Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Mulai Diintai


__ADS_3

Bab96


Keesokan harinya purba sudah bersiap dengan koper pakaiannya, dia akan terbang ke Singapura, tentu saja bersama Bizar. Urusan kantor diserahkan kepada fira, mungkin tidak sampai 7 hari. Karena batas waktu itu diperkirakan maksimal oleh tuan Hartanto. Purba akan melaksanakan pekerjaannya sesegera mungkin.


"Bizar, sudah kamu selidiki karyawan itu?" tanya Purba, saat sudah duduk di dalam mobil.


"Sudah tuan."


"Siapa dia? Apakah masih lajang?"


Purba masih saja penasaran dengan Doni, yang kemarin terlihat akrab berbincang bersama Rara.


Bizar menjelaskan bahwa Doni adalah karyawan BT kantor cabang yang cukup lama, sekitar 3 tahun dia di sana. Usianya memang masih muda, dia dari keluarga biasa, hobinya adalah menari dan menonton drama Korea, itu yang bisa ditemukan dari beberapa sumber yang Bizar cari.


"Jadi aman ya?" tanya Purba kembali.


"Aman Pak."


Purba tahu Rara tidak mungkin suka kepada pria yang seperti itu. Bizar juga menambahkan bahwa Doni itu termasuk lelaki yang gemulai, makanya Purba tidak perlu khawatir.


"Hahaha inilah aku, bodoh kalau sudah jatuh cinta,' gumam Purba, dia merasa malu sendiri kenapa seringkali cemburu hanya pada seorang Rara.


"Kita mampir dulu ke perumahan cafe," perintah Purba.


Waktu masih menunjukkan pukul enam kurang, karena jadwal penerbangan nanti pukul delapan, sehingga Purba harus segera dan dia sengaja tidak pamitan pada Rara malam tadi.


**#


Purba mengetuk pintu Rara yang baru saja mandi, heran pagi-pagi sekali ada yang mengetuk pintu. Rara mengintip dari celah jendela.


"Sebentar!" seru Rara, dia pergi ke kamarnya mengenakan pakaian terlebih dahulu, pakaian biasa. Karena kalau pakaian kantor akan sangat lama.


Rara membuka pintu dan Purba segera masuk tanpa menunggu persetujuan Rara, sedangkan Bizar seperti biasa menunggu di luar.


"Mas kok pagi-pagi sekali?" tanya Rara.


"Aku mau ke Singapura hari ini."


"?Mendadak"


"Iya, Papanya Mona memintaku semalam."


"Jadi Mas ke sini mau pamitan?"

__ADS_1


"Bukan."


"Lalu."


Sebelum menjawab, Purba tersenyum sedikit, dia yang sudah duduk menatap Rara dengan mata yang menyiratkan teka-teki. Sedangkan Rara masih berdiri, karena dia pikir hanya menyapa Purba sebentar lalu dia akan kembali ke kamar untuk mengenakan pakaian.


"Aku minta bekal. Aku akan cukup lama di sana."


"Bekal bekal apa?" Rara merasa heran, keningnya sedikit berkerut.


Purba langsung berdiri, dia tidak ingin berbasa-basi lagi langsung mendekati Rara dan mendapatkan apa yang ia inginkan.


Rara sempat menahannya. Namun, tidak kuasa karena dia sendiri sebenarnya menikmati hal itu. Andai Purba tidak selalu memancingnya, Rara pasti bisa menahannya. Namun, kali ini mungkin Purba sudah tak bisa menahannya lagi.


**#


"Mas ke sini lagi?" tanya Bu molly menghampiri mobil Bizar pada sisi bagian sopir.


Salahnya Bizar tidak menutup pintu mobilnya, dia tak menyangka akan ada ibu-ibu kepo lagi menghampiri.


"Iya Bu," ucap bicara singkat.


"Di mana yang satunya?"


"Ada," ucap Bizad lagi sekenanya.


"Di dalam ya? Kenapa Mas nggak ikut turun?"


"Cuma sebentar."


Lalu Bu molly melihat ke arah rumah Rara, lehernya goyang-goyang mendongak, mengikuti arah pandangan seperti sedang menelisik.


"Oh, hampir siang Rara belum membuka jendelanya. Ya sudah Mas permisi ya," ucap Bu Molly kemudian pergi dengan senyum yang dipikirnya manis itu.


Bizar hanya tersenyum sambil mengangguk, dia tak peduli di sapa atau tidak ibu tersebut. Kenapa ibu-ibu itu seakan ada kepentingan menanyakan hal ini hal itu.


*#


Sementara itu di dalam rumah Rara, Purba sedang duduk menyadarkan kepalanya di sandaran kursi sambil nafasnya naik turun belum stabil. Senyumnya tersungging sesekali bibirnya digigit.


Sedangkan Rara yang masih berdiri bersandar di tembok sesekali mengusap bibirnya sambil menunduk, entah apa yang dipikirkannya.


Rara melihat pada Purba, tersenyum sebentar lalu pergi ke belakang.

__ADS_1


Ada sesuatu yang telah terjadi di antara mereka. Rara kembali ke kamar mandi untuk membersihkan mukanya lalu pergi ke kamar mengganti pakaian dan merias diri untuk bersiap ke kantor.


Sedangkan Purba Masih mengistirahatkan dirinya dengan mata memejam menuntaskan fantasinya.


**


Bu Molly, tetangga samping rumah Rara dia terus saja melakukan kegiatan di depan rumah. Menunggu apa yang terjadi di rumah Rara. Dia sangat penasaran ingin membuktikan bahwa kecurigaannya benar.


Setelah menyapu, menyiram tanaman, merapikan tanaman yang daunnya kuning, sayangnya dia belum mencuci pakaian, mungkin kalau sudah mencuci dia akan menjemur pakaian juga, biar tidak kelihatan bahwa dia sedang mengintai rumah Rara.


Rara bersama Purba keluar dari rumah, kemudian Rara mengunci pintunya seperti biasa.


Purba menggandeng Rara, dia tak sadar ada yang sedang memperhatikannya.


Sesekali Rara memijat-mijat bibirnya lagi, perasaannya seakan bibir itu lebih tebal dari biasanya. Padahal kalau orang awam melihat itu biasa saja, jadi itu hanya perasaan Rara karena telah melakukan sesuatu dengan Purba.


Bu molly mengeluarkan ponselnya lalu merekam saat Rara dan Purba keluar.


"Ayo kita berangkat," ucap Purba. "Ke kantor cabang dulu," lanjutnya lagi.


Purba terus menggenggam tangan Rara.


"Kenapa?" tanya Purba yang melihat Rara terus memegangi bibirnya.


"Malu," ucap Rara. "Berasa tebal," lanjutnya lagi.


"Enggak kok, biasa aja. Mau lagi?" Purba malah menggodanya.


"Ih, kamu ya. Nanti jadi kebiasaan," ucap Rara dengan lirikan seperti orang kesal.


"Habisnya aku akan pergi lama, tidak kuat rasanya kalau sehari aja tidak tahu kabar kamu, tidak bisa melihat kamu," manja Purba.


"Kan ada ponsel Mas, segitunya banget sih."


"Kita tidak tahu kegiatan di sana. Apakah ada waktu untuk menghubungi. Apakah jaringannya bagus!"


Rara hanya bisa menggeleng atas kelakuan Purba yang seperti anak kecil.


**#


Rara sudah diantarkan oleh Purba ke kantornya sedangkan Purba saat ini sudah terbang ke Singapura bersama Tuan Dalen beserta Bizar pula.


 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2