
CEO 190
"Cari siapa ya Bu?" tiba-tiba seseorang bertanya dan itu mengagetkan Rara.
"Yang menghuni kontrakan ini, Pak. Ke mana ya?" tanya Rara.
"Oh, dia udah pindah katanya sakit keras hingga kembali pulang kampung." Pria itu menjelaskan.
Dalam benak Rara berarti dia benar tidak salah kamar, kata Lena Gandi memang sakit dan pulang kampung. Tapi, Azkia ke mana ya? Katanya tidak ikut pulang kampung.
"E, maaf, Pak. Kalau anak kecilnya, Bapak tahu ke mana? Bukan ada anak kecil juga yang tinggal di sini?" tanya Rara di tengah rasa cemasnya.
"Kalau anak kecil itu Aku tidak tahu Bu. Aku pikir ikut dengan bapaknya pulang kampung. Tidak begitu tahu ceritanya, yang aku tahu memang sudah tidak ada siapa-siapa di situ selama beberapa hari ini juga."
Rara terdiam sejenak, seakan harapannya pupus di tengah jalan. Apa yang harus dilakukan sekarang?
"Em... kalau begitu terima kasih ya, Pak. Atas informasinya."
Rara dan Azka kembali ke dalam mobilnya. Sambil berjalan Rara terus berpikir apa yang harus dilakukan sekarang? Tanggung di luar. Mau mencari kemana? Petunjuk apa yang bisa Rara jadikan untuk dasar mencari Azkia?
"Sekarang kita ke mana, Bu?" tanya Azka.
Rara menoleh pada putranya, dia tidak bisa memutuskan apapun. Namun, saat melihat kantong kresek berisi makanan, Rara meminta Azka untuk makan saja terlebih dahulu. Ini sudah terlalu siang.
Azka menurut kata ibunya, karena dia memang sudah sangat lapar. Azka mencuci tangan dengan air minumnya. Lalu makan dengan lahap. Sementara itu Rara terus berpikir, akan ke mana setelah ini?
"Pak kita lanjut saja ke rumah Bu Hetty. Papa masih ingat kan tempatnya." Rara ingin bersilaturahmi saja ke rumah Bu Hetty, dia tidak memiliki pikiran mungkinkah Azkia ada di sana. Rara hanya ingin memanfaatkan waktunya saja mumpung di luar.
"Baik Bu." Pak sopir menjawab dengan singkat.
Dahulu Rara memang sering ke rumah Bu Heti tapi kadang diantar oleh sopir yang ini atau sopir satunya yang biasanya mengantar Azka bertemu Azkia.
Memang kendaraan yang dimiliki Rara ada dua. Sopirnya juga dua. Tidak bisa khusus mana sopir untuk urusan rumah atau urusan toko, karena terkadang kalau toko sedang sangat ramai, kedua sopirnya ikut dalam mengantarkan pesanan.
Sedangkan Azka, dia dengan tenang masih makan, Azka tidak tahu Bu Hetty. Walaupun dia beberapa kali bertemu Azkia untuk mengobrol, untuk bermain, tapi Azkia tidak pernah membahas tentang Bu Heti. Maka sekarang Azka pun ikut saja ke mana Ibunya akan pergi.
***
Rara sedang sibuk dengan urusannya sendiri begitupun Purba sibuk dengan urusan kantornya.
"Sayang, nanti aku pulang ke rumah. Urusan peneror itu sudah selesai. Nanti aku cerita di rumah." Purba mengirimkan pesan pada Rara.
__ADS_1
"Hem ... masih ceklis satu," gumam Purba.
Purba tarik napas dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Dia mencoba menstabilkan beban dalam dirinya, agar tidak terlalu menguasai konsentrasinya dalam bekerja.
Yang terpikirkan saat ini adalah mengurusi Mon, soal peneror sudah bukan urusannya lagi. Tersebar atau tidak video itu bukan urusannya. Orang juga pasti akan menilai jika dia bercerai dari Mona, sudah pasti orang akan menganggapnya karena seorang suami tidak menginginkan istrinya yang tidak bisa menjaga kehormatannya di luar.
"Bizar, kamu sudah cek kerjasama dengan siapa saja yang terjadi di kantor cabang, yang dipimpin Mona?" tanya Purba.
"Sudah Tuan. Ada beberapa. Dan yang sering interaksi dengan Ibu adalah, Mr. San dari China. Proyek yang lain, kadang ditangani staf lain."
Purba menjelaskan sesuai pengecekan yang ia lakukan ke kantor tersebut.
"Apakah kamu menemukan berita acara mana keluar kota beberapa hari ini?" tanya Purba lagi.
"Tida." Bizar menjawab singkat.
Purba hanya manggut-manggut, dia merasa perginya Mona ke luar kota bukan urusan kantor, meskipun dia mengatakan itu memang urusan kantor.
Purba tidak mempersoalkan, yang pasti dia sudah mendapat kesimpulan hari ini akan pulang ke rumah Rara. Dan mungkin tidak akan kembali lagi ke rumah yang ditempatinya bersama Monas selama ini.
Hari ini Purba sudah mengikhlaskan semuanya, tidak akan lagi menunggu kepulangan Mona, mengirimnya pesan untuk menanyakan kabar atau kapan pulang. Paling nanti kalau sudah tahu mana pulang baru Purba menghampiri untuk membahas proses perceraian.
***
Mona dengan kaos oblongnya dan celana pendek, masuk ke kolam renang untuk menikmati suasana sore hari yang teduh. Mona memang tidak membawa pakaian renang, karena rencana menginap pun tidak dia prediksi sama sekali. Sehingga Mona mengenakan pakaian seadanya untuk berenang.
Jika Mas Waluyo karena dia pria bebas saja tidak perlu khusus pakaian renang juga tak masalah. Waluyo menggunakan celana pendek, mereka berenang bersama sambil berbincang.
Mona seakan menikmati beberapa hari terakhir ini begitu sangat bahagia. Surga dunia yang sempat hilang dari hidupnya.
Mister Waluyo yang masih menjaga dan menghormati Mona sebagai istri yang sudah bersuami, dia hanya membahas persoalan bisnis. Namun, dia juga lelaki normal yang terkadang tidak bisa kontrol akan hasratnya penasaran ingin memiliki wanita yang dikaguminya
"Kemarin aku sudah komunikasi dengan desainer, pekerjaannya hampir selesai 20%. Mungkinkah kita akan pergi ke tempat lain sebelum aku pulang ke Cina," ucap Mr Waluyo. Sambil menikmati hidangan di sebuah floating food.
"Saja nanti saja Mister. Aku lihat jadwal di kantor dulu ya."
"Apakah sore ini kita pulang? Nanti suami kamu bisa curiga. Walau kita tidak berbuat apa-apa tapi dia juga pasti menerapkan disiplin untuk perusahaan. Apalagi dia pemimpin perusahaan pusat bukan?"
Mr. Waluyo sangat hati-hati sekali mempergunakan waktu. Dia tidak ingin terjebak urusan pribadi. Makanya selalu mengingatkan Mona.
Mona setuju akan keputusan Mr Waluyo untuk pulang sore ini.
__ADS_1
Tak terasa mereka sudah hampir 30 menit berendam di kolam sambil menikmati hidangan. Tiba-tiba cuaca mendung mereka segera beranjak dari kolam.
"Akh!"
Mona berteriak kesakitan, kakinya tiba-tiba kram, kaku. Padahal dia tidak berenang seperti biasanya, berendam dan sedikit berenang dengan gerakan ringan. Namun, mengapa bisa kakinya mendadak kram saat akan menyudahi.
Mr Waluyo panik sepertinya mendung akan disertai hujan sebentar lagi, Mr Waluyo memapah Mona untuk ke tempat yang aman terlebih dahulu. Namun, sepertinya tidak sempat karena tiba-tiba hujan turun dengan deras.
Mr Waluyo tanpa ragu lagi membawa Bang Mona sampai ke villa mereka kehujanan sedikit. Mungkin karena terlalu dingin hingga kaki Mona mengalami kram.
Mr Waluyo mencoba memberi pertolongan pertama. Lunturkan otot kaki mana dengan lotion khusus.
***
"Jadi begitu Bu ceritanya. Berarti saya belum terlambat ya, datang kemari. Syukurlah...!"
Rara merasa bersyukur dia cukup cepat untuk datang ke rumah Bu Hetty. Baru saja Bu Hetty menceritakan bagaimana kejadian sebenarnya hingga Azkia ikut dengannya.
Tak ada satupun cerita yang Bu Hetty tutupi, alasan Azkia memilih tidak ikut ayahnya, juga nasehat Bu Hetty yang meminta Azkia untuk berkumpul bersama ibu dan saudara kembarnya.
Saat ini Azkia sedang sekolah madrasah. Jadi saat Rara dan Azka sampai di tempat Bu Hetty, Azkia tidak mengetahuinya. Namun, Bu Hetty meminta pada Rara agar mobilnya tidak disimpan di tempat yang bakal Azkia ketahui.
Hal itu untuk mengantisipasi agar Azkia tidak terlalu terkejut melihat kedatangan ibunya. Meskipun Bu Hetty yakin Azkia tidak akan berontak seperti dulu. Takutnya Karena rasa canggung atau masih sungkan, saat Azkia melihat mobil ibunya ada di depan dia akan ragu untuk ke rumah.
"Terima kasih sekali Bu sudah menjaga Azkia selama ini, Maaf sekali bukan berarti saya banyak uang, tapi tidak enak rasanya jika saya mengambil Azkia begitu saja.
Em ... saya mau memberikan tanda terima kasih, hitung-hitung mengganti biaya Azkia selama di sini. Ibu tinggal sebutkan saja nominal. Sekali lagi maaf ya, Bu. bukan maksud saya menyangka Ibu tidak tulus menjaga Azkia, akan tetapi saya juga sebagai orang tua kandungnya merasa tidak enak."
Rara begitu hati-hati menyampaikan hal itu. Rara tahu Bu Hetti orang yang baik, takutnya tersinggung seakan kebaikannya menjadi pamrih.
"Aduh... tidak usah Bu. Serius, saya akan tidak enak juga jika menerima pemberian dari ibu, dalam bentu apa pun. Lagi pula, Azkia di sini banyak bantu saya. Dia tidak merepotkan Kok. Malah, dia punya tabungan di saya, hasil dari bantu saya membuat dagangan. Itu hak Azkia, nanti saya akan berikan kalau memang dia sudah mau ikut sama Ibu."
Kedua wanita dewasa itu saling merasa tidak enak. Entah nanti seperti apa jalan keluarnya.
Sedangkan Azka sedang tidur di pangkuan ibunya. Karena waktu sudah sore biasanya anak itu tidur setelah pulang sekolah dan bangun saat akan sekolah madrasah pukul dua siang.
Dari luar terlihat seorang bocah menggendong tas berwarna hitam, dia berjalan dengan langkah pasti seperti biasa. Menggunakan baju koko hitam putih dan kopiah yang sudah cukup bladus warnanya.
Ya, dia adalah Azkia. Namun, saat hampir sampai di depan pintu rumah, Azkia berjalan secara perlahan. Dia melihat ada alas kaki tambahan. Keningnya mengkerut menerka-nerka siapakah yang datang mengunjungi ibu angkatnya.
"Nak, sini kamu sudah pulang?" sapa Bu Hetty yang melihat Azkia muncul dengan perlahan seperti ragu hendak masuk.
__ADS_1
Bersambung....