Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Menangis di Pelukan Bos


__ADS_3

“Astagfirullah ...,” Rara syok. Namun, dia buru-buru istigfar dan tarik napas. Dia harus tenang. Jangan sampai ibunya yang sudah menangis tambah bingung karena dirinya juga lemah.


 


“Ibu..., tenang ya. Rara yakin Azka baik-baik saja. Mas Gandi kan ayahnya, InsyaAllah akan baik-baik saja,” ucap Rara. Sebisa mungkin menahan suaranya agar tidak terdengar bergetar.


“Iya Nduk, semoga saja. Nasib kita gini amat ya. Gusti ...,” keluh Bu Sugeti, masih belum reda juga tangisnya.


“Ok, ibu, kan ada Lena, Azkya, tenang aja ya. Rara secepatnya akan menyelesaikan hubungan Rara dan Mas Gandi secara sah. Semoga dengan itu, Mas Gandi tidak berani lagi menggangu kita.”


“Iya, Nduk. Ibu selalu berada buat kamu, kelancaran rejeki, kesehatan dan keselamatan,” ucap Bu Sugeti, suaranya masih terdengar serak.


“Terima kasih Bu, Rara tutup teleponnya ya Bu. Mau kerja lagi,” ucap Rara kemudian mengakhiri panggilan setelah mengucapkan salam.


“Ada apa, Ra?” tanya Sari.


“Mantan suamiku,” ucap Rara singkat dan lirih.


“Kamu janda? Eh, maksudku, single parent? Maaf, baru tahu.” Sari takut salah bicara. Ditutupnya mulutnya itu.


Rara mengangguk, dia terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.


 Sari tak tahu kalau Rara adalah janda. Rara memang kelihatan seperti belum menikah, karena postur tubuh yang kecil dan tidak tinggi. Pemilik tubuh kecil memang sering terlihat awet muda dari usianya.


Sari memegang tangan Rara perlahan, “Mau cerita?” ucap sari, menawarkan waktu, mungkin saja Rara ingin melampiaskan sesak hatinya.


Rara menoleh pada sari, ditariknya nafas dengan berat. “Aku bingung, kadang ... cerita pun apakah bisa membuat masalahku selesai?” ujar Rara dengan suara parau, air matanya perlahan menganak sungai. Ditahan pun pecah juga.


“Setidaknya, beban yang kamu rasakan saat ini sedikit lega setelah bercerita. Dan kamu bisa melanjutkan hidup kembali tidak begitu berat,” ucap Sari begitu tenang menyampaikan.


Rara menatap sari lekat, akhirnya dia menganguk.

__ADS_1


Awal mula, Rara menceritakan telepon ibunya barusan. Yang mengabarkan bahwa Gandi membawa Azka.  Sebenarnya sudah dari kemarin, Cuma bingung untuk memberitahu Rara, takut mengganggu pekerjaan.


Bu Sugeti juga menceritakan bahwa Azka akan pulang sore hari ke rumah, diantar Gandi, tapi besoknya saat pulang sekolah pasti dijemput Gandi lagi. Padahal Azka dan Azkya satu sekolah, tapi Gandi hanya membawa satu anak saja.


Pertama Gandi membawa Azka dari sekolah, tanpa sepengetahuan Bu Sugeti, karena telat jemput. Hari berikutnya, Gandi membawa Azka kembali dan Bu Sugeti tidak bisa menolak karena takut terjadi keributan.


“Maaf, apakah ayahnya anak-anak bermasalah? Kok, kalian sepertinya berat banget kalau anak-anak sama ayahnya,” tanya Sari, hati-hati.


Rara mengangguk. Diambilnya tisu, dia menyeka air matanya terlebih dahulu. Saat akan melanjutkan bicara, tiba-tiba pintu dibuka.


Rara dengan segera menenangkan diri. Dia pura-pura melakukan aktivitas dengan menunduk ke bawah meja, seakan mengambil sesuatu. Padahal dia mengeringkan air mata dan cairan yang keluar dari hidungnya.


Siapa pun orang itu yang masuk, Rara tidak ingin terlihat telah menangis, nanti pada curiga dan ada lagi banyak pertanyaan pada dirinya. Capek.


“Rara, kamu di sini?” suara Purba mengagetkan Rara.


“Aduh ...!” Kepala Rara terbentur ujung meja, karena terkejut dengan suara Purba.


Rara langsung berjalan ke toilet dengan berucap, “Iya, Pak. Nanti saya menyusul.”


 


Rara pura-pura segera menuruti perintah Purba dengan berjalan cepat ke toilet untuk merapikan diri. Padahal dia ingin menutupi bekas tangisnya, dan melihat wajahnya terlihat sembab atau tidak. Makanya itu ke toilet.


 


**#


Purba sudah berada di ruangannya. Waktu menunjukkan pukul empat sore. Sebentar lagi jadwal pulang, tapi dia masih menunggu laporan dari Rara tentang persiapan buat sampel makanan untuk menjamu para sponsor besok saat rapat.  


Kret ...!

__ADS_1


Rara masuk ruangan, sambil berjalan dia pura-pura membetulkan ikat rambutnya sehingga agak menunduk kepalanya, padahal dia menghindari agar wajahnya tak terlihat jelas oleh Purba.


Purba bukan anak kecil dan polos yang tidak bisa melihat gelagat orang lain, apalagi hal itu dekat dengan dirinya. Ditatap terus Rara yang kini sedang sibuk dengan laptopnya.


“Rara, kamu sudah persiapkan buat besok? Akan menyajikan apa saja?” tanya Purba dari kursinya.


Rara merespons dengan anggukan, dia terlihat sangat sibuk.


“Rara, untung aku sedang melihat ke arahmu. Kalau tidak, bagaimana aku tahu jawabanmu. Jangan dibiasakan menjawab pertanyaan orang dengan gerak tubuh, pakai suara!” Nada bicara Purba dibuat tugas.


“I-iya Pak, sudah,” jawab Rara lirih, diimbuhi anggukan juga.


Purba semakin curiga, dia memperhatikan Rara lekat-lekat.


Kret ...!


Bizar baru masuk, dia habis ada perlu sebentar, sehingga tidak bareng masuk dengan Purba tadi.


Purba memberi kode pada Bizar agar tenang. Purba beranjak dari duduknya perlahan, dia yakin bahwa Rara sedang tidak fokus. Maka langkahnya takkan disadari oleh Rara.


Tiba-tiba Purba duduk tepat di samping Rara.


“Eh, E ... Bapak!” Rara terkejut.


Kini Purba dapat melihat dengan jelas wajah Rara yang masih terlihat sembab, mata yang merah.


“Kenapa?” singkat Purba dengan suara dan tatapan lembut.


Rara yang terkejut melihat bosnya tiba-tiba ada disampingnya, dia masih terbengong dengan menatap wajah Purba. Namun, air matanya diam-diam menggenang. Rara tak kuasa lagi menahannya, dia menghambur ke pelukan Purba. Terisak sejadinya.


Purba cukup terkejut mendapati perlakuan ini. Tangannya belum merespons pelukan Rara, masih bingung.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2