Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Gampang Curiga


__ADS_3

Bab 93


 


Sementara itu di kantor Bonafit Tekstil cabang, yang dipimpin oleh Pak Baskoro. Tempat di mana Rara bekerja saat ini.


Rara dan Purba, mereka masih tetap berjalan bersama hingga sampai ke ruangan Baskoro. Tadinya Rara sangat takut jika mereka terlihat berdekatan. Apa kata para karyawan yang tentunya mereka sudah tahu tentang dirinya, yang pernah berselisih dengan Mona.


Namun, Purba mengatakan tak jadi masalah. Toh, Rara juga sekretarisnya dahulu. Maka saat ini walau mereka datang bersama, para karyawan tidak akan menganggap kedatangan mereka karena hubungan pribadi. Para karyawan tetap berpikir Rara dan Purba adalah sekretaris dan bos


Purba masuk ke ruangan Baskoro, sedangkan Rara menempati meja kerjanya mengerjakan tugas seperti biasa. Mereka berpisah tepat di depan ruangan direktur jadinya.


Purba belum diberi kabar tentang keadaan Mona oleh Nyonya Hartanto, atau siapa pun. Bahkan Tuan Hartanto saja belum diberi kabar, karena masih bingung apa alasannya yang tepat. Yang terpenting saat ini Mona sudah ditangani dengan baik, itu pikiran Nyonya Hartanto.


“Eh, kamu tadi datang bareng menantunya yang punya perusahaan, ya? Kok bisa? tanya Doni si tukang penasaran. Bahasa gaulnya tukang kepo.


“Kebetulan aja ketemu di jalan,” sahut Rara singkat.


“Kamu searah dengannya?” tanah Doni kembali, kini duduk di samping Rara.


Rara mengangguk daripada ada pertanyaan lain, padahal tentu saja beda arah.


“Dia baik banget ya, mau gitu ngajak karyawannya satu mobil. Eh, gimana dulu waktu kerja di sana?” tanya Doni kembali.


“Biasa aja. Ya kayak gini, sama kayak di sini.” Rara sudah mulai kesal ditanya terus saat sedang bekerja serius.

__ADS_1


“Padahal enakan di sana loh. Kenapa pindah sih?”


“Ya aku mana tahu Don. Itu kan Terserah bos,” ucap Rara sudah semakin gemas pada pria melambai ini.


Saat Doni sedang berbincang dengan Rara, kemudian Purba keluar dari ruangan Pak Baskoro, tentu saja tak ketinggalan Bizar selalu mengekor di belakangnya.


Purba melirik ke meja Rara, kemudian ke arah Doni yang  begitu dekat berbincang dengan Rara.


Doni berusaha ramah pada bos besar itu dengan tersenyum. Namun, alangkah kagetnya muka Purba begitu masam. Padahal katanya sanga menantu pemilik perusahaan itu ramah. Tapi rupanya yang dialami oleh Doni berbeda.


Rara jadi kikuk melihat wajah Purba serta melirik pada Doni. Pasti ada sesuatu, jangan-jangan Purba salah paham. Mudah sekali salah paham tuan muda ini. Pikir Rara.


“Memang di sini karyawan biasa ngerumpi di jam kerja ya?” tebak Purba dengan nada sinis.


Purba maju mendekat ke meja Rara.


“Pantas saja kamu sepertinya betah di sini. Ada dia?” tanya Purba dengan suara yang sengaja dipelankan, takut terdengar oleh karyawan yang kebetulan lewat.


“Maksudnya?” tanya Rara bingung.


“Ah, sudahlah.” Pungkas Purba, kemudian berkata, “Bizar, cari tahu siapa pria itu.” Purba tidak ingin terlalu lama berdebat di kantor itu. Kemudian pergi menuju mobilnya untuk kembali ke kantor.


Rara terheran dengan kepergian Purba. Apa sih pertanyaannya tidak jelas dan dia mendengar Bizar diperintahkan cari informasi tentang pria itu? Doni maksudnya? Tak habis pikir sampai pria seperti Doni masih aja dicurigai.


Rara geleng-geleng kepala kemudian melanjutkan kerjanya.

__ADS_1


'Hah... dasar Pak bos bucin. Aneh, kalau saja dia tahu Doni seperti apa,' gumam Rara dengan senyum aneh untuk bosnya sekaligus kekasih hatinya.


**#


Purba tiba di kantor siang hari hampir menuju jam istirahat, dia masuk ruangan tidak ada Mona, tumben sekali. Purba pikir Mona akan menyusul setelah urusannya selesai.


'Tau gitu aku tidak buru-buru kembali.' gumam Purba.


Dalam pikiran Purba, dia ingin berlama-lama dengan Rara. Tentu saja Rara bisa meminta izin kapan pun asal Purba sendiri yang mengajukan kepada Pak Baskoro.


"Bizar, jangan lupa yang aku perintahkan barusan," ucap Purba yang duduk di meja kerjanya sebelum memulai sibuk dengan laptopnya.


Bizar hanya mengangguk, dia langsung meraih laptopnya melihat data karyawan perusahaan cabang yang dipimpin oleh Baskoro.


 


**#


Di rumah sakit.


Nyonya Hartanto bertiga bersama kedua asistennya sedang menunggu Mona. Nyonya Hartanto sedang sangat bingung, apa alasan yang harus disampaikan pada suaminya, yang sedang melakukan pekerjaan bersama relasinya.


 


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2