
Bab106
"Maafkan Ibu, Nak. Kalau ibu salah bertanya. Yang sabar ya... kamu anak hebat." Hanya itu yang keluar dari mulut Bu Heti.
Azka mengangguk dan mengusap air matanya dengan lengan baju.
"Ibu sudah selesai, Nak. Tapi embernya yang ini juga Ibu tinggalkan ya Silakan dipakai."
Azkia mengangguk, tak lupa mengucapkan terima kasih.
Gandi melihat perilaku Bu Heti pada anaknya dari dalam kamar, terbersit dalam pikirannya untuk memanfaatkan anak itu, biar banyak dikasihani dan mendapat keuntungan.
Walaupun tidak mendengar apa perbincangan mereka, tapi dari gerak-gerik terlihat bahwa ibu tersebut peduli kepada Azkia.
***
Di sebuah cafe tempat Purba dan Rara menikmati istirahat siangnya.
Dert!
Dert!
Ponsel Purba menyala dan itu berada di atas meja. Rara melirik, ternyata panggilan dari Mona. Purba pun melirik ponselnya, dia bingung akan menerima panggilan itu atau tidak. Walaupun Rara tidak pernah protes, cuman tetap saja ada rasa sungkan dan harus menghargai perasaan Rara.
"Kenapa tidak diangkat Mas?" tanya Rara.
"Baiklah," ucap Purba.
Panggilan itu belum berhenti, maka Purba masih sempat menerimanya.
"Halo. Ma?" Purba mengawali percakapan.
"Mas nanti pulang malam atau tidak?"
"Mungkin masih sore."
"Aku pesan makanan ya, sayang."
"Apa?"
"Buat nanti malam."
Percakapan itu cukup terdengar jelas oleh Rara, darahnya berdesir saat mendengar suara Mona, apalagi membahas tentang nanti malam. Rara wanita dewasa yang paham akan istilah itu.
Meskipun menyadari posisinya, tetap ada rasa teriris hatinya.
"Baiklah."
__ADS_1
"Ya udah, aku tunggu ya."
"Hem."
"Love you Sayang."
"Iya, Ma."
"Kok gitu, sih?"
"Iya, i love you."
"Ya udah, deh," ucap Mona lalu menutup panggilannya.
Mona memang sedikit ada kesal karena Purba masih naik turun sikap pedulinya. Apalagi untuk bersikap romantis, hanya mengatakan sayang saja sulit.
Purba melihat gelagat Rara yang menunduk sangat dalam, memainkan ponselnya. Purba tahu, Rara bukan sedang melakukan hal yang penting. Purba peka, Rara sedikit tidak nyaman saat dirinya menerima panggilan dari Mona.
"Kenapa?" tanya Purba.
"E- enggak. Emang kenapa?" Rara balik bertanya, pura-pura baik-baik saja.
"Maaf ya, kalau aku melukai hati kamu. Harusnya kalau kamu tidak bersedia mendengar percakapan kami, bilang saja. Aku bisa menghubungi Mona nanti saat sudah di kantor."
"Nggak usah, Mas. Aku baik-baik aja," ucap Rara berbohong.
"Apa?"
Sejak lama sebenarnya Rara ingin menanyakan perihal ini. Namun, selalu saja lupa. Yaitu, kenapa Purba memanggil Mona dengan sebutan Mama. Padahal setau Rara dari dulu Mona sangat romantis kepada Purba. Bahkan agresif di depan umum pun tidak malu memperlihatkan hal itu.
Beberapa kali Mona mengatakan sayang. Namun, Purba tak pernah meresponnya. Padahal mereka sudah cukup lama menikah dan Rara sebagai wanita pun mengakui Mona itu sangat cantik dan sempurna. Meskipun kebersamaan Purba dan Mona atas dasar hanya mencintai satu sisi, setidaknya tidak akan ada pria yang menolak saat berdekatan dengan Mona, yang penampilannya seakan tanpa celah.
"Ya, awalnya aku canggung aja jika nyebut nama. Soalnya dia lebih dewasa usianya dariku. Jika menyebut sayang, rasanya hatiku belum siap untuk pura-pura menerima dia. Memang kenapa kamu menanyakan hal itu?" tanya Purba.
"Tidak ada. Hanya ingin tahu saja. Kalau manggil Mama pada Bu Mona, seperti ke orang tua jadinya."
Kemudian Purba menjelaskan respon dari Rara memang benar. Kenapa Purba memanggil Mama pada Mona, awalnya agar Mona merasa risih dan tidak nyaman.
Sehingga meminta kepada orang tuanya untuk membatalkan tentang pernikahan mereka atau meminta cerai. Namun ternyata Mona tak mempermasalahkan hal itu, yang penting Mona mendapat kepuasan dari Purba dalam hal lain.
Rara manggut-manggut setelah mendapat penjelasan dari Purba, meskipun Rara tahu sekarang Purba sudah mulai luluh pada Mona.
Rara seorang wanita, apalagi yang pernah hidup dalam kesakitan dari pasangan, hatinya akan lebih peka melihat reaksi orang-orang di dekatnya.
"Sudah, jangan bahas itu lagi. Ada satu hal yang belum aku tunjukkan," ucap Purba.
Rara tersenyum dengan anggukan antusias, menanti kejutan lain dari Purba.
__ADS_1
Sebelum mengambil kotak biru di dalam jasnya, terlebih dahulu purba mengambil tangan kiri Rara lalu dikecupnya sesaat, tepat di jari manisnya. Rara cukup terkejut. Ada apa? Purba seromantis ini.
Kemudian Purba mengeluarkan kotak biru tersebut, lalu meminta Rara untuk membukanya. Rara terbelalak melihat cincin emas putih dengan permata begitu mengkilap.
Rara tidak tahu bahwa itu berlian, walaupun kecil tapi Rara sangat suka karena pada dasarnya Rara memang tidak suka perhiasan yang besar-besar. Yang kecil lebih terlihat cantik, sederhana dan lucu jika dipakai. Maka Rara suka sekali cincin yang Purba tunjukkan itu.
Kemudian Purba mengambil cincin tersebut dari kotaknya lalu menyematkan perlahan di jari manis Rara. Tangan Rara sedikit bergetar, sungguh hari ini hari yang membuat Rara tersanjung, gembira dan penuh haru.
"Mas. Apakah ada maksud dari ini?" tanya Rara lirih.
Kenapa Rara menanyakan hal itu? Dia memiliki firasat, cincin ini bukan sekedar cincin pemberian biasa. Karena mereka sudah sama-sama dewasa, sudah menjalani komitmen, jika hanya memberikan sebuah perhiasan cuma-cuma, tapi kenapa bentuknya seperti yang orang lain gunakan untuk mengikat seorang yang dicintainya.
"Derara... siang ini aku melamarmu. Apakah kau menerimanya?"
Rara bahagia mendengar itu. Namun, cukup terkejut juga. Karena selain berkali-kali mendapat kejutan pada siang itu, tak terpikirkan lamaran Purba begitu cepat. Surat cerai saja baru diterima hari ini."
"Tapi, masa iddahku, Mas?" tanya Rara.
"Aku melamarmu bukan berarti menikah sekarang juga, tapi aku mengikatmu ke jenjang berikutnya sambil menunggu masa iddahmu. Persiapan pernikahan tetap dijalankan. Lagi pula, saat manta suamimu menjatuhkan talak, masa iddahmu sudah dimulai sejak lama."
Rara terdiam tidak bisa menjawab saat itu juga.
"Kita bukan anak muda lagi yang harus menunda jawaban, sedangkan kita tahu masing-masing dari perasaan kita," lanjut Purba, memberi pengertian pada Rara.
"Bukan begitu mas, aku pun tidak mau berbasa-basi. Iya, mungkin secara singkat aku menerima lamaran Mas, tapi aku hanya meminta jangan terburu-buru diresmikannya "
"Kenapa?" tanya Purba.
"Aku ingin hatiku benar-benar siap."
"Hanya itu?"
Rara mengangguk.
Purba menghargai keputusan Rara, tadinya memang Purba setelah melamar hari itu, seminggu kemudian dia akan mengajak Rara ke kampungnya untuk mengadakan pernikahan. Walaupun hanya keluarga dari pihak wanita saja, sedangkan wali dari pihak pria cukup oleh perwakilan.
Namun, dari sisi Rara, dia ingin pernikahannya dihadiri oleh orang tua Purba. Sedangkan Rara untuk membahas hal itu saat ini belum siap. Menurut perhitungan Rara, dia harus memiliki toko kue terlebih dahulu, baru mereka menikah.
Dengan segala keputusan yang sudah disepakati, mereka akhirnya kembali ke kantor masing-masing. Tentunya Purba mengantar Rara terlebih dahulu ke kantornya.
Bersambung...
__ADS_1