Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Nasihat Mertua


__ADS_3

Sebenarnya masih banyak keuntungan dari mengelola lahan itu, selain bagi hasil dengan Hartanto kadang orang tua Purba juga menanam bahan-bahan pangan di luar sepengetahuan Hartanto.


Karena ada lahan kecil yang cukup untuk ditanami seperti kacang panjang, umbi-umbian, cabe-cabean mulai dari cabe rawit, cabe keriting dan sebagainya.  tidak memerlukan bahan yang luas yang penting ada kemauan dan kerja keras hasilnya bisa dijual ke pasar dan masuk dalam keuntungan sendiri


Karena orang tua bukan orang yang berpendidikan jadi mengolah lahan adalah pekerjaan yang terbaik untuk mereka. Bahkan di kampungnya keluarga Purba termasuk keluarga yang berada, terlepas itu karena ada nama Tuan Hartanto ataupun tidak.


“Ya udah, jadi yang mau mencari kelas tata boga siapa? Aku atau Mas?”


“Kamu saja mungkin ya? Kamu bisa cari tahu sendiri atau tanya ke Retno atau ke Fira atau ke siapa.”


“Baiklah, berarti tentang rencana kita membuka toko kue itu biar urusanku aja, ya Mas.”


“Itu lebih baik, aku tinggal menyiapkan modal saja dan mungkin nanti untuk promosinya kamu persiapkan yang kamu butuhkan. Terserah kamu mulai dari mana.”


Percakapan mereka pun berakhir dengan keputusan yang sama-sama disepakati. Mungkin beberapa waktu lagi Rara akan keluar dari perusahaan bonafit tekstil dan membuka toko kue. Serta tiga hari lagi mereka akan pulang kampung dengan tujuan menghadiri pernikahan Retno.


Namun, Purba sendiri bertujuan akan memberanikan diri melamar Rara pada ibunya.


 


**


Saat di rumah Purba menanyakan tentang Mona kepada Mbak Idah, karena saat dia pulang dari kantor, tadi katanya Mona mampir dulu ke tempat temannya. rupanya Mona belum ada juga di rumah.


Purba memutuskan nanti malam untuk pergi ke rumah mertuanya.


Seperti biasa kegiatan Purba di rumah setelah pulang kantor, membersihkan diri, makan, kemudian berkutat di ruang kerjanya bersama Bizar.


Mereka akan mengecek beberapa tugas kantor yang mungkin bisa dikerjakan nanti saat ke kampungnya Rara. Dan beberapa tugas lagi yang akan diserahkan kepada Fira dan Heru. Mereka melakukan hal itu takutnya ada tugas darurat yang tidak bisa ditinggalkan, maka harus dipilah-pilah terlebih dahulu.


“Zar, kita ke rumah utama sekarang,” ajak Purba. Yang dimaksud rumah utama adalah rumah Tuan Hartanto.


 


*##


 


Mobil yang dikendarai oleh Bizar sudah masuk pengarangan rumah Hartanto. Sepertinya Mona sudah pulang karena ada mobil yang biasa digunakannya di sana.

__ADS_1


Purba langsung masuk dan beberapa pelayan pun menyapanya. Purba langsung ke ruang keluarga karena mama dan papa mertuanya ada di sana juga. Terlihat Mona sedang tiduran di pangkuan Nyonya Hartanto.


Saat Purba sampai, Mona langsung duduk karena diberitahu oleh Nyonya Hartanto. Purba diterima dengan baik oleh mereka


“Syukurlah kau ke Mari, Nak,” ucap Nyonya Hartanto.


“Iya Ma, selain melihat keadaan Mona ada satu hal yang harus aku bicarakan.”


“Iya Nak Purba, Mama sudah menyuruh Mona pulang, tapi katanya dia belum mau. Jadi Mama biarkan di sini saja dulu, nggak apa-apa, kan?”


“Iya mah, tidak apa-apa. Yang penting keadaannya baik-baik saja.”


‘Alah… sok perhatian,” batin Mona.


“Ada apa, Nak Purba? Apakah ada hal penting? Atau memang sengaja mau jemput Mona?”


“Salah satunya itu, Ma. Tapi saya juga tidak bisa memaksa Mona. Mungkin dia sedang nyaman di sini. Dan lusa, saya mau ada keperluan keluar kota, mungkin sekitar tiga hari.


Karena Mona belum juga pulang, makanya aku kemari untuk memberitahukannya,” papar Purba


“Ayok, Nak. Bicara sama suamimu, jangan diam terus. Sampai kapan kayak gini?” Nyonya Hartanto bukannya merespons ucapan Purba, dia malah memberi arahan pada putrinya.


“Nak Purba, untuk kepergian kamu nanti, Mama sama Papa tidak ada masalah, kalian kan sudah dewasa.


“Kalau aku, ikutin aja mau Mona, Ma. Mungkin kemampuanku hanya segini. Aku sudah berusaha menjadi suami yang baik,” ucap Purba dengan hati-hati menyampaikan.


Padahal Purba ingin mengatakan, daripada seperti ini terus lebih baik pisah. Akan tetapi masih hati-hati untuk mengambil tindakan tegas.


“Ya... kalau kayak gini, susah. Kamu ngikutin maunya Mona mona ngikutin maunya ego sendiri,” ucap Nyonya Hartanto.


“Kalau saya tegas, nanti Mona kenapa-napa lagi, saya yang serba salah Ma,” Purba mencoba mencari celah untuk mengungkapkan beban hatinya.


“Mona ... saran Papa, coba kamu jangan seperti ini. Kalau kayak gitu terus, Purba semakin jauh darimu. Dan Papa juga tidak bisa membantu jika Purba mengambil langkah yang lebih tegas.” Pak Hartanto kini menasehati putrinya.


Purba merasa dapat angin dari ucapan Tuan Hartanto.


“Ayo bicara, Nak,” ucap Tuan Hartanto kembali kepada Mona.


Mona terdiam, mimik wajahnya seperti menyiratkan kebingungan, dia cemberut. Sulit untuk mengatakan apa yang ada dalam hatinya.

__ADS_1


“Maafkan Putri Mama ya, Nak Purba, beberapa hari kemarin Mama juga sudah cukup menasihatinya, bahwa suami istri itu harus memiliki sisi saling mengalah, tidak semua egonya harus dituruti.


Coba, Mama pengen dengar apa keinginan kamu, Nak Purba dan Apa keinginan Mona? Mumpung kalian kumpul, kita perbaiki bareng-bareng.”


Mereka berdua masih hening. Purba rasa sudah cukup mengalah pada Mona, begitu pun Mona, merasa sudah cukup berubah untuk Purba.


“Jika tidak ada yang berkata akan susah. Apa mau kayak gini terus?” Tuan Hartanto lebih tegas.


“Kalau aku, Ma, Pa, bersikap seperti biasanya saja. Jujur aku kesulitan untuk berkonsentrasi bekerja, jika harus terus dicurigai jika Mona ingin menjadi sekretaris atau mendampingiku mengurus perusahaan, itu tak jadi masalah. Akantetapi aktivitasku setiap hari kan bertemu sama siapa pun. Mau pria, wanita, bersikap sewajarnya saja. Selagi aku masih pulang, masih bisa bertanggung jawab terhadap rumah tanggaku.”


“Baik, Papa terima itu. Dan kamu Mona, bisakah mencerna ucapan suamimu? Jangan disamakan pemikiran laki-laki dan perempuan. Laki-laki itu cenderung berpikirnya simple, dia bekerja, pulang ke rumah, tanggung jawab, sudah.


Kemudian seperti hal-hal lain yang tidak bisa kamu terima Mona, yang penting suamimu tidak melakukan kejahatan.”


Pak Hartanto menambahkan nasihatnya, mendukung beberapa nasihat istrinya untuk sang anak bungsunya.


“Tapi Pa, berselingkuh itu memang bukan kejahatan, tapi merugikan dan jahat juga karena menyakiti orang lain. Apalagi ini istri sendiri?” Mona, mempertahankan pemikirannya.


“Sudah terbukti suamimu berselingkuh?” tanya mamanya Mona.


“Dia lebih memperhatikan sekretarisnya daripada aku, kalau itu tidak sengaja kenapa berkali-kali,” jawab Mona, masih dengan nada rengekan, kesal.


“Kamu juga harus mendengar keluhan Mona, Purba,” ucap Tuan Hartanto.


Malam itu Tuan dan Nyonya Hartanto menjadi media untuk membereskan konflik pada rumah tangga Mona dan Purba. Mungkin sekitar 2 jam perbincangan mereka, sudah diputuskan malam ini Mona pulang ke rumahnya bersama Purba.


Mereka sama-sama berjanji akan memulai dari awal untuk menjalin rumah tangga mereka dengan baik.


Namun, karena permasalahannya adalah kecurigaan Mona kepada sekretarisnya yang jadi duri, maka tuan Hartanto memberi penawaran kepada Purba, jika sekretarisnya dipindahkan ke kantor cabang.


Menurut pertimbangan Tuan Hartanto, ini adalah jalan terbaik. Tidak merugikan Mona yang setiap saat merasa was-was, tidak juga merugikan Rara. Karena Rara tidak dipecat, dia masih bisa bekerja dan menghasilkan di kantor yang diperintahkan.


Kemudian nasihat yang lainnya, kegiatan Purba keluar pun dibatasi, seperti halnya dulu sebelum ada Rara.


Mona masih merasa takut kalau perubahan jadwal Purba, mendadak banyak acara di luar. Bisa saja Rara sudah dipindahkan ke perusahaan lain, tapi purba dengan banyak alasan meeting di luar.


Maka dari itu Tuan Hartanto pun memberi ketegasan bahwa kunjungan ke perusahaan cabang cukup seminggu dua kali. Untuk urusan meeting selain didampingi Bizar bisa didampingi Mona sekretarisnya saat ini.


Kasih tahu teman-teman yang suka cerita pelakor, ya, Ajak ke sini untuk baca .. biar kalau rame bisa crazy up. :)

__ADS_1


Terima kasih yg sudah mampir untuk baca.


Bersambung...


__ADS_2