Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Sudah Terbuka


__ADS_3

“Mas Purba, sering kali aku merasa salah dengan rasa ini, sering kali juga aku merasa tidak tepat berada dalam situasi ini. Mungkin kata jalani saja sudah klise didengar. Akan tetapi, aku tetaplah aku yang tidak akan terlalu jauh mengambil posisi di dalam hatimu, yang sudah berisi sebuah nama, meskipun nama itu mungkin tidak kamu inginkan.


Akan tetapi yang pasti, aku bersedia ada untuk setiap keluh kesah Mas Purba, meski aku dianggap sebagai cadangan atau pelampiasan. Aku tak masalah karena, hatiku merasakan Mas Purba tulus.”


Sekali lagi Purba memeluk Rara dengan erat, dengan tarikan dan embusan napas lega. Rara pun menyambut pelukannya sekali lagi.  Tangannya menggenggam erat jas belakang Purba dengan pelukan yang semakin lekat.


 Mereka sama-sama lega  telah mengutarakan hatinya masing-masing.


“Sayang, aku senang dengan panggilanmu itu.” Purba memberanikan diri memanggil Rara dengan sebutan itu.


Bergetar hati Lara saat Purba memanggilnya begitu mesra, bahkan terlintas pikiran pada kepala Rara, dia tak pernah sama sekali memanggil istrinya dengan sebutan sayang, semesra apa pun Mona berperilaku pada Purba.


Bibir Rara tersungging penuh kemenangan, bukan kemenangan dia berhasil merebut Purba dari istrinya.  Namun, dia anggap kerelaannya menjadi orang kedua dibalas dengan ketulusan cinta Purba, daripada sebagai orang pertama yang berada di sampingnya hanya sebagai sandiwara.


"Jadi, Mas tidak keberatan, aku tidak memanggil lagi pak sebagai bosku?" ucapan Rara lirik dengan senyumannya yang tak pernah hilang dari bibirnya.


Purba menggeleng, "Sama sekali tidak, bahkan kalau bisa lebih dari itu, atau yang lainnya."


"Mungkin belum saatnya, itu juga Aku memberanikan diri, takutnya aku dipecat hahaha."


“Kok dipecat?” Tidak mungkin lah, beberapa hari aku tidak bertemu kamu saja, rindunya sudah setengah mati. Apalagi dipecat hanya karena panggilan seperti itu.”


“Maksud aku dipecat dari hati Mas,” ucap Rara dengan menunjuk dada Purba, seraya tersenyum manja.


“Ternyata, kalau dalam situasi seperti ini, kau nakal juga ya,” ucap Purba sambil mencubit kecil, hidung Bangir Rara. “Tapi sayangnya belum saatnya aku untuk menyantapmu,” lanjut Purba dengan bisikan genit.


“Apaan sih Mas? Kita baru pendekatan loh, jangan terburu-buru.  Nanti setelahnya nggak asik.”


“Pintar juga kamu mengumpamakan situasi ini. Benar juga, kalau kita terburu-buru menyantap sesuatu, kekenyangan, nanti nggak enak ya, kan? Lebih enak kucing-kucingan kaya gini, saling mencicipi tipis-tipis, hehe,” seloroh Purba.


Mereka pun tertawa menikmati suasana hangat tersebut, bercengkerama membahas hal-hal yang romantis, kadang sedikit menjijikkan, karena mereka sudah menjurus pada hal-hal yang berlebihan.


Hal itu mungkin bisa dianggap wajar, karena Rara sendiri adalah seorang janda yang sudah berpengalaman dalam hal rumah tangga, yaitu tentang hubungan intim. Begitu pun Purba, yang sudah berpengalaman dengan Mona perihal berusaha memikat lawan jenis.


“Ya, kita kembali masing-masing.  Jangan sampai karena kegilaan kita, kerja terbengkalai dan masa depan kita hancur. Ingat kita masih membutuhkan perusahaan ini untuk membangun masa depan.

__ADS_1


Oke, silakan sekretarisku yang manis kembali ke tempat kerja seperti semula, muach.” Tiba-tiba Purba mengecup pipi Rara.


Rara langsung menyentuh pipinya, dia tidak menyangka Purba akan senekat itu, padahal sudah diberi tanda oleh Rara jangan berbuat berlebihan terlebih dahulu.


“Apa? Mau marah? Silakan,” tawa lirih Purba, senang meledek sekretarisnya itu.


Rara hanya menarik nafas, kemudian berbalik ke tempat kerjanya.


Sebelumnya Rara membuka tirai-tirai yang dia tahu Bizar tadi membukanya. Sebelum jadi jemari Rara menyentuh tombol-tombol pada laptopnya, Rara sempat menatap Purba sesaat dan Purba pun melakukan hal yang sama, mereka saling adu pandang dan tersenyum dengan kikuk.


Bizar tahu suasana sudah aman terkendali. Dia kemudian masuk bertugas seperti biasa selalu ada di samping purba membantu tugas-tugas lebih sensitif yang harus dilakukan oleh orang-orang yang sudah dipercaya oleh perusahaan.


Bizar tidak membahas atau bertanya apa pun tentang kejadian barusan, tanpa bertanya juga dirinya sudah tahu apa yang terjadi pada mereka.


 Bizar bisa sangat profesional, dia ditugaskan hanya untuk bekerja jadi asisten dan bodyguard Purba, maka hanya itu yang dia lakukan. Tidak ada kegiatan lain ataupun hal-hal yang mau dibahas di luar kapasitas dia sebagai asisten dan keamanan pribadi.


Saat Rara sedang bekerja, tiba-tiba ibunya dari kampung telepon, Rara menoleh pada Purba dan kebetulan Purba juga melihat ke arah Rara, karena dia juga mendengar ponsel sekretarisnya yang berbunyi. Purba mengangguk menandakan Rara boleh menerima panggilan.


“Tapi, ini video call Pak,” kata Rara, ia masih menyebut nama sebutan Pak karena di depan orang lain.


“Halo ibu, assalamualaikum. Maaf Bu, Aku lagi bekerja


“Oh ... Maaf Nduk, tapi ini Azkya katanya ingin menelepon. Katanya udah rindu sekali,” jawab Bu Sugeti, yang di sampingnya memang sudah ada cucunya.


“Oh ...  ya sudah, mana anak bunda yang ganteng dan lucu?” tanya Rara.


“Bunda kapan pulang? Azkya udah kangen banget. Terus pesenan kia mana?” ucap Azkya dengan muka sengaja dibikin cemberut, biar Rara juga merasa iba terhadapnya.


 Padahal anak itu pandai akting, dia hanya ingin mendengar suara dan melihat wajah ibunya sudah cukup.


“Oh itu ... tentu ibu tidak lupa, Nak.  Cuma, ibu masih sibuk. Nanti kalau ibu udah santai, ibu akan kirim ya.., tapi maaf ibu belum bisa pulang.”


“Asik...! Nggak apa-apa ibu nggak pulang, Kia udah lihat ibu di sini udah seneng. Ibu makin cantik, Kia jadi jatuh cinta sama ibu,” ucap bocah kecil yang sekarang berusia hampir 5 tahun itu.


“Loh, Azkya tahu dari mana kata jatuh cinta? Emang jatuh cinta itu, apa?

__ADS_1


“Jatuh cinta adalah, saat kita menyukai. Nah, Kia kan menyukai ibu, sayang ibu, jadi Azkya jatuh cinta sama ibu, hehe,” ucap bocah berambut lebat dan berdiri itu.


Rara kemudian tertawa mendengar celotehan anaknya.


“Wah ... Ibu, ibu... udah nemu ayah baru buat Kia? Hore...! Azkya seneng, deh. Nanti Kia dapat hadiah banyak, selain mobil-mobilan yang disambung-sambung itu, juga dapat ayah baru, yeyeye ... makasih ibu,” sorak Azkya yang membuat Rara bingung.


“Eh ... Nak? Ayah baru? Siapa yang menjanjikan ayah baru? Belum ada Kia... ibu belum mencarinya. Mungkin nanti sore ibu nyari di supermarket, hihi.”  Rara tertawa menggoda anaknya.


“Kok, di supermarket sih bu? Ayah barunya udah ada. Itu di belakang ibu,” ucap Azkiya kembali.


Rara terkejut saat anaknya mengatakan seperti itu, dia menoleh ke belakang, ternyata Purba ada di belakangnya. Dia tidak mengetahui saat purba berjalan dan berada di belakang sofa yang diduduki dan dia pun tidak sadar, karena posisi Purba tidak terlihat di layar ponsel, tapi kenapa anaknya melihat?


“Eh Bapak, sejak kapan?!” Rara terkejut dan menurunkan ponselnya.


“Lanjutkan! Aku ingin lihat anakmu,” sahut Purba.


Dengan gugup, Rara melanjutkan obrolan dengan anak dan ibunya.  Karena sedikit canggung juga.


Namun, lama-kelamaan dia sudah bisa menetralisir rasa canggungnya. Karena Purba pun menyapa anaknya. Tak disangka oleh Rara, bahwa Purba purba ingin ikut berbincang walau hanya sesekali. Purba lebih sering menyimak Azkya yang berceloteh panjang lebar.


Suasana dalam ruangan Purba hari itu sungguh berbeda, rasa kekeluargaan lebih mendominasi daripada atmosfer ruang kerja. Karena suasananya terasa lebih santai, terlebih saat Purba dan Rara telah menunjukkan isi hatinya masing-masing.


Meski belum secara langsung Purba mengatakan bahwa dirinya mencintai Rara, tapi dengan kejadian beberapa saat yang lalu sudah menunjukkan bahwa mereka ingin saling memiliki dan menjaga.


Pekerjaan mereka berjalan lancar hingga tiba saatnya makan siang. Rencananya Purba akan mengajak Rara makan siang ke sebuah cafe yang ada dekat kantor di sana. Namun...


Saat makan siang tiba, Mona datang ke kantor membawa makanan untuk Purba.


Purba yang kebetulan sedang bersama Rara satu meja, menjelaskan tentang  pekerjaan, kemudian meminta Rara mengecek laptopnya, padahal bohong.


Entah mengapa Purba sangat ingin dekat sekali dengan Rara, Rara pun sekarang tidak ada rasa canggung lagi dengan Purba. Justru dia juga ingin selalu menikmati suasana romantis bersama bosnya itu.


“Tuan ada yang mengantarkan makan siang,” ucap Bizar, dia mengetahui Mona datang dari jendela ruangan Purba, karena Bizar sekarang sedang duduk di sofa ruangan tersebut. Sehingga tahu bisa melihat suasana di luar.


 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2