Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Pulang


__ADS_3

"Tapi ini kerja kerasnya Azkia. Haknya," ucap Bu Heti meyakinkan.


Rara diam sejenak, tak enak rasanya jika terus menolak. Seakan tidak tahu berterima kasih dan tidak menghargai kepedulian Bu Heti yang sudah bersikap jujur dan begitu memerhatikan Azkia..


"Baiklah, saya terima ini. Karena ini adalah kerja kerasnya Azkia. Tapi, saya mohon ibu juga tidak menolak ini." Rara mengambil sebuah amplop yang sudah berisi uang tadi.


"Ini apa, Bu?" tanya Bu Heti, cukup terkejut.


"Ini tanda terima kasih saya. Mungkin nilai tidak besar, tapi saya tidak tahu harus berterima kasih bagaimana lagi. Kalau tidak ada Ibu, gak tahu gimana nasib anak saya. Yang pasti, saya merasa tertolong sekali dengan adanya Bu Heti di samping anak, saya." Rara, tetap menahan amplop itu di tangan Bu Heti, sebelum Bu Heti benar-benar menerimanya.


"Ini, tidak ..." Ucapan Bu Heti menggantung.


Rara menggeleng. Dia tak ada penolakan atau basa basi lagi.


Bu Heti menatap dalam pada netra Rara. Akhirnya Bu Heti mengangguk dengan senyum penuh baru. Dia tak ingin ada basa-basi lagi, Akhirnya, amplop itu diterima dan Bu Heti langsung menghambur lada pelukan Rara.


Kedua Ibu yang penyayang itu sama-sama terharu. Kini mereka sudah berada di samping mobil Rara.


Bu Heti memeluk Azkia untuk terakhir kalinya. Dia tak tahu apakah bisa bertemu Azkia atau tidak. Rasa haru masih tersisa di dada Bu Heti.


Azkia pun membalas pelukan Bu Heti sangat lama.

__ADS_1


Kemudian Rara beserta kedua anaknya sudah berada di dalam mobil, perlahan mobil itu melaju dan terlihat Azkia melambaikan tangan pada Bu Heti dengan mata berkaca-kaca.


Rara melihat kesedihan putranya, membiarkan Azkia meluapkan pilunya untuk yang terakhir kali.


"Nanti kita mampir dulu ke toko kue, ya. Kita belum tahu toko kue ibu, kan?" ucap Rara, setelah mereka sudah cukup jauh meninggalkan tempat Bu Heti.


Azkia hanya mengangguk saja. Dia masih sedikit canggung, baru bergabung dengan keluarganya.


Begitu pun Azka, yang masih belum bisa sebahagia saat kemarin mereka berjauhan. Entah kenapa hatinya merasa ada yang aneh.


***


Sore pun tiba, Rara baru sampai di rumah. Karena dia selain mampir ke tokonya, ternyata mampir ke toko lain untuk membeli kebutuhan Azkia.


Azkia tidak merespons adanya Purba, dia belum begitu paham, siapa lelaki tampan nan tegap itu?


Malah Bu Sugeti yang menyusul ke depan, langsung berhambur memeluk cucunya yang sudah lama dirindukan.


Dipangkunya Azkia, Bu Sugeti melupakan bahwa cucunya kini sudah besar. Tubuh sepuhnya tidak mempertimbangkan apakah masih sanggup menggendong cucunya yang sudah tidak bayi lagi?


"Bu, Azkia berat loh." Rara memperingatkan.

__ADS_1


"Tidak, lebih berat rindu nenek padamu Kia." Bus Sugeti dengan polosnya menjawab. Dia tidak sadar, bahwa ucapannya mengundang senyum mereka yang ada di sana.


Lena pun yak menyangka, ibunya menjawab seperti itu. Rindu yang tertahan lama, memang sungguh berat.


Pemandangan seperti itu membuat Azka semakin iri saja. Mengapa sekarang seakan semua orang terfokus pada Azkia?!


"Nak, sini sama Ayah." Purba menyodorkan kedua tangannya pada Azkia, tapi bocah itu menolak. Dia menggelengkan kepalanya, masih ragu dengan keberadaan Purba.


"Ya sudah, kita masuk dulu, Yu. Bicaranya di dalam saja," ajak Rara.


Mereka masuk ke dalam, langsung berkumpul di ruang keluarga. Kini Azkia digendong oleh Lena.


Sedangkan Azka dibiarkan jalan menyusul di belakang. Siapa pun tak sadar bahwa Azka sedang merasa krisis perhatian. Semakin tidak suka saja pada keluarganya, Azka berpikir Azkia telah menggantikan posisinya.


Azkia duduk di tengah keluarga, begitu pun dengan Azka yang masih terlihat anteng. Tidak disadari oleh yang lain perubahan Azka.


Bu Purwanti mencoba pendekatan pada Azkia, sayangnya Pak Kukuh sudah pulang. Sehingga Azkia tidak bisa berkenalan dengan Kakek dari Ayah barunya.


mereka berbincang sambil menikmati kue-kue yang Rara ambil dari tokonya. Perlahan terlihat Azkia sudah cepat menyesuaikan. Karena pada dasarnya mereka adalah keluarga. Bukan orang asing, hingga Azkia bisa cepat merasa nyaman.


"Azka, mau ke mana?" tanya Lena, diikuti Rara yang menoleh karena suara adiknya.

__ADS_1


Azka tidak menjawab.


Rara melihat pada Lena, kedua wanita dewasa baru sadar, ada sesuatu yang terjadi pada Azka.


__ADS_2