
Karena purba tidak ingin banyak perdebatan lagi, dia menyetujuinya. Perkara nanti durasi bertemu Rara banyak atau sedikit itu bisa diurus nanti saja.
“Terakhir dari Mama, Purba. Jangan bermain api. Nanti terbakar sendiri, Mona sudah berjanji akan berubah menjadi istri yang baik dan tolong mengerti masa lalunya.
Bimbing dia, Jika masih ada hal-hal dari masa lalu yang masih mengganggunya, tolong maklumi. Dan bantu Mona untuk jauh dari masa lalu, ya ... seperti yang kamu tahu, Mona itu pergaulannya gimana.”
“Iya, Ma. Semoga kedepannya aku bisa lebih memimpin Mona dengan baik,” jawab Purba.
“Ingat! Karena ini adalah tentang ketidaknyamanan ada orang ketiga, jangan coba-coba bermain untuk membagi cinta. Kita sendiri yang capek loh, Purba.
Harus ngurusin yang ini, harus ngurusin yang itu. Yang ini lagi marah, yang itu kebetulan lagi marah juga, yang pusing kita sendiri.
Coba pikirkan baik-baik kalau memang hal itu terbersit dalam pikiran kamu. Tetapi kalau orang ketiga itu hanya kecurigaan Mona, ya... Papa mohon kamu lebih sabar ya. Siapa tahu kalau nanti sudah ada anak lagi, Mona akan bisa lebih dewasa, dia bisa menjadi Ibu yang baik, sibuk di rumah dengan anaknya,” nasihat Tuan Hartanto panjang lebar.
Purba menerima semua nasehat dari kedua mertuanya. Malam itu juga Mona pulang bersama Purba kembali ke rumahnya.
Mona dan Purba satu mobil yang dikendarai oleh Bizar, sedangkan mobil yang sebelumnya dibawa oleh Mona, dibawa oleh sopir itu sendiri kembali ke rumah Mona dan Purba.
**#
Sampai di rumah, Purba dan Mona masih dalam keadaan canggung, mungkin karena hampir dua minggu bisa dikatakan mereka pisah ranjang. Paling sesekali Mona pulang ke rumah. Namun, itu tak pernah lama karena menurut Mona percuma saja, di rumah pun dia tidak dianggap oleh Purba.
Namun, Purba berpikir jika seperti ini terus, mau sampai kapan? Kalau memang mau selesai, mending udahan aja sekalian. Jika akibatnya ada masalah besar, sekalian aja tak apa. Kalau mau bubaran jangan tanggung-tanggung, itu dalam pikiran Purba.
Dia juga merasa aneh hatinya, kenapa tidak ada rasa untuk mengalah duluan pada Mona, seakan kalau Mona marah, sedih, tidak ada rasa iba dalam hati Purba. Entah mengapa beda halnya pada Rara.
Mungkin jika rasa peduli itu ada, Purba akan mengalah duluan dan menyapa Mona. Jika seperti ini terus, mau sampai kapan? Saling diam dan Bisu.
Tok tok tok...!
“Masuk...!” ucap Purba dan Mona hampir berbarengan. Mereka saling menatap.
__ADS_1
Mbak Idah rupanya yang mengetuk pintu, dia membawa tumpukan pakaian yang sudah disetrika.
"Maaf Bu, Pak, saya baru sempat membawa pakaian ini. Maaf mengganggu," ucap Mbak Idah.
"Iya Mbak, taruh aja di sana," lagi-lagi Purba dan Mona berucap berbarengan.
"Permisi Bu, Pak," ucap Mbak Idah yang sudah selesai menaruh pakaiannya.
Mona dan Purba tidak menjawab, mereka hanya mengangguk, sama-sama berpikir jika menjawab takut bareng lagi.
Mona turun dari tempat tidur, dia mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Sedangkan Purba menaruh ponselnya di meja, tak sengaja tombol on off-nya tersentuh oleh jari, karena kunci layar Purba menggunakan sidik jari sehingga sensitif. Layar ponsel Purba menyala dan menampilkan wallpaper profil Rara di sana.
Purba membuka bajunya, karena tadi sepulang kerja dia sudah mandi dia tidak perlu ke kamar mandi lagi. Sedangkan Mona mengganti pakaiannya di kamar mandi.
Mana keluar kamar mandi seperti biasa mengenakan pakaian tidur lingerie berbahan sutra halus. Dress yang digunakan Mona di atas lutut, itu membuat Purba cukup tergugah hasratnya.
Tidak dipungkiri, Purba pria dewasa yang telah menikah, hampir dua minggu tidak menemukan kebutuhan biologis, sebagai pria dewasa melihat tubuh Mona yang putih bersih, dengan bentuk tubuh yang sempurna. Tentu saja Purba ingin sekali menyantapnya.
Jika selama ini Purba bisa tidak menyentuh Mona, itu karena dia bisa menahan dan ada hiburan yaitu sekretarisnya, Rara. Meskipun Purba belum berani melakukan apapun pada Rara. Dia masih memegang teguh budaya timur tidak menyentuh wanita bukan haknya.
Dia buru-buru mengambil ponsel tersebut dan menekan tombol off di samping ponselnya.
Purba kemudian berjalan menuju tombol lampu yang berada di samping pintu.
Hatinya sempat berdesir takut ketahuan oleh Mona, jika ponsel wallpapernya adalah Rara. Dia belum sempat menggantinya karena Mona tidak sering mengecek ponselnya saat di kantor, kemudian Purba juga tidur sendiri saat malam, sehingga dia leluasa mengubah wallpapernya dengan foto Rara.
Purba mulai membaringkan tubuhnya di tempat tidur, sambil memainkan ponselnya. Yang sebenarnya bukan membuka pekerjaan di dalam ponselnya, atau melakukan chat pada seseorang, tapi Purba mengganti wallpaper.
Namun, saat mengganti wallpaper, dia sedikit tergugah melihat foto Rara dengan senyum manisnya, bibirnya yang tipis membuat kelelakian yang Purba terpancing.
Bergantian Purba melihat foto Rara, kemudian pada Mona yang masih berada di depan meja rias, yang sedang menggunakan skin care malamnya.
__ADS_1
Lagi-lagi malam ini Purba ingin melampiaskan rasa inginnya pada Rara, namun, yang ada di depannya adalah tubuh Mona.
Momen yang tepat untuk Purba, dia akan menyentuh Mona dengan gairah di benaknya untuk Rara. Dan itu pasti sangat disukai oleh Mona, di mana Purba akan lebih bergairah daripada awal-awal mereka menikah.
Setelah mengganti wallpaper ponselnya, Purba menaruhnya di nakas kembali. Dia turun dari tempat tidurnya, perlahan menghampiri Mona.
Purba berdiri tepat di belakang Mona, perlahan menyentuh pundak Mona yang sedang mengoleskan krim di wajahnya. Mona terbengong, aneh sekali.
Mona pikir, Purba tidak akan memulai terlebih dahulu untuk memperlakukannya mesra.
"Ma ... maafkan Papa ya," ucap Purba lirih. Sambil tangannya memijat-mijat pelan pundak Mona. Membuat Mona merasakan sesuatu yang dirindukannya selama ini.
Antara Mona ingin tetap menahan egonya, sampai Purba benar-benar merayu dirinya, tapi dia juga tidak bisa menahan sentuhan-sentuhan tangan Purba di sekitar pundak dan lehernya.
Purba membungkuk sehingga kepalanya kini sejajar dengan kepala Mona, deru nafas dari hidung Purba menyentuh leher Mona dan itu membuat Mona benar-benar lemah.
"Mas... jangan kayak gini," ucap Mona dengan suara yang sudah bisa ditahan.
Suaran Mona sudah melemah, karena menahan gairah yang timbul akibat perlakuan lembut suaminya.
Tangan purba mulai menjalar ke perut Mona, tanpa kuasa Mona menaruh krimnya dan menggeser duduknya memutar ke samping, tangannya dikalungkan pada leher Purba.
Purba mengerti akan hal itu, dia membopong Mona. Sambil berjalan untuk menuju tempat tidur bibir mereka saling bertautan.
Suasana kamar yang remang hanya terdengar suara detik jam dan decapan dari bibir mereka berdua, desis angin halus bercampur deru nafas mereka yang berirama, menggelikan bagi pasangan-pasangan yang merindukan akan cinta.
Tanpa menunggu waktu yang lama, pakaian mereka sudah berserakan di lantai, bahkan selimut pun sudah tidak berfungsi untuk menutup tubuh mereka.
Begitupun dengan ranjang kokoh, sudah tidak mampu lagi menahan goncangan kebahagiaan dari pasangan yang baru saja pulih dari kemarahan ego.
Cuaca mendukung di luar sana, langit malam yang gelap bertambah pekat, karena mendung dan hujan rintik pun turun.
__ADS_1
Namun, di dalam kamar itu tidak pengaruh angin dingin dari luar. Mereka tetap berkeringat, bahkan tak ada kebekuan karena cuaca dingin, sebab darah mereka tetap mendidih, kulit mereka tetap hangat, bahkan suasana kamar itu sangat meriah, dibanding sunyi malam dengan guyuran hujan.
Bersambung....