Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Sama-sama Dendam Masa Lalu


__ADS_3

Bab124


Sementara itu Purba sedang lembur di ruang kerjanya, dia ingin menyegerakan tugas kantornya agar tidak terlalu menumpuk. Untuk nanti ditinggal berbulan madu bersama Mona.


Bahkan Bizar pun malam ini tidur di rumah Purba untuk membantu tugasnya.


"Kenapa Rara tidak merespon, ya? Bahkan chat aku hanya dibaca saja," tanya Purba pada Bizar.


"Tidak tahu Tuan. Mungkin sibuk karena sedang mengurus tokonya," jawab Bizar.


"Bisa jadi, tapi ini sudah malam sekali. Masa iya belum selesai. Atau paling tidak istirahat dulu dilanjut besok."


"Coba Tuan hubungi."


Purba mengikuti saran dari Bizar, dia menghubungi Rara. Namun, Rara tidak menerima panggilan itu. Kemudian mengirimnya pesan, tidak juga dibalas, tapi ponselnya masih aktif.


Berkali-kali Purba menghubungi Rara lagi.


Hingga belasan kali Purba mengirim pesan, spam.


Sayang


Sayang ada apa?


Sayang kenapa sih?


Bagaimana persiapan tokonya?


Semua pesan terkirim dengan centang dua, tapi masih abu-abu.


Purba melanjutkan kembali pekerjaannya hingga sepuluh menit berlalu, dia melihat pesannya belum dibaca juga oleh Rara.


Purba mulai mengetik kembali. Namun, dia langsung tersenyum setelah melihat centang biru pada pesannya, berarti Rara sedang aktif.


Sayang kok gak dijawab?


Dan tulisan pesan yang ini langsung centang biru berarti Rara sedang memegang ponselnya, barengan saat Purba menulis pesan


Sayang kenapa sih marah ya?


Angkat dong teleponnya aku kangen!


Kalau marah kenapa? Kan aku sudah minta maaf.


Sayang?


Sayang!


"Huft, malah ceklis satu," ucap Purba mengembuskan nafas berat.


Pesan yang terakhir ternyata ceklis satu, mungkin Rara sudah tidak aktif lagi.


Padahal barusan Purba yakin, Rara sedang membaca pesannya.


"Besok aku harus menemui Rara," ucap Purba.


"Kenapa Tuan?" tanya Bizar, mengerti akan kegundahan Tuannya.


"Entahlah, mungkin Rara sedang marah padaku. Oh ya, tadi kamu sudah menyampaikan pesan pada Rara, kan?"


"Sudah Tuan, sesuai yang diperintahkan."


"Tapi kenapa dia seakan menjauh? Aneh. Memngya kamu mengatakan apa pada Rara?" tanya purba lagi.


"Aku hanya bilang minta maaf tidak bisa mengantarnya, karena harus mengurus tiket Tuan."

__ADS_1


"Lalu?" tanya Purba lagi.


"Non Rara bertanya tiket apa? Aku jawab ke Bali, lalu bertanya lagi sama siapa, saya aku jawab bersama Nyonya."


"Pantas saja dia marah. Kenapa kamu bicara seperti itu? Tumben kamu tidak peka," tegur Purba.


"Maaf Tuan, saya pikir Non Rara, akan baik-baik saja. Bukankah dia mengerti akan posisinya? Dan Tuan selama ini terbuka saja sama No Rara," bela Bizar.


"Hem ... baiklah, mungkin ini saatnya apes," ucap Purba mengusap wajahnya dengan kedua tangan, secara kasar.


Untuk malam ini biarlah semua sudah terlalu penat, tak ada baiknya juga memikirkan hal-hal yang tidak bisa dilakukan sekarang juga. Purba akhirnya istirahat karena sudah tengah malam, besok dia akan ke rumah Rara pagi sekali.


Purba tahu besok hari libur, hingga akan ada waktu seharian untuk bersama Rara. Dia akan mencari alasan kepada Mona untuk keluar kantor cukup lama.


**#


Pagi hari Purba sudah selesai mandi serta mengenakan pakaian kerjanya dan akan sarapan. Saat dia berjalan menuju dapur.


Purba melihat Mona yang belum mandi, tumben sekali. Lalu Purba bertanya pada Mona.


Mona menjawab bahwa dia akan ada pertemuan bersama ibu sosialita. Sudah lama tidak menghadiri acara sosialitanya, biasanya dua minggu sekali akan ada kegiatan, tapi sudah lama Mona absen. Maka hari ini dia harus hadir.


"Baiklah, tapi maaf Papa nggak bisa antar, ya. Besok kita ke Bali, aku harus mengkondisikan keadaan kantor sebaik mungkin, biar saat kita pulang tidak terlalu numpuk lagi pekerjaan," ucap Purba, menjelaskan.


"Iya Pah tenang aja. Kita ke Bali kan termasuk liburan juga, jangan dibikin stres."


"Ya udah, aku berangkat ya," pamit Purba


Seperti biasa Mona selalu mengantar Purba sampai teras untuk mendapatkan kecupan dan momen yang tak ingin ia lewatkan dalam kehidupan rumah tangganya.


Purba dan Bizar langsung berangkat ke perumahan cafe. Purba yakin Mona memang akan sibuk dengan komunitas sosialnya.


Purba selama ini sudah berusaha menumbuhkan kepercayaan pada Mona, maka istrinya itu pun tidak akan terus curiga padanya.


Sesampainya di rumah Rara, Purba melihat sepertinya rumah Rara sepi, bahkan pagarnya digembok.


"Kita ke toko aja," perintah Purba pada Bizar.


Bizar balik arah, lalu menuju toko Rara yang jaraknya cukup jauh sekitar 45 menit.


Tanpa Purba ketahui, ternyata Bu Molly merekam saat mobil Purba sampai di depan rumah Rara. Begitu pun saat Purba turun yang ternyata tidak bisa masuk rumah karena pagar dikunci.


Bu Molly tersenyum, dia mendapatkan gambar yang jelas tentang sosok Purba, lalu langsung mengirimnya pada Gandi.


Sebagai tugas pengintai, Bu Molly mendapatkan 100.000 tiap satu informasi sedangkan perbincangan kemarin Bu Molly mendapatkan 300.000 selama dua jam


Dan jika Bu Molly bisa memergoki Rara dan Purba ada dalam satu waktu, maka dia akan mendapatkan lebih dari hanya sekedar yang biasanya diterima.


**#


Purba sudah sampai di toko kue Rara, tapi toko itu sepi Ke mana lagi dia harus mencari? Saat ini hatinya gundah.


"Ke mana lagi tuan?" tanya Bizar.


"Kembali ke kantor," ucap Purba dengan nada yang sudah berubah.


Sesampainya di kantor, Purba tidak merespon sapaan para karyawan. Wajahnya tegang, jalannya cepat, bahkan saat masuk ke ruangannya pun pintu tertutup cukup keras. Membuat beberapa karyawan yang ada di depan ruangan itu saling bertatapan.


Kenapa sih?


Ada apa ya?


Mungkin ada masalah.


Kenapa Pak purba?

__ADS_1


Beberapa karyawan saling berbisik dan mengendikkan bahunya.


**#


Di tempat lain.


Mona berangkat dengan sang sopir menuju salah satu rumah teman sosialitanya. Beberapa pesan masuk dan Mona langsung melihatnya.


"Apalagi ini?!" Mona cukup terkejut melihat seseorang mengirim gambar panas.


"Sialan! Pasti dia. Siapa lagi? Aku dijebak. Pasti!" Mona mulai terprovokasi.


Mona tarik napas seberapa kali untuk mengatur dirinya agak stabil, tidak mudah emosi. Diah langsung menghubungi Yosep.


"Ada apa?" tanya Yosef di balik sambungan telepon.


Yosef tidak pernah slow respon untuk penerima panggilan atau pun pesan dari adiknya. Kecuali dia benar-benar sedang jauh dari ponselnya


"Dia neror aku lagi Kak."


Siapa?


Bram!


"Kok bisa? Bukannya sudah dipenjara?"


"Aku mana tahu, bisa jadi ada teman yang membantunya," jawab Mona.


"Teror seperti apa?"


"Sebuah foto."


$Coba kirim."


"Aku malu, Kak."


"Malu bagaimana? Biar aku tahu seperti apa bentuk terorannya."


"Itu saat adegan aku dan Bram sedang...."


"Di hotel waktu itu? Kan kamu sedang tidak berdaya. Kelihatan dong siapa yang memanfaatkan," jelas Purba, menyambungkan ucapan Mona yang menggantung.


"Tapi di gambar itu tidak terlihat aku di bawah pengaruh obat."


"Ya udah. Makanya kirimin gambarnya, mengapa harus malu. Kita sama-sama pemain awalnya. Santai aja."


"Oke. Baiklah," ucap Mona dengan nada lirih.


Meskipun Mona mantan wanita diskotik, namun untuk melihatkan tubuhnya kepada saudaranya tetap aja memiliki rasa malu. Walau begitu juga Yosef sama-sama seorang Casanova dulunya. Tidak akan berpikir buruk tentang hal-hal yang panas. Hal seperti itu sudah jadi makanan yang sangat biasa.


Gambar sudah terkirim pada Yosef, terdapat tiga foto dari posisi yang berbeda.


Lalu Yosef menghubungi Mona kembali.


"Gimana Kak? Apakah bisa dilaporkan kembali? Bahwa itu sebuah pemerasan mungkin?"


"Kita tidak bisa melaporkan begitu saja. Soalnya itu hanya kiriman foto, tidak ada ancaman atau pemerasan di sana. Kita tenang dulu, selagi foto itu hanya dikirim ke kamu."


"Nah itu Kak, kita harus tahu tujuan orang yang mengirimnya. Tidak ada pesan apa pun di sana."


"Tapi aku rasa itu bukan sebuah foto, tapi video."


"Hah? Kok bisa?"


Jangan lupa ya temans, ajakin teman yang lain untuk baca novel ini. Bagi yang suka kisah pelakor yang berbeda.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir. Semoga dapat menghibur. Jangan lupa menjelang bab 200 akan ada give away lagi. Tapi masih, lama. Namun begitu, bisa mulai rajin mampir dari sekarang. Karena penilaian akan terlihat di profil author, kontribusi pembaca tertinggi. Teman-teman bisa melihatnya sendiri Kok. Siapa yang sudah dukung author teratas ;)


Bersambung


__ADS_2