Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Rara Kabur


__ADS_3

Dipegangnya kedua pundak Rara, lalu ditatapnya wajah ayu bermata sembab itu, Fira meyakinkan dengan senyum manisnya.


“Ingat, anak-anakmu, ini belum seberapa. Apalagi ini hanya salah paham. Di luar sana, banyak pejuang keluarga seperti kamu, yang sampai mengorbankan harga diri dan mereka tetap bertahan. Demi tidak ingin direndahkan di kampung. Aku tahu cerita tentangmu. Walau mungkin itu hanya sedikit.” Fira berusaha membesarkan hati Rara.


Kemarin Fira mengetahui Rara yang menangis, sebenarnya dia belum pulang sore itu. Saat Rara baru keluar dari ruangan Purba, Fira memperhatikan dari jauh, pas kebetulan Sari lewat, Fira memanggil Sari dan iseng bertanya tentang rasa penasarannya, kenapa Rara seperti baru menangis.


Gak taunya sari malah cerita, bahwa Rara baru saja mendapatkan kabar buruk dari kampungnya.


Sejenak Rara terpaku, “Lalu berita baiknya apa?” tanya Rara, masih dengan suara yang belum jelas karena hidungnya masih mampet.


“Tamu undangan di ruang rapat, mereka semua suka makanan yang kamu buat. Awalnya memang aneh, wajah mereka seperti mendapatkan sesuatu hal yang buruk. Padahal mereka merasakan hal yang asing bagi lidah mereka, makanya kaya orang tekejut gitu. Dan ... disalah artikan oleh Pak Purba,” jelas Fira dengan senyuma semringah. Diakhiri nada keluhan saat mengatakan Purba salah arti.


“Serius?” Rara merespons dengan nada lemah. Dia masih tidak percaya apa yang dikatakan Fira.


“Serius! Ngapain aku bohong. Kamu pernah membuatkan sarapan buat Pak Purba, kan? Kamu memang pinter masak, apa pun yang kamu masak sudah pasti enak.” Fira kembali membesarkan hati Rara dan itu benar adanya.


“Bersyukur sih kalau memang begitu, tapi entah mengapa aku masih takut kalau ketemu Pak Purba.”


“Ya udah, kamu tenangin diri dulu. Tetapi, kamu jangan sampai gimana-gimana ya, Pak Purba orangnya baik, kok. Mungkin di rumahnya juga sedang ada masalah, hingga lepas kontrol gitu.”


Rara mengangguk mendengar penjelasan Fira. Dia mencoba untuk melawan rasa takutnya, lebih tepat trauma saat mendapat kekerasan dari suaminya dulu, dan seakan kini lukanya dibuka kembali oleh Purba.


**#


Purba berniat menenangkan diri ke apartemen Bizar, dia melangkah cepat menuju ruangannya, tapi harus melalui ruangan meeting. Meski sebenarnya untuk lewat sana rasanya takut terlihat oleh klien, yang pastinya sedang membicarakan yang tidak-tidak tentang perusahaan BTC atau bahkan dirinya.


Saat Purba hampir dekat dengan ruangan meeting, terlihat Bizar sedang berdiri di depan sana. Purba segera menghampiri dengan langkah hati-hati.


“Ssst ....” Purba menaruh jari telunjuknya di bibir, saat Bizar mengetahui kedatangannya.


“Tuan,” ucap Bizar yang kemudian terhenti.


“Jangan keras-keras, kau ambilkan ponselku di dalam. Aku tunggu di ruangan,” bisik Purba, kemudian pergi.


Namun, belum ada dua langkah beranjak, Purba berhenti tepat di depan pintu ruangan meeting. Dia dikagetkan oleh suara gelak tawa dari dalam, membuatnya penasaran dan mencuri lihat dari balik kaca pintu.


“Bizar sini,” ucap Purba, setengah berbisik sambil melambaikan tangan.


Bizar menghampiri tuannya, “Ada apa Tuan,” ucapnya.


“Mereka kenapa? Sedang mentertawakan aku ya?” Tanya Purba.


“Tidak Tuan, mereka senang menikmati sajian yang dibuat Non Rara.”


“Hah? Maksudnya?” Purba sungguh tidak mengerti, tidak percaya? Atau menolak percaya? Hanya Purba yang tahu tentang perasaannya dengan apa yang setelah ia lihat.

__ADS_1


Bizar menjelaskan bahwa tadi saat Purba pergi meninggalkan ruang rapat, Fira mencoba mengambil alih acara rapat. Namun, Pak Gunawan meminta nanti saja menunggu Purba kembali dan berharap sambil mengajak Rara.


Namun, Purba tak kunjung datang kembali, akhirnya klien semua menikmati sajian yang ada sampai habis dan sambil menunggu Purba datang.


Dan benar saja, Purba melihat meja di ruang rapat dari kaca pintu, isi piring kosong semua. Bibir Purba tersungging, merasa lega dan ada bangga.


Namun, entah apa kebanggaan itu, dia baru sadar bahwa baru saja melampiaskan amarah pada orang yang salah. Sepertinya tak adil jika bahagia ini hanya dirasakan sendiri, sungguh egois. Sementara hati seseorang di sana ada yang sedang terluka, bahkan mungkin menorehkan trauma yang entah bagaimana bisa menyembuhkannya.


“Bizar, panggil Fira. Aku masuk dulu melanjutkan rapat.” Purba masuk dengan senyum hangat pada para kliena uang sudah menunggu sejak tadi.


***


“Mohon maaf rekan-rekan, tadi saya mencari Rara, karyawan baru saya itu, mungkin dia sedang sibuk, saya temui sedang tidak ada di tempat. Saya tunggu di ruangannya tidak ada. Bisa kita mulai kembali rapatnya?” ucap Purba, mengatakan kebohongan.


“Pak Purba, katakan pada karyawan tadi, kami sungguh terkesan dengan hidangannya. Berasa pulang kampung dan badan kami jadi seger,” ucap klien dari Batak.


Yang dimaksud klien tersebut adalah wedang jahe campur daun Mint.


“ Benar Pak Purba, kami awalnya merasa aneh dengan minumannya, tapi lama kelamaan badan kami berasa hangat dan segar. Ada mint dan aroma harum segar yang kami tidak tahu apa itu,” ucap klien satunya lagi.


“Benar Pak, khususnya saya saat belum jadi seperti sekarang ini. Saya orang daerah juga, yang terbiasa dengan makan makanan sederhana dari bahan alami, rempah-rempah, yang diolah dengan racikan rumahan.


Namun, seiring zaman berkembang dan lingkungan saya berubah, maka, apa yang saya makan pun mengikuti perkembangan zaman, tapi sekarang saya menemukan sensasi masa kecil itu."


“Benar Pak Purba, saya pun merasakan begitu. Maka, kalau untuk event nanti ada makanan tradisional, saya khusunya setuju. Setuju sekali,” ucap peserta rapat yang lain menambahkan.


**#


Hati Rara masih dongkol rasanya, meski dia bisa memaklumi kesalahpahaman Purba padanya, tapi entah mengapa hatinya terus merasa kesal, pikirannya selalu melintas bayangan saat Purba memarahinya dengan kasar, bagaimana teriakan seakan masuk seluruhnya memenuhi raung telinga.


“Ra, dipanggil Tuan,” perintah Bizar yang membuat Rara terenyak dari lamunannya.


“Ada apa?” tanya Rara tak bergairah.


“Entah,” balas Bizar singkat.


“Iya nanti, tanggu sedikit lagi.”


Bizar pun pergi tanpa kata lagi. Rara beranjak dari tempat duduknya. Dia membersihkan lemari es yang mulai kotor.


Kesibukan sengaja Rara cari. Sebenarnya barusan saat Bizar memberitahukan Rara dipanggil oleh Purba, dia sedang tidak melakukan apa pun. Dia hanya malas saja, belum siap bertemu orang yang baru saja menjatuhkan mentalnya. Makanya, dicarilah kesibukan.


**#


Pukul dua siang, meeting selesai dan menghasilkan keputusan kerja sama yang sangat memuaskan bagi Purba. Kini Purba ada di dalam ruangannya, menunggu Bizar yang sejak tadi belum datang juga.

__ADS_1


Terdengat suraa ketukan pintu, ternyata itu Bizar dengan jalan tergesa sepertinya. “Maaf Tuan, saya terlambat,” ucap Bizar dengan sedikit membungkukkan badannya.


“Dari mana saja kamu? Aku pikir memanggil Rara tidak akan selama ini. Meetingnya sudah selesai,” ucap Purba, tenang. Tidak terdengar nada kemarahan sama sekali.


“Maaf Tuan, kepala saya pusing sekali. Daripada nanti lebih merepotkan, saya tidur sebentar dan sekarang suda lebih baik,” jelas Bizar, jujur. Dia memang kuah tidur, hijgga kepalanya terasa enteng dan sakit.


“Ok. Mana Rara?”


“Dia bilang nanti menemui Tuan, tadi sedang tanggung pegang pekerjaan.”


“Pegang kerjaan? Maksudnya?” tanya Purba heran.


“Iya Tuan, tadi saya lihat Non Purba sedang membersihkan freezer.”


“Kenapa harus Rara? Itukan tugas Sari. Kamu lupa? Rara sekarang adalah sekretaris?” tanya Purba, nada suaranya tidak bersahabat.


“Mungkin Non Rara ingin membantu Sari, karena dapurnya sangat berantakan.”


“Hem..., Ok, ok.. baiklah.” Cukup singkat respons Purba, mungkin suasana hatinya sedang sangat baik, sehingga tak merasa kesal walau Rara lelet menemuinya dan bahkan Bizar melakukan kesalahan.


#**


Pukul tiga sore, saatnya Rara pulang. Dia meminta tolong pada Sari untuk tidak banyak bicara pada Pak Purba, kalau ditanya tentang dirinya yang akan pulang lebih cepat.


Awalnya Sari menolak permintaan Rara, dia takut dipecat karena mendukung Rara. Tapi setelah dibujuk, Sari akhirnya mau juga. Merasa sama-sama dari kampung, jadi harus saling dukung dan jaga.


“Yaudah, sana kalau mau pulang. Hati-hati ya.” Sari memberikan izin pada Rara untuk pulang lebih cepat.


Rara berhenti di sebuah ruangan yang sudah sepi, kemudian menghubungi Fira.


“Halo Fir, aku bisa minta tolong nggak?” ucap Rara lewat ponselnya.


“Iya, Ra. Bantuan apa?” jawab Fira dari seberang telepon.


“Eng, aku ... mau pulang sekarang, tapi tasku masih di dalam. Bisa bantu aku gak? Kalau Pak Purba ke luar, kasih tau aku yan aku mau bawa tasku,” pinta Rara dengan nada cemas.


Fira terdiam sejenak, ini cukup sulit. Satu sisi, Purba adalah bosnya, masa dirinya harus mendukung orang lain, meski Fira kasihan juga pada Sari.


“Ok, deh. Kamu di mana sekarang?”


“Aku sedang di dekat toilet,” jawab Rara singkat.


“Ok baiklah, hati-hati ya. Semoga besok kamu sudah baikkan dan kembali bekerja seperti semula,” jawab Fira memberi support.


“Iya, makasih ya Fir.”

__ADS_1


Rara kemudian menutup ponselnya.


Bersambung...


__ADS_2