Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Misi Pertama Azka


__ADS_3

Bab 167


"Untuk syukuran di mana ya Bu?" tanya Dea.


"Di kantor ini saja bersama para karyawan, nanti kalau projectnya benar-benar selesai dan mendapat pemasukan seusai target. Kita akan syukuran bersama Mr.San langsung, rencananya seperti itu. Nanti kami belum membicarakan lagi."


"Baik Bu. Jadi mau pesan snacknya saja atau dengan paket nasi?"


"Sekalian dengan nasinya aja, aku cukup tertarik kemarin saat kamu membawa box kue. Sepertinya itu kue ulang tahun ya?"


"Iya Bu. Kebetulan hari itu Ibu saya ulang tahun, tadinya saya mau membeli beberapa kue basah. Namun, baru ingat bahwa hari itu Ibu ulang tahun, jadi sekalian membeli kue yang sudah ada di etalase dan kebetulan cocok hiasannya."


"Baiklah, saya ingin tahu beres ya. Acaranya dua hari lagi, karena siang ini saya akan bertemu kembali dengan Mr.San. Kami akan terus sering bertemu demi kelancaran project ini. Jadi nanti kalau tiba-tiba saya tidak ada di ruangan, kamu tolong handle ya untuk kerjaan kantor."


"Baik Bu."


Mona memang sedang semangat sekali untuk mengurus perusahaan milik Papanya, sehingga dia terlupa akan keinginannya memiliki bayi. Sebenarnya bukan terlupa, tapi bisa teralihkan untuk tidak terlalu sedih, meskipun terkadang dia merasa rindu kepada sentuhan suaminya.


Walau terakhir mungkin dua minggu yang lalu, Mona berusaha meminta pada Purba, tapi rasanya berbeda. Purba sedikit loyo akhir-akhir ini. Entah Mona yang kecapean, entah suaminya juga yang terlalu banyak pekerjaan di kantor.


Beberapa hari ke belakang Mona sempat memaksa Purba untuk melakukan hubungan badan, karena Mona sama sekali tidak bisa untuk tidak mendapatkan hal itu. Apalagi ini lebih dari dua minggu, sedangkan dulu hampir setiap hari Mona bisa mendapatkan dari Purba. Dengan seiringnya waktu dan kesibukan, Mona sudah cukup bisa menahan hasratnya yang selalu menggebu.


Namun, sayang sekali antara Mona yang sudah tidak pandai memancing hasrat suaminya atau Memang suaminya yang semakin dingin kepada dirinya. Saat Mona sudah berhasil membuat suaminya tegang, namun saat akan digunakan Mona tidak merasakan kepuasan. Seakan mudah melunak kembali sesuatu yang bisa membuatnya nikmat itu.


Akan tetapi Mona terus berupaya memancing titik-titik yang bisa membangkitkan gairah sang suami, malam itu berhasil Mereka bercinta. Namun, sungguh tidak memuaskan, seakan saat ini jika ingin memancing gairah Purba harus dengan energi yang ekstra. Purba mudah bangkit tapi mudah lemas kembali.


Tentunya Mona tidak ada curiga hal lain, mengapa seorang lelaki sulit untuk dirangsang. Apakah karena kebutuhan seksnya sudah terpenuhi dengan wanita lain? Akan tetapi Mona berpikirnya mereka memang sama-sama kecapean karena sibuk mengurus kantor masing-masing.


Sebab Mona juga tidak merasa bahwa Purba seringkali menjauh darinya, yaitu tadi karena Mona hanya berpikir Purba selalu ada di perusahaan dan pulang dalam waktu yang normal ke rumah, meskipun keadaan telat. Padahal tanpa Mona ketahui, Purba seringkali mengerjakan pekerjaan kantornya di rumah Rara atau di toko kuenya.


Mona tidak sering mengecek ke kantor Purba, karena dia sendiri sibuk.


Dilema mulai menyerang Mona kembali. Saat dirinya menjadi ibu rumah tangga, sepenuhnya bisa memperhatikan Purba dengan intens, begitu pun Purba yang Mona rasakan selalu ada di dekatnya. Maksudnya pulang kantor paling telat pukul tujuh, meskipun ada lembur malam selalu pulang ke rumah.


Beberapa bulan ke belakang Purba seringkali ketiduran di ruang kerja, yang Mona rasa. Apakah Purba memang pulang atau tidak?


Merasa sering sekali ketiduran di ruang kerja, padahal saat awal menikah sebanyak apa pun pekerjaan yang Purba kerjakan di rumah, dia tidak selalu ketiduran di ruang kerjanya, lebih kembali ke kamar.


Namun, karena Mona juga terlalu lelah, saat tengah malam dia terbangun dan mendapati Purba tidak ada di sampingnya, Mona tidak mencari tahunya. Selain malas untuk bangun, dia percaya Purba pasti ada di ruangan kerjanya.


Tok!


Tok!

__ADS_1


"Masuk," ucap Mona saat waktu menunjukkan pukul dua belas siang.


"Hai nona. Bagaimana rencana kita siang ini?" tanya Mr.San.


"Oh, Mr.San. Kenapa repot-repot harus kemarin? Sebentar lagi juga saya akan turun." Mona menyambut kedatangan Mr.San dengan ramah.


"Aku hanya ingin tahu ruangan anda saja nona," ucap Mr.San sambil melihat ke sekeliling ruangan, sangat rapi. Namanya juga ruangan direktur seorang perempuan, beda halnya dengan laki-laki yang hiasan dinding atau hiasan ruangan seadanya.


"Itu suami anda?" tanya Mr.San saat melihat sebuah foto berukuran 12R yang ada di dinding tepat di belakang kursi tempat Mona biasa bekerja.


"Iya, itu suami saya."


"Bekerja di mana?" tanya Mr.San lagi. Karena foto itu bukanlah foto pernikahan, tetapi foto saat menghadiri pesta kantor. Sehingga Purba menggunakan pakaian jas seperti orang kantoran biasanya dan Mona menggunakan dress senada dengan dasi yang Purba kenakan.


"Dia memimpin perusahaan Bonafit Tekstil di pusat," ucap Mona.


"Wow, pemimpin pusat rupanya. Kenapa aku sampai tidak tahu?" ucap Mr.San.


"Jelas saja, Mr. San. Karena meskipun perusahaan pusat sudah dipimpin oleh suami saya, tapi untuk projek besar biasanya Papa saya yang masih menghandle untuk persetujuannya. Jadi yang tertera di surat perjanjian, masih atas nama Papa saya."


"Oh, seperti itu ya. Baiklah, mungkin suatu saat aku harus bertemu dengan suami anda nona. Karena sepertinya sangat menyenangkan bekerja sama dengan perusahaan Bonafit Tekstil ini."


"Baik Mr. San, nanti kapan-kapan kita akan bertemu bersama. Nanti kita atur saja waktunya."


"Oke, mari kita makan siang," ucap Mr San. Kemudian melangkah lebih dekat pada Mona yang masih berada di tempat duduknya.


Mona terkejut. Kenapa perlakuan Mr.San begitu manis padanya? Namun, tidak mungkin juga Mona melakukan penolakan saat tangan kliennya dengan sopan seakan mempersilahkan Mona untuk beranjak dari duduknya dan pergi bersama.


Akhirnya, Mona menyambut tangan tersebut hanya sekedar menghargai, lalu mereka keluar ruangan bersama.


Sepanjang perjalanan tentu saja mereka berbincang tentang bisnis yang sedang mereka jalani, saat ini tidak ada yang aneh, mereka profesional dalam bekerja.


***


Ting!


Ting!


Ting!


Beberapa pesan masuk pada ponsel Purba, awalnya Purba mengabaikan karena dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Namun, merasa terganggu juga karena ponselnya selalu berbunyi terus.


Purba membuka pesan tersebut, dia cukup terkejut melihat sebuah teror lagi dan tulisan yang sama saat dulu teror itu pertama Purba terima.

__ADS_1


Siap-siap saja dengan apa yang ingin aku minta, yang pasti rumah tanggamu sedang diambang kehancuran


Dua balon chat sudah dibaca oleh Purba, lalu beberapa lagi balon percakapan yang isinya singkat. Namun, cukup menjelaskan bahwa peneroran itu memang akan melakukan hal yang merugikan Purba atau keluarganya.


Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat


Aku telah hancur maka kamu juga harus hancur terlebih istrimu


Purba mengerutkan kening. Maksudnya ancaman ini untuk istri yang mana? Mona atau Rara?


Purba berpikir sejenak. Apakah harus direspon pesan gelap itu? Ataukah jangan? Agar si penjahat itu tidak merasa bahwa Purba terganggu, maka Purba harus mengabaikannya.


Tapi kalau tidak direspon, bagaimana caranya Purba mendapatkan informasi. Apa maksud dari si peneror itu?


Purba terus berpikir sebenarnya ini keluarga mana yang terancam pernikahan? Dirinya dengan Mona atau pernikahan dirinya dengan Rara?


***


"Jadi kamu sekarang mau kalau aku ajak bicara?" tanya Azka pada saudara kembarnya secara perlahan, setelah dia menurunkan teman Azkia di sekolahnya.


Azkia mengangguk, mungkin bukan hanya Azkia saja. Tapi Azka juga merasa canggung kembali, untuk berbincang.


Berarti mereka terpisah saat usia sekitar 5 tahun. Karena sekarang mereka sudah 7 tahunan. Satu tahun lebih mereka terpisah dan sekarang harus sama-sama bisa menyelesaikan masalah, dengan cara mereka sendiri yang terbilang masih kecil.


"Kamu udah makan?" tanya Azka masih dalam perbincangan basa-basi, belum merasa nyaman untuk lebih akrab dalam berbincang. Meskipun mereka memiliki ikatan batin yang kuat.


"Kita makan ayam goreng oven mau?" tawar Azka pada saudara kembarnya.


Azkia hanya mengangguk saja, suasana hening terjadi. Lalu saat sampai di sebuah rumah makan yang menyajikan seperti fried chicken, namun setelah itu di beri bumbu dan dimasukkan oven.


"Biar Bapak aja yang turun Mas Azka, nanti makanya di mobil aja, ya. Kalau di luar tidak ada orang tua kalian, takut terjadi apa-apa meskipun Bapak akan mendampingi. Bapak tidak bisa menjaga anak-anak."


"Iya Pak, nggak apa-apa."


Saat sang sopir turun, Azkia memulai pembicaraan, meskipun entah benar atau tidak yang diucapkan saat ini. Yang pasti itu adalah rasa penasaran yang selama ini Azkia ingin tahu tentang keluarganya. Tanpa Azkia apakah Ibu, Tante, Nenek dan saudara kembarnya merasa baik-baik aja atau sebaliknya?


"Boleh aku tahu?" tanya Azkia pertanyaan yang sangat kaku.


"Boleh. Apa itu?" jawab Azka.


"Selama ini aku kan jauh dari ibu, atau dari kamu juga. Bagaimana perasaan kalian?"


Pertanyaan yang mudah, namun bingung untuk dijelaskan oleh Azka.

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2