
“Sudahlah, kau pergi sana! Kau hanya akan menghancurkan rencanaku saja," ucap Mona sedikit mendorong-dorong Bram.
“Tapi bagaimana janjimu?” tanya Bram.
“Janji yang mana? Janji apaan?” tanya Mona tidak mengerti.
“Janji, kalau aku bisa menjaga rahasia tentang bayi itu, kau akan memberikan aku bulanan sejumlah yang kau tawarkan tempo itu.”
“Tapi, bayi itu sudah tidak ada. Aku sudah tidak mengandungnya lagi”
“Apa kau menggugurkannya? Itu di luar perjanjian, kau menghilangkan darah daging kita?” Bram pura-pura tak rela darah dagingnya hilang.
“Aku tidak menghilangkan kok. Lupa? Saat kau ke rumah, aku sedang di kursi roda, itu aku baru keguguran.”
“ Ah, sudahlah! Lalu janji yang satu lagi bagaimana?"
"Janji yang mana lagi?"
"Kau akan segera pergi dari kehidupan Purba, kalau ayahmu sudah percaya bahwa perusahaan itu akan jadi milikmu."
"Tapi ayahku belum percayakan itu padaku."
"Halah, pembohong. Aku tahu beberapa hari ini kamu pergi ke kantor, bukankah kamu sudah mendapatkan posisimu?"
"Itu bukan urusanmu. Yang pasti aku ke kantor bukan, urusan perusahaan karena Papa, itu urusanku sendiri. Sudah sana, jangan ganggu urusanku," bentak Mona di tengah kebisingan orang-orang yang masih sibuk urusan fashion show.
Di sela hiruk pikuknya wartawan media yang meliput dari berbagai sumber, panitia acara dan berbagai elemen lainnya, di tempat itu Purba dan Rara masih sibuk untuk melayani awak media, sedangkan Mona dan Bram sibuk berdebat tanpa mereka sadari ada yang mengabadikan perdebatan mereka. Meskipun tanpa suara mereka yang terekam, karena itu dari kejauhan
Bram masih saja ngotot tidak akan pergi, jika apa yang diinginkan tidak dipenuhi oleh Mona. Bahka Bram mengancam akan membocorkan semua pada Purba.
"Sudah, pergilah! Besok aku menemuimu pukul 04.00 sore, setelah aku pulang dari kantor." Mona akhirnya menyerah. Mungkin lebih tepatnya mengalah.
"Oke sayang. Nah, begitu dong, aku pulang ya," ucap Bram sambil menyentuhkan tangannya pada pipi Mona tanda kecupan.
__ADS_1
"Ih ... sialan," ucap Mona menepis tangan Bram.
Kemudian Mona menghampiri Purba yang masih sibuk menghadapi awak media dengan Rara, Mona tidak peduli apakah dia akan digubris oleh orang-orang atau tidak. Setidaknya Mona memiliki kekuatan bahwa dia memiliki peran besar di sana. Kkarena pemilik perusahaan.
"Mas, ayo! Sudah sore," ucap Mona lirih di samping Purba.
Purba pun memberikan pesan terakhirnya kepada awak media, bahwa mereka pun ada acara lanjutan sehingga Purba meminta maaf sebagai kesopanan bahwa wawancara diakhiri.
Bagaikan seorang pria dengan dua istri. Purba, Mona dan Rara berjalan beriringan mereka akan menuju ruang make up terlebih dahulu, karena Mona dan Rara harus mengganti pakaian dan membersihkan make up nya ke semula.
Namun, sayang saat berjalan, Mona keseleo karena menggunakan hak tinggi lebih tinggi dari yang biasa ia gunakan saat ke kantor atau ke pesta-pesta lainnya. Baru hari itulah dia menggunakan hak yang lebih tinggi dari yang pernah ia kenakan. Begitupun Rara, apalagi dirinya yang mungkin baru pertama kali menggunakan heels yang ukurannya cukup tinggi untuk dirinya. Apalagi bentuk heels yang tergolong runcing.
Lagi-lagi Purba menolong Rara yang akan terjatuh karena keseleo, sedangkan Mona lagi-lagi ditolong oleh Bizar.
Mona terserah, tidak peduli. Meski tetap ada tanya. Kenapa Purba selalu sigap menolong Rara dan terlambat menolong dirinya.
Mona males berdebat, dia hanya melirik kepada Purba yang menolong Rara. Dia terima aja nasibnya, apalagi tadi baru berdebat dengan Bram di tempat seramai itu. Sudah ingin tak peduli pada segala hal sepertinya.
Mona menepis tangan Bizar yang masih memegang lengannya. Mona berjalan terlebih dahulu dengan cepat ke tempat make up, dia langsung membereskan barangnya, mengganti pakaian dan membersihkan make up.
"Mas, susul sana Bu Mona. Nanti ada masalah," ucap Rara.
"Udah, biarkan saja. Udah biasa kayak gitu kok, nanti juga baik lagi."
"Jangan kayak gitu, Mas. Ayo, wanita itu ingin dikejar." Rara mencoba terus membujuk Purba.
"Tapi dia bukan wanita, dia nenek Lampir." Sempat-sempatnya Purba berkelakar.
"Hus... nggak boleh gitu, ayo aku nggak apa-apa kok. Jangan sampai ada hal yang tidak kita inginkan di luar rencana. Ayo buruan. Setidaknya demi aku." Rara yang jalannya masih dipapah Purba, dengan tangan berada di lengannya, menyempatkan menangkupkan tangan, memohon.
Purba menyerah, pasti akan luluh jika sesuatu hal beralaskan tentang Rara. Purba melepas tangan Rara yang dari tadi memapah karena jalan Rara sedikit pincang. Purba menyusul Mona, hanya menyusul bukan mengejar dengan berlari atau berjalan cepat.
Sampai di tempat parkiran, Purba masuk ke dalam mobil karena Mona sudah ada di sana. Purba mencoba menanyakan mengapa Mona bersikap seperti itu.
__ADS_1
"Nggak usah banyak tanya, deh Mas. Aku lelah," ucap Mona dengan ketus. dia merebahkan kepalanya pada sandaran kursi mobil, lalu memejamkan matanya.
"Ya udah. Kalau gitu kita langsung pulang. Makanya... kata aku jangan ikut. Seharian pasti lelah."
"Gimana sih? Nggak peka banget. Bukan lelah itu maksudku!" Mona berontak, dia bangun tidurannya. Merasa terusik karena Purba tidak ada kepekaan sama sekali.
"Ya , terus?" tanya Purba singkat, makin membuat Mona kesal.
Sejatinya wanita memang tidak suka jika prianya menjawab dengan singkat-singkat, seakan tidak peduli atau hanya untuk menghargai saja jika pria merespon. Kalaupun sebagai wanita adalah prioritas di mata pria tersebut, maka akan dibujuk rayu sebisa mungkin, sesabar mungkin.
Akan tetapi tidak bagi Purba kepada Monas, jelas saja Mona marah dan kesal.
Mona pun menjelaskan berkali-kali dia akan kecelakaan, tetapi Purba menyelamatkan Rara terus, ini bukan hal pertama atau kedua kalinya, sudah sangat sering soalnya.
Sepertinya Mona juga sudah lelah untuk membahas ini, percuma. Makanya tadi dia menjawab lelah bukan karena lelah aktivitas seharian, dalam mengurusi acara kantor. Akan tetapi percuma, harus bagaimana lagi? Apa pun tetap tidak ada yang peduli sepertinya Itu pikiran Mona.
Percuma yang lain adalah meminta penjelasan Purba dijawab seadanya, sekalipun dijawab panjang tentu yang dibela tetap Rara.
Mona sudah banyak sabar dan mendiamkan Purba Kenyataannya semakin dekat dengan wanita itu, Mona juga lebih tegas, tapi rasanya semakin sakit hatinya.
Rara terlihat selalu beruntung, itu yang disebut Mona lelah, diam salah, udah ngikutin menjadi istri yang baik, tetap saja tidak ada timbal balik yang baik dari Purba.
"Terus, aku mau nanya. Kamu kan bosnya, tapi kenapa Bizar bisa memanggil Rara itu dengan sebutan nona. Coba jelaskan?"
"Apa iya? Bizar memanggil Rara dengan sebutan nona? Salah dengar mungkin, Ma."
"Salah dengar dari mana? Kalau aku tidak membahas saat itu juga bukan berarti aku tidak mendengar atau tidak fokus. Tetapi aku tidak ingin setiap hari kita berantem, setiap jam setiap menit setiap detik aku udah berusaha loh, hal-hal yang tidak ingin aku dengar hal-hal yang aku benci aku tahan.
Supaya semuanya tidak menjadi masalah dan hal kecil tidak menjadi, tapi sepertinya tak ada bedanya, mau aku langsung protes atau menahan."
"Tapi, Ma. Sungguh, aku tidak memperhatikan kalau Bizar memanggil Rara itu dengan sebutan Nona. Jika pun memang seperti itu tanya sendiri pada Bizar, kenapa dia memanggil Rara seperti itu. Aku tidak tahu menahu." Purba mengedikkan bahunya.
Jangan lupa supportnya ya teman, like, komen dan fav, bersyukur kalau kasi tips. Terim kasih sudah mampir. ;)
__ADS_1
Bersambung...