Mereka pun terlelap dalam malam yang sudah semakin larut.
**#
Sementara di satu sisi ada seorang pria dengan badan kekar sedang memeluk seorang wanita, tidak begitu cantik Namun, hartanya yang membuat para pria tertarik.
Walau tubuh Gandi tidak berotot seperti pria yang hobi nge-gym, namun tubuhnya cukup kekar karena karakter dia seorang berandal, otomatis perangainya keras menjadikan tubuh Gandi terkesan kuat.
Apalagi biasanya produk daerah akan lebih menarik daripada produk kota yang cenderung bagus bagian luar saja.
"Sayang, kamu jangan pulang ya. Temani aku di sini," rengek Sugar Momma.
"Tapi, suami tante kapan pulang?" tanya Gandi.
"Tenang ... seminggu lagi dia masih berada di luar negeri. Itu pun pulang belum tentu menyentuhku."
"Bisa diatur. Tapi tante tidak lupa untuk menghitung kan?" tanya Gandi.
"Ah... kamu, soal itu beres," respons si tante sambil terus mempermainkan sekitar dagu dan pipi Gandi.
Wanita berusia hampir 50 tahun itu bisa membuat Gandi melayani hasratnya karena perawatan yang mahal dan upah yang lumayan.
Sesungguhnya Sugar Momma itu sudah keriput di mana-mana. Kulit tak kencang lagi, bahkan Gandi menyentuhnya pun tidak ada hasrat. Tubuh tante walau tidak gemuk, tapi dia seorang wanita yang telah memiliki anak. Otomatis tak ada menarik-menariknya, apalagi saat pelindung badan sudah tak mampu menutupi kekurangannya. Kulit bergelayut di mana-mana.
Namun, karena permainan si tante yang gila, membuat Gandi bebas melakukan hal yang sama bahkan lebih dari itu. Dalam pikiran Gandi, wanita seperti ini tak perlu diperlakukan dengan kelembutan, secara brutal adalah kenikmatan untuknya.
***
Pagi menjelang, Mona yang masih berada di depan meja rias mengenakan kimono handuknya, dengan rambut juga dibungkus oleh handuk karena baru keramas.
Purba yang baru bangun melihat kegiatan istrinya, tumben masih di dalam kamar. Biasanya saat Purba bangun, Mona sudah berada di dapur.
Purba segera ke kamar mandi.
Saat Purba selesai mandi, dia melihat Mona sedang memilih pakaiannya dan melepas handuk kimono. Saat ini, hanya handuk lilit yang Mona pakai.
Saat dirinya pun akan menghampiri lemari yang ada di samping Mona, ada sesuatu yang menarik perhatian Purba pada bagian pundak belakang Mona.
__ADS_1
"Ma...," ucap Purba dengan bernanda seakan bertanya..
Purba memperhatikan apa yang dilihatnya dengan seksama, lalu jarinya mengusap-ngusap pundak itu.
"Ini...?" tanya Purba kembali.
Mona sempat terhenyak, apa yang Purba temukan di tubuhnya.
"Kenapa Pa?" tanya Mona.
Tentunya dia tidak bisa melihat ke belakang tubuhnya..
"Perasaan, Papa semalam tidak sampai ke sini," ucap Purba.
"Apa sih, Pa? Jangan bikin kaget, deh," Mona berusaha tenang, tak mengerti apa-apa.
Purba terus menggosok-gosoknya lagi, tapi kalau baru semalam tidak akan pudar seperti ini warnanya.
Mona membalikan badan, "Papa apa sih?" tanya Mona pura-pura.
Masih mencoba setenang mungkin, padahal dalam benaknya terbersit tanya. Apakah dia menemukan tanda kepemilikan bekas Bram?
"Udah, ah. Mama pakai baju dulu. Bikin kaget aja," ucap Mona sambil mengusap-ngusap bagian pundak belakangnya.
Namun, Purba membalikkan badannya. Dia menarik Mona ke sisi tempat tidur yang dekat dengan jendela, agar pencahayaan cukup. Lalu melepaskan handuk Mona dengan perlahan.
"Masa, dipandang suaminya sendiri malu?" tanya Purba sebelum keseluruhan handuk lepas dari tubuh Mona.
"Ini beda lagi, Pa. Terang benderang seperti ini."
"Enggak apa-apa, hanya ingin melihat aja, kok," ucap Purba sambil menarik handuk yang melilit di tubuh Mona.
Mona tak bisa mengelak lagi, jika dia semakin berusaha menutupi, Purba akan semakin curiga.
Seorang Mina yang agresif, ditatap bagian tubuhnya oleh sang suami dan menyatakan malu, tentu itu suatu keanehan.
Bukankah Mona selalu bangga dengan tubuhnya? Apalagi jika dipamerkan di hadapan lawan jenisnya, apalagi ini sang suami.
Purba memperhatikan setiap detail bagian tubuh Mona. Sementara itu Mona berpikir keras untuk memberikan alasan, dia tidak tahu bahwa di sisi lain masih terlihat tanda bekas kepemilikan Bram.
"Kamu habis terjatuh Ma?" tanya Purba.
Namun, Mona diam saja, dia masih bingung akan merespon apa.
__ADS_1
"Kemarin kamu ke mana aja waktu di rumah Mama? Ini lebam biru dan yang ini seperti...." ucapan Purba menggantung.
Kemudian Purba berdiri dan menatap Mona berhadapan.
"Semalam ... apa aku se-liar itu? Perasaan aku tidak sampai ke paha, ke belakang tubuhmu?" tanya Purba.
Karena Purba menemukan beberapa tanda di bagian pa-ha, meskipun samar. Yang Purba sadari dia tidak pernah melakukan se-liar itu.
Karena untuk melampiaskan dengan Mona hanya sebatas sudah tidak tahan saja. Mungkin beda halnya jika dengan wanita yang dicintainya sejak awal.
Namun, dalam hal ini Purba juga patut mencurigai, sebagai lelaki pasti tidak ingin dicurangi oleh wanitanya. Lelaki yang punya harga diri, dia lebih baik mundur atau membuang wanitanya jika tidak menghargai hubungan.
Sejauh ini Purba melihat perubahan Mona menjadi baik, makanya dia pun menghargai Mona untuk menjadikan posisinya sebagai istri yang pantas diberi perhatian.
"Mas, namanya kalau sudah berhubungan pasti kita tidak sepenuhnya sadar," ucap mencari alasan.
Purba mengerutkan keningnya, betulkah seperti itu? Memang tidak sepenuhnya sadar, tapi ingatannya jelas tidak sampai seluruh tubuh Mona dia sentuh.
Jika bisa dikatakan hanya bagian atas saja, tidak sampai ke belakang atau ke bawah. Seperti barang saja mudah dibolak-balik.
"Ya sudahlah, mungkin karena memang terlalu lama aku tidak menemukan. Jadi semalam aku kebablasan," ucap Purba, lanjut berjalan menuju ke lemarinya untuk mengambil pakaian kerjanya.
Mona bernapas lega, mulai hari ini dia tidak perlu menutupi semua tanda yang ada di tubuhnya. Karena Purba sudah tahu dan mengerti bahwa itu adalah karena dirinya, bukan orang lain.
***
Sementara itu Rara berangkat kerja seperti biasa, tidak ada hal yang aneh atau pun merugikan dirinya di kantor cabang yang saat ini ditempati. Semua karyawannya serta atasan yang lainnya pun bekerja dengan baik. Tidak ada yang mengganggu Rara.
Namun, aktivitasnya mulai hari ini bertambah.
Yaitu pukul 03.00 setelah pulang kantor dia harus pergi ke tempat kursus membuat cake.
Sebenarnya belajar untuk membuat kue ini bisa dilakukan dua cara; yaitu dari rumah ataupun datang ke tempat.
Hanya saja kalau dari rumah, Rara hanya akan mendapatkan materi dan beberapa video praktek. Sedangkan kalau datang ke tempat belajarnya, Rara akan melakukan praktek secara langsung dan dinilai oleh pembimbing.
Maka dari itu Rara hanya dua kali dalam seminggu datang ke tempat belajar, membuat aneka macam kue. Mempraktekkan apa yang sudah dipelajari saat di rumah.
***
"Ibu! Ibu!" seru Azkia, dengan berdiri di depan pintu kamar Bu Heti yang kebetulan terbuka.
"Wah, Azkia sudah datang. Ayo masuk. Duduk dulu di sana, nonton tv dulu ya. Ibu tanggung lagi ngeberesin dapur."
__ADS_1
Kontrakan yang hanya satu ruang tiap bangunan, maka lebih layak disebut kamar.
Bersambung....