
Siang itu, Mona yang sedang meeting dan makan siang bersama Mas Waluyo, mendapatkan sebuah kiriman screenshot. Namun, dia tidak menyadarinya karena sedang asik berbincang masalah bisnisnya.
"Minggu depan kita ke Bali, Nona izin dulu sama suami." Waluyo menyarankan pada Mona, Dia menghargai satu Mona dan tak ingin ada kesalahpahaman.
"Suamiku pasti beri izin, lagi pula dia sama-sama orang bisnis."
"Syukurlah, kalau gitu aku seminggu ini aku bisa tenang untuk fokus di kantor bersama timku dan kamu persiapkan untuk acara minggu depan. Ok?" Mas Waluyo mengakhiri meeting siang itu.
Sisanya mereka hanya berbincang ringan. Sampai Waluyo juga sebenarnya ingin mencari jodoh orang Indonesia yang sepertinya enak diajak berbincang dan hangat. Waluyo sudah bosan dengan wanita yang serius-serius, hidupnya saja sudah serius dengan segala pekerjaannya.
Saat mereka masih berbincang, Mona membuka ponselnya karena lampu notifnya menyala beberapa warna. Menandakan ada pesan masuk bukan dari satu orang saja. Bahkan ada panggilan, tapi dia tak menyadari karena ponselnya silent.
"Apa maksudnya?" gumam Mona.
Gumam Mona meski tak terdengar jelas oleh Waluyo, tapi cukup menarik perhatian pria keturunan Tionghoa itu.
"Kenapa?" tanya Waluyo.
"Eh. E-enggak apa. Yuk, kita pulang." Maksud Mona menyudahi pertemuan mereka.
Waluyo menurut saja. Dia tidak mungkin memaksa Mona, meski sebenarnya peduli.
Sepanjang perjalanan, Mona berpikir harus merespons apa pada pesan gelap itu. Tadinya dia ingin mengabaikan saja, mungkin itu hanya gertakan. Akan tetapi sepertinya bukan gertakan semata ini serius.
Mona kembali ingat ke beberapa hari yang lalu, saat Purba menanyakan tentang siapa yang mengirim pesan teror padnya. Mona jadi ingat bahwa peneror gelap itu memang serius, tapi inti dari teror itu mungkin belum disampaikan pada Purba.
Apakah aku harus menunggu reaksi Purba? Batin Mona, karena screenshot peneror itu kata-katanya sudah beda lagi, bukan seperti yang dulu oleh Purba tunjukkan.
***
Kini Purba sudah ada di kantor, baru saja selesai makan siang dia menerima pesan dari peneror.
"Jika adegan ini tidak ingi tersebar ke jagat maya, Sediakan uang 20M, untuk menebus video aslinya."
Itulah isi dari peneror itu dan mengirimkan gambar buram. Purba tidak dapat memastikan itu gambar apa. Namun, yang pasti terlihat jelas dari bagian pundak yang tidak di blur.
Purba terus mengamati, dia bukan seseorang yang terlalu polos akan hal itu. Ini adalah sebuah adegan ranjang. Namun, siapa Rara atau Mona?
Kalau Mona, dia tidak kaget karena kebiasaannya memang bermain di klub atau diskotik. Meskipun selama ini Purba belum mengetahui jika Mona memiliki affair dengan laki-laki lain.
Akan tetapi kalau dilihat dari dia yang hiper akan se-ks masuk di akal, cuman hal seperti itu belum Purba temukan pada Mona yang memiliki pacar gelap atau selingkuhan. Meskipun tidak menutup kemungkinan ini adalah Mona, dilihat dari latar belakangnya yang suka pergaulan malam.
__ADS_1
Dan jika ini Rara, bisa jadi juga. Apakah si peneror ini suaminya Rara yang menginginkan sejumlah uang dan ini adalah adegan mereka saat masih suami istri. Bisa saja Rara yang terlihat tidak akan melakukan hal yang bodoh, malah di luar dugaan Purba. Karena wanita lugu bukan berarti tidak nakal.
Terkadang kita bisa terkecoh oleh seseorang yang terlihat baik, alim. Namun, kenyataannya sama saja dengan orang yang tidak bisa menahan nafsunya.
"Oh ada-ada saja pengganggu dalam kerjaan." Purba mengusap wajahnya secara kasar.
Kepalanya direbahkan pada senderan kursi. Apa yang harus dilakukannya?
Dua-duanya meskipun penting untuk ditindak, baik itu kasus ini untuk Mona atau Rara, tidak bisa Purba abaikan begitu saja.
Jika ini mengenai pada Mona, Purba akan menyelidiki kebenarannya dan motifnya apa. Dab jika memang Mona yang bersalah, ini adalah kartu untuk Purba segera menyelesaikan dari pernikahan pertama.
Namun, jika ini kasus untuk Rara, Purba juga perlu untuk menyelesaikannya Jangan sampai Purba terjebak terlalu lama pada rumah tangga dengan kebohongan. Meskipun beberapa kemungkinan hanya sebagai dugaan Purba. Bisa jadi ini jebakan untuk Rara atau memang Rara bermain di belakangnya.
Akhirnya Purba memutuskan untuk lanjut pekerjaannya, meskipun pikirannya bercabang.
"Bagaimana? Mau dikirim kapan uangnya? Biar aku tetntukan tempatnya." Pesan dari peneror itu lagi.
"Kenapa tidak transfer saja?" Purba berusaha nego.
"Tidak. Kau pikir aku bodoh!"
Beberapa pesan masuk kembali pada ponsel Purba dan itu sangat mengganggu pesan teror yang tidak dibalas dari sejak kemarin kini Purba akhirnya balas juga.
"Siapa bilang tak ada hubungannya? Ini adalah istrimu."
Purba kembali berhati-hati dalam membalas chat tersebut. Kemudian mengirim pesan kembali, dia ingin gambar yang jelas untuk memastikan benar atau tidak.
Foto yang di blur itu meskipun hanya terlihat jelas hanya pundaknya, tapi Purba tidak dapat memastikan apakah itu Mona atau Rara. Di foto itu tidak terlihat jelas warna kulitnya putih atau kurang dari itu.
Maksudnya perbedaan dari kulit Rara jauh dari Mona. Kalau Rara kuning langsat, kalau Mona benar-benar putih, karena terawat sejak lama, secara dia rajin perawatan dan anak orang berduit. Sehingga sangat mementingkan penampilan.
"Aku tidak akan memenuhi permintaanmu sebelum jelas, apa yang mau kamu tunjukkan." Purba mencoba tahan harga.
"Bagaimana jika ini istri kesayanganmu?" ucap peneror itu.
Purba langsung mematikan ponselnya, dia tidak ingin lagi menerima pesan apa pun dari siapa pun, dia butuh waktu untuk tenang dulu.
Purba melanjutkan pekerjaannya, jangan sampai hanya gara-gara ancaman seperti itu terbengkalai biarlah nanti dia bicarakan terlebih dahulu pada Rara. Baru setelah itu pada Mona.
Kenapa Purba tidak membicarakan terlebih dahulu pada Mona? Karena dia sedang tidak ingin untuk bertemu istri pertamanya. Dalam pikirannya tak ingin membahas hal seperti itu, dia menghindari untuk bertemu seseorang yang tidak bisa membuatnya tenang.
__ADS_1
Sedangkan menurut Purba, Rara adalah seseorang yang pandai mengatur kata-kata dan bisa menenangkannya.
Purba sengaja berlama-lama di Kantor, dia ingin pulang sampai rumah langsung istirahat. Tak ingin banyak bicara dulu. Penat rasanya kepala. Terlebih kalau pulang ke rumah pertama.
***
Sementara itu di rumah, Mona merasa gelisah. Dia menantikan Purba pulang. Meski kalau sekitar pukul lima belum waktunya untuk meminta Purba pulang, mungkin saja sedang di perjalanan, atau lembur beberapa saat.
Hingga pukul tujuh lewat, Purba belum juga pulang. Mona memutuskan untuk mengirim pesan saja pada Purba.
',Mas, malam ini lembur?', tanya Mona, melalui sebuah pesan.
"Ah ... kebiasaan, deh. Giliran urgent malah gak aktif.
Mona semakin kesal saja, sudah tahu ini adalah hal yang penting, dia akan membicarakan tentang peneror itu atau setidaknya jika sikonnya belum tepat untuk dibicarakan pada Purba, maka Mona hanya ingin tahu gelagat Purba. Apakah suaminya sudah tahu tentang peneror itu atau belum. Maksudnya sudah tahu jelas atau hanya masih pesan gelap.
Yang Mona tahu berapa hari lalu Purba mengabaikan peneror itu. Namun, siapa tahu peneror itu nekat, hari ini akhirnya memperjelas teroran itu pada Purba.
Jadi peneror itu tadi mengirim screenshot pesan yang dikirim pada Purba. itu adalah sebagai aba-aba pada Mona agar dia jangan menyepelekan teroran itu, karena Purba sudah mengetahui.
Hanya tinggal waktunya saja dibuka. Apa yang hendak menjadi bahan ancaman.
Makanya Mona menantikan Purba pulang, karena ingin membahas hal tersebut. Jangan sampai Purba mengetahui dari salah satu pihak saja, nanti malah runyam semuanya. Belum juga dibicarakan baik-baik, Purba akan marah. Itulah yang ditakutkan oleh Mona.
Kini Mona mencoba memejamkan matanya agar segera esok hari, karena sepertinya lebih baik Mona menemui Purba di kantor. Namun, tetap saja tidak bisa, hatinya terus saja merasa gelisah.
***
Di Kontrakan Gandi.
"Ayah, kenapa?" tanya Azkia, dia merasa terkejut saat melihat ayahnya diantar pulang oleh Daryanto. Namun, dengan sebuah mobil. Biasanya dengan sepeda motor.
Gandi didampingi oleh kedua orang pria yang memapahnya sampai ke kontrakan, wajahnya terlihat pucat, seluruh keningnya berkeringat.
"Ayahmu sepertinya sakit. Tadi tiba-tiba batuk-batuk," ucap Daryanto.
Azkia mengerti. Namun, dia tidak bisa merespon dengan baik layaknya orang dewasa. Akan tetapi bocah itu segera menyiapkan bantal dan merapikan kasurnya untuk tidur sang ayah.
"Kami belum bisa membawanya ke dokter, karena ini sudah malam. Paling besok aku kemari lagi untuk membawa ayahmu ke dokter," ucap Daryanto.
"I-iya Pak. Terima kasih," ucap Azkia dan mengiring kepergian Daryanto sampai pintu.
__ADS_1
Kini Azkia melayani ayahnya yang kelihatan lemah sekali. Diambilnya wadah untuk air kompresan, lalu disediakannya air minum hangat.
Bersambung....