Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Muncul Curiga


__ADS_3

Bab117


"Oke aku nggak tersinggung dengan sangkaan kamu, mungkin lebih kepada khawatir ya?" ucap Rara. Kemudian dia mengangguk-angguk, memahami apa yang sahabatnya curigai.


Lalu Rara menjelaskan bahwa dia sama sekali belum pernah melakukan hubungan di luar batas dengan Purba. Ya, kalau sekedar mereka melakukan hal yang orang dewasa biasa lakukan kalau sudah rindu, masih sewajarnya.


"Jujur, aku hanya melakukan itu," ucap Rara setelah menjelaskannya.


"Kalau apa yang kamu katakan benar, syukurlah. Takutnya kalau kamu tidak berlanjut dengan Purba, tapi ini bukan aku mendoakan ya. Di mana-mana perihal hubungan itu biasanya cewek yang rugi, meskipun katanya cowok juga rugi, sakit hati kalau ceweknya selingkuh.


Namun, kalau udah bahas tentang harga diri, tubuh sudah dijamah. Sayang kan? Cewek itu sudah bekas orang lain, apalagi ini masih kategori pacaran. Mudah untuk dibuang."


Rara mengangguk. Dia mengerti kekhawatiran Retno.


Retno sepenuhnya mendukung rencana Rara untuk membuka toko kuenya, bahkan kalau Rara meminta bantuan, dia akan siap sedia. Dalam seminggu, nanti mungkin menyicil untuk mempersiapkan barang-barang di sebuah bangunan yang sudah siap di isi. Retno akan meluangkan waktu terlebih kalau hari libur.


Dia meminta hari liburnya agar dipindah ke hari lain, hingga bisa bantu rara beres-beres calon tokonya.


"Perihal Gandi, kamu jangan khawatir. Asal sudah berhati-hati, meskipun dia di Jakarta, tak masalah. Banyak yang siap membantu kan? Kamu udah membahas ini dengan Purba? Apa dia nggak kasih bodyguard?


Atau, sebenarnya kalau benar Gandi di Jakarta dan membawa Azkia, kita bisa mencari akal loh, untuk mengambil Azkia dari tangan Gandi." Retno memberikan saran dan beberapa pandangan pad Rara.


"Iya sih, tapi sayangnya kemarin waktu ibuku ke rumah mamanya Mas Gandi, tidak ada siapa-siapa di sana. Jadi belum bisa diketahui apakah Mas Gandi beneran ke Jakarta?"


"Tapi Ra, kata ibuku bilang dia tidak pernah melihat Gandi lagi di kampung."


"Huft ... semoga bener begitu. Nanti aku bicara lagi deh sama Mas Purba, siapa tahu bisa diselidiki."


"Jangan lupa, ponsel kamu harus selalu siap, kalau ada apa-apa kamu foto atau video biar menjadi bukti bahwa kekhawatiran kamu itu sudah tidak dapat disepelekan lagi."


Rara mengangguk, dia harus sekali lagi bicara pada Purba, meskipun belum pasti kabar Gandi ke Jakarta atau tidak. Namun, kata orang-orang di kampung memang sudah tidak pernah melihat lagi, bahkan rumahnya orang tua Gandi sering kali sepi. Seakan menghindar jika ada tetangga yang menyapa, seperti takut ditanya-tanya soal Gandi.


Karena sebenarnya orang tua Gandi memang malas kalau para tetangga membahas tentang anaknya terus.


"Ya sudah, aku pulang ya. Makasih loh selalu menerima curhatku," ucap Rara sebelum benar-benar pamit.


Retno mengantar Rara sampai keluar gerbang, tanpa mereka ketahui ada seseorang yang sedang mengintai. Dia tersenyum smirk, merasa senang bahwa kesabarannya bersembunyi di sana, tidak sia-sia.


***


Sebenarnya cukup jauh rumah Rara dengan rumah Retno, tapi tidak ada ojek yang lewat, terpaksa Rara jalan kaki saja. Jarak rumah Rara dan Retno dua komplek bedanya.

__ADS_1


Sepanjang jalan sudah mulai sepi karena hari beranjak gelap, bahkan kumandang azan maghrib sudah terdengar, saat Rara sudah setengah perjalanan dari rumah Retno ke rumahnya.


Gandi membuntuti Rara dengan jarak yang cukup jauh, karena Gandi menggunakan motor, jadi tidak bisa sama-sama bergerak saat Rara jalan.


Gandi bersembunyi dibalik tembok perumahan atau pohon, yang penting arah Rara jalan masih terlihat. Saat Rara berbelok ke suatu gang atau pertigaan, barulah Gandi bergerak. Dan saat posisinya sudah lurus dengan posisinya, Gandi kembali diam, yang penting jarak pandang dirinya dengan Rara tidak hilang.


Rara menoleh ke belakang, sambil berjalan sesekali menoleh lagi. Dia memiliki firasat yang tidak enak, seperti ada yang membuntutinya.


Akhirnya Rara sampai di rumahnya, sebelum menutup pagar kembali dia menoleh ke kanan kiri tidak ada yang mencurigakan, para penghuni masing-masing rumah sedang melakukan kegiatan rutinitas mereka sebagai makhluk beragama. Jalanan sepi


"Alhamdulillah sudah sampai rumah," gumam Rara, saat sudah masuk ke dalam rumah.


Sekali lagi dia menyimak sekitar depan rumahnya sebelum benar-benar mengunci pintu. Perasaan Rara saja, atau entah karena habis cerita dengan Retno tentang kegundahan hatinya. Atau memang benar-benar merasa ada yang ngikutin?


Rara pun kembali mengecek kunci-kunci jendela, meskipun dia tidak pernah membukanya saat dirinya pergi bekerja. Namun, takutnya saat dia sedang di kantor, ada orang iseng yang berusaha masuk rumahnya, maka sebelum tidur harus mengecek kembali keamanan rumah tersebut.


***


"Mas besok kamu bagian audit ke kantor cabang ya? Aku ikut boleh?" tanya Mona yang kini sudah berada di tempat tidur tentunya dalam pelukan Purba.


Pasangan ini memang selalu menyempatkan waktu untuk berbincang sebelum tidur.


"Tumben?" singkat Purba.


"Baiklah," ucap Purba yang sepertinya sudah sangat mengantuk


***


Keesokan harinya Mona dan Purba sudah berada di perjalanan menuju kantor cabang, tentunya Bizar yang menjadi sopirnya.


Kantor cabang yang pertama di singgahi adalah yang dipimpin oleh Pak Baskoro. Di mana Rara menjadi sekretaris di sana.


Mona dan Purba berjalan terlebih dahulu langsung ke ruangan direktur. Namun, dari kejauhan Mona melihat Rara yang sedang berada di meja kerjanya yaitu dekat pintu masuk ruangan direktur. Yang tadinya Mona berjalan biasa saja dengan menenteng tas kantornya, kini tangan satunya menggandeng lengan Purba.


Dagu Mona sedikit diangkat dengan senyum hangat menebar menyapa seluruh karyawan, langkah elegan dan tentunya sorot mata yang berwibawa.


Entah mengapa, Mona refleks ingin menunjukkan kekompakan dirinya bersama Purba sebagai pasangan pebisnis yang harmonis di depan Rara. Padahal selama ini Mona tahu, kecurigaannya pada Rara tak pernah terbukti.


Rara baru menyadari bahwa Purba datang bersama Bu Mona, hatinya merasa ada pedih semacam sayatan. Padahal Rara sudah menyadari posisinya dan mengakui bahwa Mona itu siapa untuk Purba. Akan tetapi namanya hati kadang lebih lemah dari pikiran.


Rara berdiri menyapa bos besarnya datang, sedikit mengangguk dengan senyum ramah saat Mona dan Purba sudah tepat sampai di depan mejanya, mereka akan masuk ke ruangan Pak Baskoro.

__ADS_1


"Ternyata kamu kamu pindah ke sini?" tanya Mona, dengan sapaan ramah pura-pura tidak tahu.


"I - ya Bu," jawab Rara dengan respon yang ramah pula.


"Mas, lebih baik masuk duluan, deh," pinta Mona pada Purba.


"Bukannya kita mau mengaudit bareng-bareng?" tanya Purba yang sebenarnya merasa was-was. Apa yang akan diperbincangkan Mona dengan Rara?


"Sebentar. Lagi pula kamu tidak akan langsung mengaudit kan? Pasti berbincang dulu."


"Baiklah, jangan lama " Purba meminta jangan lama karena sebenarnya dia khawatir akan ada masalah yang serius antara mereka.


"Lama pun tidak apa bukan?" tanya Mona mencoba memancing reaksi Purba.


"Ya, tidak apa. Hanya saja niat kita ke sini memang audit. Nanti mama semakin lama belajarnya, bagaimana mengaudit manajemen kantor, bukan keuangan saja," papar Purba agar tidak terkesan bahwa sebenarnya dia memang takut kedua wanitanya terjadi bentrokan.


"Iya Pa, tenang aja. Ayo masuk," ucap Mona sambil sedikit mendorong suaminya masuk ke ruangan Baskoro.


Setelah itu, Mona kembali menghadap meja Rara, dengan kedua tangan bersedekap di dada, tak lupa senyum drama.


"Bagaimana kabarmu di sini? Betah?" tanya Mona menyodorkan satu tangannya untuk bersalaman dengan Rara.


"Alhamdulillah betah Bu," jawab Rara singkat, dia menerima uluran tangan Mona.


Rara juga hanya akan menjawab seperlunya, tidak ingin sok akrab dengan Mona, takut terjebak perkataan.


Kemudian Mona berbasa-basi menanyakan dari kapan Rara pindah di kantor ini.


Rara menjawab dengan jujur. Namun, ada hal yang dia lupa. Entah karena pikirannya sedang dipenuhi rasa khawatir tentang Gandi atau disibukkan dengan persiapan untuk membuka toko kuenya, Rara menjawab sepolos itu.


Dari jawaban Rara, Mona merasa penasaran. Jadi terbersit ingin mengecek profil karyawan di perusahaan itu.


"Oke, baiklah. Semoga kerasan di sini ya," ucap Mona, dia hendak berbalik dan masuk ke ruangan Baskoro. Namun, langkahnya terhenti.


Mona mengernyitkan kening seperti ada sesuatu yang terlewatkan, badannya kembali berbalik dan melangkah menuju meja Rara lagi.


Tangan Mona hendak menyentuh sesuatu yang ada di leher Rara.


"Ini?" ucap Mona dengan tatapan fokus pada benda yang melingkar di leleh Rara.


Seakan Mona terkejut.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2