
Purba tidak mengetahui bahwa yang dipanggil sayang oleh Bram adalah Mona. Purba juga tidak berniat mengamati apa yang dilakukan pria di depannya ini.
Karena merasa tidak ada sangkut pautnya, dia menganggap pria di depannya itu salah alamat, sok kenal atau orang kurang waras.
Bram memang berniat membuka hubungannya dengan Mona kepada Purba, selain untuk memeras Purba, Bram juga ingin Mona hancur jika rencana pertama untuk meminta sejumlah uang pada Purba gagal.
Setidaknya Bram puas dengan melihat wanitanya hancur. Karena selama ini Bram merasa sudah dibuang begitu saja oleh Mona. Bram sakit hati.
“Kenapa sayang? Takut ya? ucap Bram merespons pembicaraan dari seberang ponselnya.
Purba hanya melirik kepada pria yang tidak punya malu itu, menerima telepon dari pasangannya di depan orang yang tidak dikenal.
Purba pun memainkan ponselnya mengusir suntuk. Sedangkan Bizar yang sudah gatal ingin mengusirnya dilarang oleh Purba.
Selagi orang tersebut tidak mengganggunya berlebihan, Purba masih bisa sabar. Siapa tahu orang tersebut nanti membuka jati dirinya. Apa tujuan yang sebenarnya menghampiri Purba?
“Oke, oke, kali ini aku masih percaya lagi sama kamu. Aku tunggu besok pukul 10 pagi, di tempat biasa.”
Meskipun Bizar tidak memperhatikan pria tersebut berkomunikasi dengan seseorang di ponselnya, tapi Bizar adalah penyimak yang baik, telinga dia selalu tajam mendengar dan mengamati apa-apa yang terjadi di sekitar bosnya.
“Oke sayang. Dan tidak ada penawaran lagi, aku udah rindu banget. Baiklah ... muach,” ucap Bram diakhiri kecupan online yang menjijikkan bagi Purba.
Kemudian Bram matikan ponsel tersebut dengan senyum merekah. Dia sedikit melirik pada Purba.
“Baiklah Pak Purba, sepertinya urusan kita akan dilanjut lain waktu. Aku permisi.”
Purba banya melirik mengerutkan keningnya. Bizar hendak menghentikan pria tersebut yang sudah mengganggu tuanya tanpa jelas tujuan.
Namun, Purba merentangkan tangan kanannya ke samping menahan Bizar yang sudah melangkah akan menyusul Bram.
“Biarkan saja, jangan sampai kita yang memulai keributan,” ucap Purba.
Beberapa saat kemudian Mona datang ke meja semula.
“Sayang, maaf ya. Aku lama,” ucap Mona.
“Kamu kenapa Ma? Sakit perut? Itu gara-gara Mama kalau makan selalu telat,” ucap Purba mulai perhatian pada Mona.
“Iya ... nanti tidak akan lagi,” ucap Mona dengan senang hati. Suaminya sudah mulai bisa berbicara dengan tenang dan tidak kaku lagi.
Baru kali ini Mona merasa diperhatikan oleh Purba, tanpa diminta atau pun dipancing.
__ADS_1
Purba pun memesan makanan sama dengan yang dipesan Mona, kecuali Bizar.
Bizar selalu memilih makanan dengan gizi seimbang. Jika diajak makan oleh tuanya tidak ada makanan yang cocok dengannya, Bizar lebih baik tidak makan atau pergi keluar untuk mencari makanannya sendiri, selagi tuannya menikmati makanannya.
“Ma, tadi ada orang asing ke sini,” ucap Purba, di sela makannya.
Mona tersedak, kemudian dia terbatuk-batuk. Purba segera menyodorkan air mineral yang ada di sampingnya. Diusapnya punggung Mona dan sedikit ditepuk-tepuk tengkuknya.
Mona sempat mengucapkan terima kasih sebelum menyesap minuman tersebut. Meskipun dengan suara agak tertahan dan serak menahan efek dari batuknya.
"Aku, tidak apa-apa, Pa," ucap Mona.
"Mama, terlalu terburu-buru makanya," ucap Purba.
Mona menggangguk, mungkin benar dia terlalu terburu-buru, di mata Purba seperti itu. Padahal Mona merasa terkejut Purba membahas tentang kedatangan Bram.
Di satu sisi Mona sangat senang melihat Purba sudah mulai terbuka pada dirinya. Biasanya ada kejadian apa pun tidak pernah berbicara pada Mona.
Sebelumnya, keseharian Purba hanya berbicara jika ditanya saha. Itu alasan Mona tersedak barusan. Terkejut karena ada rasa khawatir, takut Purba sadar bahwa Bram itu siapa.
Terkejut kedua, selain heran tentu saja bahagia. Purba membahas dengan Mona sesuatu hal yang sebenarnya tidak begitu penting.
"Aku udah baik-baik kok, Pa. Lanjutkan makannya," ucap Mona.
Disela makan, Purba melanjutkan kembali menyampaikan kedatangan Bram yang menurut dia sedikit aneh. Sepertinya Bram itu memang kenal dengan dirinya, tapi Purba sama sekali tidak mengingat.
Dan katanya akan berjumpa lagi di lain waktu, berarti pria tersebut benar-benar ada sesuatu yang berhubungan dengan Purba.
"Sudah Pa, jangan terus dibahas. Jika memang merasa tidak kenal, ya udah. Mungkin memang orang nggak waras, tiba-tiba sok akrab gitu." Mona mencoba agar Purba melupakan kejadian saat Bram datang.
Purba mengiyakan ucapan Mona. Benar juga apa yang di kata Mona. Ada orang-orang yang seakrab pernah kenal dari masa lalunya atau dari mana. Hanya untuk membuat mental kita terus berpikir dan hilang fokus kepada hal yang lebih penting.
***
Sementara itu di kantor Bonafit Tekstil cabang.
Rada sudah selesai makan. Dia kemudian membuka ponselnya sebelum kembali bekerja. karena saat bekerja karyawan dibatasi untuk membuka ponsel terutama yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Kecuali pekerjaannya memang menggunakan ponsel untuk memperlancar dan mempermudah pengerjaan.
"Mas Purba, ...," gumam Rara.
__ADS_1
"Aku juga kangen Mas. Kapan ketemu?" balas Rara merespons Pesan dari Purba.
Di ponsel Rara juga ada beberapa panggilan video call, tapi mungkin Purba tahu akan posisi Rara kali ini. Makannya Rara juga tidak mempermasalahkan dan tidak merasa bersalah saat tidak bisa menerima panggilan dari Purba.
Suasana seakan baik-baik saja saat ini. Takdir berpihak pada Purba saat bersama Mona, pun tenang Rara. Semuanya berjalan dengan lancar. Mona tidak lagi marah-marah. Purba sudah mulai bisa membuka diri, membuat sesuatu yang nyaman untuk istrinya.
Sedangkan untuk hubungan Purba dengan Rara, sama-sama memiliki pemikiran saling menghargai. Purba tidak sensitif saat lara sulit dihubungi begitupun Rara tidak merasa bersalah dan takut saat tidak bisa cepat merespon Purba.
Seandainya setiap hari keadaan seperti itu, baik-baik saja dan aman, mungkin dunia akan tentram, damai, sejahtera.
Tanpa mereka tahu ada beberapa orang yang belum puas terhadap kebahagiaan mereka
Salah satunya Gandhi yang sudah menerima surat panggilan dari pengadilan agama.
Saat ini dia sedang marah di markasnya, segala barang yang ada di dekatnya dilempar.
"Luyo, cari tahu laki-laki yang kemarin bersama istriku ke sini," perintah Gandi kepada Waluyo teman mabuknya.
"Buat apa? Udah aja ancam dari sini?" ucap Waluyo. Niatnya ingin membuat simple pekerjaan Gandi.
"Tidak semudah itu, aku bukan hanya butuh uangnya, tapi aku ingin mereka hancur."
"Jadi kita ke sana rame-rame ?" anya Waluyo.
"Bila perlu!" ucap Gandi.
Wajah Gandi memerah, keningnya penuh dengan keringat, tangan dikepalkan bergetar saking menahan amarah dia tidak menyangka Rara akan menceraikannya lewat pengadilan dan seberani itu
Gandi pikir laki-laki yang bersama Rara tidak akan sungguh-sungguh menjalani hubungan serius, dengan mantan istrinya itu. Maka Gandi dari kemarin santai saja.
Selain itu, Gandi juga berpikir, tidak akan ada laki-laki yang berani berkorban untuk seorang janda. Apalagi dengan riwayat sebagai pelakor,.penggoda laki orang, perusak rumah tangga orang lain. Namun, perkiraan Gandhi meleset.
Gandi berpikir, Rara akan mengemis padanya. Terlebih Azkia, sang anak yang akan menjadi alasan Rara akan mengemis untuk kembali pada hubungan pernikahan mereka.
"Tunggu kedatanganku. Jika kamu tidak bisa hancur di kampung ini, aku akan hancur kan kamu di kota orang."
Gumam Gandhi dengan tatapan tajam mengarah ke depan, seakan terbayang apa yang direncanakannya pasti akan berhasil.
Bersambung
__ADS_1